
"Namanya Dharma. Jadi, dia laki-laki yang akan oma jodohkan sama kamu. Oma harap kalau ke depannya kalian akan terus bersama. Kamu harus tahu ya Zaina, kalau dia nggak peduli dengan semua kesalahan kamu di masa lalu. Jadi ... kamu harus mulai buka hati sama dia. Toh, Dharma juga ada tampang. Jadi, kamu nggak akan kesulitan sama sekali."
Zaina terhenyak. Ia menatap dari atas sampai bawah dan napasnya semakin tercekat.
"Kenapa diam aja? Kenalan dong ..."
Perempuan itu menarik napas dalam dan mengulurkan tangan. "Zaina," ucapnya dengan sangat singkat.
"Dharma .. orang yang akan jadi suami kamu untuk ke depannya," jawab laki-laki itu sambil cengengesan membuat Zaina merengut tidak suka. "Hei .. kita seumuran loh. Jadi, nggak usah formal. Oh iya, nggak usah lama-lama lagi deh. Gimana kalau kita langsung ke tahap selanjutnya aja?"
Zaina semakin mendengus tidak suka.
Sementara Dharma menoleh pada oma. "Benar kan oma? Dari pada kita mengulur waktu lagi. Mendingan semua ini kita cepetin aja kan? dan umumin ke semua orang tentang hubungan aku sama Zaina. Sembari kerja sama perusahaan antar kita."
Ah ...
Zaina mulai paham kenapa laki-laki di depannya ini mau menerima dia. Baru mau membuka mulut untuk menimpali masalah ini, Omanya kembali menepuk lengan atas Zaina.
"Kamu tenang saja, Zaina akan menurut semua yang oma omongin kok. Kalau kamu mikirnya kayak gitu. Ya sudah, nanti kita cepat temui anak saya alias orang tua Zaina. Biar kita bisa memiliki hubungan dengan cepat. Bukankah semakin cepat itu semakin baik?"
Zaina menatap omanya dengan pandangan kaget.
"Oma?"
Omanya menggeleng. "Sudah ... kamu nggak ada alasan untuk mengelak sama sekali. Nah ... buat kalian, memang sudah waktunya kalian saling mengenal satu sama lain dan juga, jadi oma akan tinggalkan kalian berdua. Jangan diam aja ya! oma tunggu kabar baiknya.”
Zaina menggeleng, menatap kepergian sang oma. Tapi omanya itu malah melambaikan tangan, meninggalkan dirinya begitu saja.
“Hei ... nggak usah sedih, kan udah ada gue. Oh iya, nggak usah formal banget ya. Gue lu aja. Biar kita semakin dekat. Oh iya, biasanya ke mana-mana lu pergi itu suka ada wartawan yang ikutin kan? Gue pernah denger dari temen gue sih. Jadi ... menurut lu, sekarang ada wartawan yang ngikutin lu kan? Kalau ada ... sekalian mereka bisa lihat kedekatan kita kan?” bisik Dharma dengan wajahnya yang mendekati Zaina.
Zaina memiringkan wajah dan menatap bingung.
“Lu gila ya?” papar Zaina dengan kesal.
“Loh, kenapa malah ngatain gue? Padahal gue ngomong gini tuh bener. Soalnya sih ... yang gue dengar dari oma lu. Lu ini udah punya banyak masalah. Jadi dengan perjodohan kita, mungkin masalah lu bakalan hilang. Jadi ... menurut lu ada nggak wartawan yang ngikutin kita?”
Dharma mulai celingukan menatap ke seisi restoran. Begitu sadar restoran yang cukup sepi dan nggak ada orang yang mencurigakan. Ia mendesah. “Kayaknya nggak ada? Nggak apa-apa deh. Biar gue tunggu nanti pengumuman dari keluarga lu. Paling satu bulanan kan? Tapi kalau bisa kurang ya ...”
Zaina tertawa dan menggeleng.
“Bentar deh,” ucap Zaina pada akhirnya mendapat atensi dari Dharma.
“Iya?”
“Loh mana ada kayak gitu?” papar Dharma sambil menggeleng.
