Love In Trouble

Love In Trouble
Tidak Semenakutkan Yang Dikira



Zaina mendongak dan menatap Ghaly dan Mahen secara bergantian. Kenapa mereka malah kelihatan jauh lebih akrab dibanding dirinya? Zaina mendengus pelan. Ini lucu banget sih. Mereka malah jauh lebih dekat di banding dirinya.


Begitu lift terbuka, Zaina terus mengekori dua laki-laki itu. Sesekali Zaina akan tersenyum membalas sapaan para pegawainya yang sedang makan siang. Sedikit banyak yang lumayan terkejut karena melihat Zaina menginjakkan kaki di tempat ini. Karena dulu ... Zaina nggak pernah mau turun. Bukan karena sombong, tapi dulu masalah masih menimpa dirinya dan dia paling malas datang ke tempat ramai yang mana malah membuat dia mendengar gosip buruk tentang dirinya.


"Kamu mau makan apa?"


Auch! Zaina mengusap keningnya karena Mahen yang tiba-tiba berhenti. "Bingung," jawabnya setelah memerhatikan semua stan makanan yang ada di sana. "Kamu mau makan yang mana?" tanya Zaina balik


"Kenapa malah nanya mas?" Mahen meringis. Dia melurus kan lengannya dan merapihkan ujung lengan kemejanya sambil terus memperhatikan satu per satu stan makanan yang sangat ramai itu.


"Di sini enaknya apa?" tanya Zaina sambil berbisik ke arah Ghaly


"Semua makanan enak sih, kalau lu nanya sama gue. Berarti gue bakalan jawab molen sih. Karena— Heh!" Ghaly mengusap lengannya yang dipukul Zaina dan menatap kesal pada Zaina yang malah memukul lengannya itu.


"Heh!" seru Zaina sambil menjulurkan lidah. "Bisa nggak sih berhenti ngomongin molen. Bosen banget buset dah. Cari yang laen napa ... gue juga nanya makanan berat buat kita makan siang. Bukan cemilan kayak molen," lanjut Zaina


Ghaly terkekeh.


"Tawa lu ..."


"Galak bener dah cewek gue," gumam Mahen yang masih terdengar di telinga Zaina dan langsung mendapat tatapan tajam dari Zaina. "Hehehe ... iya maaf, canda doang kok. Gak ada yang galak. Memang Ghaly yang salah di sini."


Zaina menyilangkan tangan di dada dan tersenyum penuh kemenangan.


"Hahaha maaf ... tadi katanya mau makanan yang berat ya?" Ghaly menatap sekeliling. "Di sini sih semuanya enak, yakin banget apa pun yang lu pesan pasti cocok di lidah lu. Tipe masakan rumahan gitu. Tapi dari semua yang paling laris ya soto di sini mah. Udah murah, kenyang, enak banget lagi."


Zaina beralih menatap penjual yang dimaksud Ghaly. Sangat ramai sih.


"Kamu mau soto mas?" tanya Zaina sambil duduk di salah satu kursi yang kosong


"Ada pecel lele nggak sih di sini?" tanya Mahen yang ikut duduk di hadapan Zaina. "Tiba-tiba ngebayangin, kayaknya makan pecel lele enak deh. Mas udah lama banget nggak makan lele."


"Ada kok ... sambalnya enak loh," lanjut Mahen


"Okei, lu pesan pecel lele. Kalau lu mau apa?" tanya Ghaly pada Zaina


"Soto babat aja deh, tapi nggak mau pakai nasi."


"Siap, biar gue aja yang pesan," ucap Ghaly sembari berdiri. "Minumannya gue pesanin es teh manis sama es jeruk ya." Anggukan dari mereka berdua membuat Ghaly langsung aja beranjak menuju tempat jualan yang dituju


"Ini first time aku ada di sini loh mas," bisik Zaina sembari mencondongkan badannya ke arah Mahen


"Oh iya?" Mahen menggenggam tangan Zaina di atas meja dan mengusapnya pelan. "Sebelumnya kalau makan siang memang nggak pernah turun ke sini? Padahal ini mas lihat lihat bersih loh. Nggak yang bakal buat kamu agak jijik dan nggak nafsu makan gitu."


