Love In Trouble

Love In Trouble
Lebih Tenang



Ghaly tergelak mendengar pertanyaan dari Zaina. Dia menegak ice americano pesanannya dan kembali natap pasangan di depan dirinya, sembari mengibaskan tangan di udara ia menggeleng.


"Boro boro mikirin pacaran, yang ada gue cuma punya bayangan ngebahagiain diri gue dan keluarga gue. Nggak ada tuh bayangan bakal nikah lagi. Males."


Zaina menatap penuh protes. "Mana bisa begitu .."


"Ya bisa dong, itu kan keputusan gue. Entah dari kapan, tapi gue beneran punya anggapan untuk nggak menikah atau punya pasangan lagi. Ya mungkin ... untuk saat-saat ini, tapi nggak tau nanti. Siapa tau ada sesuatu yang buat gue deket sama perempuan lain kan?"


Zaina merenung.


"Lu ngomong kayak gini bukan karena gue kan?" gumam Zaina dengan sangat pelan tapi cukup mampu di dengar sama dua laki-laki yang duduk di mejanya itu.


"Maksudnya?" Ghaly bingung


"Maaf ... tapi omongan terakhir kali—," ucapan Zaina mulai terhenti. Merasa nggak enak untuk melanjutkan omongan selanjutnya. Ia menunduk dan mengernyit, "masih inget kan? Gue takut banget, karena hubungan kita yang rusak lu jadi nggak mau punya hubungan sama orang lain lagi. Atau bisa aja lu masih punya perasaan sama—


"Sama lu?" sambung Ghaly dengan cepat


Zaina mengangguk perlahan.


Ghaly tertawa kencang membuat Mahen sama Zaina malah saling pandang. Bingung. Kenapa Ghaly malah tertawa. Di sini mereka sedang serius dan nggak bercanda sama sekali.


"Hahaha tenang aja ... beneran deh, kalau yang kalian berdua takutin itu karena gue yang masih suka sama Zaina. Itu nggak ya ... entah setelah di jelasin sama Mahen waktu itu, gue jadi sadar kalau perasaan ini ya bukan perasaan cinta atau sayang ke lawan jenis. Tapi rasa ingin menjaga karena rasa bersalah di dalam hati gue," jelas Ghaly


"..."


"Pokoknya kalian tenang aja, hubungan kalian akan tetap berjalan dengan baik. Tanpa adanya gue sekali pun dan gue nggak akan pernah ganggu hubungan kalian sama sekali."


Mahen berdeham.


"Kita sama sekali nggak pernah menganggap lu sebagai perusak hubungan kok," ujar Mahen menjelaskan salah paham di antara mereka.


Mahen hanya takut kalau ke depannya Ghaly akan berpikir mereka ini takut sama Ghaly. Padahal tidak ada yang seperti itu.


"Di sini gue sama Zaina cuma nggak mau kalau lu terus tenggelam sama masa lalu gitu. Karena di sini kondisinya juga lu harus bahagia dong. Jangan tenggelam dengan masa lalu terus. Kasihan kita lihatnya."


"Gue nggak perlu di kasihani kok."


Sedang serius, ponsel Zaina tiba-tiba berdering. Nama daddy terpampang nyata di layar ponsel. Zaina sedikit merasa nggak enak, tapi dirinya harus pamit undur diri sambil membawa ponselnya. Setelah Zaina pergi baru Mahen menatap serius pada Ghaly.


"Lu nggak tersinggung kan sama apa yang kita omongin sekarang?" tanya Mahen


"Tersinggung gimana?" Ghaly tertawa pelan dan melambai kan tangan. "Nggak ada yang kesinggung sama sekali. Gue udah paham maksud kalian kok. Tapi gue cuma mau nekanin doang kalau ini pilihan gue. Jadi, lu nggak perlu khawatir sama sekali. Mau gue ada pasangan atau nggak sama sekali. Gue akan tetap di sini dan nggak ganggu kalian sama sekali."


Mahen menghela napas. Dari nada bicara Ghaly, Mahen jelas tau kalau laki-laki itu sedikit kesinggung dengan omongannya sama Zaina.


"Tapi—


"Gue beneran nggak ada perasaan apa-apa sama Zaina. Gue juga bakalan menjauh kalau itu memang yang lu mau. Tapi di sini gue cuma berharap lu nggak akan nyakitin Zaina lagi. Jaga Zaina sebaik mungkin. Kalau lu macam-macam baru deh gue bakal datang dan habisin lu. Pokoknya nggak boleh ada yang jahat sama Zaina ..."


