
Zaina tidak menyangka kala mommy nya akan akan membohongi dirinya seperti ini. Dia sangat terkejut melihat keberadaan mommy nya bersama oma dan seorang keluarga yang bahkan nggak ia kenal sama sekali. Ia menoleh, mencari keberadaan daddy nya. Tapi ia nggak menemukan keberadaan sang daddy sama sekali. Dirinya benar benar hanya seorang diri di sini. Ia merasa ditipu, bahkan dirinya nggak paham kenapa bisa ada di posisi kayak gini.
“Mom ...”
“Kenapa berdiri di sana? Ayuk turun ke bawah. Ini perkenalkan nama nya, Sofyan. Dia seumuran sama kamu loh. Dia juga kuliah di jurusan yang sama kayak kamu. Jadi, mommy kira kamu pasti nyambung sama dia. Jadi, silahkan kamu ngobrol sama dia.”
Zaina mendecih dan menggeleng.
“Mom nggak salah melakukan ini sama aku?” papar Zaina sambil tertawa miris. “Ternyata mom nggak benar benar mikirin omongan daddy sama aku waktu itu ya. ternyata mom sama sekali nggak peduli sama kondisi aku ya? mom.”
Perempuan itu sangat spechless sampai nggak tahu harus mengatakan apa selain berusaha memikirkan keadaan saat ini.
“Ka— kamu apaan sih. Ini nggak seperti yang kamu kira,” jawab mom Nadya dengan sedikit panik. “Ini mom cuman mau kamu sama Sofyan kenalan doang kok. Nggak lebih. Kamu bisa bebas ngelakuin apa pun yang kamu mau.”
“Dan bukan ini yang aku mau,” jawab Zaina.
“ZAINA!” bentak oma membuat Zaina semakin menggeram marah. “Kamu ini jangan buat malu kami. Ini ada keluarga Sofyan. Harusnya kamu sapa mereka, bukannya malah berulah di depan mereka. Apa kamu nggak pernah di ajarkan sama keluarga kamu untuk bersikap sopan sama tamu yang datang?”
Zaina mendengus, bukan ini yang dia mau.
“Oma ... kenapa oma?” seru Zaina yang nggak memperdulikan omongan sang oma sama sekali. “Bahkan selama ini oma nggak pernah peduli sama aku. Tapi apa ini? kenapa oma pura pura dekat sama aku dan bisa mengontrol bebas hidup aku? Kalian sama sekali nggak mikir perasaan aku?”
“Zaina ... tenang dulu ya,” sela laki-laki asing yang sejak tadi hanya melihat ke arah dirinya saja itu. “Kita omongin dulu baik-baik ya. Ini sebenarnya ada apa? kenapa kamu marah? Bukan kah kamu sudah tau kalau saya dan keluarga saya akan datang hari ini? saya beneran tidak terima kalau kamu bersikap tidak sopan sama orang tua saya kalau kamu memang tahu niat kedatangan saya ke sini.”
Perempuan itu menarik napas dalam.
/Kita cukup lewatin semuanya dengan tenang. Jangan menyelesai kan masalah dengan emosi. Karena itu cuman buat masalah semakin besar doang./
Tiba-tiba terlintas ucapan Mahen pada dirinya. Langsung saja Zaina menarik napas dalam dan menatap mereka semua satu per satu.
“Maaf karena aku yang emosi.”
“Tidak masalah, nak. Kami sedikit paham apa yang terjadi sama kamu,” jawab ibu yang lebih tua, yang sepertinya ibu dari pihak laki-laki tersebut.
Zaina berusaha mengontrol benaknya dan menarik napas dalam lalu duduk di atas sofa, dekat mommy Nadya. Dirinya menatap mereka lagi dan menunduk sopan. Ia tersenyum sangat tipis, benar-benar merasa bersalah karena sudah marah-marah kayak tadi.
“Sebelumnya ... mommy atau pun oma sama sekali nggak ada yang memberi tahu alasan kalian datang ke sini. Jadi maaf kalau tadi saya sempat emosi karena sebenarnya saya sama sekali nggak tahu alasan kalian datang ke sini.”