Wajah selengean yang sejak tadi dibenci Zaina kini mulai mengeras dan tatapan Dharma semakin menajam.
“Perjanjian awalnya nggak ada yang kayak gitu. Oma lu udah setuju kalau kita di jodohkan dan nggak cuman itu doang. Oma lu udah ngomong kalau lu pasti setuju. Jadi, gue nggak akan nerima penolakan sama sekali. Jadi, lu nggak bisa asal ngomong kayak gitu. Cukup ikutin kemauan gue!”
Zaina tertawa dan menyilangkan tangan di dada.
“Lu siapa? Kita baru kenal dan lu nyuruh gue untuk ikutin semua kemauan lu. Hahaha, lucu banget. Lawak deh. Dan gue tegasin ya di sini, kalau yang di jodohin itu gue sama lu. Bukan lu sama oma. Jadi, yang harus setuju di sini ya gue. Bukan oma sama sekali.”
“Oh ... ternyata begini ya kelakuan lu. Benar-benar. Memang benar kata oma lu kalau lu itu cuman wanita pemaksa yang membuat semua orang jadi susah. Lu nggak denger oma lu bilang kalau kita dibuat beruntung satu sama lain kalau bisa saling nikah.”
Zaina mengendikan bahu, acuh.
“Gue datang ke sini mau lihat dulu. Eh ternyata orang yang mau di jodohin sama gue malah punya kelakuan kayak lu. Jadi, jangan harap lu bisa jadi suami gue. Dan ... baru aja kita ketemu, gue langsung tahu kalau lu niat nikah sama gue cuman karena harta kan?” tuduh Zaina sambil menggeleng kecil. “Demi kerja sama perusahaan biar perusahaan lu jadi naik namanya, lu milih buat nikah sama gue. Dari mana letak tulusnya? Nggak ada sama sekali. Lawak banget.”
Dharma menunjuk Zaina dengan penuh rasa dendam.
“Dasar sombong! Gue nggak akan lepasin lu gitu aja,” omel Dharma.
“...”
“Nggak usah sok kecantikan. Di zaman sekarang, siapa yang mau sama perempuan nggak perawan kayak lu! Udah untung gue nggak ada nyinggung masalah ini dan nggak mempermasalahin kondisi lu. Eh malah lunya aja yang sombong. Gue sumpahin lu nggak akan pernah bahagia kalau nggak sama gue,” sumpah Dharma membuat Zaina sangat spechless
“Lu ...”
“Kenapa? Nggak terima? Gue nggak peduli. Tapi, yang harus lu tahu ... gue nggak akan pergi gitu aja. Lihat saja nanti, apa yang bakal gue lakuin sama lu,” marah Dharma lalu memundurkan tempat duduknya dan beranjak begitu saja, meninggalkan Zaina sendiri.
Setelah kepergian Dharma, baru Zaina menghela napas kecil dan menunduk. Tangannya mencengkram kuat ujung bajunya. Ia memejamkan mata dan meneteskan air mata. Menahan tangisan di tempat umum itu sangat tidak enak. Zaina langsung meninggalkan mejanya begitu saja dan masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi.
“Di saat selama ini aku berusaha untuk bertahan di tengah rasa sakit dan melupakan semua fakta di hidup aku. Kenapa masih aja ada orang yang mengorek luka lama dan buat luka itu kembali terbuka?”
Zaina meremat kemejanya dan kembali meringis. “Kenapa? Kenapa semuanya jadi kayak begini? Kenapa ... rasanya sangat sakit sekali?”
Suara ponsel tiba-tiba membuat pikiran Zaina teralih, ia mengusap air matanya yang terus turun dan menatap nama ‘Mahen’ yang menghiasi layar ponselnya. Dengan gemetar ia mengangkat ponselnya.
/Zaina? Kamu baik-baik aja kan?/
Tangisan yang Zaina tahan-tahan kini kembali keluar lagi membuat Mahen panik di seberang sana. “Mahen ... rasanya sakit banget.”
/Zaina? Kamu di mana? ya ampun, apa yang terjadi? Tunggu di sana, aku bakalan langsung ke sana./