
Zaina sudah rapih dengan dress hitam yang nggak bergelombang sama sekali. Benar-benar menyesuaikan tubuhnya. Sehingga Zaina dibuat nyaman dan bisa bergerak luwes sesuai yang dia mau.
Zaina menatap mantap dirinya di depan cermin lalu memoles kembali lipstik berwarna nude di bibirnya yang mungil. Setelah semuanya selesai, Zaina kembali menatap dirinya yang sudah benar benar siap.
"Pas ... udah bagus semua dan aku harap, penampilan ini bakalan tetap rapih sampai nanti. Semoga aja nggak ada yang menyakiti hati aku dan semoga aku bisa nahan diri sampai nanti!"
***
"Oma nggak suka punya cucu yang memainkan hati laki laki. Memangnya kau kira, kamu siapa? Hamil di luar nikah. Bikin malu keluarga besar saja. Untung saja orang tua kamu punya banyak uang jadi bisa nutup kasus ini! Kalau enggak, sampai detik ini oma nggak bakalan anggap kamu sebagai seorang cucu! Bahkan rasanya oma malu karena ada darah oma yang mengalir di tubuh kamu."
Zaina mengepalkan tangan.
Rasa sesak menggeluti hatinya. Makanan yang ada di depan nya terlihat sangat tidak enak. Bahkan untuk menelan makanan saja sepertinya dia tidak sanggup. Tenggorokan nya benar-benar tercekat. Hatinya sakit. Sangat sesak tapi perempuan itu hanya mampu mengepalkan tangan tanpa mengeluarkan setitik air mata pun.
"Oma ... sudah lah," bela daddy Zidan. "Semua udah berlalu dan sekarang Zaina udah sadar sama perbuatannya. Zaina juga nggak merepotkan kalian. Biar aku sama mommy nya yang mengurus. Jadi, kalian nggak usah komentarin hal ini lagi ya."
Mommy Zaina mengangguk pelan. "Iya mah ... aku bakalan jaga Zaina untuk ke depannya kok. Biar nggak buat mamah sama yang lain jadi malu. Tapi, tolong jangan pojokkan Zaina seperti ini. Dia sudah taubat dan mengakui semua kesalahan dia ..."
"Tetap saja ... saat itu oma sampai nggak mau datang ke arisan di lingkungan rumah karena semua orang pada julid. Alah ... kalian juga, nggak bisa jaga anak. Makanya anak kalian bisa sampai terjerat sama lingkungan kayak gitu."
"MAMAH!"
"Nggak usah bela anak itu! Harusnya anak kamu tuh di pecut. Kayak kamu dulu pas buat kesalahan. Bukannya malah semakin di manja. Alah ... ini mah dia semakin keras kepala. Yang ada dia mikir kalau bakal lanjutin semuanya. Dia bakalan mikir kalau nggak apa-apa berbuat salah karena kalian bisa ngebelanya dengan semua uang kalian."
Zaina menelan saliva. Dengan pandangan sayu, ia menatap satu per satu keluarga daddy nya yang ada di sana. Semua orang menatap cemooh pada Zaina. Walaupun mereka gak menatap langsung tapi Zaina bisa merasakan tatapan jijik yang di lontarkan mereka.
Toh, selama ini Zaina juga tahu kalau mereka cuma butuh uang dari orang tuanya. Makanya mereka berusaha biasa saja dan nggak terpengaruh sama sekali karena keberadaan Zaina. Tapi perempuan itu jelas mengetahui kalau mereka sudah memandang jijik pada dirinya. Tatapan yang begitu menyakiti hati Zaina.
"Oma ... aku tahu kok aku salah," ucap Zaina setelah menatap mereka semua dan berusaha menguatkan diri. "Tapi tolong jangan libatin mommy sama daddy. Mereka udah menjadi orang tua yang terbaik untuk aku. Ini bukan salah mereka sama sekali. Tapi, ini salah aku. Aku yang udah bodoh. Aku yang udah terjebak sama lingkungan buruk. Bukan salah mommy dan daddy. Jadi ... salahkan saja aku."
"NAK!" bentak mommy Nadya
Zaina menggenggam tangan sang mommy dan menggeleng. Sudah cukup mereka menghina orang tuanya dan Zaina nggak mau membiarkan orang tuanya jadi bulan bulanan mereka.
