Love In Trouble

Love In Trouble
Harus Yakin



Setelah penjelasan yang entah kenapa terdengar ngalor ngidul di telinga Zaina. Akhirnya perempuan itu memilih untuk kembali. Dia benar-benar malas untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Dengan beralasan ada urusan yang mendadak. Akhirnya Zaina meninggalkan perusahaan itu.


Setelah keluar dari ruangan Brandon.


Zaina berusaha menatap saksama setiap ruangan dan beberapa pekerja yang lewat. Tidak ada sopan santunnya sama sekali.


Bahkan mereka semua hanya melewati dirinya begitu saja tanpa menyapa atau tersenyum sama sekali. Zaina bukan tipe orang yang haus tahta atau perhatian dari orang banyak. Tapi yang namanya menyapa atau tersenyum di dalam suatu perusahaan adalah aturan tak tertulis yang seharusnya di laksanakan.


"Dih ... atasan sama pegawai sama saja. Nggak ada yang bener," kesal Zaina saat berada di dalam lift. Ia mengusap keningnya dan memijat sesaat. Merasakan kesal sekaligus amarah yang menggebu. "Ya ampun ... aku beneran kesal banget ada di sini. Ini nggak seperti yang aku pengin sama sekali."


Begitu pintu lift terbuka, dia langsung meninggalkan perusahaan ini dengan cepat.


Untung mobil Ghaly sudah ada di depan lobby membuat Zaina langsung masuk dan menghembuskan napas kasar. Seraya Ghaly yang langsung menjalankan mobil, meninggal kan perusahaan Brandon.


"Gimana? kamu nemu sesuatu?" tanya Ghalya tanpa noleh sama sekali. "Dari romannya sih, kayak ada sesuatu yang nggak enak nih. Muka lu jadi nggak mood gitu sih. Jadi, ada apa? cerita aja. Soalnya gue bener penasaran banget."


Dengan menggebu, Zaina menceritakan semua peristiwa di sana. Termasuk peristiwa tak mengenakan yang dia rasakan itu. Dia terus cerita dan sesekali memukul lengan nya. Menyalurkan rasa kesal di dalam hati.


"Dia benwran nggak ada muka banget. Ya ampun, apa susah nga sih ngaku? Padahal gue bakal agak tenang atau bisa baik ke dia. Kalau tadi dia ngaku. Tapi dengan wajahnya yang super sengak. Dia pura-pura nggak tahu dan malah pura-pura sok sedih gitu sama keadaan daddy gue dan juga, dia nggak bisa jawab pas gue nanya kenapa proyek itu main jalan aja."


"Kayak ya ampun ... kenapa dia nggak jujur aja sih. Capek gue."


Sebelah lengan Ghaly menjangkau dashboard di hadapan Zaina. Ia membuka dan mengeluarkan cokelat sama air putih.


"Makan dulu tuh cokelat. Cokelat masih bisa redamin amarah lu kan? Jadi tolong makan dulu. Sembari lu jelasin deh apa yang terjadi tadi dan gimana perawakan atasan perusahaan Z itu. Gue penasaran banget."


"Masih muda lah, mungkin tiga tahunan di atas gue. Nggak terlalu tua. Makanya masih licik."


Ghaly terkekeh. Dari dulu Zaina selalu sama. Kalau sudah kesal sama seseorang pasti akan terus terbawa sampai beberapa jam kemudian dan tugasnya waktu itu hanya mendengarkan tanpa menyela sama sekali.


"Pokoknya awas aja ... gue bakalan cari bukti biar dia kalah telak. Mana tadi sampai jelekin daddy lagi. Gue nggak habis pikir sama sekali. Gue beneran marah banget. Woah ... buat selanjutnya gue bakal ajak lu atau nggak asistennya daddy, buat nemenin. Biar kita kesel bareng. Gue capek ngadepin orang kayak tadi sendiri. Makan hati doang."


Ghaly terkekeh.


"Tenang aja ... nanti kita usut bareng ya. Gue yakin kalau lu pasti dapet sesuatu atas masalah ini. Kita harus yakin!"