
Sudah tiga hari terlewat dan sejak itu Zaina memilih bersembunyi di kamarnya. Ia hanya keluar saat dirinya benar-benar lapar atau mulai pusing karena keadaan kamarnya yang kacau balau. Selebihnya, Zaina memilih menghabiskan waktu di kamar sambil menangis, terus meratapi penyesalan yang telah ia buat.
Zaina menatap ponselnya. Bahkan sampai detik ini nggak ada kabar sama sekali yang masuk tentang Mahen. Bahkan orang tuanya juga hanya bisa menatap kecewa setelah ia ceritakan semuanya, tanpa dikurangi sama sekali.
Zaina menyesal telah mengatakan hal yang sangat buruk dan kini ia hanya bisa merasakan kehilangan. Jika dulu, ia harus kesal karena keberadaan Mahen yang terus ganggu dirinya. Tapi kini hidupnya terasa sangat sepi.
"Kalau tau gini ... harusnya aku nggak ngomong jahat sama Mahen," gumam Zaina dengan suara sangat pelan. "Tapi ... menyesal juga aku bisa apa? selain ngomong doang. Karena gak bakalan bisa bawa aku lagi ke masa itu."
"Wrgh! bodoh ... bodoh ... bodoh," pekik Zaina memukuli kepalanya sendiri. "Bodoh banget Zaina! sekarang kamu malahan nyesek sendiri kan? mungkin ... sekarang Mahen udah nggak peduli sama sekali ke kamu, dia juga pasti udah kecewa berat sama kamu. Jadi, dia nggak akan peduli sama sekali. Bodoh tau nggak sih ..."
Tok ... Tok ... Tok ...
"Iya?" seru Zaina lalu menghampiri pintu kamarnya. "Eh mommy, kenapa mom?" tanya Zaina lagi sambil berdiri di depan pintu kamar dan menutup kamarnya. Ia nggak mau mommy nya melihat betapa kotornya kamar dia ini.
"Dipanggil daddy tuh, kayaknya ada yang mau daddy omongin sama kamu."
Degh! Perasaan Zaina jadi sedikit nggak enak. "Ada apa ya mom?" tanya Zaina dengan sangat hati-hati. Pasalnya, setelah Zaina jujur tentang perlakuan dia ke Mahen. Di sini daddy nya yang terlihat paling marah. Nggak satu kali, dua kali daddy nya memilih pergi saat dirinya datang.
Membuat Zaina akhirnya memutuskan buat berdiam di kamar aja.
"Mom ... daddy nggak bakalan ngapa-ngapain aku kan? daddy nggak bakalan jahatin aku kan? aku takut ... kalau nanti daddy marah sama aku lagi, aku harus gimana?" ucap Zaina dengan pelan. "Aku udah merasa salah kok, aku juga udah nyesel karena ngelakuin itu. Jadi ... jangan marahin aku," lanjut Zaina dengan sedih.
Mommy Nadya hanya bisa menatap sendu sambil terus menggeleng.
"Tidak ... daddy tidak akan marah sama kamu. Sepertinya ada hal penting yang mau daddymu bicarakan. Jadi nggak perlu khawatir sama sekali. Karena daddy kamu nggak akan ungkit masalah ini lagi. Jadi, kamu tenang aja ya ..."
Zaina mengangguk kecil.
"Tapi mom ... maafin aku ya. Aku beneran menyesal karena udah ngelakuin hal jahat sama Mahen, padahal dia udah banyak ngebantuin aku. Aku beneran nyesel—
"Ssttt ... udah, mommy nvgam mau bahas ini sama sekali. Kamu dateng aja ke ruangan kerja daddy."
"Oke mom," pasrahnya
Dan di sinilah akhirnya Zaina berada. Duduk di depan daddy nya yang hanya bisa terdiam sambil menyeruput kopinya. Daddy nya terlihat sangat santai, beda sama Zaina yang dari masuk aja udah sangat gelisah. Bahkan tangannya nggak berhenti saling bertaut, tanda dia benar-benar sangat gugup bukan main.
