
Selama perjalanan, Zaina perhatikan kalau mommy nya keliatan begitu gelisah. Tak sadar bahkan sampai terus menghembuskan napas berulang kali. Zaina refleks memegang lengan sang mommy dan tersenyum tipis.
"Kalau nanti oma macam-macam, aku bakal tegasin oma. Karena situasi kita, bukan situasi yang pas buat macem kayak gini dan aku nggak mau malah bawa masalah baru, padahal kita lagi mau rukun yang baik-baik. Apalagi di tengah kondisi daddy yang begini."
Pada akhirnya mom Nadya mengangguk setuju.
Setelah beberapa menit kemudian, Zaina sudah siap dengan pakaian yang lebih tertutup. Baru kedua perempuan itu milih untuk segera pergi dengan Zaina yang menyetir kendaraan. Sengaja biar nanti suasana nggak terlalu canggung kalau ada supir yang bersama mereka.
Zaina sesekali menoleh pada sang mom yang keliatan jauh lebih diam.
"Ini mom lagi mikirin kondisi daddy atau mikirin oma?" tanya Zaina membuat lamunan perempuan itu terhenti dan milih untuk menghembuskan napas kasar.
"Keduanya ... tapi, lebih ke oma kamu," jawabnya dengan sangat jujur. "Mau bagaimana juga, ini pertama kalinya loh mom bakalan ketemu sama oma kamu di situasi yang udah lebih baik kayak sekarang dan juga, biasanya selalu ada daddy kamu di samping mom. Jadi, kalau ada apa pun yang terjadi. Daddy kamu pasti langsung nenangin oma. Jadi ya mom sekarang agak gugup buat ketemu sama oma kamu."
Sebelah lengannya yang luang Zaina gunakan untuk mengelus punggung sang mommy yang keliatan begitu gugup itu.
"Mom harus tau bagaimana penginnya oma buat minta maaf sama mom dan dad, tapi terlalu canggung dan malu karena semua perbuatan yang udah oma lakuin."
"Oh ya?" tanya mom Nadya yang kaget.
Zaina mengangguk dengan semangat, kembali memandang jalanan dengan fokus.
"Oma tuh udah beneran ngerasa bersalah banget, aku kadang kasian sih. Pengin nyuruh daddy yang datang ke oma dulu. Tapi mom tau sendiri kan kalau oma sama dad itu sama-sama keras kepala, jadi ya kita nggak bisa apa-apa selain menunggu juga? dan ... oma udah janji kok sama aku bakalan minta maaf duluan nantinya. Soalnya oma mulai ngerasa kesepian."
"Kesepian?" sela oma Nadya yang sedikit terkejut mendengar fakta yang satu ini
"Dari awal aku tinggal di sana, aku udah ngeliat sih kalau oma sedikit kesepian sama kondisinya yang sekarang . Tapi ya memang dasarannya oma ini gede gengsi, jadi oma sama sekali nggak mau ngaku pas aku tinggal di sana itu."
"Oh ya?"
"Iya ... tapi ya aku bujuk terus, berusaha deketin oma. Akhir nya oma jujur lah kalau dia kesepian di rumah. Tapi sedikit sedih karena nggak ada yang inget sama oma?"
"Ya ampun ..."
"Makanya, aku harap setelah oma nanti minta maaf sama mom dan dad. Mom harus sering sering datang ke rumah oma ya. Soalnya aku sendiri kan bakalan sibuk sama perusahaan daddy. Jadi, aku kayak nggak bisa sering datang. Aku nggak mau, di masa tuanya oma ngerasa kesepian dan ngerasa nggak ada yang sayang sama dia. Mom tau sendiri kan gimana sensitif nya orang tua tuh. Karena sikapnya bakalan balik lagi kayak anak kecil."
Mom Nadya mengangguk setuju.
"Mom janji bakalan welcome sama oma, kalau oma nya sendiri welcome sama mom. Toh ... memang ini yang mom mau dari lama kan?"
Zaina tersenyum simpul.
Tak sadar mobil Zaina sudah masuk ke halaman pekarangan rumah oma.
"Ayuk kita turun," ajak Zaina
"Kamu duluan aja, nanti mom nyusul."