
Dengan langkah tetap, Zaina melihat Mahen semakin menghampiri dirinya. Ia yang sudah sangat lemas benar benar berharap saat melihat kedatangan Mahen yang begitu bersinar di matanya. Ia memasang wajahnya dengan pandangan berbinar, berharap Mahen membawanya pergi dari sini.
"Mas ...," ucapnya dengan sangat lirih.
Mahen hanya memandangnya sebentar, sebelum mandang semua orang yang ada di sini.
"Siapa yang mengizinkan kalian berada di sini!" bentak Mahen membuat semua orang takut. "Sudah berapa kali saya bilang, perusahaan saya bukan tempat untuk menggali fakta apa pun. Pergi kalian semua! kalau sampai ada satu orang yang kedapetan ada di sini. Saya nggak akan segan untuk bawa kalian ke kantor polisi!"
Sebagian dari mereka langsung merapihkan kamera dan alat apapun yang mereka bawa. Tanpa terkecuali. Mereka semua nggak berani kalau udah membawa nama polisi seperti ini.
"Kalau ... sekali lagi saya mendapati kalian begini atau mengikuti kami secara gamblang. Saya akan tanya atasan kalian dan langsung keluarkan kalian. Nggak peduli dengan alasan kalian sama sekali."
"PERGI KALIAN SEMUA."
Detik itu juga semua orang di sana langsung berhamburan pergi. Meninggalkan Zaina sama Mahen yang sedang saling berhadapan itu.
Zaina nggak berani mendongak sama sekali. Yang dia lakukan hanya menunduk. Tanpa berani melihat Mahen. Sampai helaan napas laki-laki itu diikuti tarikan tangan di lengannha membuat ia sedikit lega. Seenggaknya, ia nggak di tinggalkan gitu aja sama Mahen.
Dengan langkah cepat, Zaina mengikuti Mahen. Selama perjalanan mereka hanya diam. Bahkan saat ada di dalam lift juga. Zaina benar-benar takut sama aura menyeramkan yang di tunjukan sama Mahen.
Ini nggak biasa ... benar-benar menakutkan.
"Mas ..." panggil Zaina saat mereka udah ada di dalam ruangan Mahen.
Brugh! Tubuh Zaina benar-benar lemas saat Mahen malah membanting pintu ruangannya tanpa menjawab panggilan dia sama sekali.
Ah, rasanya zaina mau menangis.
Ia benar-benar nggak ada nyali sama sekali.
"KAMU TUH SEBENARNYA ADA OTAK NGGAK SIH?!" bentak Mahen membuat mata Zaina membola dan memanas. Ini dia boleh menangis nggak sih di sini?
"Mas ...."
"Buat apa kamu teriak teriak nggak jelas sama mereka. Buat apa kamu datang ke sini? Buat apa kamu ada di depan sana, Zaina! Ya ampun ... mas nggak habis pikir sama kamu. Ya ampun, argh kamu tuh bener bener nggak punya otak? Kamu nggak mikirin dampak kalau kamu lakuin hal tadi ke semua wartawan?"
Dehh! jantung Zaina berdegup sangat kencang.
Sakit hati.
"Mereka itu wartawan! kamu tau nggak sih. Mereka nggak bakalan pakai hati di kerjaan mereka. Mau kamu nangis sampai sujud di kaki mereka pun. Mereka nggak bakalan ampunin kamu sama sekali. Yang ada mereka malah lihat tindakan kamu sebagai durian runtuh, karena bakalan di jadiin bahan berita sama mereka."
"..."
"Kamu tuh .. argh, saya kesel banget sama tindakan bodoh kamu. Malah makin besar ini masalah, bukannya semakin meredup. Kamu harus tau ... kalau ada masalah kayak gini. Yang harusnya kamu lakuin tuh cuman diem doang. Karena cuman itu jalan yang paling bener. Bukannya malahan memperburuk keadaan."
"Maaf," gumam Zaina sangat lirih.
Zaina diam-diam berusaha mendongak. Menatap pada Mahen yang benar-benar keliatan frustasi. Laki-laki itu hanya bisa jalan bolak balik sambil sesekali mengacak rambutnya, sangat kesal.
Zaina tertegun. Apa dirinya benar-benar sesalah itu? sampai harus di bentak habis-habisan sama Mahen? apa nggak bisa kalau di omongin baik-baik aja? dia bisa kok dengerin kalau mereka juga ngomongnya baik-baik. Kalau kayak gini, yang ada. Dirinya semakin merasa bersalah, bahkan sampai menyalahkan dirinya. Ini benar-benar sangat menyakiti hati dan dirinya.
