
Gelak tawa dari Zaina membuat Ghaly menoleh. Rasa sesak yang sejak tadi dia tahan semakin terasa. Ia mencengkram kuat lengannya. Tawa Zaina terdengar seolah meremehkan dirinya itu. Ia benar-benar bingung harus mengatakan atau mengutarakan seperti apa, selain tersenyum miris. Melihat orang yang dia cintai seakan merendahkan perasana darinya.
“Mana mungkin—
“Eh di depan udah restorannya tuh. Gimana kalau kita lanjut ngomongin ini nanti? Sekalian jalan bareng gitu keluar. Kayaknya ini pertama kalinya kita kumpul kan? Gue beneran pengin kenal jauh deh sama kalian terutama Ghaly,” seru Mahen yang di angguki sama mereka.
Ghaly menghela napas lega. Seenggaknya dia bisa memikirkan jawaban paling logis biar mereka percaya sama jawabannya. Ghaly turun dari mobil dan melihat bagaimana Mahen yang turun cepat cepat dari mobil untuk membukakan pintu untuk Zaina. Ia melihat itu semua dan hanya bisa mengatakan dirinya untuk tahan. Karena ini yang akan menjadi pemandangan dia untuk ke depannya.
“Oh iya Ghaly ... lu tuh tinggal di sini sendirian apa sama keluarga lu?” tanya Mahen sambil mereka berjalan masuk.
“Sendiri.”
“Ah ... mandiri ya ternyata. Enak nggak sih tinggal sendiri? Gue sih punya apartemen. Tapi ya cuman sesekali aja gitu buat jadi tempat tinggal karena orang tua gue ngelarang buat tinggal sendiri. Nggak paham deh, kenapa juga. Karena ... memang mereka nggak bolehin gue banget. Padahal kan lumayan ya kalau tinggal sendiri itu bisa bikin kita mandiri. Tapi apa daya, nama nya juga anak tunggal. Jadi, banyak di larang nya. Termasuk hal kayak gini nih.”
Ghaly tertawa dan menepuk punggung Mahen.
“Hahaha ... yang sabar aja ya. Nanti juga ada waktunya kok.”
“Sudah ... sudah ... malah pada ngobrol. Itu udah pada nunggu.”
Mereka langsung mendatangi resepsionis, begitu di tunjukan ruangan yang sudah di pesan. Mereka langsung mendatanginya. Ternyata orang tua Mahen sama Zaina sudah datang sejak tadi. Mereka duduk dengan banyak makanan yang sudah tersedia di atas meja.
“Kalian lama banget, habis dari mana?”
“Biasa lah ... namanya juga anak muda, jadi muter-muter dulu.”
Orang tua Mahen sudah menepuk keningnya, malu karena kelakuan anaknya sendiri. Mereka cuman bisa menatap kesal pada anaknya itu tanpa bisa apa-apa, karena sudah waktunya mereka makan.
“Sudah lebih baik kalian duduk dan kita makan.”
***
“Jadi Ghaly ini sudah punya pasangan kah?” tanya bundanya Mahen sambil menatap ke arah Ghaly.
Ghaly menunjuk dirinya sendiri, seolah terkejut.
Bunda nya Mahen mengangguk.
“Karena nggak mungkin kan seterusnya kamu ikut terus sama Zaina dan Mahen, terus kamu cuman jadi orang ketiga doang yang di cuekin sama mereka. Makanya kamu harus punya pasangan juga dong. Biar nanti kalian bisa double date. Seru kan kedengarannya? Makanya bunda tanya ke kamu. Kamu juga punya pasangan kah? Atau bagaimana?”
Ghaly tertawa dan menggeleng kecil.
“Tidak bunda ... saya tidak punya pasangan.”
“Loh, kenapa bisa begitu? Memangnya kamu nggak mau gitu punya pasangan kayak yang lain? Karena seumuran kamu biasanya udah punya pacar kan? Sayang loh ... padahal kamu itu tampan. Masa, kamu malah nggak punya pasangan sama sekali. Bunda yakin kalau banyak perempuan di luaran sana yang mau sama kamu. Bahkan, kamu ini juga punya pekerjaan. Jadi, pasti banyak perempuan yang udah yakin kalau sama kamu.”
