Love In Trouble

Love In Trouble
Perkara Gaun



“Makasih mbak ...”


Ghaly membaca sebentar map yang baru saja ditanda tangani Zaina. Lalu ia tutup map itu setelah dirasa semuanya benar. Begitu ia tutup map, wajah Zaina langsung memenuhi pandangan dirinya. Ghaly mengerutkan kening dan memiringkan wajahnya.


“Mbak baik-baik aja?” tanya Ghaly yang merasa kalau ada sesuatu yang di pikirkan sama Zaina.


Zaina melirik ponselnya dan menarik napas dalam, “menurut kamu, gue hubungin keluarga Mahen langsung atau Mahen dulu?” tanya Zaina


Ghaly yang tidak paham sama konteks hanya menatap bingung. “Ngapain kamu butuh ngehubungin mereka lagi? Nggak kan ... nggak perlu kali. Nggak inget terakhir kali kamu menangis karena ulah mereka? Gue nggak mau ya kalau nanti kamu pulang dengan keadaan menangis lagi. Nggak boleh sama sekali.”


Zaina tergelak.


Memang Ghaly seperhatian itu pada dirinya dan ini benar-benar menyenangkan.


“Duh nggak apa-apa kali, aku kan mau ketemu sama Mahen,” seru Zaina yang semakin sengaja. Melihat mata Ghaly yang terbelalak membuat Zaina semakin tertawa.


“Ih ... gue lagi serius loh Zaina, kamu kenapa malah ketawa?” tanya Ghaly masih serius. “Tangisan lu yang waktu itu aja belum bisa gue lupain sama sekali. Gue masih jelas inget gimana keadaan lu waktu itu, sampai badan lu yang gemeter. Gue masih inget semua. Jadi, sekarang kenapa malah nyepelein gini? Nggak ... nggak boleh sama sekali dan gue nggak kasih izin.”


Zaina tersenyum tipis.


“Enggak kok ... sebelumnya kamu tau nggak sih sama berita yang lagi ramai?”


Mahen semakin khawatir.


“Jadi kamu juga tahu ya?” gumam Ghaly pelan. “Jangan bilang kamu mau datang buat labrak mereka? Nggak apa-apa ya Zaina. Ikhlaskan mereka. Nanti kita cari laki-laki yang bisa ngehargain kamu. Tapi jangan ganggu mereka. Masalahnya perempuan itu bener-bener nggak waras. Semakin gue cari tahu, yang ada cuman kelakuan buruk doang yang keluar.”


“Iya kah?”


Ghaly mengangguk, berusaha meyakinkan.


“Ya ampun ... kasihan Mahen,” ucap Zaina membuat wajah Ghaly langsung berubah datar. “Tapi gue nggak mau ikut campur sama sekali. Pasti Mahen udah lebih dulu cari tahu tentang Restu kan? Jadi ... kalau mereka lanjut, pasti masih ada kebaikan yang buat Mahen masih lanjutin hubungan mereka.”


“Okei ... terus alesan kamu mau datang ke sana atau ngehubungin mereka tuh untuk apa?” tanya Ghaly lagi berusaha memastikan.


Zaina menarik napas dalam


Ia menceritakan tentang gaun itu dan alasan kenapa dia harus menghubungi pihak sana. “Beneran deh Ghaly, sebenarnya gue juga males berhubungan sama mereka. Tapi gue masih punya impian untuk berteman baik sama Mahen. Jadi, gue beneran nggak mau benar-benar lepas dari mereka. Dan buat sekarang ... gue beneran mau dapet gaun itu lagi. Gue nggak rela kalau gaun yang gue desain sendiri malah di pakai sama perempuan lain. Gue beneran nggak terima sama sekali.”


“Jadi gitu?”


Zaina mengangguk.


“Makanya ... sekarang gue minta saran sama lu. Bagusnya gimana?”


“Kenapa kamu nggak nyuruh gue aja?” tanya Ghaly. “Gue ini kayak kakak sekaligus asisten lu kan? Jadi nggak masalah kali kalau sekarang gue yang ambil ke mereka? Antisipasi kalau mereka macem-macem.”