"Ada apa daddy manggil aku?" tanya Zaina pelan. "Daddy mau omongin masalah aku sama Mahen lagi?" Zaina nggak berani menatap mata daddy Zidan secara langsung. "Aku kan udah bilang dad, kalau aku nyesel sama perbuatan aku. Waktu itu aku lagi emosi, makanya keluar dah semua kata jahat dari mulut aku dan aku juga udah minta maaf sama Mahen. Walaupun chat aku cuman di baca doang. Tapi aku udah minta maaf ko ..."
"Eh iya kenapa dad?" tanya Zaina sambil mengusap tengkuk. Merasa malu karena tuduhan nggak berdasar.
"Umur daddy udah semakin tua, daddy merasa kalau akhir akhir ini daddy sering capek banget buat ngurus perusahaan doang. Cabang perusahaan lainnya udah daddy serahkan sama orang kepercayaan daddy dan insya allah mereka gak bakalan nipu kita. Cuman daddy sama sekali nggak bisa kasih kepercayaan orang lain buat megang perusahaan utama kita. Jadi ... daddy harap kamu bisa lanjutin yang satu itu. Gimana?"
"Tapi dad—
"Daddy tau kalau ini nggak mudah. Tapi emang udah saatnya, nak. Daddy nggak mau menghabiskan masa tua daddy dengan tumpukan file atau berada di balik laptop terus menerus. Daddy mau santai. Biar kamu yang urus, tapi kalau kamu butuh bantuan, daddy juga bakalan turun tangan kok. Nggak bakal biarin kamu gitu aja."
"Daddy bener percayain itu semua sama aku?" tanya Zaina lagi. "Pemahaman aku belum banyak dad, takutnya malahan buat perusahaan yang udah daddy bangun itu jadi kenapa-napa. Aku belum punya banyak pengalaman."
"Tidak ... daddy jelas tau kalau kamu bisa lewatin ini semua. Kamu udah hebat. Daddy juga nggak asal ngomong gini ke kamu. Karena daddy juga udah pantau kamu. Daddy tau kalau kamu bisa lewatin ini semua. Daddy juga udah nyiapin banyak berkas supaya kamu bisa belajar sebelum benar benar serius daddy angkat sebagai ceo di perusahaan daddy sendiri."
"Terserah daddy aja."
"Dan ... kalau kamu setuju, artinya kamu menyerahkan sebagian hidup kamu ke perusahaan dan daddy juga udah angkat Ghaly sebagai asisten kamu—
"Hah?" Zaina benar-benar kaget. "Kenapa harus Ghaly? daddy nggak lagi bercanda kan?"
"Tidak ... selama ini daddy udah beri kerjaan sama dia. Mau melihat seberapa peduli dia sama keluarga kita dan ternyata dia nggak pernah mengambil kesempatan sama sekali dan saat tau anak yang kamu kandung juga meninggal. Dia benar benar sangat terpuruk. Jadi .. daddy merasa kalau dia benar-benar udah berubah. Dan daddy rasa dia juga bisa untuk membantu kamu dalam hal ini. Toh dia udah punya pengalaman kan?"
Zaina mengangguk pelan.
"Dan kamu juga pasti lebih nyaman sama orang yang udah kamu kenal. Jadi daddy sengaja suruh dia dan dia juga udah mau, tapi Ghaly tetap menunggu keputusan kamu. Karena dia nggak mah kalau dirinya buat kamu nggak nyaman. Jadi kamu gimana?"
Segala kemungkinan memang bisa terjadi, tapi Zaina nggak mau mengecewakan banyak orang lain. Terutama orang di depannya ini. Jadi, tanpa pikir panjang Zaina mengangguk.
"Bagus ... nanti malam daddy kasih semua file yang harus kamu pelajari ya. Semangat nak .."
Perempuan itu hanya bisa tersenyum simpul. "Makasih juga ya dad karena udah percayain aku untuk mengurus hal besar kayak gini. Aku janji akan terus berusaha sampai daddy bangga sama aku!"
Daddy Zidan mengangguk.
"Jangan kecewakan daddy lagi ya."