"Untung lah kalau kamu sadar, memang harusnya kayak gini kan?" seru oma yang sejak tadi diam. "Di sini semuanya salah. Orang tua kamu yang terlalu memanjakan kamu dan kamu nya sendiri yang nggak tahu diri. Dasar anak nggak tau di untung. Pokoknya kalau oma sampai dengar kamu berulah lagi. Oma beneran akan putus kamu dari hubungan kekeluargaan ini."
"Iya nak Zaina ... tante rasa, oma ngomong gini juga karena peduli sama kamu. Kamu jangan berulah lagi ya. Saham keluarga kamu sampai merosot tajam karena ulah kamu. Kamu harus ingat kalau daddy kamu biayain sepupu kamu yang lainnya. Tante juga bakalan marah sama kamu, kalau kamu berulah dan buat keuangan ayah kamu jadi menipis dan malah ngehentiin biaya pendidikan ke anak tante."
Nyes ... Mata Zaina menatap sendu pada tantenya. Dan memang benar. Ujung-ujungnya hanya lah uang. Semua ini berbicara tentang uang. Zaina menarik napas dalam dan ini sangat menyakitkan.
"Maaf ya tante ... maafin aku juga buat kalian semua. Karena mungkin ulah aku menyakiti hati kalian. Tenang aja, untuk ke depannya aku bakalan hati-hati untuk bersikap. Jadi, kalian nggak perlu khawatir sama sekali."
"Untung aja anak kamu itu mati!" sela sang oma membuat gerakan Zaina terhenti. Perempuan itu tertawa lirih, hatinya sangat tercekat dan ia menikah pada omanya yang malahan terlihat santai sambil menyantap makanannya.
"Oma?" panggil Zaina membuat daddy dan mommy nya menatap khawatir
"Hmm ..."
"Oma nggak punya hati kah? mau gimana pun perbuatan aku. Anak ini tetap anak aku. Meninggalnya ngebuat hati aku benar-benar sakit. Tapi, kenapa oma malah kelihatan senang kayak gini?" tanya Zaina dengan pelan. "Padahal aku jatuh bangun biar bisa bangkit. Karena setelah perginya anak aku. Rasanya sebagian jiwa aku juga di renggut. Tapi, kenapa meninggalnya anak aku malah membawa suatu kesenangan bagi oma? atau yang lain juga gitu?" gumam Zaina dengan pelan.
Seketika suasana ruangan terasa hening. Tidak ada yang mampu menjawab sama sekali. Apa lagi sampai menatap mata tegar Zaina.
Perempuan itu menoleh ke arah mereka sambil mengambil pisau di atas meja dan menggenggamnya dengan begitu kuat. Zaina rasanya sangat pening, menghadapi mereka yang seperti ini. Ini di luar bayangan yang dia pikirkan.
Zaina tahu, melewati ini nggak akan mudah. Tapi dia nggak menyangka kalau omanya bakalan sejauh ini. Sampai jujur kalau dia lega karena kepergian anaknya dan itu sangat melukai hati Zaina.
"Ya ... karena memang bagusnya gitu kan? coba aja dia masih ada di sini. Pasti dunia masih gonjang ganjing untuk menjatuhkan kamu dan itu pasti mempengaruhi uang orang tua kamu."
BRUGH!
Zaina berdiri dan menggebrak meja. Ia pandang mereka semua yang nggak berani menatapnya.
"Uang ... uang ... uang terus yang kalian pikirin!" pekiknya. Zaina memukul dadanya dengan kencang. "Apa kalian mikirin perasaan aku? apa kalian mikirin gimana kondisi aku? apa kalian mikirin kalau aku bisa bertahan di dunia ini setelah semuanya terjadi di hidup aku."
Zaina menunduk dan menghela napas berat.
"Apa kalian pernah mikir kalau aku sempat memikirkan untuk meninggalkan dunia ini, karena semuanya jahat. Tapi aku urung karena masih banyak orang baik. Tapi, lihat kalian yang begini ngebuat aku yakin kalau semua orang di dunia ini nggak ada yang baik ... semuanya jahat dan salah satunya oma sama yang lain."