
Marah? Benci? Balas dendam? Seolah semuanya lenyap dari pemikiran Ghaly. Tidak, dia benar-benar kehilangan rasa dendam itu saat melihat mata lembut daddy dari mantan kekasihnya itu.
Bagaimana dia bisa memikirkan balas dendam kalau sejak tadi, dirinya nggak bisa di buat berkata-kata dan hanya bisa mengikuti alur sedih yang di tunjukan orang tuanya Zaina.
“Ghaly?”
Pria itu mendongak dengan matanya yang sangat sayu.
“Namamu Ghaly kan?” tanya Dad Zidan yang langsung di angguki sama Ghaly. “Jadi, kamu salah satu pegawai yang masuk ke perusahaan dan menyita banyak perhatian, karena pas kamu masuk. Tepat di perusahaan juga belum buka lowongan pekerjaan?”
Terpaksa Ghaly mengangguk. Toh, apa yang harus dia sangkal lagi? Kalau kenyataannya memang seperti itu. Wong, dia masuk kerja ke perusahaan ternama aja atas nama Zaina.
Dan,
Kini dengan bodohnya. Ia malah meninggalkan perempuan yang sudah banyak menolongnya itu dan sekarang, ia benar-benar mulai nyalahin dirinya sendiri yang kerap bertindak bodoh atas apa yang dia lakukan.
“Ah ... jadi kamu masuk ke perusahaan saya juga karena anak saya ya?” tanya dad Zidan dengan pelan. “Ternyata kamu sudah banyak di bantu ya sama anak saya. Tapi, kenapa kamu malah berbuat jahat kayak gini sama anak saya? Kamu menghamili dia, padahal kalian belum ada ikatan pernikahan. Kamu punya agama kan?”
Ghaly mengangguk.
“Tahu kan kalau dalam agama kita, melakukan hubungan di luar pernikahan itu sangat dosa. Apa kamu memikirkan itu semua? Saya sebagai tanggung jawabnya Zaina selalu aja memikirkan nasib masa depan anak itu. Anak yang ceroboh dan keras kepala. Saya sudah memikirkan banyak hal yang bisa Zaina lakukan tanpa rasa sulit sama sekali. Tapi kamu mengacaukan semuanya."
"Maaf," pelik Ghaly dengan serius. "Saya mohon ampun. Maafkan atas tindakan bodoh saya yang nggak berpikir panjang. Saya nggak memikirkan sejauh itu, yang saya lakukan hanyalah bertindak bodoh dan semaunya. Tanpa memikirkan akan apa yang terjadi."
Dad Zidan menghela napas.
Pening kepalanya membuat dia memilih duduk. Bahkan, sampai detik ini. Ia selalu aja menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa, anaknya mendapatkan ini semua karena dirinya.
Perusahaan dengan saham yang menurun, cacian ke dirinya dan istrinya, bahkan pertanyaan yang terus terlontar dari keluarga besar nggak pernah ia hiraukan. Bahkan dad Zidan berpikir, dia rela miskin kalau itu mengembalikan kebahagiaan anaknya.
Tapi sayang,
Dia nggak bisa bergerak bebas. Salah melangkah sedikit, mereka semua akan berkomentar jahat pada anaknya. Dia jelas tau kalau selama ini Zaina hanya terus berpura-pura baik, padahal di dalam hati anak ifi. Zaina sering kali menangis dan menumpahkan air mata pas malam hari. Tapi, begitu matahari mulai memunculkan sinarnya. Zaina harus kembali jadi sosok kuat, biar nggak membuat orang tuanya khawatir.
Padahal, setiap malam. Orang tuanya selalu kontrol diam-diam ke kamar Zaina. Dan orang tuanya selalu aja mendengar isak tangis anak itu setiap malamnya, buat mom Nadya dama dad Zidan memilih kembali. Atau, kalau nggak nangis. Pasti mereka mendapati Zaina yang tertidur dengan linangan air mata.