Ghaly tertawa sambil mendorong piringnya menjauh.
“Tidak ada bunda, saya belum kepikiran ke arah sana. Saya hanya mau fokus lebih dulu sama kerjaan saya. Lagian ... saya belum menemukan perempuan yang mau sama saya hingga detik ini. Mungkin belum takdir juga. Jadi, saya nggak terlalu memikirkan nya juga.”
Bunda nya Mahen mengangguk.
“Setuju sih ... nggak ada yang bisa melawan takdir sama sekali. Mungkin belum waktunya kamu bertemu sama perempuan yang jadi jodoh kamu. Kamu tunggu aja ya. Bunda yakin kalau kamu nggak bakalan lama lagi ketemu sama jodoh kamu itu.”
Ghaly hanya tersenyum untuk menanggapinya.
“Tapi beneran deh jeng, aku beberapa kali denger banyak anak perempuan yang kepncut sama pesona Ghaly,” seru mom Nadya menyela
“Oh iya?”
Mom Nadya mengangguk.
“Kalau di tempat kerjaan tuh, nak Ghaly benar-benar kelihatan sangat serius dan fokus. Mungkin buat banyak perempuan kepincut mode Ghaly yang seperti ini. Jadi, nggak jarang kalau aku lagi ikut mas Zidan buat datang ke pertemuan. Ada beberapa orang yang nanya tentang Ghaly.”
Zaina sama Mahen langsung berseru, menggoda Ghaly yang wajahnya sudah memerah itu.
Bahkan Mahen menyenggol tubuh Ghaly dan bergumam meledek.
“Duh ... yang ternyata punya banyak fans nih,” ledek Mahen sambil tertawa kecil. “Harusnya lu bisa manfaatin mereka sih yang suka sama lu itu. Cari aja satu perempuan yang menurut lu sedikit menarik. Jadi, dari pada nyari perempuan yang tentunya nggak segampang itu.”
Ghaly tertawa lirih dan menggeleng.
“Hahaha ... gue belum ada kepikiran ke sana. Beneran deh.”
“Iya deh ...”
Zaina ikut memandang ke arah Ghaly.
“Tapi Zaina beneran baru tau kalau ternyata Ghaly banyak yang suka,” seru Zaina. “Kok lu nggak cerita sih sama gue. Harusnya lu sadar kan? Ih nggak seru ah. Gue sering ceritain semuanya ke lu. Tapi kenapa lu malah nggak pernah cerita sama gue? Nggak seru ah ...”
Ghaly menepuk keningnya.
“Buat apa gue cerita ini,” tambah Ghaly lalu tertawa kecil. “Nggak ada gunanya sama sekali. Lagian kalau cerita apa yang harus gue kasih tau? Gue jujur kalau banyak yang suka sama gue? Idih geli banget tau nggak sih.”
Dad Zidan yang melihat anaknya masih terlihat marah hanya menggeleng kan kepala.
“Dasar Zaina ... kamu pasti cemburu ya sama Ghaly? Nggak usah maksa Ghaly. Dia bisa lakuin sesuai yang dia mau. Kamu nggak bisa maksa apa-apa.”
“Ih tapi kan ...”
“Jangan buat Ghaly jadi nggak nyaman!”
“Ck ... nggk ada yang mau ngertiin aku.”
Perdebatan terus berlangsung, sampai daddy Zidan meminta mereka untuk nggak membicara kan hal ini lagi. Takut jadi berkepanjangan dan malah membuat Zaina jadi nggak mood dalam beberapa jam ke depannya.
“Karena masalah sudah selesai, kami para orang tua pamit keluar karena sepertinya kalian ada rencana mau keluar bertiga ya. Karena kami nggak mau ganggu kegiatan anak muda, jadi mendingan kami pulang lebih dulu ya.”
***
Para anak muda kali ini memilih berkunjung ke kafe yang tak jauh dari restoran tempat mereka makan tadi. Kafe yang cukup sepi membuat mereka jadi lebih bebas beluasa dan jauh lebih santai.
“Mau bahas yang tadi lagi?” ucap Zaina memulai pembicaraan sambil menyeruput ice macha yang sudah dia pesan tadi.
“Yang mana?”
