Love In Trouble

Love In Trouble
32 - Masa Lalu Mahen



“Namanya Alfi.”


Zaina mengangguk mendengar penuturan Mahen yang sesekali menatap tajam ke arah neneknya. Karena semenjak protesan Mahen yang nggak di tanggapi sama neneknya, Mahen memilih berjalan keluar dan mereka duduk di halaman belakang rumah yang penuh dengan tanaman indah.


“Alfi? Dia sepupu kamu?”


“Boro-boro ...”


Zaina menatap dengan bingung. Kenapa Mahen kelihatan sangat kesal seperti ini. Kenapa Mahen keliatan sangat emosi. Zaina menelan saliva, dia jadi takut melihat Mahen yang tersulut emosinya seperti ini.


Alih-alih bertanya, akhirnya Zaina memilih diam dan beranjak ke arah ayunan dan duduk di sana. Ia menerima angin sepoi-sepoi.


Sampai suasana kembali hening, Mahen baru sadar kalau nggak ada suara lagi yang berasal dari Zaina. Dia menoleh dan melihat Zaina yang hanya berayun sambil menatap langit, tanpa ekspresi sama sekali.


“Maaf Zaina,” gumamnya pelan


“Hmm ... aku nggak tahu di sini ada masalah apa. Karena ini juga pertama kalinya aku ada di sini. Tapi kalau kamu emosi atau marah pada suatu hal. Harusnya kamu marah sama urusan dan masalah kamu aja. Jangan malah menyeret orang lain. Aku nggak tau apa-apa, tapi kamu seolah marah sama aku.”


Zaina menunduk. “Aku membenci orang yang selalu melampiaskan amarah ke orang yang salah. Aku benar-benar benci.”


“Maaf,” ucap Mahen lagi lalu turut duduk di ayunan dan memegang punggung Zaina. “Mas beneran lagi emosi dan nggak sadar malahan melampiaskan ke kamu. Mas minta maaf ya.”


Zaina mengangguk dengan ragu.


“Tapi, jangan kayak tadi lagi ... Aku jadi takut liatnya.”


Mahen mengangguk. “Nggak akan mas ulangi, mas janji.”


Keadaan kembali hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Zaina melirik pada Mahen yang masih diam. Tatapan mata calon suaminya itu sangat kosong.


“Mas ... sebenarnya ada apa?” tanya Zaina dengan sangat pelan. “Kamu ada masalah sama nenek kamu? Kenapa, kamu keliatan benci banget. Padahal kalian semua tadi excited menunggu kedatangan nenek.”


“Mas nggak benci sama nenek, mas hanya benci sama orang yang membuntuti nenek dari belakang. Kamu melihatnya kan tadi? Perempuan tadi, perempuan yang mas bilang namanya Alfi ..”


“Ya? Ada apa dengan dia?”


“Dia tetangga mas pas kecil. Dia selalu ikut kalau ada acara keluarga kayak gini. Orang tua nya juga udah meninggal dari kecil dan sejak saat itu, nenek selalu aja berusaha mendekati dia sama aku. Nenek seolah selalu ikut campur sama hubungan asmara aku dan semuanya akan berakhir kacau, karena perempuan tadi akan mengacaukan semuanya.”


“Dia suka sama kamu?”


“Hmm ... dan dia selalu menggunakan kesedihan dia untuk mencari simpati semua orang dan tentu aja nenek yang punya hati lembut, termakan omongannya. Makanya sampai detik ini nenek selalu aja berusaha untuk mengacaukan kehidupan romansa aku, setelah dua perempuan ikut korbannya.”


“Hah? Maksud kamu ...” Zaina menarik Mahen dan membawanya duduk di salah satu kursi. Ia menatap Mahen dengan saksama. Benar-benar penasaran sama yang terjadi di sini.


“Kamu orang ketiga yang memiliki hubungan dengan aku.”


“Tiga?” tanya Zaina dengan menunjukkan angka tiga.


Mahen mengangguk.


