
"Tidak ada yang nggak sayang sama kamu, kami tetap menyayangi kamu. Terlepas dari semua yang terjadi. Kami hanya kecewa. Tapi tidak menutup fakta kalau kami tetap orang tua kamu. Orang yang akan selalu ada di samping anak nya sendiri dari siapa pun. Jangan kamu merasa kalau udah melewati semua ini sendirian. Karena faktanya nggak kayak begitu. Kita tetap akan melewati semua ini dengan bersama-sama."
Zaina tersenyum bahagia.
"Mulai sekarang ... daddy nggak mau lagi mendengar kalau kamu menyakiti diri kamu lagi sampai kayak tadi."
Zaina mengerucutkan bibirnya dan lirik ke arah mommynya yang nggak ada niat untuk membantu dirinya. "Tapi aku itu nggak pernah ada niatan untuk nyakitin diri aku sendiri kok. Aku beneran nggak mau juga kayak gini."
Mommynya itu malah menggeleng.
"Bohong mas ... Dia memang nggak ada niatan untuk menyakiti diri sendiri. Tapi Zaina termasuk jarang makan padahal kini dia ada anak yang harus di kasih asupan banyak. Dia juga nggak pernah minum susu hamil. Jadi, secara nggak langsung dia udah melakukan hal itu. Hal yang membuat dirinya jadi kenapa-napa."
Tatapan daddy Zidan memicing buat Zaina menunduk.
"Mommy kok bocor sih ke daddy, tadi janji mau mgumpetin dari daddy."
"Ah jadi gitu cara mainnya?" tambah daddy Zidan lalu mengacak rambut anak semata wayangnya membuat anak itu tertawa kecil. "Mommy kamu itu ada di pihak daddy tahu nggak sih! Jadi apa pun yang kamu sembunyikan akan daddy tahu juga sih," sombongnya
Zaina pura-pura melipat tangan di dada dan memalingkan wajah.
"Aih di rumah ini nggak ada yang pro sama aku. Aku jadinya cuma sendirian doang nih. Sedih banget deh jadi anak semata wayang kayak gini."
Mommy sama daddy nya malah mendekat dan pada akhirnya mereka mengecup pipi kanan dan kiri Zaina buat perempuan itu terkejut dan terdiam untuk sesaat walau setelah mommy dan daddy nya menjauh dia langsung senyum bahagia.
"Mommy harap kamu selalu senyum terus kayak gini ya nak."
Zaina tersenyum tipis.
"Aku akan selalu tersenyum selama mommy dan daddy ada di samping aku. Karena hanya kalian sumber kekuatan aku sekarang. Aku nggak punya lagi topangan hidup yang lain. Dunia Zaina juga bakalan runtuh kalau pada akhir nya aku cuma melewati ini sendiri. Jadi, Terima kasih karena mommy sama daddy tetap memperlakukan aku itu dengan baik padahal aku udah jahat dan bikin kalian kecewa."
Zaina menunduk sopan. "Aku beneran minta maaf sebelumnya. Aku minta maaf karena udah hamil di luar nikah, karena udah melakukan hal yang tahu dan buat kalian malu. Padahal aku itu belum nikah sama sekali. Aku beneran minta maaf."
Daddy Zidan menarik napas dalam.
"Sebenarnya daddy marah sama diri daddy sendiri sih, karena udah gagal atau juga mau marah sama kamu yaa karena kamu udah mengkhianati suatu hal yang paling penting yaitu kepercayaan. Tapi dengan daddy marah juga nggak akan mengembalikan semua nya kayak dulu kan? Jadi mau nggak mau kita menerima aja dan akan buat kamu menjadi lebih baik lagi."
Zaina mengangguk.
"Untuk ke depannya aku akan perlakukan banyak hal dengan baik."
***
Kemarin Zaina udah mendapat izin untuk keluar. Beraktivitas kecil. Walau ada yang dia khawatirkan.
"Mommy ... Daddy ... Aku memang mau keluar, aku juga mau lihat yang lain. Aku bosan di rumah, tapi apa mommy sama daddy nggak khawatir sama sekali akan semua hal? Maksudnya ... bagaimana kalau ada orang yang sadar perut aku agak gede? Sementara mereka semua tahu kalau aku belum menikah."
Daddy Zidan menatap lembut.
"Orang akan selalu membicarakan banyak hal. Mau yang dari fitnah sampai yang kenyataan. Daddy sama mommy juga nggak peduli kalau ada orang yang menggosipi kita. Karena itu yang malah buat kita kuat sampai ada di titik ini."
"Tapi kan ... tetap aja, aku takut nanti ini malah berpengaruh sama perusahaan. Aku nggak mau menjadi alasan nanti mommy sama daddy yang merasa kalau aku ini nggak berguna dan hanya jadi pembawa sial aja."
Mata mommynya itu membola dan dia langsung menggeleng.
"Kamu ngomong apa? Anak kami itu pembawa sumber kebahagiaan, sinar matahari bagi banyak orang. Nggak ada kata sial sama sekali. Jadi kamu nggak perlu mikir yang aneh-aneh! Mommy itu beneran nggak suka ya."
Nyali Zaina menciut saat semalam dia meminta izin kayak gini.
"Daddy nggak peduli sama omongan mereka. Walaupun ini fakta. Tetap aja mereka nggak akan pernah tahu apa yang terjadi di sini. Kalau semua juga terbongkar kami juga nggak akan peduli jadi kamu tetap jadi diri sendiri dan jangan keliatan takut saat berada di luar ruangan ya."
Maka dari itu, jadilah kali ini Zaina pakai baju lari dia yang seperti biasanya. Baju yang cukup ketat, tapi nggak seketat itu karena Zaina nggak mau buat anaknya di dalam sana jadi kesakitan.
"Kalau ingat sekarang aku lagi hamil, rasanya kayak aneh deh," gumam wanita itu saat sedang berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Dia pandang ke arah sekitar yang masih sangat sepi.
Ya iyalah sepi, Zaina memang sengaja keluar pukul empat pagi dan sekarang udah jam lima pagi. Di mana orang akan baru keluar sekitaran jam segini dan dia udah jalan pulang.
"Dulu banget .. aku sering joging kayak gini sama Ghaly. Kita lakukan semuanya bareng-bareng dan itu adalah titik yang paling bahagia bagi aku. Karena kita gak akan segan bertingkah mesra."
Zaina tersenyum miris saat melihat sepasang kekasih yang pakai baju couple sedang berlari bersama di depan dia. Benar-benar mengingatkan seperti dia di masa lalu.
"Aih ... rasanya kayak aneh aja. Dulu aku bahagia dan sekarang orang yang udah buat aku bahagia sekarang menjadi luka yang paling membuat aku sedih dan marah bukan main."
Zaina mengepalkan tangan dan benar benar geram.
"Aku nggak tahu di mana kamu, Ghaly. Tapi kalau suatu saat nanti kita ketemu aku bakalan benar-benar marah sama kamu dan mempermalukan kamu. Kamu benar-benar udah mempermain kan aku sampai kayak gini dan aku gak suka fakta kah kamu benar-benar pergi meninggalkan aku di saat aku yang udah berusaha kasih banyak hal untuk kamu!"
Tatapan Zaina semakin menajam, menahan napasnya yang semakin memburu.
"Aku benar-benar nggak akan biarin kamu gitu aja, Ghaly. Aku harap suatu saat nanti ada waktunya aku ketemu kamu dan membalas semuanya."