Mereka mengerti dan mengangguk.
“Oma udah bilang ke mommy kamu ya,” sela sang oma dengan nada menyebal kan. “Jadi kalau kamu belum tau, harusnya kamu tanya ke Nadya itu. Kenapa dia nggak jelasin ke kamu, salah mommy kamu di sini bukan salah oma.”
“Iya ibu ... maaf karena Nadya lupa bilang sama Zaina.”
Zaina memutar bola matanya.
Ia benar benar membutuhkan sikap mommy nya yang dulu. Sikap mommy nya yang berani melawan sang oma kalau sudah menyebalkan seperti ini. Zaina sangat tidak menyukai bagaimana sikap mommy nya yang malah lembek dan menyetujui semua omongan sang oma gitu aja. Padahal itu sudah termasuk menyebalkan bagi Zaina.
Ah ... sayang, semuanya sudah berubah.
“Jadi nak Zaina—
“Iya?”
“Kedatangan kami ke sini sebenarnya untuk meminang kamu. Tapi seperti nya, tadi saja kamu sangat terkejut karena kedatangan kami. Jadi, kami nggak bisa apa-apa selain menunggu kamu. Jadi ... sepertinya kita akan merubah arah kedatangan yaitu untuk bersilaturahmi sama kamu. Dan kamu pasti belum mengenal kami kan?”
Zaina menggeleng dengan cepat.
“Nah ... saya ibu Sofyan, kamu bisa panggil saja mamah dan ini ayahnya Sofyan, panggil saja papah. Anggap aja kami seperti orang tua kamu sendiri dan ini anak kami Sofyan. Yang jika berjodoh nanti akan menikah bersama kamu.”
Ah, Zaina benar benar nggak enak kalau mereka malah sebaik ini. Dirinya jadi sungkan untuk marah atau pun melampiaskan kekesalan nya ini. Ia hanya bisa tersenyum miris.
“Maaf ... tapi aku beneran nggak tau hal ini sama sekali,” papar Zaina
Ia menoleh ke arah mommy Nadya dan oma nya itu yang malah mengalihkan pandangan, berusaha menghindari matanya itu. Ia memiringkan wajah dan menggeleng. Merasa kesal sama mereka yang main mewujudkan hal ini. Di tengah semua penolakan yang terus dia lontarkan itu.
“Mom ... apa ini? bukan nya oma udah berjanji untuk nggak wujudin hal ini. Karena ya mom tau sendiri lah apa yang terjadi, tanpa harus aku jelasin sama sekali. Tapi, kenapa mom masih aja nekat ngelakuin ini? aku sama sekali nggak mau di jodohin.”
Keluarga Sofyan tampak terkejut. Ia terus mengikuti setiap orang yang berbicara dan merasa bingung dengan keluarga yang baru mereka datang kan ini.
“Dari yang mamah tangkap di sini, sepertinya kamu sama sekali nggak tahu tentang perjodohan ini sama sekali ya?’
Zaina menoleh dan mengangguk dengan cepat.
“Maaf mah .. aku—
“Kamu nggak perlu minta maaf lagi. Sejak tadi, kamu hanya minta maaf saja. Padahal di sini kamu nggak berbuat kesalahan sama sekali. Kami cuman penasaran apa yang membuat kamu bisa nggak tahu masalah ini. Padahal ibu dan nenek kamu sudah sepakat untuk menjodohkan kalian dari dua minggu yang lalu.”
“MOM!”
“Jadi ... memang benar ya kamu nggak mengetahui sama sekali niat kedatangan kami? tadi, mamah mengira kalau kamu hanya terkejut karena kami yang datang. Karena kami memang mau merahasia kan pasangan satu sama lain. Tapi setelah di sepakati ternyata kamu memang nggak mengetahui sama sekali kalau mau di jodohkan ya.”
Zaina mengangguk.
“Aku beneran nggak tau sama sekali. Kalau memang sudah ada omongan dari dua minggu lalu, seharusnya mommy kasih tau aku dong. Jangan buat aku jadi kayak orang bodoh, karena ngira mommy akan meniadakan perjodohan ini. Karena dari awal aku nggak pernah setuju sama perjodohan kayak gini.”