Ghaly menarik napas.


Matanya melirik ke arah Zaina yang berdiri di depan kafe dan sedang tertawa. Entah apa yang sedang perempuan itu bicarakan. Tapi Zaina kelihatan sangat bahagia dengan teleponnya itu.


"Semuanya udah selesai di masa lalu dan gue nggak akan pernah mengharapkan apa-apa lagi," lanjut Ghaly dengan senyuman tipis. "Status gue sama Zaina cuma sebatas pernah jadi orang tua dari seorang anak yang sekarang udah ada di syurga. Selebihnya nggak ada lagi. Gue cuma mau jalanin hidup tanpa libatin masa lalu lagi."


Dirinya juga paham kalau Ghaly sama Zaina nggak akan pernah bisa lepas sampai setuntas itu. Karena mereka ada alasan yaitu anak mereka. Mau bagaimana pun ada garis takdir yang menghubungi mereka.


"Tapi .. lu bahagia kan sama hidup lu yang sekarang?"


Dengan tegas Ghaly mengangguk.


"Ibaratnya ya ... gue dapat kebahagiaan dari orang yang udah gue sakitin. Jadi nggak ada alasan gue untuk nggak bahagia," Ghaly menunjuk dirinya itu. "Gue beneran senang sama hidup gue yang sekarang. Dan ya ... nggak ada alasan buat gue nggak suka sih sama hidup gue."


"Baguslah kalau gitu."


Keduanya berakhir merenung, sibuk dengan pikiran sendiri.


"Bro ... kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita sama gue ya. Kali aja lu sungkan buat cerita sama Zaina," ucap Mahen setelah diam beberapa saat. "Karena sendirian di sini tuh pasti nggak enak kan? Ada saatnya lu butuh teman di hidup lu? dan gue akan selalu terbuka kalau lu mau cerita apa pun itu. Jangan pendam semuanya sendiri."


Ghaly bangkit dan menepuk baju Mahen.


"Siap ... makasih atas penawarannya ya brader. Gue mau balik ke kantor dulu. Lu nunggu Zaina dulu aja." Mahen mengangguk. "Oh iya ... lu datang mau nanya tentang perusahaan kan. Tanya aja dan kalau gue paham, gue bakal jelasin."


Mahen mengangguk, berterima kasih.


Ghaly menepuk bahu Mahen sekali lagi, "good luck bro!"


***


"Eh tadi Ghaly udah duluan ya?" papar Zaina sembari melirik ke arah Ghaly pergi. "Gue nggak sempet ngomong apa-apa karena lagi ngomong sama daddy. Dia mau ke mana?" tanya Zaina sambil membenarkan scarf yang tertiup angin di depan tadi


"Balik ke kantor, kayaknya masih ada urusan deh."


Zaina mengangguk mengerti.


"Oh iya ... karena udah jam segini, mendingan kita balik apa mau lanjut ke perusahaan aku?" tanya Zaina seraya duduk di depan Mahen. "Soalnya kamu juga pasti masih ada urusan kan? takutnya kalau kelamaan di sini, pekerjaan kamu jadi terbengkalai gitu."


"Nggak ah ... nanggung udah di sini. Dari pada balik tanpa dapet informasi apa-apa. Mendingan kita kembali ke perusahaan kamu. Toh, mas juga agak luang kok. Jadi sekalian aja mas cari tau sesuatu di sini," papar Mahen yang di angguki perempuan itu.


"Ya udah cepat bayar dan kita balik."


"Siap!"


***


Oma POV


Perempuan yang sudah berumur itu sejak beberapa hari yang lalu dibuat resah karena belum mendapatkan kabar dari calon yang mau di nikahkan sama cucunya itu. Sungguh perempuan tua itu penasaran apa yang terjadi di sini. Karena semua orang nggak ada yang bisa di hubungi. Padahal dirinya benar penasaran apa yang terjadi.


"Eyang mau teh?" tawar pelayan dengan hati-hati, lantaran paham suasana hati atasannya yang kurang baik sejak kemarin


"Buatkan saya teh melati! gulanya jangan banyak-banyak kalau sampai kebanyakan saya akan pecat kamu!"


"Ba— baik eyang," ucap pelayan itu dengan gemetar. Lalu cepat cepat permisi dari hadapan oma.


"Punya cucu dan menantu sama-sama nggak ada yang benar sekali!" marahnya saat panggilan dia ke mommy Nadya terus dimatikan oleh menantunya itu. "Lihat saja Nadya ... saya akan melakukan sesuatu sama kamu! jadi menantu kurang ajar sekali!"