Love In Trouble

Love In Trouble
35 - Alfi dan nenek



“Nek ... ini gimana? Setelah semua yang kita lakuin di masa lalu. Masa akhirnya bakalan kayak gini. Aku nggak mau kehilangan mas Mahen. Aku beneran terlanjur jatuh cinta sama mas Mahen dan nggak mau kehilangan mas Mahen. Nenek jangan diem aja dong.”


Nenek Ana menatap Alfi yang terus merengek setelah kepergian Mahen


“Nenek nggak kasihan apa sama aku? Aku udah di tinggal dari kecil sama orang tua aku dan jalan hidup aku nggak pernah berjalan dengan baik. Salah satu hal yang mau aku lakuin ya cuman yang satu ini. Aku mau habisin hidup aku sama mas Mahen.”


Alfi bangun dan menatap kesal pada nenek Ana yang malah diam saja. Ia memutar otaknya untuk membuat nenek Ana kembali memusat kan perhatian sama dirinya.


“Nek ... nenek nggak mikirin kondisi aku kah?” tanya Alfi berpura-pura menangis di pojokan. “Jadi, sekarang aku cuman punya diri aku sendiri di dunia ini? Karena nggak ada lagi yang sayang sama aku. Terus aja kayak gitu. Terus aja semua orang pergi, tinggalin aku ... Pergi semua. Biar aku hidup sendiri.”


Nenek Ana menatap sayu pada Alfi.


“Cu ... bukan maksud nenek kayak gitu.”


“Tapi, dari tadi nenek diem aja. Seolah emang nenek dukung mereka. Bukannya gimana ya, nek. Tapi nenek sendiri yang bilang sama aku kalau mas Mahen harus bersanding sama perempuan yang baik-baik dan mana ada tuh perempuan yang baik-baik, tapi hamil di luar nikah. Jadi, sebelum kejadian hal buruk lagi sama mas Mahen. Harusnya nenek bisa tegas dan lakuin kayak dulu.”


Dengan tegas nenek Ana mengelak seruan Alfi mendapat decakan malas dari Alfi.


“Nek ... kita harus bekerja sama dan bertindak lagi!” seru Alfi lagi berusaha meyakini nenek Ana. “Nek, aku bakal lakuin apa pun rencana yang nenek buat. Aku janji. Aku bakalan bermain dengan mulus biar nenek nggak akan kedapetan sama mereka lagi. Asal nenek bisa kasih tau rencananya. Soalnya, rencana nenek selalu bagus.”


“Tapi ...”


“Ayolah, nek. Apalagi yang nenek pikirin? Ini udah jalan yang paling terbaik. Dari pada mas Mahen harus bersanding sama perempuan nggak baik kayak perempuan tadi.”


Alfi mendekati nenek Ana dan duduk di depan nya.


“Nenek jangan mikirin jangka pendeknya doang, tapi nenek juga harus mikirin jangka panjangnya.”


“Maksud kamu?”


“Iya ... kalau nenek biarin mas Mahen menikah sama perempuan tadi. Apa kata orang lain? Apa lagi kalau berita Zaina yang melahirkan tersebar luas. Kemarin saja ... berita tentang kehamilan Zaina tiba-tiba tersebsr kan? Dan nenek lihat apa permintaan semua orang? Semua orang tuh cuman bilang kalau mas Mahen nggak cocok bersanding sama Zaina.”


“Iya kah?”


Dengan cepat Alfi mengangguk.


“Nih ya nek, apa asumsi semua orang kalau sampai mas Mahen akhirnya menikahi perempuan yang hamil sama laki-laki lain? Bakalan hancur. Dan nenek udah mikirin juga kan kalau semua harta bakalan di serahin sama mas Mahen. Karena dia cucu pertama nenek. Jadi, kalau reputasi Mas Mahen aja rusak. Gimana dia bisa nerusin perusahaan nenek. Yang ada ... malahan buat hancur apa yang udah nenek buat selama ini. Jadi, aku rasa kalau nenek nggak mau lihat perusahaan nenek hancur dengan sia-sia. Nenek harus pilah istri yang akan bersanding sama mas Mahen.”


“Begitu ya?”


Alfi tersenyum penuh kemenangan dan dia hanya bisa mengangguk sambil menatap dalam Nenek Ana.


Ia menyentuh dadanya sendiri dan memasang wajah frustasi.


“Walaupun nenek selalu janjiin aku untuk nikah sama mas Mahen, aku beneran nggak masalah kok kalau akhirnya mas Mahen emang nggak mau sama aku. Asal dia bisa bersanding sama perempuan yang baik,” dustanya.


