
“Boleh gue jujur?”
Zaina yang sedang tertawa langsung menoleh pada Ghaly, wajah serius laki-laki itu membuat Zaina ikut merasa ada sesuatu yang terjadi. Dengan perlahan, Zaina menelan saliva. Sembari terus berdoa dalam hati supaya nggak ada sesuatu terjadi dan semoga Ghaly benar-benar udah nggak punya perasaan sama dirinya.
“Silahkan,” jawab Mahen ikut berbicara serius
“Sampai detik ini perasaan itu sama Zaina belum hilang sama sekali.”
Zaina melongo, terkejut akan kejujuran Ghaly. Ia menatap bingung pada Ghaly lalu beralih pada Mahen. Takut takut Mahen malah marah sama fakta ini. Tapi Zaina malah mendapati wajah tenang Mahen yang kini memusatkan perhatian ke Ghaly. Akhirnya Zaina juga memilih diam dan ikut mendengar penjelasan dari Ghaly.
“Jadi ... lu masih punya perasaan sama Zaina? Bahkan sampai detik ini?”
Ghaly mengangguk dengan serius.
“Kalau begitu ... kenapa waktu itu lu ninggalin Zaina?” tanya Mahen yang mengangkat salah satu alis nya, benar-benar penasaran. “Maksudnya kalau sampai detik ini lu masih punya perasaan sama Zaina. Artinya buat apa dulu lu mutusin hubungan sama Zaina dan malah pergi gitu aja? Aneh nggak sih ...”
Mahen masih berusaha menahan emosinya, dia memutar matanya dan menarik napas dalam. Brusaha mencari pemikiran jernih, supaya dirinya nggak emosi pada Mahen.
“Okei ... lu jelasin deh semuanya di sini, biar nggak terjadi salah paham lagi. Karena mau bagaimana pun, gue yang nanya hal ini. Jadi, gue juga harus dengerin penjelasan dari lu dari pada marah marah nggak jelas.”
“Makasih karena udah mau dengerin penjelasan gue dan nggak marah,” jawab Ghaly sedikit bersyukur karena nggak ada lagi yang marah sama dirinya karena masalah ini. Dia benar benar nggak mau menambah masalah.
“Jadi ... kalu gue cerita semuanya di sini. Kalian nggak akan marah kan sama gue? Atau kalian nggak bakalan nyudutin gue. Karena ini beneran akan gue kasih tau. Biar Mahen juga tenang untuk ke depannya. Tanpa perlu mikirin gue yang notabene nya adalah masa lalu Zaina ini.”
Mahen menjangkau tangan Zaina dan mengusapnya pelan. Meminta perempuan itu tenang.
Lalu beralih menatap ke Ghaly. Memberi isyarat supaya Ghaly meneruskan apa yang mau dia omongin itu.
“Jadi ... sampai detik ini, gue masih nggak paham. Perasaan yang masih ada ini, sekedar perasaan bersalah yang menghantui gue selama ini. Karena udah mempermalu kan Zaina dan membuat hidup Zaina jadi suram. Atau memang perasaan cinta. Tapi, jujur saja. Karena sampai detik ini. Degupan jantung itu masih ada, bahkan saat menatap mata Zaina.”
Ghaly beralih menatap Zaina yang kini sudah menunduk.
Ya ... Ghaly sudah memikirkan apa yang terjadi ke depannya, kalau dia nekat menceritakan semua ini.
Dia juga nggak bisa apa-apa, karena memang sudah seharusnya mereka semua tahu apa yang dia rasakan selama ini. walaupun setelah ini semua, nanti nya Zaina akan menjauhkan dirinya. Ia nggak masalah sama sekali. Dirinya akan ikhlas. Ya ... berusaha untuk ikhlas.
“Lanjut ...”
“Iya ... bahkan tadi pas Zaina ngetawain pertanyaan yang lu lontarin, hati gue beneran sakit banget. Seolah perasaan gue kayak di ketawain sama Zaina.”
