
Pertengkaran yang terjadi sejak tadi membuat hati Zaina sangat sakit. Ia terus melihat ke arah oma dan daddy nya yang terus berdebat itu dan sungguh hatinya sangat sakit melihat mereka yang seperti ini.
Zaina menelan saliva lalu menghembuskan napasnya pelan.
"Ini gara-gara aku ya?" Zaina menunjuk dirinya sendiri
"Aku memang pembawa masalah bagi semua orang," lanjut perempuan itu pelan.
Tumbuh di keluarga yang baik-baik aja dan nggak pernah ada pertengkaran, membuat Zaina mudah tersulut sama hal kecil kayak gini. Di mata Zaina, sangat asing tentang sebuah pertengkaran sampai ngomong kasar seperti yang ia lihat ini.
Kerena terus dilimpahi kasih sayang melimpahi, bentakan dikit aja membuat Zaina menangis. Masalah mental emang Zaina menang, tapi kalau sudah urusan keluarga kayak gini. Zaina angkat tangan, dia menyerah.
"Kalau aja dari awal aku nggak marah dan menantang oma, pasti hubungan oma sama ibu dan ayah baik-baik aja."
"..."
Perempuan itu berbalik dan meninggalkan rumah itu lalu duduk di halaman rumah oma nya itu. Ia meluruskan kaki dan sedikit merasa geli akibat rerumputan yang ia duduki Tangannya tertahan ke belakang dan Zaina menatap langit yang sangat cerah.
"Ah ... langit aja nggak berpihak ke gue. Harusnya langit tuh ujan kek apa gimana. Biar gue sadar kalau yang gue lakuin itu benar atau nggak ngikut perasaan gue yang lagi sedih."
"Alah ... nggak ada simpatinya banget."
Satu detik kemudian Zaina mendengus, menertawakan diri nya sendiri yang sudah seperti orang gila.
"Emang nggak waras!" gumam Zaina untuk dirinya sendiri
Hening kembali menyapa membuat Zaina kembali teringat akan masalah itu. Hatinya terasa melompong dan itu begitu sesak. Sampai Zaina merasa seseorang mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kak Zaina ..."
Tanpa menoleh pun Zaina mengenal suara itu. Anak dari tantenya yang selama ini nggak pernah akur sama dia alias Rahma.
"Oi? Jangan marah-marah dulu ya. Gue lagi nggak mood buat berantem nih," ancam Zaina
Rahma menggeleng.
"Kak capek nggak sih sama sikap oma?" tanya Rahma dengan serius
Zaina spontan menoleh, "ini beneran kamu?" tanya Zaina lalu tertawa tipis. "Biasanya kalau ngomong sama gue, itu harus pakai nada tinggi. Tapi kenapa sekarang malah memble gini."
Zaina malah dipukul membuat perempuan itu refleks mengusapnya sambil tertawa.
"Gue lagi serius kak dan kakak sendiri yang bilang kalau lagi nggak mau ribut. Tapi kakak sendiri yang malah ngajak ribut gitu. Ah kesal lah."
Zaina terkekeh dan meminta maaf.
"Sorry deh ... biar nggak tegang aja. Oke, kita serius lagi. Tapi apa tadi kata kamu? Capek sama sikap oma?" tanya Zaina yang diangguki Rahma. "Lah? lu capek kayak gimana. Bukannya lu itu cucu kesayangan oma? pasti lu itu dapat apa pun yang oma punya kan? jadi ... kenapa lu bisa capek sama sikap oma."
Rahma yang mau menjawab kembali diam saat Zaina merubah posisi duduknya dan menghela napas kasar.
"Padahal di sini gue yang ngerasa iri sama lu," papar Zaina dengan sangat serius. "Gue yang dari dulu nggak pernah dapet kasih sayang dari oma. Harus ngelihat lu yang terus di sayang."
"..."
"Mungkin kalau sekarang udah biasa aja sih. Tapi pas kecil?" Zaina tertawa mengingat masa kecilnya.