Zaina menggeleng, refleks menolak.


“Selain karena mereka yang baik, nggak sopan juga loh kalau kayak gitu,” jelas Zaina. “Mereka baik kok, jadi kamu nggak usah khawatir sama sekali ke gue dan nggak perlu mikir ini itu. Gue cuman mau minta gaun itu doang. Terus balik. Kalau ada apa-apa, gue bakal langsung hubungin kamu kok ...”


“Beneran?”


Zaina mengusap tengkuknya.


“Ini ... kenapa kamu malahan lebih protektif dari daddy sih?” tanya Zaina sambil menggeleng kecil. “Daddy aja izinin, kenapa kamu malahan nggak boleh?” seru Zaina yang nggak paham sendiri. “Tapi nggak masalah kok ... gue malah ngerasa aman kalau di posesifin kayak gini. Selama itu demi kebaikan gue. Jadi, gue nggak masalah sama sekali.”


Ghaly menghela napas lega.


Dia kira setelah ini Zaina akan membenci dirinya karena diri dia terlalu berlebihan banget. Soalnya Ghaly nggak boleh membuat kesalahan sama sekali di depan Zaina. Dia nggak mau kalau perempuan itu malah sedih karena ulahnya. Dia nggak mau membuat jarak mereka jadi terbentang jauh lagi.


“Ya sudah ... kamu pergi aja ke sana dan jangan lupa buat hubungin Mahen dulu. Karena dia yang pasti lebih tahu. Jadi dari pada langsung ke keluarga Mahen dan kita nggak tahu bakalan dapat respon gimana. Mendingan lu tanya dulu ke Mahen.”


“Begitu ya?”


Ghaly mengangguk.


“Ya udah ... makasih ya.”


“Ya udah, ini kita harus kembali ke mode kerja lagi,” ucap Ghaly sambil berpura-pura menyeleting mulutnya itu. “Baik mbak, terima kasih atas kerja samanya. Saya pamit dulu ya, ada kerjaan yang masih harus di kerjakan dulu.”


Zaina tertawa kecil dan mengangguk.


“Baik.”


Zaina menatap kepergian Ghaly lalu menggeleng kecil. Mereka memang selalu seperti ini, kalau lupa mereka bakalan berbicara santai pas di jam kerja. Baru kalau ingat mereka akan kembali formal. Tapi Zaina nggak masalah sama sekali. Yang penting dirinya nyaman. Anggap aja sebagai hiburan di tengah tumpukan kerjaan.


“Lucu ...”


***


Zaina menarik napas dalam. Sejak tadi dia hanya mutar-mutar di kamarnya. Pikiran dia terus memikirkan cara dia bertanya ke Mahen. Tapi semuanya terasa buntu. Zaina sama sekali nggak fokus. Ia keburu berdebar, membayangkan bisa bicara dengan Mahen pas malam kayak gini.


Sama seperti masa lalu mereka.


Ah ... masa lalu yang indah.


“Duh ... ini mah beneran deh,” gumam Zaina sambil menyentuh dadanya. “Ini cuman nelepon doang kok Zaina! Jadi kenapa kamu harus berdebar sampai kayak gini,” marah Zaina sama dirinya sendiri. “Ayolah ... jangan malu-maluin kayak gini. Inget kalau Mahen udah punya perempuan lain. Jadi aku nggak berhak buat malu-malu gini!”


Zaina berusaha menenangkan dirinya. Ia berusaha menetralkan pikirannya, walau masih aja kacau hingga detik ini.


Tanpa sadar dia duduk di pinggiran kasur dan menscroll asal lauar ponselnya. “AAARGH!” mata Zaina membola saat melihat tangannya sudah menekan nomor Mahen untuk menghubungi laki-laki itu.


Zaina refleks menutup mulutnya saat Mahen langsung mengangkat dari seberang sana. Ia menarik napas dalam sebelum menaruh ponselnya di telinga.


/Iya Zaina? Ada apa? tumben sekali malam-malam gini kamu ngehubungin gue./


“Gue nggak ganggu kan?” tanya Zaina lalu mengigit bibir bawahnya. Kenapa terasa canggung sekali. Ia nggak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia memejamkan mata lalu terkekeh kecil. “Maksudnya ... takut lu lagi ada sesuatu gitu.”


