
Zaina menatap terkejut pada daddynya. Ia tertawa lirih masih dengan lengan yang menyentuh pipinya. Sekarang, bukan cuman pipinya saja yang perih. Tapi juga hatinya. Hatinya sungguh tersayat melihat daddy kandungnya sendiri yang udah main tangan sama dia.
"Daddy nggak pernah ajarin kamu untuk lakuin hal bodoh ini Zaina!"
Zaina terhenyak dan dengan perlahan ia berdiri sambil menatap tiga orang di sana. “Iya ... emang aku yang bodoh. Emang yang nggak punya otak. Emang aku yang nggak punya harapan sama sekali. Aku cuman perusak kebahagiaan doang.”
“CK ... bukan ini yang daddy omongin!” bentak daddy Zidan. “Berita tentang kamu baru aja keluar dan kamu tahu! Nenek kamu sampai serangan jantung mendengar kejujuran kamu itu! Harusnya kamu nggak jujur, nak ... biarin aja. Daddy sama mommy selama ini berusaha nyembunyiin masalah ini dari keluarga besar. Biar kamu nggak di cemooh! Tapi dengan bodoh nya kamu malah merusak semuanya. Dan banyak orang jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.”
“Aku juga kaget om karena lihat Zaina ada di depan kantor perusahaan,” sela Mahen seraya sesekali melirik Zaina.
“Salah daddy ... harusnya daddy perketat penjagaan. Bukannya malah pergi. Daddy juga nggak tahu kalau anak itu bakalan nekat kayak gini. Daddy nggak kepikirkan kalau Zaina bakal nyamperin kamu.”
Perempuan itu menghela napas kasar dan menunduk.
“Aku—
“Nak,” sela mommy Nadya sambil menghampiri Zaina. Ia usap pipi anak perempuannya yang memerah. “Kami melakukan ini bukan karena benci sama kamu. Tapi ini yang terbaik untuk kamu.”
“...”
“Jadi ... buat ke depannya, biar kami yang urus sisanya ya. Kamu jangan ikut campur sama sekali. Apa lagi sampai nunjukin diri kamu ke media. Kami nggak mau kalau mereka ngeliat perut kamu. Yang ada mereka semakin ngehujat kamu. Mommy nggak mau. Biar anak itu kita sembunyikan aja ya.”
Zaina terhenyak. Ia melangkah mundur sambil memeluk perutnya. Ia menggeleng dan tertawa, tak percaya sama semua omongan yang dia baru saja dengar. Perempuan itu hanya bisa menatap kecewa tiga orang di sana yang malah mengangguk.
“Anak ini ...,” ucapnnya terhenti dan ia menelan saliva di saat tenggorokannya bahkan benar benar sangat sesak. “Aib?” lanjutnya.
Mereka diam.
“Woah ...” Zaina bertepuk tangan sambil menatap ke arah mereka. “Kalian benar-benar keren,” serunya. “Selama ini kalian selalu bilang ke aku kalau semuanya bakalan baik-baik aja. Kalian juga puji aku dan ngomong kata-kata yang tulus, sampai aku percaya kalau kalian maafin aku di tengah semua kekacauan yang aku buat. Tapi ... ternyata itu bohong? Nyatanya kalian sama sekali nggak menyukai anak ini.”
Zaina mengusap perutnya yang mulai terasa itu.
“Ternyata ... cuman aku yang dia punya. Awalnya aku juga benci sama dia, tapi kalau sekarang aku masih benci sama dia. Siapa ya yang menjadi pegangan bayi ini? masa ... pas dia lahir, dia mengetahui kalau semua orang nggak menginginkan dia. Pasti dia sedih banget.”
Zaina tertawa lirih. Sudahlah, semakin banyak bicara. Yang ada ia semakin ngalor-ngidul. Zaina kembali menarik tudung hoodie hitamnya dan semakin mengeratkan ke tubuhnya.
“Kalian selalu puji aku, sanjung aku sampai aku seperti terbang ke langit. Nyatanya, kalian juga yang nggak segan-segan buat jatuhin aku. Kalian sendiri yang udah lukain aku sampai kayak gini.”