"Masih ingat gue yang senang banget karena di ajak oma buat nemenin dia ke mall sama lu. Gue yang nggak pernah dapet perhatian dari oma semenjak kecil ya pasti senang banget dong."
Rahma mengangguk pelan.
"Tapi ... pas di sana gue cuma liat oma yang beliin lu doang dan gue cuma ngikutin di belakang doang sambil natap iri. Pas makan juga, oma malah makan di restoran yang nggak gue suka. Ya ampun kalau inget itu masih sakit hati banget. Woah, masih kerasa sampai sekarang."
"Maaf ..."
Zaina menggeleng. "Santai lah, udah lewat ini juga."
Rahma memainkan pipinya, merasa nggak enak.
"Tapi beneran deh, gue minta maaf. Pasti salah satu alasan lu selalu ngomel sama gue tuh karena ini ya?"
Zaina menggeleng.
"Bukan ... tapi dengan berantem kayak gitu malah bikin gue ngerasa dekat sama lu."
"Hah maksudnya?" kaget Zaina.
"Iya ... lu tahu sendiri kan kalau gue dateng ke sini, gue nggak punya teman sama sekali. Dan cuma lu yang bikin gue tertarik, dibanding yang lain. Mungkin juga karena umur kita yang nggak jauh-jauh amat. Makanya gue milih buat isengin lu gitu."
"Isengin?"
Zaina mengangguk.
"Semenjak berantem sama lu, gue ngerasa kalau kita agak deketan lah. Pokoknya walaupun cuma marah-marah doang, tapi gue ngerasa bisa lebih dekat lah sama lu."
Rahma terkekeh.
"Dikira cuma gue yang ngerasa kayak gitu."
Zaina ikut tertawa. "Oh iya udah, tadi kenapa tiba-tiba lu ngomong kalau capek sama oma? bukannya lu dekat banget ya sama oma?" Zaina menatap sekeliling. "Eh, kenapa lu ada di sini? memangnya ada tante juga di depan?"
Rahma yang melihat Zaina panik langsung menenangkan. Rahma jelas tau gimana omongan kasar bundanya itu yang terkadang suka menyakiti banyak orang.
"Tenang aja, nggak ada ibu gue. Lu aman. Ada sesuatu hal lah yang buat gue datang ke sini dan karena itu juga tadi tuh ngomong sama lu, kalau gue capek sama oma."
"Capek gimana sih?" tanya Zaina setelah menghela napas lega dan kini penasaran sama penuturan Rahma.
"Dari kecil gue emang cucu kesayangan oma dan itu kan yang tadi buat lu iri?"
Zaina mengangguk pelan.
"Tapi, kadang gue juga capek Zaina ... kayak ekspetasi oma ke gue tuh tinggi banget. Gue harus ngelakuin ini itu yang oma mau. Kadang gue mau nyerah tapi orang tua gue tuh malah marah bukannya dukung."
Rahma melipat kakinya dan memeluk erat. Tangannya memainkan rumput basah yang di dudukinya.
"Pas dateng gue lihat orang tua lu yang lagi bela lu sedemikian rupa, bahkan bokap lu rela menentang ibu kandungnya sendiri, hanya demi lu. Sementara orang tua gue? Gue bahkan nggak pernah di bela. Mereka cuma maksa gue untuk ngelakuin apa yang oma pinta."
"..."
"Gue muak, Zaina. Gue muak banget karena harus jadi perempuan baik-baik di depan oma. Gue mau bisa kayak lu yang menolak kemauan oma. Gue juga mau bisa marah sama oma dan ngelakuin apa yang mau gue lakuin."
Zaina tersentak. Perempuan itu benar-benar kaget mendengar penuturan Rahma. Sepupunya yang selalu kelihatan kuat dan penuh kasih sayang itu ternyata juga memiliki masalah hidup. Perempuan itu masih tertegun hingga Zaina mendengar isakan Rahma.
"Gue— capek."