/Nggak dong ... kalau memang ada sesuatu, harusnya gue nggak angkat kan? Gue lagi santai kok. Jadi ... gimana? Ada apa, lu butuh sesuatu?/


“Gue mau nanya, boleh?” tanya Zaina hati-hati


/Ya boleh dong, mau nanya apa? atau lu mau nanya tentang kabar berita yang lagi beredar ya—


“BUKAN!” sela Zaina dengan cepat. Dia nggak mau membuat Mahen berpikir kalau dirinya masih ikut campur sama permasalahan percintaan laki-laki itu. Walau sebenarnya Zaina penasaran banget sih.


Tapi ...


Zaina menggeleng, bukan saatnya dia bertanya hal ini. Toh mereka juga nggak terlalu dekat kan? Jadi ... ia ke belakangkan perasaan penasarannya lebih dulu.


/Iya?/ seru Mahen yang setelah selaan Zaina tadi, perempuan itu malah diam saja.


“Itu loh ... gue boleh nanya sesuatu yang kayaknya cukup fatal buat ditanya lagi sih. Tapi sebelum itu gue mau minta untuk lu nggak marah. Gue beneran penasaran banget,” ucap Zaina dengan sangat takut.


/Okei ... kayaknya penting banget ya? ya udah ada apa? tanya aja./


Zaina menarik napas dalam dan menghembuskan napas perlahan.


/Kayaknya pertanyaan kamu penting banget ya? sampai kedengaran helaan napas gitu? Ada apa Zaina? Tanya aja yang buat kamu penasaran. Beneran deh. Gue nggak bakalan marah sama sekali. Gue malahan seneng banget ngebantu jawab pertanyaan yang ada di benak lu itu./


“Tapi ini ngebahas masa lalu, masa itu ... jadi nggak masalah sama sekali.”


Zaina sangat cemas karena untuk sesaat Mahen hanya diam saja sampai dehaman dari seberang sana membuat perempuan itu langsung menghela napas lega.


“Lu masih inget kan kalau kita dulu udah persiapin pernikahan cukup banyak? Dari yang besar sampai hal kecil sekali pun. Tapi karena ada hal itu, semuanya batal. Jadi ... gue tiba-tiba aja kepikiran sama semua itu. Tapi ada satu yang gue bener-bener kepikiran banget.”


/Apa itu?/


“Gaun ... lu tahu sendiri kan, gimana usaha gue untuk dapetin gaun hasil desain gue sendiri. Gaun yang gue mau. Walaupun nggak jadi nikah, tapi gue beneran mau lihat wujud gaun itu. Karena gue sama sekali belum lihat wujudnya. Dan kata mommy sama daddy semua barang ada di keluarga lu. Jadi ... pasti lu tahu sesuatu kan wujud gaun gue ada di mana?”


/Ah ... masih ada di rumah kok./ jawab Mahen yang sungguh membuat Zaina menghela napas lega.


Seenggaknya barang itu memang masih ada wujudnya dan nggak benar-benar hilang. Jadi dia nggak terlalu perlu mengkhawatirkan sama sekali.


/Semuanya bunda simpan di satu ruangan gitu. Jadi nggak ada yang hilang sama sekali kok. Tenang aja. Walaupun pernikahan kita batal. Tetap ada cerita di balik semua itu kan? Jadi bunda sengaja nggak buang./


“Boleh nggak kalau gue minta gaun itu?” seru Zaina dengan penuh harap. “Gue beneran minta maaf karena kelakuan gue di masa lalu, tapi jangan bawa pergi gaun itu ya. Itu gaun udah ada di bayangan gue dari lama dan impian gaun pernikahan gue. Jadi, gue nggak mau kalau sampai jatuh di tangan orang lain. Jadi, boleh nggak kalau gue bawa gaun itu?” tanya Zaina lagi.


Zaina benar-benar gelisah karena nggak mendengar jawaban apa pun dari seberang sana.