“Dan dua kisah pertama, mas hancur karena perlakuan nenek dan mas harap kamu bisa melewati ini semua dengan baik. Karena mas nggak mau menambah kisah buruk lagi. Mas udah terlanjur cinta mati sama kamu dan mas juga akan memperjuangkan kamu dengan baik. Asal kamu jangan menyerah.”


Zaina memiringkan wajahnya, masih nggak paham. Memangnya separah apa? Sampai Mahen keliatan serius kayak gini? Bahkan mata Mahen sedikit merah, seolah menahan air mata.


“Mas ... apa yang sebenarnya terjadi?” Helaan napas berat Mahen membuat Zaina yakin kalau ada hal besar yang memang terjadi di sini. Dia langsung saja mengusap punggung Mahen. “Kalau kamu nggak sanggup untuk cerita, maka nggak usah cerita mas. Biar masa lalu itu kamu tutup dengan rapat-rapat.”


Mahen menggeleng.


“Kamu harus tau ...”


Zaina mengangguk pelan, “tapi kalau kamu nggak bisa cerita sekarang, aku beneran nggak apa-apa kok. Beneran deh. Kamu cukup nguatin diri dan kalau bisa, kamu baru cerita sama aku. Soalnya ... kamu keliatan sedih banget? Dan itu sedikit menyakiti aku.”


Mahen menahan lengan Zaina, “sekarang waktu yang paling pas ...”


***


Dua tahun yang lalu,


Pertama kalinya Mahen mengenal cinta. Perempuan manis yang selalu membuat hatinya berdebar. Dia memutuskan untuk membawa perempuan itu alias Danty ke keluarganya dan seperti biasanya, keluarganya menerima dengan baik.


Tapi semua itu berubah saat Mahen membawa Danty ke keluarga besar. Dia yang sejak awal nggak terlalu memikirkan permintaan sang nenek untuk menikahi Alfi mulai sadar kalau omongan neneknya, bukan bualan semata.


Awalnya Mahen hanya bisa meminta maaf sama Danty karena sikap neneknya yang benar-benar berlebihan. Tapi, entah kenapa neneknya selalu aja membuat acara keluarga besar dan meminta Mahen untuk mengundang Danty. Ia yang mengharapkan neneknya akan berubah terus membawa Danty, berulang kali. Tapi semua tetap sama. Nenek mempermalukan Danty di hadapan semua orang. Bahkan sampai mengatai fisik.


Setiap Mahen marah, neneknya akan menangis membuat hati kecilnya merasa nggak enak.


Semuanya benar-benar berubah setelah Danty benar-benar di permaluksn bahkan neneknya membawa-bawa keluarga Danty membuat perempuan itu benar-benar marah. Bahkan Alfi, juga ikut campur sama masalah ini dan selalu saja menyenggol Danty. Sejak saat itu, Danty nggak pernah lagi bisa dihubungi sampai Mahen mendengar kabar kalau Danty sudah memiliki hubungan sama laki-laki lain dan berakhir menikah.


Dan itu pertama kalinya Mahen merasakan kehancuran akan dunianya.


Pertama kalinya Mahen merasakan sakit hati di hidupnya. Untuk beberapa waktu hidupnya serasa terhenti. Mahen marah, tapi dia nggak tahu harus marah ke siapa karena keluarganya meminta dia untuk tenang. Tidak mau membuat jantung nenek kambuh.


Ketakutan itu datang seiring dia mendekati Fia. Tanpa dia sadar, ternyata selama ini Alfi selalu mengintai dirinya dan memberi tahu neneknya secara langsung. Neneknya juga langsung bertindak dengan mendatangi Fia, meminta perempuan itu untuk pergi tapi dengan lembut Fia selalu bilang kalau menyerahkan semua keputusan pada Mahen.


Neneknya marah,


Dengan uang, nenek Mahen melakukan berbagai cara untuk mengintimidasi Fia. Ia buat perempuan itu terusir dari rumahnya. Ia keluarkan dari pekerjaan. Tapi Fia menganggap semua ini hanya musibah dari Allah. Mahen juga kerap menolongnya, tapi Mahen menolak. Di sini posisinya Mahen belum tahu kalau yang membuat kekasihnya begini itu karena ulah neneknya dan Alfi.


