Love In Trouble

Love In Trouble
Pasrah



Dady Zidan langsung sigap menangkap tubuh anaknya dan mengusap punggung yang keliatan rapuh itu. Laki-laki itu sama sekali nggak ada niatan untuk bertanya selain terus menenangkan anaknya.


Lagian,


Siapa yang nggak khawatir kalau begitu pulang, langsung di sambut dengan tangisan sang anak? Tentu saja ayah dari satu orang anak itu akan terkejut dan ikut khawatir sama apa yang sedang terjadi di sini.


"Ada apa ini?"


Daddy Zidan menatap ke dalam rumah dan tak berselang lama, istri dan ibunya beranjak keluar. Ada apa ini? Kenapa ibunya yang seumur hidup nggak pernah mau menginjak kaki di rumah ini. Malahan ada di sini? Dan kenapa ibunya jadi kelihatan dekat sama istrinya?


Banyak pertanyaan yang hinggap di benak laki-laki itu. Sebelum Daddy Zidan kembali menatap anaknya itu.


"Ada apa sama Zaina? Kenapa dia sampai menangis kayak gini? Tumben sekali Zaina sampai nangis begini. Padahal nggak seharusnya kita ngelihat Zaina sedih lagi."


"Kamu kenapa, nak?" tanya mommy Nadya dengan bingung. "Mommy rasa ... tadi mommy nggak buat kamu sedih dan oma kamu juga nggak nyinggung apa-apa tentang kamu. Tapi ini kamu ke napa nangis? Kamu nggak sengaja buat lakuin ini kan? biar nama oma kamu jadi buruk lagi."


Zaina mendongak dan tertawa kecil.


Sepertinya sang mommy terlalu terbawa perasaan akan kebahagiaan yang nggak pernah dia alami sama sekali ini.


"Sudah ... kita masuk, jelaskan apa yang terjadi di sini dan kenapa Zaina sampai menangis!" final daddy Zidan pada akhirnya.


***


Setelah mendengar penjelasan dari orang ruman. Reflek daddy Zidan hanya menatap anaknya. Karena daddy satu anak itu sangat tahu kalau sampai detik ini Zaina hanya cinta sama Mahen. Bahkan cinta itu masih terus berjalan. Karena Mahen juga yang sedang berusaha untuk lepas dari perempuan lain.


"Kalian memaksa Zaina hanya demi reputasi?"


Mommy Nadya menunduk.


"Maksud ibu bukan begitu, nak. Memang sudah waktunya seumuran Zaina itu sudah menikah. Karena banyak orang yang seumuran dia udah nikah. Jadi, makanya oma bilang kayak gitu. Lagian ... apa salahnya kalau ibu kenalin Zaina sama beberapa laki-laki? nggak ada yang salah kan?" tanya oma dengan santai.


"Kamu nggak akan paham, Zidan!"


"Mas ... sudah lah, ibu juga nggak memaksa anak kita untuk memiliki hubungan sama laki-laki yang di perkenalkan sama ibu kan? Mereka cuman sekedar berkenalan doang. Jadi ga ada salahnya kalau mengikuti kemauan ibu kan? Ayolah mas. Kamu jangan egois kayak gini. Sudah waktunya anak kita ini terbuka."


Zaina kecewa.


Ya, perempuan itu kecewa.


Padahal dia mau saja mengorbankan kebahagiaan dirinya hanya untuk sang mommy. Tapi melihat mommy nya yang malah kayak gini, membuat dirinya sedikit sakit hati. Entah apa yang harus dia lakukan. Karena pada kenyataannya, ini sangat menyakitkan.


"KAMU YANG EGOIS!" bentak daddy Zidan membuat suasana langsung terasa jauh lebih diam. "Kamu yang nggak paham sama perasaan anak kamu sendiri! Bukan kah kita sudah janji untuk nggak buat Zaina sedih lagi. Tapi apa ini? secara gamblang kamu melihat Zaina menangis karena pembicaraan kamu sama ibu. Tapi kamu malah menutup mata dan tetap melakukan apa yang kamu mau."


"Benar kata ibu! Kita terlalu membela Zaina sampai anak itu jadi keras kepala!" tambah mommy Nadya membuat Zaina tertawa kecil


Perempuan muda itu memejamkan mata. Merutuki, karena masalah ini. Orang tuanya kembali bertengkar. Hanya karena ulah dirinya.


"BERHENTI!" pekik Zaina.


"Makasih dad karena udah bela aku. Tapi di sini aku bakal ikutin kemauan oma sama mom. Biarkan aku di kenalkan sama laki-laki yang oma maksud. Dan maaf kalau selama ini aku udah bertingkah semau aku. Maaf kalau aku egois."


"Tapi nak," Daddy Zidan sudah menggeleng sembari menatap sang anak dengan sendu.


"Nggak apa-apa dad. Dan makasih dad karena udah bela aku."


Dan akhirnya perempuan yang penuh dengan rasa kecewa itu memilih pergi meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang tak menentu.


Ia tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian bahkan esok. Tapi Zaina hanya berharap kalau semuanya ini berjalan dengan baik-baik saja.


Ya, hanya iru saja yang bisa dia harapkan untuk saat ini.