“Tapi nak ...”
“Ibu Nadya ini bagaimana ya?” sela mamah dari Sofyan ini.
“Kenapa anak ibu bisa mengetahui hal ini? kalau memang anak ibu nggak menyetujui dari awal. Seharus nya anda dan orang tua anda ini nggak menyetujui dan menerima perjodohan ini. Bikin malu keluarga saya doang tau nggak sih. Seharusnya dari awal kalian nggak memberi harapan pada keluarga kami. Kalau sudah seperti ini bagaimana?”
Di tengah keributan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Sofyan berdiri dan mendapat perhatian dari seluruh orang yang ada di sana.
“Ini boleh nggak kalau aku bawa dia ke depan? Seperti nya ada yang harus kita bicarain berdua di depan,” pinta Sofyan
Zaina menatap Sofyan dari atas sampai bawah.
Sepertinya dia bisa lebih di harapkan dari pada laki-laki yang pernah di temui sama dirinya. Laki-laki yang bahkan enggan Zaina ingat namanya itu.
“Ya udah, mommy, oma dan kalian selesai kan masalah ini dulu aja ya. Aku bakalan ke depan sama dia,” ucap Zaina sambil menunjuk Sofyan
Setelag mendapat persetujuan, keduanya berpamitan dan langsung ke belakang rumah. Duduk di halaman yang jarang di jangkau orang itu tapi cukup indah karena di tanami banyak bunga yang bermekaran sangat banyak.
Mereka duduk cukup berjauhan dan hanya berdiam diri, di temani dengan heningnya tempat itu. Hanya helaan napas yang terdengar sesekali dari masing-masing mereka.
"Gue juga nggak mau kali di jodohin kayak gini. Memang nya cuman lu doang yang nggak mau. Dari awal juga gue nggak mau, tapi orang tua gue malah maksa. Jadi karena di sini lu juga punya pemikiran untuk nggak nerima perjodohan ini. Gimana kalah kita kerja sama buat hancurin rencana orang tua yang kesannya egois banget untuk kita yang nggak tau apa-apa ini."
Zaina tersenyum lebar.
"Jadi lu beneran nggak mau juga nih nerima perjodohan mereka?"
Sofyan mengangguk.
"Gue juga ada cewek kali dan gue nggak mau menikah sama orang selain cewek gue."
Zaina berdecak sambil sesekali menggeleng kan kepala. Ia menatap aneh pada Sofyan.
"Lu sedikit aneh ya."
Sofyan mendelik tidak terima, ini mereka baru bertemu tapi perempuan itu sudah mengatai dirinya seperti ini? Tidak, ia tidak terima sama sekali. Laki laki itu menunjuk dirinya sendiri. "Gue? aneh? lu kali yang aneh ..."
"Lah, kenapa jadi gue? Orang beneran lu yang aneh. Emang nya tadi siapa yang keliatan seperti anak mamih di depan banyak orang. Terus setuju dan pura pura kaget karena gue yang nolak. Eh sekarang tingkah nya benar benar beda kayak di tempat tadi. Ini kalau orang tua lu tau. Kayaknya mereka juga bakalan syok deh, karena tau anak mereka itu nggak sebaik yang mereka kira."
Sofyan mendengus.
"Lu kali yang lebih aneh. Gue mah kayak gitu biar jadi anak baik dan mereka percaya sama gue. Bukannya kayak lu tadi. Dasar wanita bar-bar!"
Zaina menoleh tidak terima. Siapa laki-laki itu main mengatai dirinya seperti itu.
Zaina menatap tajam, yang mana bukan nya terlihat sangat menyeramkan. Tapi malah menggemas kan di mata Sofyan. Laki laki itu mendorong wajah Zaina dari depannya. Buat perempuan itu semakin mendelik dan mengusap wajah nya dengan kasar.
Tidak terima wajahnya di dorong sama orang yang bahkan baru pertama kali kenal itu.