Karena, Mahen sengaja tidak membawa Fia ke keluarga besar.


Ia masih trauma akan masa lalu.


Sampai, Mahen masih tidak paham sampai detik ini karena tiba-tiba saja Fia di culik dan di lecehkan dengan orang suruhan neneknya. Fia, perempuan yang taat agama itu merasa hancut setelahnya dan tak lama memutuskan untuk bunuh diri. Karena tak tahan dengan rasa jijik di tubuhnya.


Fia merasa dunianya hancur dan Mahen yang pertama kali menemukan Fia gantung diri di dalam kamar kostannya.


Untuk kedua kalinya, Mahen merasa hancur dan dia mulai merasa kematian Fia ada yang aneh. Karena Fia ini perempuan yang sangat tahu tentang agama dan pasti paham kalau bunuh diri itu tindakan yang nggak di sukai sama Tuhan. Dan karena itu juga, akhirnya Mahen mengusut kematian Fia dibantu dengan ayahnya. Sampai dia akhirnya tahu kalau dalang di balik semua ini adalah neneknya.


Mahen marah, marah sama dirinya sendiri yang nggak pernah meluangkan waktu untuk Fia. Dia marah sama neneknya karena udah melangkah sejauh itu.


Dan sejak itu, Mahen trauma. Dia nggak mau membuat perempuan mana pun trauma akan dirinya. Trauma karena berhubungan sama dia sampai bertemu dengan neneknya yang nggak waras. Tapi ... begitu melihat Zaina dalam jangan waktu lima tahun kemudian perasaan itu kembali terbuka dan itu salah satu alasan, orang tua Mahen yang sangat berterima kasih sama Zaina ...


***


“Rasanya hancur.”


Setelah menuntaskan kisahnya, kini Mahen hanya bisa menunduk. Benar-benar takut sama respon yang akan di tunjukan sama Zaina. Ia mendongak perlahan tapi sebuah pelukan hangat Mahen terima. Ia mendengar tangisan lirih dari perempuan itu.


“Kenapa jadi kamu yang nangis?” tanya Mahen dengan sangat lembut.


“Pasti nggak mudah ya mas ngelewatin ini semua?” gumam perempuan itu dengan pelan. “Kamu melewati hidup yang susah, ya ampun mas ... aku nggak ngebayangin gimananya jadi kamu. Pasti susah dan sakit banget ya. kamu pasti trauma kan? Sampai aku baru sadar kalau pas perempuan tadi masuk ke dalem rumah, tubuh kamu jadi gemetar dan selama cerita kamu cuman mengepalkan tangan. Tanda emosi kamu masih kuat selama ngebayangin kisah itu. Kamu hebat dan kuat banget.”


Tubuh Mahen melemas di pelukan Zaina. Ia menangis, laki-laki itu menitikan air mata!


Ia merasa nyaman, akhirnya nggak ada yang judge dia. Padahal selama ini ia selalu menyalahkan dirinya.


“Tapi ... aku takut, aku takut mereka bakalan mencelakai kamu. Aku takut kalau kamu nanti malah milih pergi. Aku nggak mau kehilangan lagi untuk ketiga kalinya. Udah cukup yang kemarin. Karena aku nggak mau lagi. Kehilangan orang yang kita cintai itu benar-benar sangat menyakitkan.”


“Aku di sini,” bisik Zaina berusaha menenangkan. “Aku akan selalu di sini, kamu jangan khawatir ya.”


Mahen melepas pelukan dan mengecek tubuh Zaina, ia terlalu erat memeluk perempuan itu dan takut menyakiti atau menekan perut perempuan itu.


“Aku nggak menyakiti perut kamu kan?” tanya Mahen yang khawatir.


“Enggak kok ... tenang aja, kamu nggak ada menyakiti aku sama sekali,” jawab Zaina dengan lembut sambil mengelap air matanya yang masih terus turun. “Mas ... kamu masih bisa kembali ke dalam sana? Atau mau pulang ... aku beneran takut kalau kamu masih nerusin ke sana. Aku takut kalau kamu lepas kendali lagi.”


