Love In Trouble

Love In Trouble
Keputusan Mahen



"Maafkan mommy kamu ini yang terlampau bodoh. Tanpa mikirin perasaan kamu sama sekali. Mommy malah ikutin kemauan oma kamu yang ternyata hal itu cuman buat kamu sakit doang. Mommy menyesal karena nggak sadar dari lama dan membiarkan kamu tersiksa dulu. Baru sadar. Di sini mommy benar benar sangat bodoh karena lebih milih orang lain di banding anak sendiri."


Mommy Nadya menangis.


"Maafkan mommy karena sudah benar benar tidak mikirin perasaan kamu sama sekali. Karena seharusnya mommy itu sadar kalau di sini masih ada kamu. Masih ada seorang anak yang butuh kasih sayang mommy. Tapi dengan bodoh nya mommy malah lupain kamu. Mommy beneran sangat tidak punya otak—


Sebuah tangan tiba-tiba melingkari lengan sang mommy. Membuat Mommy Nadya melirik dan menatap Zaina yang sudah menatapnya dengan linangan air mata.


Mommy Nadya menggeleng dan langsung menatap sang anak. Ia mengusap air matanya yang turun.


"Tidak nak, jangan nangis. Ini salah mommy. Bukan salah kamu. Jadi, bukan kamu yang seharusnya nangis karena di sini mommy yang udah membuat kamu terluka. Mommy yang udah jahat sama kamu. Mom beneran buat hati kamu itu sangat terluka."


Zaina menggeleng.


Ia bangun dan tidurnya lalu langsung memeluk sang mommy dengan sangat erat. Ia menangis membuat mom Nadya yang sejak tadi menahan tangisannya jadi ikut nangis juga. Ibu dan anak itu saling menangis membuat daddy Zidan yang sebenarnya membuntuti sang istri sejak tadi langsung tersenyum tipis.


Tidak mau ikut campur, daddy Zidan hanya menutup pintu kamar anaknya dengan sangat pelan dan memilih untuk meninggal kan mereka begitu saja. Tak mau mengganggu adegan kesedihan yang cukup menguras emosi itu.


"Mom ... jangan nangis, Zaina nggak sukaa sama sekali. Mommy nggak boleh nangis."


"Maafin mommy, nak. Maafin karena mommy udah bertingkah bodoh seperti ini. Nggak seharusnya mommy jahat sama kamu kayak gini."


Zaina menggeleng.


"Ini bukan salah mommy sama sekali. Ini salah aku karena udah jahat sama mommy. Nggak seharusnya aku sebel sama mom. Padahal di sini mom cuman mau dapetin apa yang selama ini nggak pernah mom dapetin itu. Yaitu kasih sayang dari mertua. Jadi aku ngewajarin perasaan mommy kok. Wajar kalah kita dapetin apa yang kita mau. Kita bakal lupa sama dunia sekitar."


Mom Nadya menggeleng.


"Tapi nggak seharusnya mom lupa sama kamu. Karena di sini kamu yang paling penting. Bukan orang lain sama sekali. Jadi, nggak seharusnya kamu itu ngelewatin masalah ini."


"Nggak apa-apa mom. Kita hadepin bersama ya. Dan apa yang udah oma lakuin ke mom? Sampai mom sampai nangis kayak gini? Pasti oma udah jahat banget ya sama mom. Sampai mom yang jarang nangis. Jadi nangis kayak gini. Pasti oma udah jahat banget ya sama mommy?"


Mommy Nadya tertawa dan menggeleng.


Lihat lah anaknya, padahal dirinya sudah sangat jahat sama dirinya. Tapi dia masih memikirkan perasaan dirinya itu. Mom Nadya nggak habis pikir karena sudah jahat banget sama anaknya yang memiliki hati selapang ini.


"Kamu nggak perlu mikirin oma. Cukup fokus sama kita aja. Karena ke depannya mommy juga akan menentang apa yang di inginkan sama oma kamu ini. Mom nggak mau kalau keberadaan oma cuman membawa kesedihan doang bagi kita. Sudah cukup karena selama ini oma membuat keluarga kita jadi berantakan."


Zaina paham maksud mommy Nadya dan mengangguk.


"Oh iya mom. Tapi mommy beneran baik baik aja kan? Oma nggak ada jahat sama mommy? Karena aku akan biarin oma jahat sama aku dan aku sendiri masih bisa melawan. Tapi kalau oma udah jahat sama mommy. Aku sama sekali nggak bisa terima sama sekali."


Mommy Nadya menatap lekat lekat wajah anaknya. Ia menyelipkan rambut Zaina ke belakang telinga itu.


