Love In Trouble

Love In Trouble
45 - Inilah Akhirnya?



Zaina melepaskan kenop pintu dengan perasaan campur aduk. Sekali lagi ia menoleh, pintu ruangan Mahen baru saja ia tutup. Tapi mereka sama sekali nggak ada yang memberhentikan dirinya. Bahkan tidak ada yang memintanya untuk menetap.


“Aku sama sekali nggak percaya kalau mereka beneran nggak peduli sama aku.”


Dengan langkah tertatih, Zaina memasuki toilet yang ada di dekat ruangan suaminya. Ia menopang tubuhnya sambil memegang tembok di sekeliling. Ia terus menoleh ke belakang dan tersenyum kecewa, saat masih nggak ada orang yang mengejar dirinya.


“Aku— kenapa menyedihkan banget ya?” gumam Zaina sambil memandang wajahnya di cermin besar depan sana.


Mata yang berlinang air mata dan sangat bengkak menjadi tontonan Zaina kali ini. Dia hanya bisa tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Ia terlihat sangat lusuh. Belum dengan pipi nya yang masih membengkak dan memerah.


“Aku— nggak punya siapa-siapa di dunia ini. Aku cuman punya diri aku sendiri. Aku nggak—


Zaina seakan ingat sesuatu dan menggeleng. Ia menunduk dan memeluk perutnya, seiring dengan tubuhnya yang semakin merosot ke bawah. Dia meringsak ke lantai dan terjatuh di balik pintu kamar mandi sambil terus memeluk perutnya.


“Nggak sayang ... bunda masih punya kamu. Kita akan selalu bersama ya, nak. Kamu mau kan bantu bunda?” ucapnya terbata dengan rasa sakit yang begitu sesak. “Kamu nggak akan benci sama bunda kan? Kamu nggak akan kayak mereka kan, yang bertahan cuman demi hal jahat doang ...”


“Iya ... bunda juga cuman punya kamu. Kita bakalan terus bersama, sampai kapan pun itu. Jadi kamu nggak perlu khawatir.”


Zaina kemudian ingat sesuatu.


“Ta— tapi ... gimana kalau berita tadi malah meluas? Gimana kalau semua yang aku omongin tadi itu bakalan ngebuat keadaan makin heboh? Dan karena itu ... gimana kalau mommy sama daddy malah makin jauhin anak ini dari aku?”


Pikiran Zaina malah semakin kemana-mana.


“Gi— gimana kalau ternyata mommy sama daddy sengaja nunggu anak aku lahir dan setelah lahir. Nanti mereka bakal bawa pergi dari aku? Gimana kalau memang itu yang bakalan terjadi?” seru Zaina yang langsung panik.


Ia dengan cepat berdiri dan menggeleng ketakutan. Ia terus peluk perutnya.


“Enggak ... aku nggak akan pernah biarkan siapa pun nyentuh anak ini. Termasuk orang dekat sekali pun. Aku bakal jaga dia sedemikian rupa. Ya ... itu yang memang harus aku lakuin. Aku nggak mau anak aku kenapa-napa. Aku harus kerahkan semua nyawa aku untuk anak ini.”


***


Sementara itu di dalam ruang kerja Mahen,


“Maaf om .. tante ...”


Mahen menunduk penuh penyesalan. “Aku benar-benar lepas kendali. Aku bahkan nggak percaya kalau aku sampai nyudutin Zaina. Aku marah. Aku kecewa dan sakit hati pas dengar berita Zaina sama Ghaly. Aku ngira ... selama ini mereka berhubungan. Aku nggak cek lebih dulu dan malah nuduh Zaina yang enggak-enggak ... aku beneran minta maaf.”


Mommy Nadya menepuk wajahnya dan berkacak pinggang, frustasi.


“Maaf juga yang ... mas lepas kendali. Mas nggak nyangka bakalan nampar Zaina. Mas beneran marah karena tahu dia bakalan membuat suasana semakin keruh. Mas emosi dan berakhir kayak gini. Mas beneran nggak sadar selama ngelakuin ini,” sesalnya.


Mommy Nadya hanya bisa menggeleng sembari menghela napas saja.