Spontan Zaina menoleh pada Ghaly, “aku nggak maksud—
“Nggak apa-apa,” sela Ghaly. “Memang salah gue sih karena sampai sekarang masih nyimpen perasaan ini. Jadi, kalian nggak ada salah sama sekali. Ini pure kesalahan gue karena udah memiliki perasaan yang bahkan sebenarnya nggak pantas untuk di milikin itu. Yang bahkan sebenarnya aku udah nggak berhak punya perasaan sama orang yang udah gue jahatin.”
“Okei ... kita nggak punya banyak waktu,” potong Mahen dengan cepat. “Jangan cuman muter muter di situ aja. Gue mau denger alesan lu yang sebenarnya.”
Ghaly mengangguk patuh.
“Intinya ... dulu pas gue ninggalin, gue lagi ngerasa bosen sama Zaina. Gue seolah mau cari hal baru di hidup gue. Dirasa gue cukup punya tabungan, makanya gue milih buat pergi lah. Walau ... harus nya gue juga sadar, kalau tabungan waktu itu juga kurang lebih dari punya Zaina. Karena dia yang selalu menyokong hidup gue selama ini.”
Mahen beralih menatap Zaina dan perempuan itu membenar kan omongan Ghaly.
“Nah ... setelah pergi. Gue nggak merasa apa apa. Gue malah ngerasa bahagia karena akhir nya bisa lepas dari Zaina yang waktu itu gue pikir sebagai perempuan yang benar benar posesif. Gue yang suka kebebasan, beneran nggak suka waktu itu. Gue nggak pikir panjang, gue nggak kerja juga. Karena kerjaan gue waktu itu cuman habisin tabungan yang gue punya tanpa mikir kalau semua itu bakalan habis. Karena nggak ada pemasukan lagi di hidup gue.”
“...”
“Hingga ... gue mulai sadar kalau tabungan gue mulai menipis. Gue mulai ngerasa butuh pemasukan dan mulai mencari cara untuk nemuin perempuan royal kayak Zaina. Tapi, sayang gue nggak bisa nemuin perempuan sebaik Zaina. Perempuan yang udah cinta mati sama gue. Bahkan perempuan yang rela mengeluarkan banyak uang untuk gue. Ya ... gue memamg bodoh karena udah ngelepas berlian indah di hidup gue. Gue beneran bodoh banget waktu itu. Gue nggak mikir panjang dan malah lakuin hal yang gue mau.”
Mahen mengangguk, masih mendengarkan.
“Sampai ya ... gue ngelihat berita kalau Zaina mau di jodohkan sama lu. Amarah gue tiba tiba aja bangkit. Gue nggak suka ngelihat perempuan yang sebelum nya selalu jadiin gue pusat perhatian malah punya hubungan sama pria lain. Jadi, gue kembali menemui Zaina. Ya ... lu sendiri ikut kan pas waktu itu?”
Mahen mengangguk.
Ia memijat kepalanya.
Laki-laki itu melirik ke arah Zaina dan bersyukur karena wanitanya itu nggak kelihatan terpengaruh atau emosi sama sekali. Zaina pure mendengar kan penjelasan dari Mahen. Benar saja kalau Zaina tadi mengatakan sudah tidak memiliki perasaan sama Ghaly. Sekarang Mahen sudah benar benar percaya sama perempuan itu.
Mahen kembali beralih menatap Ghaly.
“Jadi ... cuman karena masalah ini, lu malah kembali? Jadi, kembali nya lu bukan karena lu sadar. Tapi cuman karena uang dan emosi nya lu doang. Selebih nya nggak ada hal baik yang menjadi alasan lu untuk kembali.”
“Sayang nya kayak gitu ...”
Suasana kembali hening, tak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Hanya suara gelas yang beradu dan beberapa pelanggan di sana yang menjadi backsound kumpul mereka. Zaina yang sibuk melihat ke arah luar, tanpa memikirkan cerita Ghaly sama sekali. Ghaly yang kini hanya bisa menunduk, karena nggak ada muka untuk menatap mereka lagi. Sedangkan, Mahen yang hanya bisa menarik napas dalam.
Dia nggak bisa apa apa, karena memang ini seperti sudah di atur. Dia juga nggak bisa marah sama sekali ke Ghaly, karena jujur saja kebaikan Ghaly yang sekarang. Membuat laki-laki itu jadi urung untuk mengatakan apa-apa.