"It's oke, nangis aja ... nggak usah ditahan. Pasti lu udah nahan selama ini kan? nggak apa-apa. Nangis aja. Jangan di tahan. Pasti udah sesak kan selama ini karena lu udah nahan berulang kali semua amarah lu."
Rahma semakin kencang menangis.
Setelah beberapa menit kemudian dan Rahma sedikit lebih tenang, perempuan itu langsung melepas pelukan dan memegang baju Rahma.
"Boleh gue tau apa yang oma pinta sama lu?"
Rahma menunduk.
"Cerita aja sama gue, kalau itu bisa buat lu lebih tenang dan nggak usah sungkan. Hubungan kita memang kurang baik pas dulu. Tapi sekarang kita sama-sama lagi di bawah penekanan oma dan udah seharusnya kita bisa saling bantu," jelas Zaina dengan serius. "Siapa tau juga orang tua gue bisa bantu lu kan?"
"Gue di Jodohin."
"HAH?!" tanya Zaina yang berusaha memastikan apa yang dia dengar. Tapi anggukan Rahma membuat Zaina meraup wajahnya, frustasi.
"Jadi oma maksa nikah kayak gini juga bukan ke gue doang tapi ke lu juga? Ya ampun ... oma tuh punya hati nggak sih? Masa semua anaknya dipaksa buat nikah sih. Ini mah nggak enak di kitanya. Kasihan lah. Ya ampun, bisa-bisanya oma itu malah kayak gini."
"Gue nggak mau Zaina ..."
Zaina mengerti perasaan Rahma. Ia mengusap bahu Rahma, berusaha menenangkannya.
"Kalau urusan lain, gue masih bisa handle dan nahan diri terus akhirnya ikutin apa yang oma mau. Tapi kalau nikah, gue nggak mau sama sekali. Gue udah punya cowok dan kita udah punya hubungan dari lama banget. Gue nggak mau hubungan gue sama cowok gue jadi hancur cuma karena perjodohan nggak jelas kayak gini."
"..."
"Lagian oma tuh kenapa sih?" seru Rahma menggebu-gebu. "Maksudnya ... ini kan pernikahan ya. Kenapa oma malah main jodoh-jodohin aja, padahal kan yang nikah nya gue dan gue yang harus ngerasain nyaman. Bukannya oma. Emang nya oma kira bisa langsung nyambung sama orang yang di jodohin sama dia? enggak!—
"Okei ... intinya kita sama," potong Zaina
Rahma menarik napas akhirnya dan mengangguk.
"Bedanya orang tua lu tuh support dan mau ngebela anak nya sementara gue? orang tua gue bahkan nggak mikir perasaan gue sama sekali. Mereka malah nyuruh gue buat ikutin suruhan oma. Karena dengan gitu, nanti kita makin kaya."
"Ya ampun," gumam Zaina yang tidak habis pikir sama omongan tantenya itu.
Zaina termenung kemudian sadar akan sesuatu. Ia menatap Rahma dengan serius.
"Terus, buat apa lu datang ke sini?" tanya perempuan itu. "Maksudnya, lu kesal sama oma tapi masih terus datang ke sini? padahal sesekali coba deh memberontak dan nggak perlu datang ke sini terus. Karena kalau lu datang terus, yang ada oma taunya lu setuju setuju aja dan taunya lu ini nggak akan pernah menolak semua keinginan oma."
Rahma termenung.
"Gue takut ..."
"Sesekali ngeberontak nggak apa-apa Rahma."
"Lu tau kan kalau gue lagi semester akhir?" tanya Rahma yang di angguki sama Zaina. "Namanya semester akhir tuh pasti banyak pengeluaran dan kalau gue nggak nurut buat datang ke sini, nanti orang tua gue nggak bakalan kasih uang jajan. Terus nanti gue harus apa? gue butuh biaya juga dan nggak mau egois yang nantinya malah buat gue rugi."
"Loh ... uang tiap bulanan dari bokap gue?"
