Love In Trouble

Love In Trouble
Satu per Satu



Zaina tidak tahu dirinya akan berdiri di depan banyak pengacara. Setelah berita buruk kemarin keluar. Keluarga nya langsung bertindak dan akan mulai membawa masalah ini ke hukum. Jadi lah, dirinya yang menjadi pemeran utama di masalah ini harus bersedia untuk menjelaskan apa yang terjadi.


***


Singkatnya,


Entah ada angin apa, Tiba-tiba Restu mengeluarkan berita yang mengatakan dirinya yang sebenarnya sudah memiliki rencana untuk menikah sama Mahen. Tetapi batal karena Zaina yang kembali merecoki hubungan mereka. Zaina tak mengerti. Intinya Restu menyalahkan dirinya, memojokkan dirinya kembali. Sayang, sepertinya netizen mulai bosan sama dirinya. Maka dari itu, masalah ini nggak terlalu naik. Tapi tetap saja ...


Zaina masih ingat wajah marah Mahen saat membaca berita itu. Tanpa pikir panjang Mahen menelepon asisten dan meminta asistennya untuk mengeluarkan berita yang sudah mereka dapat.


Singkat cerita,


Masalah keluarga Restu yang merugikan banyak pihak, kembali terkuak. Paksaan yang di lakukan Restu selama ini ikut terkuak. Termasuk video itu yang sengaja Mahen keluarkan, walau sudah di blur utuh menjadi bukti bahwa Restu sudah melakukan banyak hal licik.


Semuanya benar-benar cepat terjadi.


Sampai Zaina masih nggak paham dan masih berusaha untuk memahami semua ini. Walau dengan bingung, pada akhirnya dia ada di sini. Tepat di depan para pengacara untuk di minta keadilan dan keterangan selama ini. Supaya bisa memberatkan hukuman Restu. Karena selama ini udah memiliki niat buruk pada dirinya.


"Jadi ... bagaimana menurut saudari Zaina? Apa selama ini ada tindakan langsung yang dilakukan tersangka Restu pada anda? Sampai membuat Anda tidak nyaman?" tanya pengacara yang berasal dari keluarga Mahen.


Ah iya ...


Zaina mau kasih tau. Bahkan pengacara yang mewakili dirinya ada sebanyak dua orang. Dari keluarganya sendiri dan dari keluarga Mahen. Apa lagi pengacara yang di sewa mereka bukan pengacara main-main. Melainkan pengacara yang sudah memiliki nama dan terbukti selalu memenangkan persidangan.


Tetapi, dihadapkan dengan dua orang yang sangat serius seperti ini cukup membuat Zaina sedikit gugup.


"Ngomong aja Zaina ... aku akan selalu ada di sini," ucap Mahen sambil mengangguk. "Ceritain semuanya. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Restu pernah buat kamu nggak nyaman. Ceritakan saja. Mereka akan mengerti. Kita hanya perlu kamu sebagai saksinya."


Zaina menunduk.


"Maksud kamu?"


Kini seluruh orang memandang ke arah Zaina. Yang menjadi pusat perhatian kini hanya menunduk. Ia menarik napas dalam.


"Maaf kalau aku mengecewakan kalian ... tapi aku nggak tahu kalau kalian bakalan sejauh ini. Maksudnya aku nggak tau kalau nanti kita yang menang. Maka Restu bakalan di penjara seumur hidup. Karena dia udah merugikan banyak orang, bahkan hampir melakukan rencana untuk ngebunuh aku."


"Ya memang setimpal kan?" tanya Mahen masih bingung sama pemikiran Zaina.


"Iya aku tau—


Mahen menghela napas dalam dan menggeleng. Ia memegang bahu perempuan itu. Berusaha meyakinkan Zaina. Matanya tersirag permohonan, supaya Zaina nurut sama kemauannya kali ini.


"Aku sangat mohon Zaina. Kita udah sejauh ini. Aku sama orang tua kamu udah melakukan berbagai cara dan itu gak mudah sama sekali. Karena Restu selicik dan secerdik itu. Tapi setelah usaha kita karena punya tekad untuk kembali kan nama baik kamu. Akhirnya kita bisa mendapat semua bukti itu. Jadi ... tolong jangan keluarkan sikap terlalu baik kamu itu."


"..."


"Okei, mungkin kamu ksihan. Atau kamu ngerasa nggak enak sama sekali. Tapi di sisi lain. Tolong pikirkan mom sama dad kamu. Bagaimana mereka yang melakukan banyak cara demi kamu. Masa kamu malah menyia-nyiakan semua itu. Nggak Zaina. Sekarang kamu harus tutup mata. Jangan pernah peduli sama Restu. Dia aja udah tega sama kamu. Masa kamu nggak tega sama dia."


Zaina menunduk.


"Katanya kamu mau nurut sama aku? Nurut ya ... janji deh kamu nggak perlu jsdi saksi sampai datang ke persidangan itu. Apalagi sampai bersitatap sama Restu. Kamu cukup jawab pertanyaan para pengacara di sini. Karena di sini, jawaban kamu yang paling penting."


Zaina menoleh ke belakang. Di sana ada orang tuanya yang mengangguk sambil menatap penuh harap. Beralih ke Mahen, laki-laki itu tersenyum menenangkan. Membuat Zaina akhirnya mengangguk tegas.


"Jadi, apa yang bapak pengacara mau tanyakan ke aku?" tanya Zaina dengan tegas pada akhirnya.