Mahen berdeham membuat mereka menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.
“Gue boleh nanya lagi?”
“Kapan perasaan itu kembali? Karena yang gue tangkep dari penjelasan lu yang tadi kalau lu ini sebenarnya kembali bukan karena perasaaan kan? Yang artinya, lu sama sekali nggak punya perasaan sama Zaina pas kembali waktu itu. Cuman karena uang dan emosi lu dateng ke sini lagi. Jadi ... kalau balik lagi ke pertanyaan awal, lu bilang kalau sekarang punya perasaan sama Zaina. Jadi ... kapan perasaan itu kembali?”
Ghaly terdiam untuk sesaat.
“Setelah semuanya baik-baik aja.”
“Jadi ... selama lu jadi asisten Zaina, lu punya perasaan sama dia?”
“Aku merasakan nya kok,” sela Zaina yang mengejutkan dua laki-laki di sana. Terutama Ghaly yang tertawa miris.
“Jadi ... lu sadar kalau gue punya perasaan sama lu. Tapi selama ini lu bersikap pura pura nggak tau sama sekali? Hahaha, apa perasaan gue cuman di anggap main main doang ya sama lu?” gumam Ghaly pelan sambil menyandar kan tubuhnya ke kursi. Masih tidak percaya.
“Kamu tau?” tanya Mahen lagi berusaha memastikan dan anggukan Zaina membuat dua orang laki-laki di sana jadi spechlees bukan main.
Zaina memejamkan mata, sudah dari lama dia sadar.
Bukan kah dia waktu itu pernah bilang?
“Maaf ... mungkin ini mengejut kan kalian, terutama Ghaly,” ucap Zaina pelan. “Aku udah sadar sama perasaan lu. Karena ini semua benar benar kelihatan. Tapi balik lagi, gue beneran nggak tau harus ngerespon seperti apa sama perasaan lu yang ini. Karena seperti yang gue bilang dari awal. Kalau perasaan gue itu beneran udah hilang sama lu. Udah nggak ada degupan sama sekali yang buat gue mau balik sama lu.”
“...”
“Bukan kah aneh kalau tiba-tiba gue ngomong ke Ghaly, kalau dia harus hilangin perasaan itu. Karena Ghaly nggak pernah ngomong jujur sama sekali,” ujar Zaina yang mau tidak mau di setujui sama dua laki-laki yang ada di sana. “Nanti kalau tiba-tiba gue ngomong gitu, yang ada Ghaly bisa ngelak dan ngomong kalau gue ini geer. Gue bakalan jawab ke Ghaly kalau Ghaly juga nyatain perasaan sama gue. Tapi, nyatanya nggak ada sama sekali. Jadi, gue rasa selama Ghaly masih diam diam. Gue juga bakalan diam diam aja dan pura pura untuk nggak tau.”
Ghaly mengangguk pelan.
“Jadi buat Ghaly, gue beneran minta maag kalau ini ngecewain lu. Tapi, beneran deh. Gue nggak ada maksud untuk nyakitin lu. Gue rasa diemnya gue malah buat lu jadi lebih mendingan dari pada gue ngomong dan bikin lu malu doang kan? Jadi, mendingan juga gue jujur apa ada nya sama lu.”
Ghaly menghembuskan napas kasar.
“Gue beneran minta maaf sama lu karena ngelakuin ini. Dan gue beneran nggak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi ... untuk menjawab pertanyaan lu. Maaf banget karena lu harus coba lupain gue. Mau lu memang suka sama gue atau lu itu cuman merasa nggak enak sama gue, dan merasa bersalah doang. Gue beneran nggak peduli. Jahat memang, tapi itu kenyataannya.”
Ghaly tertawa lirih dan mengangguk.
“Lu pasti bisa nemuin perempuan yang jauh lebih baik dari gue kok. Jadi, nggak usah harepin gue sama sekali ya. Karena itu cuman bisa ngecewain lu doang. Gue yakin, kalau pada akhirnya lu nanti pasti ketemu sama perempuan yang bisa ngertiin lu dan buat lu jatuh cinta. Gue yakin.”
