
"Biarpun seluruh dunia menyerang keluarga Zidan, tapi kalau ibu sendiri yang turun tangan itu rasanya jauh lebih sakit di banding mereka yang ngomong jahat sama kamu. Jadi, di sini juga Zidan nggak mau buat keluarga Zidan semakin sakit hati. Sebelum itu Zidan turun tangan dan langsung ngomong sama ibu."
Zidan mendatangi ibunya dan berdiri di hadapannya.
"Jadi ... apa yang sebenarnya ibu rasain selama ini? Kenapa ibu sama yang lain benci banget sama keluarga Zidan. Padahal di sini Zidan udah berusaha ngasih semuanya yang ibu sama adek yang kalian mau. Tapi semua itu kurang?"
Ibu daddy Zidan malah memalingkan wajah ke arah lain sambil menyilangkan tangan di dada. Umurnya yang sudah tua tak menutup kemungkinan bahwa ibunya itu saat ini benar-benar sangat emosi.
"Bu?" panggil daddy Zidan lagi yang meminta jawaban.
"Kalau dari awal kamu menurut sama ibu. Pasti sekarang sikap ibu nggak kayak gini!"
Zidan mengerutkan kening. "Dari awal?"
Perempuan tua itu mengangguk.
"Dari awal kamu membangkang tuh karena istri kamu yang sekarang! karena sebelumnya kamu hanya anak manis yang sangat ibu sayang. Tapi semenjak ketemu sama istri kamu ini. Kamu jadi menolak semua perintah ibu dan milih pergi dari sini. Pokoknya semenjak kamu kenal sama Nadya, kamu seperti bukan anak ibu. Coba aja dari awal, kamu mau di jodohin sama anak sahabat ibu. Pasti sekarang keadaan nya nggak kayak gini. Ibu juga nggak bakalan marah terus sama kamu."
"Astaghfirullah ibu!" balas Zidan lalu berbalik sambil mengusap kasar wajahnya.
Mommy Nadya dan Zaina juga hanya bisa menggeleng kepala. Masalah lama yang terus di bahas sampai buat dua perempuan itu juga merasa sangat muak.
"Bu ... itu udah lama sekali dan sekarang Zidan aja udah punya anak yang sebentar lagi mau menikah. Tapi ibu masih aja bahas itu? Apa nggak capek, bu? Zidan beneran nggak paham lagi sama isi yang ada di otak ibu."
Ibu Zidan yang merasa di rendahkan semakin meradang dan menatap marah ke arah mereka.
"Gini nih ... sekarang kamu jadi pembangkang kayak gini dan lihat sekeliling kamu. Mereka cuma bisa diam dan mungkin sekarang yang ada di pikiran istri sama anak kamu tuh lagi bahagia banget, karena ngelihat ibu yang di babat habis sama anak sendiri."
Zidan menggeleng pasrah.
"Bu ... ibu tau nggak sih betapa sayangnya Nadya sama Zaina sama ibu. Tapi semua itu tertutup sama ulah yang ibu lakuin sendiri."
"Alah ... mau aja kamu di bohongin sama mereka. Yang ada mereka tuh benci sekali sama ibu."
"Ya itu karena perbuatan ibu sendiri."
Perempuan itu langsung bungkam saat terserang fakta yang baru disebutkan Zidan.
"Bu ... ayolah, dulu ibu minta aku buat nikah sama sahabat itu tuh karena apa? Karena dia kaya kan. Ibu mau aku hidup dengan kaya. Biar uang dari sahabat ibu tuh juga ngalir ke keluarga kita."
Mau tidak mau perempuan tua itu mengangguk.
"Dan Zidan tau, Zidan salah karena udah nolak dia dengan cara yang lumayan kasar dan buat persahabatan ibu sama dia jadi putus. Tapi kan balik lagi ... ibu juga nggak keliatan masalah waktu itu dan malah cari orang lain yang bisa di jodohin sama Zidan dan tentunya ibu nyari dari orang yang ada di kalangan orang kaya."
Mommy Nadya sangat terkejut mendengar fakta yang satu ini.
Pasalnya, suaminya sendiri baru bilang. Selama ini yang mom Nadya tahu kalau suaminya hanya di jodohkan dan hanya sebatas itu saja. Tidak tahu kalau ternyata masalah ini cukup serius.
