Love In Trouble

Love In Trouble
Kepincut?



“Tadi kan aku cuman berniat datang ke mereka untuk minta maaf doang, ya ... sekalian maaf karena buat para wartawan yang udah kesusahan karena aku. Walau pun kadang kesel sama mereka, tapi tetep aja nggak sih, mereka pasti kesusahan karena aku?”


Zaina melepas pelukan dan mendongak, menatap langsung mata mommy nya. “Aku nggak mau kalau diam diam mereka mengutuk aku karena udah buat mereka sibuk. Memang ini tugas mereka, tapi mau gimana pun. Pasti mereka lebih suka kerja di kantor kan? Dari pada harus turun ke lapangan terus?”


“Hahaha ... padahal kamu nggak perlu mikir ke sana. Itu sudah resiko mereka, tapi balik lagi. Hati kamu memang sangat luas. Sampai hal ini saja kamu pikir kan. Kamu sangat hebat. Dan ini seperti hadiah yang Tuhan beri ke kamu. Dari yang kamu nggak pernah mikir ke arah sana. Sampai akhirnya kamu mendapat pembelaan dari mereka. Terus ... karena keadaan yang udah jauh lebih membaik. Kamu mau klarifikasi nggak? karena tetap saja ... ada sebagian orang yang nggak suka sama kamu dan masih tetep ngehujat kamu.”


Zaina mengibaskan tangan di udara dan mengendikan bahu, acuh.


“Aku sih nggak peduli, mom. Sama seperti yang mommy bilang, kalau aku nggak perlu peduli sama berita atau akun seperti itu. Karena anggap aja itu seperti hadiah untuk aku dan nggak cuman itu aja. Aku harus optimis terus. Jadi, untuk sekarang aku nggak akan ngelakuin apa apa atau klarifikasi sama sekali. Karena daddy atau Mahen juga belum nyuruh aku untuk ngelakuin apa-apa ... jadi, dari pada salah langkah. Mendingan untuk sekarang aku diam.”


“Anak mommy memang sangat pintar ...”


“Ya sudah mom, kayaknya aku mau istirahat aja ya. Udah mulai ngantuk.”


“Ya sudah kalau begitu, jangan lupa di minum obatnya ya.”


“Siap mom ...”


***


Waktu istirahat Zaina sedikit terganggu saat teleponnya berdering. Dengan cepat dirinya bangkit dari tempat tidur dan mengerutkan kening, bingung. Saat melihat nama yang ada di layar ponsel.


“Oma? Kenapa oma nelepon aku ya?” seru Zaina yang jantungnya sudah berdegup kencang.


Ia memikirkan banyak kemungkinan dan pada akhirnya dia menarik napas dalam sebelum mengangkat telepon itu.


/Akhirnya kamu mengangkat. Zaina, kamu keren sekali karena udah buat perlakuan kayak tadi. Seharusnya udah dari lama kamu cuci nama kamu, biar nggak banyak menggiring opini dan untuk selanjutnya oma harap kamu lakuin hal baik, supaya nggak buat nama orang tua kamu jadi buruk lagi./


“Maksud oma?”


/Ya ... seperti yang oma bilang terakhir kali, kalau oma nggak bakalan setuju kalau kamu kembali sama Mahen. Karena nantinya kamu malah di hujat lagi. Mereka bakalan mengira kalau kamu ini memang benar rusak hubungan orang lain. Makanya ... oma punya opsi terbaik?/


“Masih tentang waktu itu? Oma mau jodohin aku sama seseorang?” tanya Zaina yang sudah lelah bukan main.


Ia mengepalkan tangan di bawah meja dan menarik napas dalam. Berusaha untuk tetap kontrol nada bicaranya yang mulai meninggi.


/Nah ... itu kamu ingat! Gimana, kamu mau kan? Katanya, kamu mau jadi anak baik? Dan ini salah satu cara supaya orang tua kamu bangga sama kamu dan nggak perlu lagi mikir buat nyari cara buat nyelesaiin persoalan kamu. Kadang ... oma kasihan sama orang tua kamu./


“Maksud oma?”


Zaina menelan saliva.


Dengan langkah pelan, ia bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar dia dengan perlahan. Dari tempat nya berdiri Zaina bisa melihat sang mommy yang sedang terduduk di sofa sedang memijat kepalanya.


Zaina tertegun.


Selama ini Zaina hanya melihat sisi orang tuanya yang terbuka dan terus tersenyum saat ada di depan dirinya. Tapi, Zaina lupa kalau orang tuanya juga pasti lemah dan sedih karena hal ini.


“Oma yakin?” tanya Zaina sambil terus memandang sang mommy dari tempatnya berdiri. Zaina berdiri sedikit menjorok ke dalam, takut mommy nya berbalik dan mendapati dirinya di sana.


/Mungkin kamu memang nggak suka sama oma, tapi oma jujur akan semua ini. dan semua yang oma lakuin itu demi kebaikan kamu. Sayang ... mungkin cara didiknya oma sedikit berbeda dari orang tua kamu. Makanya kamu menganggap kalau oma ini udah jahat sama kamu. Padahal, kenyataannya nggak begitu sama sekali./


“Aku nggak tau harus apa ...”


/Di sini oma pernah dengar kalau orang tua kamu sebenarnya pengin dapet laki-laki yang tepat untuk kamu. Mereka terus berusaha jodohin kamu. Sayangnya ... banyak dari mereka yang menola kamu. Ya ... karena berita buruk yang terus kamu keluarkan. Jadi, di sini oma hanya bisa berharap kalau kamu itu berbesar hati untuk datang ke oma. Karena oma punya sedikit pilihan untuk kamu. Mereka mau dan yang pastinya, kalau kamu sudah dapat. Kamu nggak akan merepotkan orang tua kamu lagi./


“Tapi Mahen?” ucap Zaina tanpa sadar.


/Kamu masih menunggu laki-laki itu? Sebenarnya ... apa yang kamu tunggu sih? Mahen baik? Masih banyak laki-laki baik di luaran sana. Dan kalau memang Mahen peduli sama kamu. Oma rasa dia hanya peduli dalam artian mengejek kamu. Lagian dia mana mungkin suka sama kamu lagi? Itu pasti akal-akalannya dia. Di dunia ini nggak ada orang baik kalau mereka gak minta takarannya. Dalam artian ... mungkin di mata kamu Mahen masih kelihatan baik, tapi kita nggak tahu kan dalam beberapa tahun ke depan? Bisa saja Mahen terus mengungkit hal ini? itu pasti melelahkan .../


Entah kenapa, Zaina mulai terpengaruh sama omongan omanya.


Ia mengangguk kecil, sedikit percaya sama omongan omanya itu.


/Dan sekarang, dari pada kamu harus mengulang kesalahan yang sama karena masa lalu. Lebih baik kamu mencari pria yang baru dan kamu percaya kan sama oma? Walau hubungan kita nggak akur. Tapi oma nggak mungkin mengirimkan laki-laki yang nggak cocok untuk kamu. Oma juga mau kamu berada di tangan laki-laki yang tepat./


“Ya sudah!” putus Zaina yang mulai terpengaruh


/Nah ... bagus kalau begitu! Kalau bisa jangan bilang dulu sama orang tua kamu. Dan juga ... besok kamu temuin oma di kafe keluarga yang sering kita kunjungi. Jam sepuluh siang. Bagaimana? Kamu bisa?/


Zaina memejamkan mata dan akhirnya menarik napas dalam. “Oke oma ...”