Love In Trouble

Love In Trouble
Penjelasan



Ghaly merasa kalau cengkraman tangan Zaina melonggar. Ia menoleh dan melihat tatapan kosong yang di perlihatkan Zaina. Ia menarik napas dalam. Sadar kalau sebenarnya, Zaina masih ada rasa sama Mahen. Ghaly hanya bisa natap miris pada dirinya sendiri. Walau gitu Ghaly memilih berdiri dan mengacak rambut perempuan itu.


"Ada gue, jangan sedih ya."


Dari yang awalnya cuman lamunan, kini tubuh Zaina mulai bergetar. Tangisannya pecah begitu saja seiring dengan untaian kata yang selama ini dia pendam.


Ghaly menghela napas kasar. Agaknya ia semakin paham apa yang baru saja terjadi.Dan bagaimana ia harus hadapi situasi sekarang. "Ada gue, Ghaly ... gue akan selalu ada nenangin lu," bisik Ghaly berusaha menenangkan.


"Ghaly?"


Ghaly mengangguk pelan. "Iya gue ... nggak ada lagi yang bakal nyakitin lu. Karena udah ada gue di sini."


"Ghaly ..." panggil Zaina dengan suara yang sangat gemetar bukan main.


Ghaly menarik napas lagi dan lagi. Ia berusaha memegang tangan Zaina yang masih tercengkram kuat. "Tangannya buka dulu ya, nanti sakit loh. Kalau sakit pasti ada lukanya dan kalau luka nanti merah terus berbekas. Memangnya Zaina mau kalau tangannya banyak luka?" ucap Ghaly lagi dengan selembut mungkin.


Alih-alih melepas cengkraman tangannya, Zaina malah menangis hebat. Tubuhnya sangat gemetar. "Ghaly," ucap nya lagi dengan suara yang super gemetar. "Mereka jahat, mereka jahat sama gue." Ia terisak. "Gue takut ..."


Ghaly maju perlahan. Ia peluk erat perempuan itu sampai tangannya berusaha melepas cengkraman tangan Zaina. Baru saat terlepas ia langsung menggenggam tangan Zaina dengan erat. Supaya perempuan itu nggak melakukannya lagi.


Di posisi ini Ghaly berusaha menyamakan tingginya dengan Zaina yang masih duduk di atas kasurnya. Namun tangannya tetap memeluk erat tubuh Zaina, sesekali mengelus surai rambut Zaina berusaha menyalurkan ketenangan.


"*** ... nggak apa-apa. Semuanya baik-baik aja. Nggak ada yang bisa nyakitin kamu lagi," bisik Ghaly berusaha terus menenangkan perempuan itu.


"Zaina, hey!" panggil Ghaly sambil menarik lembut wajah Zaina untuk menoleh ke wajahnya. Untuk sesaat Ghaly terdiam melihat wajah Zaina yang memerah. Buliran air mata terus terjun dari wajah perempuan itu. Ia menelan saliva sembari menatap khawatir. Ghaly berusaha untuk mengambil kesadarannya dan langsung tersenyum tipis.


"Mulai sekarang ... gue bakal posisiin diri sebagai kakak lu ya. Apa pun yang lu rasain ke depannya, jangan sungkan untuk kasih tau gue. Siapa pun yang udah jahat sama lu, termasuk ngomong yang nyakitin jangan sungkan untuk bilang sama gue. Biar gue yang hadepin langsung mereka. Biar kita bisa saling nguatin satu sama lain. Okei?" seru Ghaly sambil mengusap air mata yang terus turun di wajah perempuan itu.


"Jadi ... mulai saat ini, tolong kerja samanya ya."


"Ghaly ..."


"Iya?" jawabnya lembut masih terus mengusap lembut surai perempuan itu.


"Ghaly?" panggilnya lagi dengan sangat gemetar.


Ghaly mengangguk dan memusatkan perhatian pada perempuan itu.