“...”
“Ini ... bahkan lebih menyakitkan ketimbang pas tau aku lagi hamil. Lebih menyakitkan pas tau kalau semua orang ngehujat aku.”
“Berhenti,” pekik Zaina sambil melangkah mundur menjauhi mereka semua. “Kamu juga, mas. Aku beneran kaget sama omongan kamu. Kalau kamu memang nggak suka sama aku dan keberatan karena masalah ini, kamu bisa lepasin aku. Kamu terima aja pertunangan kamu itu sama perempuan itu. Aku nggak masalah.”
“Ah ... kamu ngomong gini, karena mau pergi sama Ghaly?” tanya Mahen dengan sengak.
“Kenapa Ghaly?”
“IYA! Berita itu nunjukin kan kalau kamu ketemu sama Ghaly? Artinya ... kamu ternyata masih memiliki hubungan sama laki-laki itu? Aku nggak habis pikir ya sama kamu, Zaina ... aku kurang apa sama kamu? Setelah semua yang aku lakuin sama kamu, sekarang kamu malah khianatin aku kayak gini? Aku sakit hati loh ... kamu—
“Aku tanya sekali lagi, kamu percaya sama berita yang bahkan nggak terbukti kebenarannya?” tanya Zaina yang kaget.
“...”
“Diamnya kamu, aku anggap iya ya mas,” seru Zaina lalu mengelus dadanya sambil menggeleng kecil. “Ternyata kepercayaan kamu nggak sebesar itu untuk aku. Bahkan, pas aku denger berita pertunangan kamu sama Alfi. Aku berusaha diem aja, nunggu penjelasan dari kamu. Aku juga nggak langsung nyimpulin yang macem-macem. Tapi, sekarang ... baru kayak gini aja kamu udah nggak percaya sama aku?” tanya Zaina
“...”
“Sebenarnya kalian itu luka sebenarnya ya di hidup aku,” jujur Zaina sambil menggeleng. “Kalian yang berpura-pura baik sama aku. Tapi, pada nyatanya kalian penoreh luka terbesar di hidup aku.”
Mahen berdeham.
Ia menunduk,
Mulai paham kalau tuduhannya nggak berdasar.
“Apa lagi yang mau kalian katakan ke aku?” sentak Zaina sambil mengelilingi mereka. “Aku dengerin di sini. Aku bakal denger semua keluh kesah dari kalian semua. Aku bakalan terus dengerin sampai kalian puas. Sampai, aku paham kalau kalian udah mengeluarkan isi hati kalian ke aku.”
“Nak ...”
“Aku memang salah,” pekik Zaina. “Aku pendosa, aku kotor, tapi aku juga punya hati. Beberapa hari terakhir kalian terus aja nyudutin aku. Aku cuman mau buktiin ke kalian semua kalau aku bisa lewatin semua ini sendiri. Aku bukan pecundang yang bisanya cuman diem doang. Jadi ... aku mau kasih tau ke semua orang kalau aku bisa lewatin ini semua. Tapi— nyatanya apa yang aku lakuin juga masih di mata kalian. Aku masih terlalu bodoh. Aku masih nggak bisa banggain kalian.”
“Nak ...”
“Memangnya, kalian kira aku nggak sakit hati?” tanya Zaina lagi. “Aku butuh support dari kalian. Tapi kalian sendiri yang selalu nyudutin aku ... atau emang mommy sama daddy bahkan Mahen udah nggak mau peduli sama aku lagi, aku bakalan pergi. Aku bakalan pergi dari hidup kalian. Aku nggak akan segan bertahan terus di sini. Aku nggak akan pernah berada di sini terus dan nyusahin kalian.”
“...”
Zaina menatap mereka satu per satu. Tidak ada yang membuka mulut sama sekali, membuat perempuan itu semakin merasa terluka. Seolah, memang nggak ada yang menganggap dirinya lagi. Ia hanya bisa menyusahkan semua orang saja.
“Aku sayang sama kalian, sayang sekali dan sekali lagi aku mau minta maaf sama kalian. Tapi detik ini aku akan pergi, aku nggak bakalan ganggu hidup kalian lagi.”