Mahen menggeleng.


“Semakin aku keliatan lemah, mereka semakin antusias menyakiti kamu. Mas nggak mau. Mas tau kalau kamu bisa melewati ini semua. Karena, tadi aja kamu bisa jawab mereka sampai mereka diem. Makanya ... aku harap kamu bisa terus kuat kayak tadi. Kita harus kuat-kuat untuk melawan nenek sama Alfi.”


Zaina mengangguk. Itu bukan masalah besar sama sekali.


“Tapi ... kamu jangan pernah nyalahin diri kamu sendiri ya mas,” seru Zaina dengan tiba-tiba sambil mengusap pipi Mahen dengan pelan. “Ini semua udah takdir, kamu jangan terus nyalahin diri kamu ya. Aku nggak mau kalau semua ini terus menghantui kamu setiap harinya. Aku mau ... kamu kirim doa ke mantan kamu ini, tanpa terus nyalahin diri kamu sendiri.”


Mahen menunduk.


Bahkan sampai detik ini, ia kerap menyalahkan dirinya.


“Tapi, kamu pasti mikir kan. Kalau saja Fia nggak ketemu sama aku. Pasti sampai detik ini, dia masih ada di dunia ini. Memang keberadaan aku ngebawa Fia kepada takdir kayak gini dan masalah ini benar-benar mengguncang jiwa aku. Aku takut bakalan ada korban lainnya dan aku nggak akan pernah bisa berdamai sama masalah ini sebelum nenek sama Alfi minta maaf secara langsung sama aku.”


“Jadi ... mereka nggak minta maaf sama kamu? Tapi ... mereka kenapa nggak di penjara?” tanya Zaina dengan hati-hati. “Soalnya kan ini perbuatan sengaja dan harusnya meraka ada di penjara karena perbuatan yang satu ini.”


“Uang nenek terlalu banyak, dia menggunakan banyak koneksi untuk menutup masalah ini. aku sama ayah bahkan udah bawa masalah ini ke pengadilan karena memang berlebihan, tapi ya gitu. Kami kalah, dan nenek nggak kenapa-napa sampai detik ini. Bahkan karena masalah ini juga, keluarga aku nggak pernah mau datang ke rumah ini dan ini pertama kalinya setelah sekian lama kami datang ke sini. Kami ... hanya mau mengenalkan kamu dan setelah itu kami benar-benar nggak mau berurusan sama mereka lagi. Karena takut terjadi hal yang sama. Kami akan terus memprotect keberadaan kamu dari mereka.”


Zaina mengucapkan makasih banyak-banyak.


“Zaina ... aku boleh meluk kamu lagi nggak?” tanya Mahen dengan hati-hati.


Zaina tertawa lepas. “Biasanya juga main peluk aja, kenapa malah nanya dulu. Bikin malu tau nggak sih,” serunya sambil memukul lengan Mahen yang kini terkikik.


Mahen langsung menark Zaina dan memeluknya erat, tentu setelah memberi jarak pada perut Zaina supaya bayi di dalam sana nggak tertekan sama dia. Mahen hirup aroma tubuh Zaina yang begitu menenangkan dirinya. Ia sangat sayang sama perempuan di pelukannya ini.


“Zaina ... kita hadapi bersama ya. Aku nggak tahu apa yang bakal di lakuin nenek sama Fia ke kita. Tapi, aku mau kita berdua bisa lewatin ini bersama. Aku nggak mau kehilangan cinta aku lagi. Aku mau hanya kamu yang ada di sisi aku. Aku mohon ... kalau mereka macem-macem sama kamu. Jangan diem aja, kamu harus langsung bilang sama aku. Biar kita bisa selesaiin bersama.”


Di pelukan Mahen, Zaina menagngguk.


“Dan ... kamu nggak perlu terlalu khawatir. Aku dikenal sebagai perempuan kuat bukan tanpa alesan. Masalah kemarin aja bisa aku lewatin, apa lagi cuman ini.”


“Bagus ... aku sayang sama kamu.”


“Aku juga ...”