Ghaly mengibaskan tangan di udara.
“Nggak usah ngomong kayak gitu cuman untuk nenangin gue. Nggak seharus nya lu berusaha buat bela dan mikirin hal itu, di saat lu tau kalau di sini gue masih punya perasaan sama lu,” jelas Ghaly membuat Zaina sungguh jadi nggak enak bukan main. “Tapi gue cukup maklumin kok dan tenang aja. Mau gue nggak bisa hapus perasaan ini atau nantinya bisa berpaling. Gue tetap janji nggak akan pernah ganggu hubungan kalian kok.”
Ghaly beralih menatap ke arah Mahen sama Zaina yang sejak tadi menatap nya itu.
“Gue beneran nggak akan ganggu kalian kok.”
Mahen mengangguk canggung.
“Gue juga nggak nuduh lu,” ucap Mahen. “Gue nggak pernah anggep lu sebagai orang jahat. Walau sesekali gue cemburu sama lu, karena dekat sama Zaina. Tapi tetap aja, gue sama sekali nggak pernah berpikiran buruk tentang lu.”
“Bagus lah kalau begitu. Tapi tetap saja,” ucap Ghaly menekan kan ucapannya itu. “Bahkan dari awal gue nggak pernah ada niatan untuk jujur sama Zaina tentang perasaan ini. karena dari lubuk hati yang paling dalam. Gue cuman mau nyimpan perasaan ini doang. Tanpa ada niatan untuk bilang sama sekali ke Zaina.”
“Iya aku tau kok,” ucap Zaina dengan lantang.
Perempuan itu sama sekali nggak pernah menuduh Ghaly sama sekali. Karena Ghaly sama sekali nggak pernah menyangkut pautkan perasaan dia sama kinerja mereka. Selama ini Zaina nggak pernah merasa canggung sama Ghaly karena perasaan yang di milikin sama mantan kekasih nya itu.
“Dan satu hal yang harus kalian tau ...”
“...”
“Awal bertemu dan ngeliat kalian yang bersama kayak gini. Ada sedikit perasaan cemburu karena ngeliat Zaina yang juga tersenyum bahagia sama laki-laki di saat selama ini yang gue tau cuman gue yang bisa bikin dia seneng. Ya ... sedikit cemburu sih. Apa lagi ada orang tua kalian berdua. Seakan kalian memang bertemu untuk membicarakan pernikahan kalian dan gue cuman orang asing yang datang.”
“Ah ... jadi karena itu tadi lu nggak mau ikut sama kita?” seru Zaina yang langsung di angguki sama Ghaly
“Pantas saja,” lanjut Mahen sambil terkekeh kecil.
“Nah ... pokoknya gue sedikit cemburu lah. Sampai gue mulai perhatiin gestur kalian berdua yang kayak punya dunia sendiri. Kalian bisa nyiptain kebahagiaan kalian dan nggak terganggu sama dunia sekitar. Terus melihat bagaimana Mahen yang berhasil treatment Zaina dengan baik dan buat gue sadar kalau, Zaina memang bertemu sama laki-laki yang tepat.”
Ghaly beralih menatap ke arah Mahen.
“Untuk mengakhiri pembicaraan ini. Gue cuman mau ingetin kalian kalau kalian berdua ini nggak usah khawatir sama sekali. Karena gue nggak ada niatan untuk hancurin hubungan kalian dan buat Mahen ... tolong jaga Zaina ya. Gue udah melakukan kesalahan fatal di hidup Zaina dan buat Zaina benar-benar terluka sama hidup gue. Dan sekarang ... gue nggak mau kalau ada orang lagi yang nyakitin hidup Zaina. Sudah cukup dan dia harus merasa bahagia.”
“...”
“Janji ya,” pinta Ghaly
Mahen melirik ke arah Zaina dan mengangguk sembari tersenyum simpul.
“Iya ... gue janji. Gue akan janji buat jaga Zaina. Gue akan berusaha untuk buat Zaina bahagia dan terus tersenyum. Lu nggak usah khawatir. Karena posisi itu akan gue pertahanin dan gue nggak akan pernah buat Zaina terluka lagi.”
“Bagus lah ... gue lega dengarnya.”