“Kalian ini benar-benar,” omel mommy Nadya yang sedari tadi hanya diam. “Zaina lagi super sensitif dan seharusnya kita bisa merangkul dia. Bukannya malah kayak gini,” marahnya. “Bunda selama ini sengaja diemin Zaina, sengaja ... biar Zaina sadar. Kalau dia nggak bisa bergerak bebas dan santai kayak dulu lagi. Karena kita harus ngelewatin masalah yang cukup serius ini.”


“Kita sama-sama lagi emosi, masalah ini juga semakin keruh dan merusak suasana kita. Makanya orang yang jadi objek pelampiasan ya cuman Zaina. Makanya, tanpa sengaja kita terus nyalahin Zaina. Tapi mommy nggak pernah menyangka kalau kalian bakalan separah ini.”


“Maaf ...”


“Dan buat Mahen ... kamu percaya sama berita buruk di luaran sana? Kamu lebih percaya sama berita itu di banding sama kami?” tanya mommy Nadya yang digelengi sama Mahen. “Harus nya kami yang marah sama kamu. Di saat berita pertunangan itu muncul, di mana kamu? Kamu nggak pernah datang sekedar jelasin semuanya. Kamu cuman diem doang ... tapi kita nggak pernah marah? Kita nggak pernah mojokin kamu.”


“....”


“Sampai akhirnya kami kasih izin Zaina untuk nenangin diri. Kami kasih izin anak itu buat jalan-jalan di luaran sana supaya nggak mikirin masalah ini dan membuat kehamilannya jadi lebih baik. Dan di sana masalah baru muncul ... lalu, setelah yang kami lakuin selama ini. Kamu malah menuduh anak mommy.”


“Maaf ... nggak ada maksud. Tadi aku panik sekaligus khawatir. Siapa yang nggak panik pas lihat ada Zaina yang lagi di kerumuni banyak orang dan ego aku kayak kesentil. Makanya jadi ngomongin yang enggak enggak. Aku beneran minta maaf. Aku bener-bener minta maaf banget.”


“Ck ... ya sudah lah. Kepalang basah. Mendingan kita langsung cari Zaina saja. kita turun ke bawah dan temuin Zaina. Kalau ketemu langsung bawa dia ke rumah dan jangan marahin Zaina lagi.”


Semuanya langsung menurtu dan pergi keluar masing-masing dari dalam ruangan itu.


***


Sejak tadi Zaina sudah menjadi pusat perhatian lantaran pegawai Mahen yang melihat kelusuhan dirinya. Bahkan sesekali Zaina berhenti berjalan hanya untuk mendinginkan kepalanya. Ia benar-benar pusing dan harus terus istirahat sesekali.


“Aku nggak mau anak aku pergi, aku mau terus sama anak aku,” gumamnya lagi sepanjang jalan sampai dirinya udah ada tepat di depan pintu basement. Ia mencengkram kuat ujung bajunya sambil terus melangkah dengan tertatih.


“Nggak akan ada yang bisa misahin aku sama anak aku. Selamanya cuman ada aku doang.”


“Ya ... mereka jahat. Cuman aku yang bisa jaga anak aku doang. Nggak ada yang lain.”


Zaina memperhatikan sekitar dan tanpa sadar, ia berjalan terus menuju jalan raya. Yang Zaina ingat semuanya benar-benar abu. Ia merasa sekeliling orang terus memojokkannya dan banyak yang meliriknya tajam.


Seakan Zaina seonggok sampah yang nggak terlihat dan hanya bisa di injak saja sama mereka.


“Kenapa mereka ... aku nggak pernah salah sama mereka. Tapi, kenapa mereka sampai gitu banget ke aku?”


“Apa aku cuman sampah yang nggak berguna di sini?” seru Zaina sambil terus melewati banyak orang.


Matanya sudah tak fokus. Pandangannya sudah sangat kabur.


“Gimana caranya biar aku bisa selesaiin ini semua dan—


Seketika Zaina memekik sambil memeluk perutnya. Ia tak ingat apa-apa selain tubuhnya yang melayang di udara setelah merasakan rasa sakit yang seperti mematahkan seluruh tulangnya.


“ZAINA!”