Zaina mengangguk. "Iya sih ... tapi kan mas tau sendiri kalau dulu masalah aku belum selesai. Jadi, kadang aku takut kalau banyak yang ngomongin aku. Makanya aku milih buat diam di ruangan aku aja dan nyuruh Ghaly buat beli makanan gitu. Tapi ini pertama kalinya juga aku makan makanan yang dijual di sini."


"Nah ... sekarang kamu nggak perlu takut lagi. Seiring berjalannya waktu semuanya terungkap kan? Sekarang nggak akan ada lagi yang hujat kamu. Karena bukan kamu yang salah. Anggap aja ini sebagai bayaran karena selama ini kamu udah sabar."


Zaina mengangguk.


"Aku beneran sayang banget sama kamu."


Mahen terpana untuk sesaat dan mengusap pelan pipi Zaina membuat beberapa orang yang ada di sana memekik pelan. Karena merasa gemas pada hubungan atasan merekanya itu.


"Kebiasaan banget suka ungkapin perasaan tiba-tiba."


"Mas kok nggak balas pernyataan cinta aku?" ucap Zaina dengan sedikit kesal. Ia menarik lengannya yang masih terus di genggam Mahen. "Kamu udah nggak punya rasa sama aku ya? Atau kamu nggak sayang sama aku?" lanjut Zaina yang langsung cemberut


"Ya ampun .." Mahen terkikik pelan. "Mana ada kayak gitu. Maaf ya mas lupa dan malah nggak balas ucapan sayang kamu. Pokoknya kamu nggak perlu khawatir. Mas akan terus sayang sama kamu, sekarang dan seterusnya."


"Gemesnyaaaaaa."


***


Setelah makan siang, mereka bertiga memilih melipir ke kafe dekat perusahaan. Awalnya Ghaly menolak karena masih ada kerjaan yang masih diurus. Tapi karena rengekan Zaina mau tidak mau akhirnya dia ikut ke sana. Tidak ada jadwal lebih lanjut yang mau mereka lakukan. Mereka ke kafe hanya untuk mengobrol santai saja.


"Woah ... bingung juga nggak sih?" balas Ghaly setelah mendengar cerita dari Mahen tentang masalah perjodohan Zaina dan tingkah oma nya Zaina itu. "Terus ini kelanjutan nya gimana? Apa masalahnya udah selesai? Atau gimana deh?" tanya Ghaly yang penasaran


"Belum sih ... bingung juga."


"Bahkan sampai sekarang Sofyan masih terus ngehubungin gue. Tapi gue beneran nggak berani buat balas sama sekali. Ya mau bagaimana ya? Gue bingung mau bales apa juga. Dia pasti udah ngeharepin dari rencana gue sama Mahen. Tapi ternyata rencana gue sama Mahen nggak berjalan sesuai yang kita mau. Jadi ya gitu ... gue masih mikirin harus jawab apa sebelum jawab telepon dia gitu."


Ghaly mengangguk.


Keresahan yang sejak dulu Ghaly takutkan ternyata memang benar adanya. Dulu Ghaly menganggap kalau orang kaya nggak akan pernah mau bersanding sama keluarga dari orang miskin. Dan sekarang kisah seseorang menjadi bukti kuat dalam ketakutannya selama ini.


"Bingung juga nggak sih kalau gini?"


Zaina mengaduk minumannya dan mengangguk. Ikut resah sama masalah ini. Bohong kalau dia sama Mahen masih terlihat baik-baik aja karena masalah ini. Disaat keduanya takut kalau hubungan mereka terancam karena titahan dari orang yang nggak mau di kasih tau sama sekali.


"Gue beneran pusing Ghaly," ucap Zaina membuat Mahen refleks mengusap punggung Zaina. "Kayak ... mau nyalahin siapa juga bingung? Masa iya gue harus nyalahin nyokap karena udah buat oma gue rencanain hal kayak gini. Tapi gue juga tau nyokap waktu itu lagi khilaf dan ketutupan sama egonya doang."


"..."


"Apalagi sekarang nyokap udah sadar. Jadi gue nggak mau jadi nyalahin nyokap gitu aja. Tapi ... kadang gue takut banget karena ini oma sama orang tuanya Sofyan akan lakuin berbagai cara untuk misahin gue sama Mahen. Ya .. padahal gue udah naruh harapan banget sama Mahen dan bagi gue Mahen adalah segala-galanya di hidup gue. Jadi kalau nggak sama dia, kayaknya gue mending pergi aja ninggalin dunia ini."