“Karena dulu pakai uang lu, jadi nanti gue bakal bayar kok. Berapa pun. Asal gaun itu sampai ke tangan gue. Jadi, boleh ya? gue mohon ...”


/Hahaha ... kamu kenapa kedengaran sangat khawatir sih?/


Zaina mengerutkan kening. Ini Ghaly nggak marah sama sekali? Untung lah ... walau Zaina jadi sedikit kesal. Karena membayangkan betapa buruknya amarah Mahen saat tadi ada di bayangan dia dan saat dirinya udah menyiapkan diri. Laki-laki itu malah berbicara santai.


Jadi ... Zaina sedikit kesal.


“Kan gue takut kalau lu nolak. Apa lagi itu barang tentang dulu kan. Takut nanti ungkit yang dulu lagi. Apa lagi ... gue yang berhentiin semuanya, gue juga yang nyebabin masalah. Jadi takut kalau lu larang. Sementara gue mau banget lihat wujud gaun itu. Jadi, ya gue sedikit takut lah ...”


/Hahaha ... lu memang nggak berubah ya dari dulu. Selalu mikir hal negatif dulu sebelum coba. Padahal gue udah bilang berulang kali, nggak baik kayak gitu. Oh iya ... buat masalah gaun. Nggak usah khawatir sama sekali. Ada di rumah kok. Dateng aja ya. Gimana kalau besok? Besok gue ada jam kosong pas makan siang nih. Gimana kalau gue jemput ke kantor lu dan kita pergi ke rumah bareng?/


“Apa nggak ada yang marah?” tanya Zaina hati-hati, membayangkan amukan Restu yang hanya bisa membuat dia menggeleng kepala saja.


/Nggak kok ... tenang aja, jadi gimana? Mau nggak?/


“Boleh deh,” ucap Zaina pada akhirnya. “Tapi om sama tante nggak marah kan sama aku? Mereka nggak bakal mojokin aku kalau aku datang ke sana kan? Setelah kekacauan yang aku buat waktu itu?”


/Enggak kok, Zaina. Sesekali mereka masih nanya kabar kamu kok. Jadi, nggak usah mikir yang macam-macam, beneran deh. Nggak ada yang marah sama sekali. Dan lu juga bakalan datang sama gue kan? Jadi ... nggak bakalan ada yang marah sama sekali. Selama ada gue, lu bakalan tenang./


Akhirnya Zaina menghela napas lega. Dengan riang, dia mengucapkan terima kasih sama Mahen. Karena masih menyimpan gaun itu dan mengizinkan dia untuk membawanya.


/Ya sudah karena sekarang udah malam, lu tidur ya. Jangan lupa besok gue datang ke kantor./


“Iya Mahen ... sekali lagi, makasih ya.”


/Iya sama-sama Zaina, udah tidur gih ... dah malem./


Zaina berdeham sebelum panggilan mereka terhenti. Begitu layar ponselnya benar-benar mati, baru Zaina menutup mulutnya. Mata perempuan itu terbelalak dan memekik pelan.


“Aku beneran ngobrol santai lagi sama Mahen?” seru Zaina lalu memekik riang seraya memukul kasur dengan pelan. Takut mommy nya mendengar dan malah datang. “Aku nggak pernah ngebayangin kalau bisa nelepon santai sama Mahen lagi setelah masalah ini. Tapi hari ini akhirnya tiba.”


Zaina menyentuh dadanya yang berdegup. Ia mengerjap, masih merasa aneh sama apa yang baru saja terjadi.


Ia tersenyum kecil sebelum tiduran dan menatap langit kamar.


Ia menghela napas kasar.


“Ah ... rasanya udah lama aku bahagia kayak gini,” ucap Zaina. “Lagian aku kayak anak remaja yang baru puber deh,” ejek Zaina ke dirinya sendiri lalu menepuk pipinya sambil menggeleng lagi. “Udah Zaina ... jangan gini lagi dong, yang ada perasaan ini semakin dalam. Aku harus lupain dia loh.”


Zaina tersenyum kecil.


“Tapi nggak apa-apa deh, anggap aja ini kebahagiaan sebelum aku nanti benar-benar ngelupain Mahen. Nggak apa-apa ...”