Love In Trouble

Love In Trouble
Permohonan Zaina



"Oma ..."


"Akhirnya cucu oma datang juga. Oma sudah kangen sama kamu, tapi kamu kayaknya sibuk makanya nggak bisa pergi ke sini dan oma juga nggak mau ganggu kamu. Takut kamu ada urusan yang buat kamu sibuk banget."


Setelah memeluk tubuh ringkih oma nya, Zaina menatap protes.


"Oma ... aku dapet kabar dari mom sama dad kalau oma belum minta maaf ya?" tanya Zaina sambil beranjak ke dapur dan omanya mengikuti dari belakang dengan tongkat kesayangannya. "Katanya oma mau minta maaf sama mom dan dad, tapi kenapa sampai sekarang belum dapet kabar juga? oma beneran niat minta maaf kan?"


Oma diam.


Zaina menghela napas pelan. Ditatapnya wajah oma yang selama ini tak pernah Zaina perhatikan lantaran terlalu takut sekaligus malas karena hubungan mereka dulu yang emang kurang baik.


"Oma ... Zaina kan udah bilang sama oma kalau semuanya bakalan baik-baik aja kalau oma udah minta maaf. Apa lagi yang oma takutin? karena mom sama dad juga menunggu itikad baik oma. Selama oma nggak minta maaf, yang ada hubungan ini jadi kurang baik," seru Zaina sambil mengenakan apron yang tergantung di dapur. Dia berbalik. "Sebenarnya apa yang terjadi selama ini sampai oma belum juga minta maaf sama mom dan dad? apa ada sesuatu yang buat oma pusing?"


Oma menarik kursi meja makan dan duduk di sana.


"Bagaimana kalau orang tua kamu tidak memaafkan oma?"


Zaina yang baru saja membumbui ayam seketika berhenti dan menoleh ke belakang.


"Oma masih takutin itu?" anggukan dari oma membuat Zaina menghela napas kecil sambil menggeleng. "Kan aku udah berulang kali bilang kalau mom sama dad nggak mungkin jahat sama oma. Dari awal mom sama dad ikut bahagia pas tau oma berubah. Tapi memang dad sendiri yang maksa supaya oma minta maaf duluan, padahal mom pengin sekali hubungin oma. Tapi di larang sama dad. Jadi, kalau sampai nanti oma nggak minta maaf sama mom dan dad. Kayaknya hubungan kita bakalan kayak dulu lagi."


Benar juga apa yang dikatakan Zaina, mungkin seperti itu yang sedang di pikirkan sang oma dalam otaknya.


"..."


"Tapi ... balik lagi, Zaina nggak mau maksa oma sama sekali. Kalau memang ternyata oma belum mau minta maaf sama mom atau dad, ya aku bisa apa selain diem aja? itu balik lagi terserah oma ... ya tapi, apa nggak sayang karena oma udah ngerasa bersalah. Tapi malah nggak mau minta maaf. Padahal ini gampang banget di lakuin."


Oma menenggak air putih di meja, menghilangkan rasa gugup yang menyandera dirinya.


"Oma boleh minta saran?" tanya oma


"Tanya aja oma, Zaina akan selalu jawab selama Zaina bisa jawab," jawab Zaina sambil terus memasak makanan untuk sang oma. Tentu saja Zaina memasak makanan yang sehat.


Zaina terhenyak.


"Ah ... karena itu?"


"Iya ..."


Perempuan yang sedang memasak itu mematikan kompor dan mendatangi oma lalu duduk di depannya.


"Menurut Zaina ... itu kembali ke kepribadian oma sendiri. Kalau oma ngerasa udah siap, oma bisa minta maaf secara langsung dan dateng ke rumah. Pasti mom seneng banget ngeliat oma yang datang. Tapi, kalau memang oma belum siap dan masih agak berat kalau ketemu, oma bisa lewat telepon aja. Toh, mau lewat mana aja nggak penting kan? Yang penting oma minta maaf dan hubungan kita semua jadi baik lagi."


Zaina menatap lurus ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. Ia tersenyum tipis, membayangkan saat mereka semua sudah akur.


"Bukannya bakalan seneng banget kalau nanti oma udah minta maaf sama mom dan dad. Terus kita bisa seneng bareng tanpa mikirin masalah sama sekali. Terus kita nanti liburan bareng. Seru banget ih ngebayanginnya. Gimana oma? nggak ada salahnya kan kalau oma minta maaf."


Oma menatap sendu pada sang cucu.


"Kamu mau banget oma minta maaf sama orang tua kamu ya? terus kita punya hubungan baik layaknya keluarga pada umumnya?"


Perempuan muda itu tersenyum tipis sambil mengangguk.


"Itu impian aku dari lama banget. Kayaknya seneng kalau kita semua nanti kumpul terus ngomongin hal yang seru. Apa lagi Zaina nggak pernah ngerasain dari kecil. Jadi hal kayak gini tuh beneran keliatan bahagia banget di mata Zaina. Jadi, wajar kalau Zaina mau ngelakuin ini kalau kita udah baikan semuanya."


Pada akhirnya oma menyetujui cucunya.


"Melihat kamu yang kayak gini, buat oma jadi ikut bahagia. Ya sudah, secepatnya nanti oma akan minta maaf sama orang tua kamu. Kamu senang kan?"


Zaina beranjak dan memeluk pelan tubuh omanya dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Makasih oma, makasih karena udah mau minta maaf sama mom dan dad! Aku seneng banget."