"Ini banyak kesalahan nih yang udah lu lakuin sama gue. Kalau memang gue sama lu nggak punya pacar. Gue tetap nggak bakalan nerima lu. Pertama udah nuduh gue aneh, terus ngatain gue cewek bar-bar dan sekarang lu malah ngatain gue."
Sofyan jadi pusing sendiri.
"Hei ... yang ngatain aneh lebih dulu itu anda ya. Saya cuman ikut ikutan saja. Toh saya ngomong aneh juga ada alasan kali."
"Alasan?"
"Iya ... siapa yang nggak keliatan aneh kalau tadi kamu tiba tiba turun dari lantai dua dan marah tanpa sebab. Aneh gak sih? Ya udah sekedar itu. Karena kalau makin panjang lebar yang ada kamu malah marah kan sama saya? Dan di sini gue nggak mau nambah masalah sama lu. Karena di sini kita seharusnya kerja sama supaya bisa nentang perjodohan ini."
Mendengar itu membuat Zaina kembali duduk biasa dan mengangguk lirih.
"Lagian ... di kira sekarang zaman siti Nurbaya ya? Masih ada aja perjodohan nggak jelas kayak gini. Padahal kalau di liat-liat nggak ada untungnya di jodohin kayak gini. Yang ada malah buat kehidupan anak hancur nggak sih?"
Sofyan mengangguk setuju.
"Mereka mah cuman bisa nyuruh doang. Tapi kita kita kayak gini nih yang jalanin kan? Nggak cuman itu doang. Kayak yang banyak keliatan di TV kok. Banyak orang yang di jodohin itu berakhir cerai karena memang nggak cocok."
Zaina semakin setuju mendengar penuturan Sofyan.
Mereka nggak sadar kalau sekarang keliatan jauh lebih akrab ketimbang tadi yang sebelum nya sudah marah marah karena hal sepele saja.
"Mereka mah cuman enak liat di luarnya. Padahal pernikahan itu hal sakral. Bahkan orang yang udah kenal lama aja bisa ada masalah dan tiba tiba nggak cocok terus berakhir cerai. Apa lagi yang di jodohin kayak gini dan nggak kenal satu sama lain. Pokoknya ... mereka harusnya sadar sih kalau perjodohan itu beneran nggak baik."
Zaina menaikkan kaki nya dan menyilangkan di atas meja. Ia menarik napas dalam, benar benar nggak suka ada di situasi kayak gini.
"Sebelum kita kerja sama ... gue mau denger alasan lu kenapa nolak perjodohan ini?" tanya Sofyan. "Kan kalau gue, karena ada cewek. Jadi, gue sama sekali nggak mau nikah sama perempuan lain. Toh ... hubungan gue sama cewek gue aja udah lama banget."
Zaina memiringkan wajah dan menatap Sofyan.
"Katanya lu udah punya cewek kan? Dan tadi lu nyinggung kalau kalian udah punya hubungan dari lama. Tapi apa orang tua lu nggak tau sama hubungan lu ini? Kenapa kalau tau juga, mereka bisa jodohin lu? Toh nggak seharusnya mereka egois kayak gitu kan?"
Sofyan terdiam.
"Semua tentang uang pada akhirnya," gumam Sofyan buat Zaina makin penasaran. "Pacar gue terlahir dari keluarga biasa aja. Ya cukup jauh sama keadaan keluarga gue yang sejak lagi Alhamdulillah bisa dapetin apa yang gue mau dan karena itu mereka nggak setuju. Makanya gue masih terus berjuang karena gue nggak mau hubungan ini kandas."
"Ya ampun ..."
"Padahal pacar gue udah sering nyerah dan nyuruh gue buat nurutin permintaan orang tua gue dan karena marah, pacar gue sering nyuruh gitu. Seolah dia nggak mau berjuang untuk hubungan ini. Makanya, gue milih untuk setujuin walau sekarang akhirnya nyesel. Karena gue beneran nggak bisa pisah dari dia. Tapi nggak apa-apa deh, anggap aja ini sebagai pembelajaran yang harus dia terima karena selama ini nggak pernah memperjuangkan hubungan kita."
"Bukannya nggak mau, dia hanya takut," gumam Zaina.
"Hah?"