"Ghaly," panggilnya lagi dengan suara yang semakin melemah. "Jangan tinggalin gue ..."


***


Selama tiga jam lebih, Ghaly hanya memperhatikan Zaina yang sudah tertidur. Perempuan itu tertidur setelah nangis hebat. Sepertinya tangisan dia membuatnya mengantuk. Tapi Ghaly semakin nggak tega saat melihat sesekali Zaina masih menangis di tidurnya.


Ghaly menghapus lembut air mata yang turun di mata Zaina.


"Jangan nangis Zaina, gue beneran sakit banget lihatnya," bisik Ghaly pelan.


Tangannya tak henti menggenggam tangan Zaina. Ia juga nggak mau berisik dan mengganggu tidur Zaina. Walaupun kini dia sendirian. Tapi nggak masalah sama sekali. Karena lebih baik begini di bandung melihat Zaina yang menangis seperti tadi.


Tok ... Tok ... Tok ..., CEKLEK


"Ssttt ..." Ghaly menaruh jari di lengannya saat melihat orang tua Zaina udah masuk. Kedua orang tuanya langsung noleh ke arah Zaina dan mengangguk mengerti, mereka nggak akan berisik.


"Makasih ya nak Ghaly sudah menjaga anak kami. Maaf kalau kamu merepotkan dan maaf kalau ini sedikit larut malam. Ada sedikit masalah tadi."


"Masalah? om sama tante baik-baik aja kan?" tanya Ghaly khawatir.


Daddy Zidan tertawa kecil dan mengangguk. "Sudah selesai kok. Makanya om sudah datang di sini. Tadi kamu sempat ketemu sama Mahen kah? soalnya om yang manggil dia ke sini."


Ghaly menggigit bibir bawahnya. Dia melirik ke Zaina dan terlihat sangat gugup. Apa dia harus menceritakan apa yang terjadi?


Melihat Ghaly yang gugup membuat mommy Nadya mendekati anaknya dan mata mommy Nadya langsung membola dan buru-buru menghampiri Ghaly.


"Apa yang terjadi sama anak saya? kenapa dia kelihatan habis nangis!" seru mommy Nadya dengan marah. "Iya kok, dia kelihatan sembab! dia habis nangis? kamu nggak macam macam kan sama dia?" tuduh sang mommy membuat Ghaly langsung mengangkat kedua lengannya dan menggeleng.


"Terus kalau bukan kamu, siapa lagi?!" bentak sang mommy membuat daddy Zidan menggenggam tangan istrinya.


"Sabar sayang ... jangan marah dulu. Kita dengerin dulu jawaban Ghaly. Jangan marahin dia dulu," titah sang daddy membuat mommy Nadya langsung menarik napas kesal dan mandang ke arah lain. "Jadi ... apa yang terjadi? Zaina beneran menangis kan?"


"Mas ... kamu nggak percaya sama aku?" sela mommy Nadya lagi dengan perasaan sangat kesal. "Udah jelas kalau dari tadi aku ngomong kalau anak kita lagi sedih dan mata dia juga sembab. Kamu pakai nanya lagi."


"Ya ampun sayang," kekeh daddy Zidan membuat istrinya itu melotot merasa di bercandai sama suaminya. "Maksud aku, kita denger dulu omongan Ghaly. Emang dia yang buat anak kita nangis atau bukan. Karena mas nggak mau main nuduh aja dan langsung marah."


Mommy Nadya akhirnya menghela napas pasrah dan langsung mengangguk. "Ya sudah ..."


"Maaf ya om, tante ... tapi aku beneran nggak tahu apa yang buat Zaina menangis." Mengalir lah cerita saat kedatangan dirinya dan langsung memeluk Zaina. Lalu bagaimana Zaina yang langsung menangis di pelukannya. Benar-benar dia ceritakan semuanya.