"Kamu tau nggak sih, saya selalu berusaha membuat anak saya tersenyum? Saya mau menjadi orang tua yang mendukung kebahagiaan anaknya. Saya nggak pernah mau membuat anak saya mengeluarkan air mata walau hanya sedikit apa pun. Tapi, kenapa kamu tiba-tiba datang dan membuat anak saya terus menangis."
"..."
"Ratusan air mata yang turun dan saat itu juga saya terus mengutuk pria yang udah buat anak saya jadi gini."
"Maaf ... maaf ... maaf ... saya benar-benar minta maaf, om. Om bisa hukum saya apa pun. Maafkan saya, saya khilaf dan janji nggak akan pernah buat anak om menangis lagi. Saya janji ..."
"Untuk apa kamu berjanji kayak gini? Toh ... buat ke depan nya, saya nggak akan pernah izinkan kamu untuk nemui anak saya lagi. Sudah cukup waktu itu saja karena untuk selanjutnya, saya pastikan kalian nggak akan pernah ketemu sama sekali."
Runtuh dunia Ghaly. Laki-laki yang sejak kemarin tidak pernah menangis, bahkan saat di hukum ini itu. Kini mulai menitikkan air matanya.
Baru saja ia memegang calon anaknya yang ada di perut perempuan yang sampai detik ini masih dia cintai. Tapi, sekarang semuanya sudah lenyap.
Dia nggak bisa lagi membayangkan untuk tumbuh bersama anaknya. Dia nggak bisa melihat perkembangan anaknya. Bahkan, dia belum bisa melihat anaknya. Sedikit saja ...
"Om ... saya akan lakukan hukuman apa pun, tapi jangan pisahkan saya dengan anak saya. Saya janji akan melihat dari jarak jauh. Saya nggak akan ganggu hubungan Zaina sama calonnya. Tapi, jangan larang saya untuk menemui anak saya sendiri."
"Tidak ... saya nggak mau mengambil resiko lagi. Saya nggak bisa mempertemukan kalian lagi. Kamu terima saja resiko kamu sendiri. Ini perbuatan kamu dan ini yang emang harus kamu dapatkan ..."
Ghaly menunduk dalam.
"Nak Ghaly ... saya nggak mau berbuat lebih. Dengan saya menghukum kamu juga, nggak akan membawa hal baik untuk saya. Semuanya semua terlanjur. Setelah ini saya mau lepas kamu, tapi ... jangan temui anak saya lagi ya," mohon dad Zidan.
"Kamu biarlah hidup dengan urusan kamu sendiri. Jangan ganggu keluarga saya lagi. Sudah cukup keberadaan kamu membawa pengaruh buruk di keluarga saya. Dan saya nggak mau semua ini semakin terlanjur."
“Apa nggak ada keringinan, om?” tanya Ghaly. “Saya mulai sadar setelah melihat Zaina dan sekarang udah nggak ada keinginan lagi untuk melanjutkan hidup dan hati saya bergetar setelah melihat adanya anak itu di dalam perut Zaina, dan saya mau menemui anak saya di akhir hidup saya terlebih dahulu ... om bisa ngelakuin apa aja untuk saya. Mau laporin saya ke polisi juga, saya nggak masalah. Mau hukum cambuk atau apa pun itu saya nggak akan peduli sama sekali ... karena impian saya itu cuman mau melihat tumbuh kembang anak saya.”
“Telat ...”
Ghaly menghela napas dalam, jadi ... dirinya nggak ada kesempatan sama sekali nih?
Dad Zidan duduk di depan Ghaly lagi, kali ini dia tersenyum sangat tipis.
“Nak ... jangan pernah ganggu anak saya lagi ya, saya mohon. Saya nggak mau kalau kedatangan kamu membuat anak saya jadi kenapa-napa lagi. Karena setelah melepas kamu, yang saya lakukan hanya mau menuntun Zaina kembali dan nggak mau membuatnya sedih lagi. Yang mau saya lakukan hanya demi kebaikan Zaina, saya nggak mau anak itu terus tersiksa ... saya sangat mohon.”