"Jadi ... sejak kapan kamu datang ke perusahaan ini dan kenapa nggak ada bilang apa pun sama saya?" tanya Mahen sambil menatap tajam mata Zaina.
"Tadi pagi," jawabnya masih dengan sangat lirih. "Aku nggak bilang karena tau, kamu nggak bakalan kasih izin kalau aku bilang dulu. Makanya, sengaja aku ngelakuin ini dan dateng aja karena tahu kamu pasti ada di sini."
Zaina tertawa lirih. "Iya aku yang bodoh, iya aku salah. Aku perusak semuanya di sini. Memang, mending aku pergi aja dari dunia ini. Mungkin kalian baru bisa menghela napas lega kalau lihat aku nggak ada di dunia ini."
Mahen berdecak.
"Terus ... apa lagi yang kamu bilang sama semua wartawan di sana?"
"..."
"Jawab Zaina!"
Zaina masih membungkam mulutnya dan nggak berani untuk mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya itu. Dia takut kalau Mahen bakalan semakin marah setelah tahu apa yang dia lakukan.
"JAWAB ZAINA!" bentak Mahen pada akhirnya membuat tubuh perempuan itu tersentak.
"AKU JUJUR SEMUANYA!" pekik Maudy yang merasa dirinya udah sangat terpojokan. "Aku bilang sama mereka semua apa yang sebenarnya terjadi. Aku nggak mau pikir panjang lagi. Aku kasih tau mereka semuanya, tentang aku, tentang kamu, bahkan tentang pertunangan kita."
Helaan napas berat dari Mahen membuat perempuan itu tertawa.
"Aku tahu, aku bodoh. Terserah kamu mau bilang apa. Aku nggak peduli. Nyatanya aku nggak pernah bener di mata kalian semua. Tindakan aku selalu salah kan di mata kalian? Jadi, mendingan aku semakin lakuin hal bodoh ini. Biar hati aku lega."
"Kamu nggak tahu apa yang bakalan terjadi ke depannya kalau kamu nekat lakuin ini."
"Aku nggak peduli. Nggak ada lagi yang ngertiin aku. Kalian semua nyudutin aku terus. Terus kalau kalian marah sama aku, aku harus apa?" bentak Zaina lalu tertawa lirih. "Kalau aku marah sama diri aku. Aku harus ngapain? Dari dulu juga aku terus marah. Aku selalu marah sama diri aku sendiri. Aku selalu marah karena aku yang nggak pernah becus. Aku selalu marah karena aku yang selalu nggak puas sama diri aku sendiri. Tapi .. apa yang harus aku lakuin selanjutnya?"
Mahen diam, nggak berani ngomong apa-apa.
"Bahkan aku benci sama diri aku sendiri. Tapi aku bisa apa? ada anak ini yang menjadi pilihan aku untuk bertahan. Kalau nggak inget anak ini, mungkin aku bakalan pergi dari dunia ini. Aku nggak bakalan segan-segan nyakitin hidup aku."
Tubuh Zaina luruh ke lantai.
Ia memeluk perutnya yang mulai membesar itu. Ia menangis hebat. Mungkin ... ruangan kedap suara ini nggak bisa nahan tangisan dirinya. Mungkin ... di luaran sana banyak orang bertanya-tanya tentang tangisan yang menyayat hati.
"Aku benci," lapar Zaina. "Nggak ada lagi yang bisa menjadi topangan di hidup aku."
Zaina terkekeh.
"Bahkan ... aku nggak tahu harus sebenci apa aku sama diri aku sendiri. Bahkan buat ngaca aja aku nggak bisa. Rasanya aku benar-benar benci—
Suara pintu yang dibanting membuat Zaina menoleh. Belum sempat mengatakan apa-apa, tubuh Zaina melayang dan sebuah tamparan kesar hingga tubuhnya terhuyung jatuh ke belakang Zaina dapatkan.
"argh," desis Zaina sambil memeluk perutnya yang terasa sangat sakit.
"DASAR ANAK NGGAK TAU DIUNTUNG!"
"MAS/OM!" pekik dua orang di sana pada Zidan yang udah sangat emosi di sana.
Zaina nggak bisa nggak menoleh. Ia menatap terkejut daddy nya yang udah ada di sana sambil menatap dia dengan napas memburu.
"DASAR ANAK BAWA SIAL!"
"DADDY!"