"Maksudnya?" bingung Rahma
"Itu loh, kan bokap gue selalu rutin ngirim uang ke oma atau adeknya bokap gue dan itu tiap bulannya kok dan buat uang sekolah dari anaknya adek bokap gue juga dapet. Yang arti nya uang kuliahan lu itu juga yang nanggung bokap gue."
Rahma menatap bingung dan menggeleng.
"Gue nggak tau apa-apa."
"Ya udah ... tadi lu dateng ke sini cuman karena suruhan dari oma doang?"
Rahma mengangguk.
"Sekarang mendingan lu pulang. Nggak usah ngabarin apa-apa ke semua orang. Biar gue cerita sama orang tua gue dulu dan selanjutnya, biar orang tua gue yang urus itu pun kalau bisa ya."
"Beneran?!" pekik Rahma langsung memegang bahu Zaina
Zaina mengangguk. "Hmm ... tapi gue janji karena lu tau kan oma tuh gimana? takutnya gue udah janji ini itu. Eh malah nggak dapet hasil apa-apa karena oma yang nggak mau gitu."
Rahma menggeleng.
"Nggak masalah asal ada yang ngomong ke oma kalau gue sebenarnya keberatan sama semua ini. Karena jujur aja gue takut buat ngomong ini sama oma."
Zaina menepuk bahu Rahma dan mengangguk.
"udah ... mendingan sekaran lu pulang deh. Keburu ketemu oma dan nantinya malah nggak bisa pergi."
Rahma terus menjabat tangan Zaina dan berterima kasih lalu berakhir memeluknya baru pergi sambil terus berbalik dan melambaikan tangan. Zaina terus memandanginya sampai Rahma tidak terlihat lagi.
perempuan itu menggeleng dan tertawa kecil.
"Ya ampun Rahma ... gue nggak nyangka kalau kita bakal akur kayak gini. Biasanya juga selalu berantem. Tapi tetap aja ya ... ada aja hal yang buat aku kaget."
Zaina menepuk bokongnya untuk membersihkan rumput hijau yang menempel. Ia berakhir membersihkan lengannya itu.
"Sekarang aku harus kasih tau mom sama dad, siapa tahu mom sama dad bisa bantu Rahma. Kasihan Rahma."
***
Begitu masuk ke dalam rumah, Zaina malah bingung karena sudah nggak ada oma yang duduk di sofa. Hanya ada Mom sama Dad nya yang melamun sambil menghela napas dalam.
"Mom?" panggil Zaina lalu mendekati orang tuanya.
Zaina berlutut di bawah dan memegang tangan mommy Nadya. Ia menatap wajah mommy nya yang kelihatan kusut itu. "Mommy baik-baik aja?"
"Dari mana aja kamu?" tanya mom Nadya yang mengalihkan pembicaraan sambil mengelus pipi anaknya.
"Tadi aku dari luar," jawabnya yang nggak ingin bertanya lagi. Tahu mommy nya enggan menjawab, ia juga memilih diam takut malah menyakiti hati sang mommy.
"Mom di mana oma?"
"Ada di atas, kita disini dulu ya. Nanti setelah makan malam kita lanjut omongin lagi. Tapi harus ada kamu. Jangan kabur kayak tadi. Mom sampai ngira kamu pulang tau, karena gak ada kamu di sini."
Zaina terkekeh dan menggeleng.
"Mana mungkin aku pulang. Aku cuma ada di depan, nunggu di halaman. Aku takut nanti nangis kalau cuma ada di sini. Tapi aku udah nenangin hati kok. Aku udah siap kalau nanti malem mau ngomongin masalah itu."
Sebuah usapan dari belakang membuat Zaina tersenyum.
"Tadi kalau nggak salah dengar kamu itu ngobrol ya nak?" tanya daddy. "Ngobrol sama siapa?"
"Nah ini ... ada yang mau aku omongin ke daddy dan mommy. Ini semua tentang Rahma! anak dari adeknya daddy."