“...”
“Kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu di luaran sana dan saya juga nggak akan peduli sama semua yang kamu lakukan. Karena ini ada di alam bawah sadar kamu. Mungkin kamu ngelakuin ini karena nggak terima sama kenyataannya. Alias ... kamu terkejut melihat anak saya sudah memiliki pasangan lain. Ini hanya ego kamu saja, kamu melakukan ini demi kamu sendiri. Tanpa memikirkan orang lain.”
“Iya ... saya salah om, saya mengakui semua itu. Tapi, tolong, jangan biarkan saya pergi dari hidup anak om. Zaina udah seperti paruh hidup saya ...”
“...”
Dad Zidan menatap sedih pada Ghaly yang bahkan nggak menjawab bahkan sedikit pernyataan yang dia lontarkan. Dia merasa semuanya benar-benar ada di luar jalur.
Dirinya nggak mau ada kekerasan sama sekali, tapi kalau Ghaly masih memaksakan diri. Dia terpaksa nekat.
“Mungkin ... kamu belum merasakannya sama sekali, tapi sebagai seorang ayah kamu nggak mau melihat anak kamu terluka. Coba bayangkan, bagaimana kalau nanti besar anak kamu tumbuh dan karena kamu terus-terusan mau menemui dia. Dia akhirnya tau siapa kamu ... Lalu apa yang harus kami jelaskan?”
Ghaly menelan saliva.
“Saya janji hanya melihat dari jauh saja dan nggak akan pernah meminta lebih ... saya beneran janji.”
Dad Zidan menggeleng.
“Mungkin sekarang kamu minta kayak gini, tapi kita nggak tahu kan dalam beberapa tahun ke depan? Sekarang cuman meminta lihat dari jauh, nanti bisa aja kamu meminta untuk ketemu langsung dengan menunjukan kesedihan kamu, atau kamu malah minta di kenalkan siapa kamu yang sebenarnya ke anak Zaina nanti. Dan semua itu berdasar dari rasa kasihan. Saya nggak mau mengedepankan rasa kasihan saya, karena perkembang anak dan cucu saya jauh lebih penting di atas apa pun ...”
“....”
“Nak ... lakukan apa yang mau kamu lakukan, tapi jangan libatkan kami. Kalau kamu cinta sama anak saya, pasti kamu bakalan setuju sama omongan saya. Kalau kamu memang sayang sama anak kamu, pasti kamu bakal pergi dari hidup kami. Saya menyerahkan keputusan sama kamu. Kalau kamu masih maksain diri, ya saya lepas tangan ...”
Dad Zidan bangkit dan beranjak pergi, rasa kecewanya semakin menggebu setelah mengetahui ini.
“BAIKLAH!” seru Ghaly membuat langkah dad Zidan terhenti. “Seperti kata om, dan emang udah seharusnya saya nggak egois. Jadi, saya bakal ikutin apa yang om minta. Dan saya cuman mau mengucapkan terima kasih karena om nggak memperpanjang masalah ini. Om masih aja baik sama laki-laki pengecut kayak saya ....”
“...”
“Dan ... saya boleh minta tolong sama om?”
“Ucapkan lah ...,” ucap dad Zidan yang masih berdiri di depan pintu sambil menatap Ghaly yang semakin lemas dengan ikatan di tubuhnya yang masih belum terlepas.
“Tolong bilangin ke Zaina, saya minta maaf atas semua perbuatan saya dan saya menyesal karena udah jahat sama Zaina. Saya juga akan mendoakan supaya pernikahan Zaina berjalan dengan baik dan lancar. Aku titip anak aku ya om. Sekali lagi, maafkan aku dan aku janji nggak akan pernah ngecewain om lagi.”
“Bagus ... saya pamit, dan oh iya ... jaga diri kamu. Semoga kamu bisa hidup bahagia setelah lepas dari anak saya.”