"Di sini kamu nggak perlu mikirin apa-apa. Intinya oma kamu udah brrtingkah berlebihan dan itu semua cukup buat mom sadar kalau ternyata oma kamu nggak bisa di baikin sekali aja. Karena yang ada malah buat suasana jadi kacau dan nggak cuman itu aja. Di sini mommy sadar juga karena oma kamu yang tiba tiba berubah."


Walaupun tidak paham Nadya hanya mengangguk karena bingung ingin menjawab seperti apa.


Sampai akhirnya mereka terus berbincang dan malam semakin larut dan keduanya memutuskan untuk tidur di kamar masing-masing.


***


"Jadi, namanya Sofyan?"


Zaina mengangguk, menanggapi pertanyaan dari daddy nya itu.


"Dia juga nggak mau di jodohkan. Ya udah gampang kalau kayak gitu. Kamu nggak perlu pusing lagi mikirin buat cari cara untuk selesaiin hubungan sama dia. Cukup kerja sama aja sama dia kan?"


Mommy Nadya yang baru datang dan menaruh kue tradisional di atas meja ikut menanggapi obrolan suami dan anaknya itu yang terlihat menyenangkan.


"Tapi dia termasuk baik nggak sih? Mom pas lihat dia agak lumayan suka. Makanya tanpa pikir panjang dan nggak mikir perasaan kamu sama sekali. Mom malah setujuin orang yang di bawah sama oma kamu itu."


"..."


'Oh iya ... di sini mom cuman mau jujur. karena sebenarnya mommy sama sekali nggak pernah ikut urusan oma kamu sama keluarga Sofyan. Mom cuman di suruh setuju setuju aja. Karena sejujurnya, pertemuan kemarin menjadi pertemuan pertama mom sama mereka. Tapi kenapa mereka kesannya memojokkan mommy ya dan bilang kalau mom juga harus tanggung jawab sama masalah ini?"


Zaina mengendikkan bahu.


"Aku juga nggak paham, mom. Tapi kalau Sofyan nya sendiri sih menurut Zaina bukan orang yang macem-macem. Bukan orang yang harus Zaina hindarin banget. Dia kayaknya baik cuman emang agak jail doang. Dan selebihnya dia bukan orang yang perlu di buat hati-hati."


"Ya ampun ... sedikit rumit ya. Karena di sini oma kamu nggak bisa main di tolak aja. Karena yang ada malah nambah masalah doang. Tapi apa yang harus kita lakuin, biar keluarga pihak sana yang mutusin lebih dulu? Karena kalau mereka yang bisa mutusin lebih dulu. Kita juga akan lebih tenang nggak sih? Karena masalah ini bakalan benar benar clear dan ibu nggak bisa bilang apa-apa. Toh mereka lebih dulu yang nolak kan?"


Zaina tertawa kecil dan mengangguk.


"Maaf ya mas, Zaina, Karena masalah ini kita jadi di pusing kan lagi. Nggak seharusnya waktu itu aku sok tau dan iyain aja. Kalau udah kayak gini. Semuanya jadi susah dan aku juga jadi bingung harus mutusin kayak gimana."


Daddy Zidan mengusap rambut istrinya itu.


Daddy Zidan menenangkan dua perempuan yang ada di sana.


"Kalian nggak perlu khawatir. Ibu nggak akan bisa ancam kamu lagi dan oma nggak akan bisa suruh kamu ini itu lagi. Karena oma sama sekali nggak punya hak untuk maksa kalian. Kalian cuman punya daddy. Bukan orang lain."


"Ah ... daddy," rengek mommy Nadya dan Zaina secara bersamaan.


***


Saat ini,


Zaina memutuskan untuk bertemu sama Mahen untuk membicarakan masalah ini. Dia benar-benar nggak bisa meninggalkan masalah ini. Karena semakin dia berusaha hilangkan dari benaknya. Maka Zaina juga akan semakin teringat dan masalah yang terjadi karena ulah omanya di masa lalu.


"Oma tuh nekat. Aku takut kalau nanti aku diem doang dan nggak buru-buru nyelesain masalah. Yang ada malahan buat oma memutar rencana dan lagi lagi malah aku yang kena. Toh pasti nggak akan lama lagi kan kalau oma tau mommy Nadya nggak membela dia lagi?"


Perempuan itu dengan cepat mengenakan parfum dan buru buru mendatangi ke perusahaan milik Mahen.


***


Zaina menceritakan semuanya yang terjadi kemarin. Termasuk alasan Sofyan yang menginginkan bekerja sama dirinya itu. Zaina benar benar menceritakan semua itu dengan menggebu. Bahkan saat oma yang terus menekan dirinya dan nggak mau membuat diri oma nya kelihatan salah dan malah terus menyalahkan orang lain itu.