Zaina berdecak. Bisa bisanya Mahen yang nanya malah dia sendiri yang lupa, membuat Mahen sadar akan tatapan tajam Zaina dan tiba-tiba saja ingat sama maksud dari perempuan itu. Mahen menatap nggak enak sekaligus meminta maaf pelan.
“Jadi gimana? Mau siapa yang ngomong lebih dulu?” tanya Zaina meminta jawaban Ghaly
Ghaly mengendikan bahu dan menunjuk Zaina. “Terserah, mau lu duluan atau gue. Nggak ada bedanya. Tapi karena di mana-mana perempuan mau nya lebih dulu. Jadi, kayak nya lu duluan aja deh yang jelasin. Baru gue.”
Zaina mengangguk.
Ia melipat tangan di meja dan menaruh wajahnya di atas lipatan tangan itu dan memandang dua laki-laki yang ada di depannya itu secara bergantian.
“Kalau yang kamu khawatirin aku masih punya perasaan sama Ghaly itu, tentu aja aku bakal langsung jawab kalau kamu nggak perlu khawatir,” seru Zaina yang di angguki sama Ghaly. “Aku beneran nggak ada perasaan apa-apa sama Ghaly. Kita ini pure sahabatan. Plus nya sih kita udah mengetahui sifat dan perilaku satu sama lain karena pernah pacaran. Jadi ini lebih membuat kita deket gitu. Pokoknya kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”
“...”
Zaina berdiri dari kursinya dan menghampiri Mahen. Menarik tangan laki-laki itu dan menaruh di dadanya. Lalu Zaina menatap lekat lekat ke pada Ghaly. “Lihat ... sekarang aku lagi perhatiin Ghaly. Kalau aku masih ada perasaan sama dia. Pasti kamu bisa ngerasain degupan jantung di dada aku kan? Tapi nyatanya nggak sama sekali kan? Jadi ... kamu nggak perlu ngerasa gimana mana. Karena aku tuh jujur, perasaan ini udah lama hilang.”
Lalu Zaina beralih menatap Mahen, masih dengan tangan laki-laki itu di dadanya.
Dari mata mereka saja yang bertemu sudah membuat jantung Zaina berdegup. Perempuan itu tersenyum tipis.
“Ini sebenarnya aku malu sih karena ngelakuin ini ke kamu. Tapi aku cuman mau jujur aja sama kamu, kalau sekarang ini cuman kamu yang ada di hati aku. Cuman aku yang mampu buat hati aku berdegup cepat. Nggak ada laki laki lain yang berhasil buat aku berdegup. Cuman kamu dan sepertinya hanya kamu. Karena keberadaan kamu benar-benar menyihir hidup aku.”
Zaina melepas genggaman tangan dari Mahen dan kembali duduk di hadapan mereka berdua.
“Sedangkan Ghaly ... perasaan ini habis, saat Ghaly meninggalkan aku. Ditambah saat aku mengetahui ada seorang bayi yang ada di perut aku. Walaupun saat itu masih tersisa sedikit perasaan buat Ghaly. Tapi perasaan itu benar-benar lenyap saat aku itu tau kalau Ghaly yang membongkar masalah ini ke media dan buat nama aku benar-benar jadi buruk di mata mereka semua. Di mata banyak orang.”
Ghaly menunduk.
Teringat lagi perbuatannya di masa lalu yang udah jahat sama Zaina. Melihat itu membuat Zaina cepat-cepat memegang tangan Ghaly yang ada di atas meja itu.
“Enggak Ghaly ... jangan inget yang dulu lagi.”
“Hahah ... masalah itu nggak bisa semudah itu buat di lupain Zaina,” jujur Ghaly. “Mau kita berusaha melakukan apa pun. Tetap aja faktanya aku yang pertama kali buat nama kamu buruk di mata media. Andai aja waktu itu aku nggak kembali, pasti kamu nggak akan ngerasain semua itu.”
“Tapi kalau lu nggak kembali, lu nggak bakalan tau tentang anak itu,” tambah Mahen.
Ghaly bungkam.
Termasuk Zaina yang menunduk.
