Love In Trouble

Love In Trouble
13 - Apa Itu Menikah?



“Menikah?”


Zaina menatap televisi yang sedang menampilkan sepasang artis dan aktor yang sedang menikah itu. Ia menggeleng kecil dan menatap omong kosong sama TV itu. Ia sama sekali melihat kepalsua dari mata sang aktor dan artis. Tidak ada kebahagiaan, karena pernikahan mereka cuma niat untuk menguntungkan keduanya saja. Membuat nama keduanya menjadi naik dan kalau sudah mendapat apa yang mereka mau. Keduanya pasti akan menikah.


"Apa senangnya menikah bisnis kayak gitu? Beneran deh ... artis atau siapa pun yang menikah karena suatu hal itu kayak yang nggak mikir sama sekali. Kalau apa yang di lakukan sama dia itu malah menimbulkan hal yang salah di mata orang lain. Apa bagus nya mendapat uang juga dari membohongi orang lain? Apa yang dia butuhin memangnya? Agak aneh banget deh."


Lalu, Zaina terdiam saat ingat sesuatu dan tersenyum tipis. "Pernikahan palsu?"


Zaina menggeleng dan menatap layar televisi, melihat berbagai kebohongan yang ada di sana. Dirinya itu beneran nggak tahu deh.


Di saat sedang memikirkan orang yang sudah membohongi banyak orang, Zaina teringat akan dirinya sendiri. "Ah iya ... itu sama aja kayak aku nggak sih?" tambah Zaina lalu menatap perutnya itu yang kini mulai sedikit buncit. Dia mengusapnya dan jadi teringat lagi akan perintah mommynya yang bahkan hingga detik ini belum dia jawab sama sekali. Dirinya itu beneran nggak tahu harus menjawab apa, karena belum ada pemikiran sama sekali untuk jauh ke arah sana.


"Tapi ... ini beneran sama kayak aku nggak sih?" Zaina jadi membandingkan hidup dia dengan hidup artis di dalam layar televisi.


"Tapi kalau misalnya aku bakalan menikah juga nih sama orang yang bahkan nggak aku cintai sama sekali. Sama aja berarti aku membuat kehidupan palsu dan buat banyak orang percaya sama kami? Padahal semu aini cuma fake semata. Apa lagi kalau nanti memang nikah. Pernikahan ini hanya menutupi suatu hal yang semua orang nggak tahu sama sekali. Aku jadi orang yang merasa bersalah deh kalau kayakmenjawa


Zaina kemudian mematikan televisi dan membuka laptopnya itu. Mengetik sesuatu di kolom pencarian /Apakah menikah akan selalu berakhir bahagia?/ dan ribuan pesan yang di kirimkan banyak orang membuat dia mulai membaca dari judul. Ada yang bahas kalau pernikahan nggak akan pernah bisa bahagia kalau di mulai dari status 'perjodohan', ada juga yang mengatakan kalau pernikahan kedua akan jauh lebih bahagia.


"Pernikahan kedua?" seru Zaina lalu tertawa kecil. "Mana ada yang bisa begitu? Wong ... satu kali pernikahan aja aku masih berat banget buat aku laluin. Apa lagi kalau sampai dua kali pernikahan? Pasti nggak akan semudah itu kan buat bahagia? Jadi ya kayaknya memang nggak akan ada kebahagiaan, di pernikahan pertama atau pun pernikahan kedua. Walaupun saat terjadi juga hanya membuat nama dirinya jadi buruk.


Lalu Zaina menggeleng.


Kembali search dan sebuah judul menarik perhatian dirinya lagi, /studi: menikah nggak akan membuatmu lebih bahagia ketimbang hidup melajang./


Lalu ia tertawa kecil, "ini nih judul yang aku cari. Aku mau mengeksplor tubuh aku sendiri dan membiarkan aku melakukan apa yang seharusnya aku lakuin," gumam Zaina sambil membaca surel itu. "Ya ... walaupun kayaknya kehidupan melajang yang di maksud itu berbeda juga kan? Apa lagi di sini dikatakan bisa hidup dengan bebas."


Matanya kembali melirik tablet Zaina yang masih menyala, di sana ada foto seorang anak bayi yang berada di pelukan bundanya yang baru saja melahirkan itu.


"Tidak ... kami sudah benar-benar berbeda, aku nggak bisa samain dengan hidup orang lain lagi. Aku saat ini udah punya anak dan lagi hamil. Kalau nanti di biarkan anak ini bakalan lahir di dunia ini dan sejak saat itu aku harus bisa merawat dia dengan baik. Dan aku nggak bisa hidup sebebas apa yang aku mau. Jadi, ya aku harus tahu diri."


"Padahal ... beberapa saat lalu aku merasa kalau pernikahan itu hal yang menyenangkan. Di saat aku mau menikah sama mas Ghaly. Masa di mana mas Ghaly masih mau menerima aku dengan baik dan nggak ada protes sama sekali. Tapi di sini? Apa yang harus dirinya itu lakuin? Di saat mas Ghaly pergi gitu aja. Aku kehilangan juga mimpi aku."


Zaina memiringkan wajahnya dan menarik napas dalam.


"Kalau udah kayak gini, aku baru sadar kalau selama ini cuma hidup sendirian aja sama Ghaly. Aku banyak habisin waktu sama kekasih aku doang. Selama ini aku cuma benar-benar sama Ghaly doang dan merasa semuanya akan beres gitu aja kalau aku bisa habisin waktu sama dia. Sampai aku nggak pernah ngobrol sama yang lain."


Zaina mengerucutkan bibirnya.


Dan menarik napas dalam dengan sangat kesal.


"Aku beneran nggak punya teman pas udah tahu kayak gini, aku nggak tahu deh harus apa. Aku merasa kalau semua ini berjalan dengan baik aja pas itu. Tapi sekarang? Aku mulai merasa kesepian."


Zaina memandang ke arah sekitar kamarnya, ia memiliki banyak barang. Tapi dirinya sama sekali nggak memiliki teman untuk berbincang. Banyak uang juga nggak bisa memastikan semuanya itu bahagia kan? Zaina merasakan hal itu sekarang dan betapa pentingnya untuk bersosialisasi.


"Pantas saja ... mommy sama daddy selalu saja bilang kalau aku harus punya banyak teman. Karena sekarang aku beneran baru sadar kalau punya teman sepenting itu. Aku nggak tahu teman aku bakalan nerima keadaan aku atau enggak. Tapi ya seenggak nya aku bisa menceritakan masalah ini kan? aku jadi bisa berbagi semua masalah ini. Aku bisa kasih tahu banyak hal dan bukan nya malah kayak gini."


Perempuan itu menutup wajahnya dan mulai terisak. Napasnya sedikit berat dan ia mulai menangis.


"Aku beneran kesepian dan nggak tahu harus ceritain sama siapa. Pala aku rasanya mau meledak karena udah menahan semua ini sendirian. Aku beneran nggak tahu harus apa, menyimpan semua ini sendirian tuh bukan hal yang mudah. Aku nggak tahu deh harus apa."


Perasaannya mengawang dan ia nggak paham kenapa harus begini. Ia nggak paham kenapa dirinya butuh teman, tapi dirinya itu beneran butuh seorang teman. Sampai kemudian dia ingat sesuatu. Mengingat permintaan yang di lakukan sama mommy dan daddy pada dirinya itu.


"Apa aku mulai terima aja permintaan mereka? Bukan untuk langsung menikah seperti yang mereka pinta. Tapi lebih ke saling mengenal lebih dulu aja. Karena aku mau membuat dia jadi teman aku lebih dulu."


"Bukankah ini ide yang bagus?"