
Sudah satu minggu lamanya Zaina mengulik masalah ini dan selama itu juga, perempuan itu banyak mengorbankan waktu main dan kencannya hanya untuk menghabiskan waktu di balik meja kebesaran yang sebentar lagi akan resmi menjadi miliknya.
Bahkan,
Mahen yang paham akan kesibukan sang kekasih memilih mengorbankan waktu untuk sering datang ke kantor Zaina untuk menyemangati sang kekasih. Tak lupa tiap waktunya jam makan Mahen akan mengirimkan makanan, supaya Zaina tak lupa makan. Mahen melakukan banyak hal untuk kekasihnya itu. Walau hal yang dia lakukan hanya sebatas mendukung dan memastikan Zaina baik-baik saja karena Zaina yang tidak mau diganggu atau meminta bantuan kepada dirinya.
Zaina tetap teguh pada pendiriannya, kalau dia mau melakukan semuanya sendiri. Eh, dibantu oleh asisten daddy Zidan dan Ghaly tentunya.
Saat ini,
Jam menunjukkan pukul sepuluh dan biasanya weekend seperti ini Mahen akan datang ke kediaman Zaina untuk mengajak perempuan itu main atau mencari tempat yang menenangkan.
Tapi,
Sampai saat ini laki-laki itu masih berguling bolak balik di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Ia merengut kesal saat kekasihnya tidak ada kabar sampai detik ini.
"Kemana sih Zaina, ih kalau ada urusan ya seenggaknya bilang dong," keluhnya. "Ah ... kalau aja Zaina nggak bakal marah kalau aku langsung dateng aja. Pasti sekarang aku udah datengin dia tuh. Tapi, sayang ... Zaina marah terus sih kalau aku main datang nggak ngasih kabar."
Masih sibuk dengan kesenduannya. Padahal baru beberapa jam Zaina tak ada kabar, tapi Mahen seperti sedih udah di tinggalkan kekasih beberapa minggu lamanya.
Emang sedikit lebay anaknya.
"Mahen," panggil sang bunda disusul pintu kamar yang terbuka.
Bunda Mahen menggeleng dan duduk di meja kerja anak nya itu. Tangannya dengan sigap merapihkan beberapa file di sana. Sadar kalau kedatangan sang bunda hanya untuk merapihkan kamarnya. Mahen kembali tiduran dan main ponselnya lagi.
"Kamu nggak main sama Zaina?" tanya sang bunda memecah keheningan di ruangan tersebut.
"Lagi sibuk bun Zaina nya, Padahal Mahen kan udah kangen berat. Sampai jantung Mahen berdegup kencang karena udah nggak ketemu lama sama Zaina lama. Sakit rasanya hati Mahen dan— AW!" histerisnya saat sebuah bolpoin terlempar dan tepat mengenai keningnya.
Mahen memandang penuh protes. "Kenapa Mahen di lempar pulpen? bunda udah nggak sayang lagi sama Mahen. Jadi, begini?"
Bunda Mahen hanya bisa menepuk keningnya sambil menggeleng pelan. Tidak habis pikir sama anaknya. Bisa bisa dirinya baru sadar memiliki anak yang super lebay seperti ini.
"Kamu juga biasanya sibuk kok dan Zaina nggak pernah protes. Udah ah ... dari pada diem terus di kamar. Mending turun. Ada ayah kamu. Kamu jarang bicara berdua sama ayah kan? Soalnya kalian sama-sama sibuk."
"Malas turun bun."
Bundanya hanya menggeleng. Walau begitu sang bunda tetap sibuk dengan kegiatan merapihkan kamar sang anak. Terus menggumam kesal melihat kamar sang anak yang berantakan. Padahal baru ditinggal selama satu minggu belakangan. Karena sebelumnya Mahen memang sering tinggal di apartemen. Mengingat kantornya yang lebih dekat dari apartemen.
Tapi bunda Mahen nggak habis pikir. Baru sebentar Mahen pulang, tapi kamarnya udah se berantakan ini.
Sampai kegiatan bunda terhenti saat ingat sesuatu. Dia menoleh, menatap sang anak.
"Oh iya, bunda lupa ... tadi bunda datang mau kasih tau kamu. Kalau nenek kamu minta ketemu dan tentunya sambil mengajak Zaina."