Ghaly hanya menatap sayu kepergian orang tua Zaina. Sudah, dia nggak bisa berharap lebih. Kini, dia hanya akan mengikuti alur hidupnya dan mengikuti dengan enggan.
“Memang akunya saja yang bodoh ... harusnya waktu itu aku nggak pergi dari hidup Zaina! Kalau saja aku nggak pergi, pasti sekarang aku masih sama Zaina dan mungkin aja udah kasih tau orang tuanya Zaina dan aku udah di restuin sama orang tuanya. Bukan kayak gini ... semua ini malahan kacau. Semuanya kacau ...”
Ghaly menghela napas.
“Sudahlah ... menyesal juga nggak bisa mengubah semuanya.”
***
“Dad baik-baik aja kan?” tanya Mahen yang khawatir karena calon mertuanya itu cukup lama ada di dalam sana. “Pria itu nggak ngomong macem-macem sama daddy kan?”
Daddy Zidan menggeleng dan malah mengalihkan fokus pada Zaina yang ada di dalam mobil.
“Dia tidur?” tanya Daddy yang langsung di angguki sama Mahen.
“Kecapean nangis ... tapi tadi udah agak tenang sih, makanya jadi ngantuk. Aku biarin aja dia tidur deh. Dari pada terus kepikiran dan daddy tenang aja, Zaina nangis juga bukan karena dia sedih nggak bisa bareng Ghaly atau nggak bisa move on. Tapi, dia ngelakuin itu juga karena dia inget lagi sama semua komen yang menghina anaknya.”
Dad Zidan meraup wajah frustasi.
“Kita harus apa?” tanyanya frustasi. “Kita nggak bisa diam aja, karena kadang mereka juga semakin berlebihan. Tapi ... balik lagi, kadang tenaga kita nggak bisa menutupi semua orang yang ada di sana. Mereka terus berkomentar akan apa yang mereka tau. Atau ... memang kita harus melaksanakan konferensi pers?” tanya dad Zidan.
Mahen menggeleng.
“Yang ada malah memperkeruh suasana, karena kita nggak ada pembelaan dad. Toh, Zaina memang benar hamil kan? Kita nggak bisa menutup fakta apa pun. Ya ... jalan satu-satunya hanya mendiamkan semuanya, karena berita ini juga akan redup dengan sendirinya. Sekarang aja ... cukup redup kan? Tertutup sama berita masalah yang baru. Walau ... masih aja ada orang yang mengingat dan berkata buruk dan kita juga cukup alihkan perhatian Zaina, supaya dia nggak ngeliat media sosial miliknya lagi.”
“Benar juga kata kamu, kalau kita koar-koar yang ada malah memperkeruh suasana ...”
“Dan, sekarang apa yang mau daddy lakukan sama pria di dalam sana?”
“Lepaskan dia?”
Mahen yang mendengarnya langsung menatap terkejut. Kenapa orang yang udah membuat keluarga mertuanya ini terpuruk malah di biarkan bebas begitu saja? bukankah menghukumnya jauh terdengar lebih bagus?
“Daddy juga nggak mau membuat dendam dia semakin dalam. Lepaskan dia, toh daddy udah meminta dia untuk nggak datang menemui kami lagi. Dia juga sudah menyetujuinya dan nggak akan pernah meminta untuk datang lagi. Dia ... mungkin akan pergi jauh dan selanjutnya, kamu sama Zaina yang akan melanjutkan kisah dengan dia.”
Mahen sekarang mengerti, “ya sudah ... kalau itu yang daddy mau. Nanti aku lepaskan dia dan semoga aja, dia beneran sadar dan nggak akan ganggu Zaina lagi.”
“Tidak ... daddy yakin, dia nggak akan berani ganggu anak daddy lagi. Jadi, kamu tenang saja ya.”
Pada akhirnya Mahen mengangguk dan hanya bisa berharap kalau Ghaly nggak akan macam-macam lagi.