"Aku nggak habis pikir deh sama pikiran oma kamu. Apa semua orang tua itu sama sama semenyebalkan ini ya?" tanya Mahen yang juga teringat sama keluarga besarnya itu. "Kamu pasti masih nggak lupa kan sama keluarga aku? Mereka juga menyebalkan kayak gini kan?"


Ah masa lalu yang buruk.


Mana mungkin Zaina melupakan kejadian di masa lalu itu. Keluarga Mahen yang merupakan salah satu membuat dia jadi trauma itu.


"Ah iya ... omong omong tentang keluarga besar kamu. Apa mereka masih jahat sama kamu? Atau karena mereka tahu bukan aku lagi yang nggak mereka sukai itu jadi menantu kamu. Mereka jadi baik lagi sama kamu? Apa mereka juga udah berubah? Karena udah lama banget kan kita nggak ketemu sama mereka."


Mahen mendengus.


"Nggak peduli ah. Aku beneran nggak peduli sama mereka. Mereka datang cuman karena uang doang. Selebihnya mereka masih seperti dulu. Masih sangat menyebalkan. Makanya aku sama ayah sama sekali nggak pernah mau urus mereka sama sekali. Toh ... kamu harus tau kalau mereka nggak akan pernah berubah."


Zaina tertawa menanggapi kekesalan dari Mahen.


"Berarti kemungkinan besar kalau nanti kita kembali punya hubungan, mereka bakalan marah besar ya?" papar Zaina dengan sangat sengaja bertanya ke arah Mahen.


"Ah ... gue nggak peduli sama apa pun omongan dari mereka. Yang menjalani hidup kan gue. Jadi mau mereka semenyebalkan atau senyinyir apa pun. Nggak akan pernah gue pedulikan sama sekali."


Zaina tertawa renyah sambil menatap ke arah Mahen.


"Kamu beneran kayak udah kesal banget ya sama mereka. Nggak ada niatan punya hubungan baik gitu mas? kan ya ... kasihan juga kalau pada akhirnya mereka sama kamu punya hubungan yang nggak bagus selamanya. Kasihan juga."


Mahen tidak peduli sama sekali.


"Selama mereka nggak minta maaf duluan, aku nggak akan pernah minta maaf duluan sama mereka. Aku nggak akan pernah rendahin diri aku. Karena di sini mereka yang udah salah sama aku."


Zaina sangat paham sama apa yang Mahen alamin.


"Udah deh ... jangan ngomongin ini lagi. Bikin nambah sedih aja. Mendingan, sekarang kita mikirin bagaimana caranya supaya keluarga Sofyan bisa mutusin hubungan perjodohan gak jelas ini. Karena sungguh, aku juga kasihan sama Sofyan. Dia beneran tersiksa banget. Mungkin orang tuanya ini tipe yang melakukan seenaknya tanpa pernah mikirin perasaan anak? Jadi ... aku beneran bingung lihat dia yang cuman diem aja. Padahal hatinya keliatan muak banget dan dia keliatan cinta mati sama pacarnya itu."


Mahen menyatukan lengannya ke atas meja dan menatap Mahen.


"Susah nggak sih?" papar Mahen membuat perempuan itu jadi bingung sama maksud dari laki-laki itu


"Maksdnya?"


"Iya susah ... kalau emang dari kecil dia sudah mendapat tekanan dari orang tuanya. Artinya dia beneran udah biasa ikutin kemauan orang tuanya. Tanpa mikirin perasaan dia sama sekali. Jadi ... mungkin karena udah terbiasa dari kecil. Dia jadi mau nggak mau terbiasa ikutin apa yang orang tuanya mau."


Zaina mengangguk mengerti.


"Kasihan nggak sih?"


"Banget lah ... kalau seorang anak terus di suruh sama orang tuanya kayak gitu. Yang ada anak itu malah nggak berkembang. Dia malah tersiksa. Orang tuanya sih cuman ngomong kalau dia ngelakuin ini semua demi kebaikan sang anak. Padahal nggak kan? Karena yang nikmatin hasilnya ya mereka. Bukan si anak. Aku nanti kalau jadi orang tua mau kasih kebebasan ke anak. Nggak mau ributin ini itu yang ada malah nambah masalah aja dan buat pusing keadaan tau nggak sih."


Zaina tertawa.


"Kamu malah kepikiran sejauh itu."


Mahen mengendikkan bahu.


"Semuanya udah aku pikirin. Jadi nanti kamu nggak perlu khawatir. Karena sudah mendapatkan suami yang serba bisa kayak aku."


Dan pada akhirnya Zaina hanya menepuk keningnya itu sambil menggeleng kecil. Ada-ada aja Mahen ini. Dia gak tau kalau Mahen akan sejauh ini dalam mempersiapkan semuanya.


"Kamu memang hebat!"