“Semua ini udah takdir yang tertulis dari atas sana. Dari lu yang pergi sampai akhirnya Zaina tau keberadaan anaknya. Lalu Tuhan yang izinin gue buat datang menjaga Zaina sama anak nya. Hingga kedatangan lu. Gue rasa Tuhan menghubungkan semua ini, supaya lu tahu tentang anak lu. Seorang anak yang lahir tanpa salah sama sekali. Nggak cuman itu aja. Pasti waktu itu lu cuman kebawa emosi kan?”
Dengan ragu Ghaly mengangguk.
“Okei ... masalah itu mah kelar. Nggak ada yang bisa di sesalkan sama sekali. Karena apa yang terjadi di masa lalu, udah nggak perlu di ungkit-ungkit lagi ... dari pada mikirin itu, mending lu ubah cara pola pikir lu.”
“Maksudnya?” tanya Zaina dan Ghaly secara bersamaan.
“Iya ... coba di ubah pola pikirnya. Andai lu nggak ngelewatin ini semua, pasti sekarang lu masih belum nemu mukjizat untuk berubah. Pasti hingga detik ini lu juga masih belum bisa berubah jadi Ghaly yang baik. Jadi cukup syukuri dan masa lalu kita buat jadi pembelajaran saja. karena setelahnya, nggak ada yang perlu di sesal kan sama sekali.”
“Begitu ya ...”
Mahen mengangguk.
Ia menatap mereka satu per satu.
“Kita sama-sama melewati waktu yang sulit kok. Tapi kalau terus terusan terjebak di masa lalu, yang ada cuman buat pusing dan sedih sendiri. Jadi ... mendingan kita ubah pola pikirnya aja. Cari alasan terbaik kenapa Tuhan memberikan ini semua. Jadi kan masa lalu sebagai pembelajaran untuk di masa depan dan kita harus berusaha untuk nggak mengulangi kesalahan masa lalu di masa yang akan datang dan masa kita jalani.”
Kedua orang itu mengangguk.
“Ah ... pembahasannya kenapa jadi berat gini sih,” seru Zaina.
Perempuan itu pura-pura menatap ke arah sekitar kafe, berusaha menghilangkan air mata yang mau turun. Ia berusaha menahan diri biar nggak menangis di depan mereka. Akhirnya ia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan sebelum kembali menatap mereka dengan senyuman yang sangat lebar.
“Jangan ngomongin ini lagi deh. Aku nggak suka,” gertak Zaina sambil menatap mereka satu per satu.
“Hahaha maaf ya,” seru Mahen sambil mengusap tengkuknya. Merasa dirinya yang udah buat pembicaraan mereka jadi berat. “Gue beneran nggak ada maksud untuk ngomongin hal ini. Beneran deh. Dan buat Zaina, jangan sedih ya. Kita senang-senang aja. Pokoknya sekali lagi gue nekanin, kalu gue beneran nggak ada maksud untuk jahat sama kalian?”
Ghaly tertawa kecil.
“Gue paham kok sama maksud kalian ... dan Mahen, pasti lu mau lanjutin hubungan lu sama Zaina kan? Makanya nanya ini sama gue. Mungkin karena lu benar-benar mau denger jawaban dari pertanyaan yang mungkin udah lama di benak lu ini.”
Mahen meringis, kenapa Ghaly bisa menebak pemikirannya itu. Dia jadi merasa nggak enak kayak gini.
“Maaf ya ...”
Ghaly menggeleng.
Laki-laki yang sejak awal sebenarnya merasa cemburu itu kini mulai membiasakan diri karena dia melihat Mahen beneran bisa jadi laki-laki baik yang bisa menjaga Zaina. Jadi, Ghaly akan berusaha mengikhalaskan Zaina kalau itu sama Mahen. Dia benar benar akan berusaha menghilang kan perasaan ini. Ini juga demi kebaikan Zaina, karena perempuan itu kelihatan senang banget saat di samping Mahen.
“Ah iya ... kalau gue punya pasangan juga. Terus pasangan gue masih punya hubungan sama masa lalu. Wajar kok kalau lu penasaran dan pengin tahu banyak hal. Karena mau bagaimana juga. Kita kan nggak mau kalau kita punya hubungan sama pasangan yang ternyata punya masa lalu belum selesai.”
Dengan getir Mahen mengangguk.
“Jadi ... dari pada lu masih penasaran. Mendingan gue kasih tau deh. Jadi—