"Yang Zidan tau ... intinya ibu mau dapet uang banyak kan? Makanya Zidan mikir cara apa yang bisa bikin ibu senang tapi nggak tersiksa. Masalahnya ... pernikahan itu sama aja seperti perjanjian seumur hidup dan Zidan nggak mau kalau nantinya malah menyesal karena udah menikah sama orang yang Zidan nggak cinta. Padahal pas itu Zidan udah tertarik sama teman Zidan yaitu Nadya sendiri."
Perempuan tua itu mencibir.
"Cinta-cinta ... kamu ndak akan paham. Lihat ibumu. Ibu sama bapakmu di jodohkan dan semuanya berjalan baik-baik aja tuh. Itu mah cuma alibi kamu aja yang nggak mau menurut sama ibu dan udah mendapat pengaruh dari Nadya kan?"
Zidan tertawa. Ia memutari meja kaca itu dan duduk di salah satu sofa. Ia mengisyaratkan istri dan anaknya untuk mendekat. Kasihan karena dari tadi hanya berdiri saja.
Hanya mommy Nadya yang menurut. Sementara Zaina masih tidak sanggup untuk mendekat dan menatap langsung omanya itu. Perempuan cantik itu hanya takut kelepasan nantinya.
"Baik-baik aja? gimana dengan setiap hari Zidan yang dengar pertengkaran kalian? Atau pas Zidan tau kalau ibu sama bapak punya pandangan yang sangat berbeda? Terus gimana dengan keributan yang buat Zidan muak pas kecil?"
Ibunya langsung bungkam.
"Ayolah bu ... jangan menutup fakta kalau sebenarnya ibu juga nggak pernah cinta sama almarhum bapak. Nggak usah di tutupin karena Zidan tahu juga ibu nggak pernah cinta sama bapak apalagi sampai bersyukur karena perjodohan yang di lakuin sama eyang. Karena Zidan juga sempat mendengar kalau menyesal karena udah nerima perjodohan itu kan?" tantang Zidan membuat ibunya makin kesal, merasa di kalahi terus.
Ibu Zidan hanya mendengus dan kembali duduk.
Kakinya sedikit terbuka dan salah satu lengannya memegang tongkat. Ia memandang ke arah lain. Sangat kesal dengan perasaannya yang sekarang.
"Bu ... harusnya ibu jangan pernah mau untuk mengulang kesalahan yang sama. Tapi di sini ibu malah nggak peduli dan mau mengulang kesalahan sama untuk ngejodohin Zidan. Untung aja Zidan lepas tangan dan bisa milih hidup Zidan sendiri."
"Dan dengan mengabaikan ibu."
"Nggak ada yang mengabaikan ibu."
Daddy Zidan menarik napas dan menghembuskannya kasar. Tak mau suaranya meninggi. Karena ibunya udah mulai agak tenang walau wajahnya masih kentara sangat emosi.
"Setelah menikah kewajiban aku itu istri Zidan. Tapi meski gitu Zidan nggak akan pernah lupa sama ibu dan adik. Zidan juga sering ngasih uang tiap bulannya buat kalian dan saat ini malah jadi rutinitas yang nggak pernah Zidan lupain kan?"
"Jadi ... kamu menyesal dan nggak suka? kamu terpaksa!"
"Ada Zidan ngomong nggak suka dan terpaksa?"
"Tapi omongan kamu ngarah ke sana."
Zidan menggeleng.
"Nggak ada yang kepaksa. Apa lagi yang nyuruh Zidan sendiri itu Nadya."
Ibunya itu melirik sebentar pada menantunya. Tapi lagi dan lagi ia nggak mau menerima penjelasan anaknya. Dia terus merasa kalau ini upaya Zidan supaya dirinya terpana dan memuji menantunya itu.
"Alah ..."
"Ya sudah kalau ibu nggak percaya."
"Tapi tetap aja semuanya kamu habisin waktu sama istri kan dan melupakan keluarga kandung kamu. Padahal yang selama ini selalu ada buat kamu ya kami. Bukannya istri kamu yang cuma orang baru di hidup kamu."
Daddy Zidan tersenyum tipis.
Sadar kalau dari omongan ibunya, selama ini ibunya itu ada cemburu sama istri dan anaknya.