"Heh mulutnya!" seru Mahen dengan cepat sambil memukul pelan bibir Zaina


"Ya memangnya kamu bisa ngebayangin kalau akhirnya kita nggak bisa bersama karena masalah ini?"


Mahen menggeleng.


"Tapi mas benci banget kalau kamu ngomong kayak tadi. Kita bisa lakuin banyak cara biar bisa bersama. Tapi kamu nggak perlu tuh ngomong ninggalin dunia ini sesantai itu."


"Iya mas maaf," bisik Zaina pelan sambil menunduk, dia merasa dimarahi sama Mahen. Padahal Mahen nggak ada membentak sama sekali hanya bicara sedikit lebih tegas di banding biasanya. Tapi hanya dengan kayak gitu aja udah buat Zaina diam tak berkutik. Apalagi kalau sampai bentak dirinya.


"Kamu nggak perlu khawatir sama sekali. Kita bisa bareng-bareng buat urus masalah ini dan mas yakin kalau kita usaha terus, bakalan ada titik terang di hidup kita. Tapi nggak ada tuh kamu ngomong kayak tadi. Mas beneran marah banget kalau kamu mikirnya cuma ke hal buruk doang. Dari pada mikirin hal buruk doang, mendingan kamu bayangin yang baik-baik aja. Anggap aja sebagai doa."


Perempuan itu menghela napas dan mengangguk. Ia memilih menyeruput minuman dinginnya, berusaha menurunkan amarah yang masih membelenggu itu.


"Maaf menyela."


Mahen sama Zaina beralih menatap ke arah Ghaly yang sedang kelihatan sangat serius itu.


"Tapi bener banget yang di omongin Mahen. Semakin hal buruk yang kita pikirin itu malah ngebentuk energi negatif di diri kita dan entah kenapa apa yang kita pikirin itu malahan akan terjadi. Mungkin apa yang kita pikirin ini jadi semacam doa gitu?"


"Tuh kan .."


Zaina merutuki mulutnya sendiri. Karena selama ini terus aja memikirkan hal buruk. Apa karena ini masalah hidup sering datang?


"Jadi ... dari pada malah hal buruk yang datang terus. Lebih baik kita mikirin yang baik-baik. Kita juga jadi lebih positif loh. Kalau pun masalah masih datang, anggap aja itu kayak hal yang ngehapus dosa. Jadi ... kita nggak akan mikirin yang negatif lagi."


"Gitu ya?"


Ghaly mengangguk.


Mahen tersenyum tipis melihat interaksi Zaina sama Ghaly. Benar kata kekasihnya itu, kalau Ghaly sekarang seolah berperan jadi kakak yang baik.


Dan dirinya nggak perlu cemburu sama hal kecil kayak gini. Mahen malah bersyukur karena Zaina juga ada yang jaga selain dirinya dan itu terkadang membuat Mahen merasa lucu bukan main. Karena orang yang dulu nya ada hubungan sama kekasihnya. Kini malah punya hubungan baik sama mantannya. Memang alur hidup nggak ada yang tahu.


"Tapi lu ada rencana yang bagus banget nggak sih buat nyelesain masalah ini?" tanya Mahen membuat Ghaly bergumam pelan.


Ghaly merenung sebentar tapi laki-laki itu mengangkat bahunya sambil menggeleng, benar-benar nggak tahu harus memberi tau rencana apa pada mereka.


"Gue beneran nggak tau," jawab Ghaly dengan nggak enak


"Nggak masalah," balas Mahen.


"Tapi beneran deh ... pasti bakalan ada jalannya. Pasti akhirnya mereka luluh sama kalian. Entah, ini tapi gue yakin banget. Karena siapa yang nggak luluh kalau mereka ngeliat kalian yang sedeket ini? Nggak bakalan ada sama sekali!"


Zaina tersenyum tipis.


"Dan gue do'ain semoga hubungan kalian berjalan baik-baik aja dan terlindungi dari berbagai masalah yang datang. Harus terus bahagia pokoknya! jangan sampai ada yang ganggu hubungan kalian sama sekali."


Perempuan itu semakin tersenyum simpul dan kini malah menatap lekat-lekat ke arah Ghaly.


"Makasih do'anya," ucap Zaina. "Terus ... sekarang, kapan lu punya pacar lagi? seru kan kayaknya kalau juta double date gitu!"