“YA AMPUN ... Kenapa perempuan sebaik kamu ini malahan nggak pernah di lirik sama Mahen? Cucu nenek yang satu ini emang aneh. Matanya cuman tertuju sama perempuan nggak bener. Harus nenek sendiri yang turun tangan. Dan setiap nenek bertindak. Dia cuman bisa marah. Padahal, apa yang nenek lakuin juga udah bener.”


Alfi mendekati nenek Ana dan merangkul neneknya itu sambil mengusap punggungnya.


“Nenek nggak paham kadang sama Mahen. Dia tuh udah paket lengkap, tapi masa nggak bisa cari perempuan yang bener ... awalnya nenek udah nggak mau peduli sama percintaan dia. Biar dia sendiri lah yang mengurus dirinya sendiri. Toh kalau ada apa-apa, dia sendiri yang kena. Tapi denger omongan kamu. Buat nenek sadar. Kalau mas nggak mau hidup Mahen jadi kenapa-napa.”


“Nah ...”


“Jadi ...


***


Beberapa hari kemudian, yang artinya semakin mendekati hari pernikahan mereka. Kini Zaina semakin di buat gugup membayangkan acara pernikahan dia yang bisa di bilang sangat besar itu.


"Aish ... Aku nggak menyangka, bakalan ada di titik ini. Padahal dulu, aku cuman bisa bayangin pernikahan aku sama Ghaly. Tapi ternyata takdir nggak membawa kita untuk bersama dan sekarang di sini lah aku. Menanti hari untuk bersanding sama laki-laki yang bahkan belum ada satu tahun aku kenal."


Zaina tertawa di depan cermin sambil memandang dirinya.


"Mana mungkin, kita kenalan sampai satu tahun lamanya. Kalau nggak keburu lahiran nih anak. Salah satu hal yang buat pernikahan kita di percepat kan karena anak yang ada di dalam kandungan aku. Makanya pernikahan kita ini di percepat."


Zaina menatap kosong ke arah dirinya. Ia jadi teringat lagi kegelisahan dirinya akhir-akhir ini.


"Sebenarnya ... Mas Mahen pernah nggak ya ngerasa aku ini berlebihan atau nggak merasa mas Mahen terpaksa."


Zaina beranjak ke kasurnya dan tiduran di sana. Ia peluk boneka sebesar dirinya sambil terus menggerutu kecil. Ia benar-benar gelisah.


"Misalnya ... ternyata mas Mahen belum mengenal aku banyak hal. Tapi karena kehamilan ini, ia terpaksa untuk nikahin aku. Padahal hatinya belum yakin banget."


Overthinking lagi. Ini lah keseharian Zaina setelah dirinya di pisahkan sama Mahen. Lantaran mengikuti adat yang berlangsung. Mereka sama sekali nggak di kasih izin untuk bertemu. Bahkan berhubungan lewat telepon.


Zaina kan jadi gabut. Dia harus apa? Wong, ponsel sama laptopnya aja di sita karena orang tuanya jelas tahu kalau diam-diam Zaina sama Mahen akan melanggar perintah mereka dan tentu aja berteleponan sampai larut pagi. Jadi deh sekarang mereka sama sekali nggak di kasih izin untuk saling berhubungan.


"Mommy mah nggak asyik!" seru Zaina kala itu.


Tapi orang tuanya nggak peduli. Karena bagi mereka ini juga demi kebaikan Zaina. Ya yo wes, Zaina sama sekali nggak bisa nentang lagi. Akhirnya kini Zaina hidup kayak di goa batu. Jarang buka internet. Kalau kangen palingan lihat televisi dan wajah Mahen pasti terpampang.


"Tapi kan ... kalau gabut kayak gini, biasanya aku malah mikir yang enggak-enggak. Alhasil bakalan overthinking deh semalaman."


"ZAINA ..."


Zaina menggerutu mendengar panggilan mommynya itu dan langsung turun dari kasur. Ia juga menyempatkan untuk cuci muka, karena sedikit mengantuk. Baru keluar untuk menghampiri momynya.


"Ada apa sih mom?"


"Kamu nggak lihat ini udah jam berapa?"


"Jam sembilan ... memangnya kenapa?"


"Dari jam tujuh mommy udah suruh kamu makan terus dan sampai sekarang kamu belum makan juga. Jadi, kami masih nanya kesalahan kamu apa? Ya ampun ... terserah kamu aja deh. Mommy udah males banget nanyanya."


"Ih mommy ... kok gitu mikirinya," rengek Zaina


"Ya, lagian. Mommy suruh yang baik aja susah banget buat di lakuinnya. Apalagi mommy suruh yang susah? Lagian, kamu tuh mikirin apaan sih?"


Untuk sesaat Zaina terdiam.


"Mom ... sebenarnya mas Mahen berniat nikahin aku karena serius atau karena kasihan sih?" ucapnya tanpa sadar buat mommy terdiam.