"Itu karena ibu sama adek yang nggak pernah welcome sama istri aku sendiri. Dari awal kalian udah tau kan, kalau udah menikah berarti Zidan harus memusatkan perhatian ke Nadya dan kalau Nadya malah tersiksa pas ada di rumah kita. Jadi buat apa Zidan sering datang ke sini?"
"..."
"Bahkan kedatangan Zidan juga nggak pernah di sambut baik. Yang ada setiap habis dari sini, Zidan malah ngeliat istri Zidan yang sedih."
"Itu mah istri kamu aja yang baperan ..."
"Tapi Zidan nggak pernah nanya keadaan Nadya karena Zidan yang percaya sama kalian nggak akan pernah bikin sakit istri Zidan. Tapi semua pandangan itu berubah pas Nadya ngelahirin Zaina."
Daddy Zidan mengusap pipi istrinya itu.
"Tidak ada yang datang." Zidan tertawa kencang. "Rasanya Zidan sangat sakit pas itu. Melihat gimana berjuangnya istri Zidan tapi nggak ada satu pun yang datang buat nenangin Zidan dan itu sangat menyakitkan."
"..."
"Dari situ Zidan sadar kalau memang kalian nggak pernah sayang sampai tulus sama kami. Kalian cuma mau uang kami dan wajar dong kalau dari situ kami menjauh?"
Ibunya itu memilih diam dan menunduk.
"Zidan kira, setelah kami menjauh kalian bakalan datang dan minta maaf. Tapi ternyata enggak ya? Sakit sih rasanya. Apa lagi di saat Zidan yang lupa transfer setiap bulannya ke kalian dan kalian langsung marah-marah sama Zidan. Tapi setelah Zidan transfer, kalian langsung nggak peduli lagi. Nggak ada kata makasih atau sekedar nanya kabar dari Zidan."
"..."
"Mata Zidan semakin terbuka karena perbuatan kalian. Tapi terkadang Zidan hanya bisa ngelus dada dan berharap kalau ini cuma luka yang Zidan alami sendiri. Selama masih ada Nadya sama Zaina, Zidan nggak akan merasa sedih."
"..."
"Dan cuma mereka yang selalu ada buat Zidan. Di saat ibu sendiri nggak pernah tau gimana susahnya Zidan ngelewatin ini semua. Gimana Zidan yang sampai sakit karena ini. Kalian nggak pernah ada. Wajar dong kalau sekarang Zidan cuma belain orang yang selama ini peduli sama Zidan. Di saat kalian sama sekali nggak pernah tuh muji Zidan sama sekali."
"Oh gitu ... jadi kamu lupa sama semua perbuatan yang ibu lakuin buat kamu? Kamu lupa kalau dari kecil cuma ibu yang bisa ngurus kamu? Oh ..."
Zidan menggeleng.
"Tentunya Zidan nggak akan pernah lupa. Karena kalau Zidan lupa, harusnya Zidan nggak pernah lagi datang ke sini. Zidan juga nggak akan pernah mau ngirimin kalian uang dan apa pun itu karena udah terlanjur kecewa sama ibu dan adek."
"Kamu tuh mendapat pengaruh apa sih dari istri kamu?"
Ibunya terlihat sangat protes.
"Perasaan dulu kamu nggak kayak gini. Kamu cuma diam sama apa pun yang ibu kasih. Tapi, kenapa sekarang malah sok protes kayak gitu. Nggak jelas banget deh. Emang di sini kamunya juga yang lebay!"
"Dan ini lah ibu, selalu aja ngomong lebay dan nggak mikir benar-benar perasaan anaknya."
"..."
"Dan tadi apa? dari kecil? Ibu ngomong kalau dari kecil udah ngurus Zidan? Ibu nggak lupa kan kalau selama ini Zidan sama adek ngurus diri kami sendiri. Karena ibu selalu sibuk sama kegiatan ibu, sampai ngelupain anak kan? jadi nggak usah ngomong gitu. Karena Zidan sendiri nggak ingat tuh kapan ibu ngurus Zidan."
"Nak ..."
"Udah lah ya bu. Zidan nggak mau bahas ini lagi, nanti malah buat Zidan kesal sendiri. Sekarang Zidan datang cuma mau bilang sama ibu kalau stop buat atur hidup istri sama anak Zidan."
"Tapi—
"Karena sungguh, ibu nggak ada hak sama sekali! Zidan yang jauh lebih punya hak buat atur mereka. Bukan ibu!" balas daddy Zidan dengan serius.