"Restu? bukannya dia salah satu anak dari pengusaha dari perusahaan X itu?"


Ghaly mengangguk dengan cepat.


"Iya om ... memang sepertinya perempuan itu lagi deket sama Mahen. Makanya tadi pergi bareng dan saya nggak tahu apa yang trjadi. Soalnya Restu keliatan natap tajam ke arah Zaina. Jadi, saya sedikit yakin kalau sumber tangis Zaina ada di perempuan itu. Walau saya masih nggak tahu apa yang terjadi di sini."


"Ya ampun ... mas, apa yang perempuan itu omongin sama anak kita?"


Daddy Zidan terdiam. Kembali menyalahkan dirinya karena dia yang udah menyuruh Mahen untuk datang.


"Mas beneran nggak menyangka kalau Mahen bakalan ajak perempuan itu. Ya ampun, Mahen. Kalau dia memang nggak bisa harusnya dia menolak. Bukannya malah bikin anak daddy jadi kayak gini."


Daddy Zidan menarik napas dalam.


"Kamu tahu kejadian di keluarga besar kami nggak?" tanya daddy Zidan membuat Ghaly mengerjap. "Soalnya saya perhatiin kamu udah di percayain Zaina. Kamu seperti teman curhat Zaina."


Lagi dan lagi Ghaly mengangguk membuat orang tua Zaina menarik napas kecil, sedih karena anaknya nggak pernah mempercayakan semuanya sama dia dan senang karena sepertinya Zaina punya punya tempat cerita sama orang lain.


Setidaknya Zaina nggak menyimpan sendiri lagi.


"Apa saja yang dia katakan?"


"Zaina cuman bilang kalau dia sakit hati banget karena kepergian anaknya malah menjadi kesenengan bagi orang lain."


Mommy Nadya yang mendengar itu langsung menatap khawatir ke arah Ghaly. Mau gimana pun, Ghaly ayah dari anak itu kan?


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Maksud tante?"


Mommy Nadya beralih dan memeluk penuh rasa keibuan pada laki-laki itu. Tubuh Ghaly mematung dan mengerjap, berusaha menghilangkan air mata yang memaksa untuk turun. Ia menggeleng.


"Nak ... tante baru sadar kalau selama ini cuman perhatiin Zaina aja atas kehilangan anaknya. Padahal di sini kamu juga kehilangan anak kamu. Pasti kamu juga sama hancur nya kan sama seperti perasaan anak kami."


Ghaly tersenyum penuh luka.


"Tapi Zaina jauh lebih terluka."


Mommy Nadya melepas pelukan dan mengusap punggung laki-laki itu. "Siapa pun yang kehilangan pasti ngerasa sakit. Mungkin hati Zaina jauh lebih rapuh di banding kamu. Tapi kamu pasti sama sakitnya kan? kamu pasti terluka."


Daddy Zidan menepuk lengan Ghaly.


"Dan maaf karena omongan keluarga besar saya yang pasti menyakiti hati kamu. Saya nggak bisa mengontrol mereka. Kalau mereka kembali berlebihan. Saya yang akan turun tangan dan akan mengajarkan mereka secara langsung. Sekali lagi maafkan saya."


"Ini bukan salah daddy sama sekali."


"Tetap saja .. "


"Keluarga kamu jauh. Jadi, kalau kamu sedang merasa sedih dan terluka jangan sungkan untuk datang. Lupakan masa lalu. Walau kamu sudah melukai anak om sampai buat om benci banget sama kamu. Tapi, kamu bisa belajar dari kesalahan. Jadi, om minta kamu untuk melupakan semuanya dan kita memulainya dari awal."


"Boleh?"


"Boleh dong ..."


Hati Ghaly benar-benar sangat lega di tengah rasa sesak yang melanda dirinya. Tapi, dia berusaha untuk terlihat baik baik saja dan nggak terpengaruh sama sekali. Dia berusaha untuk kelihatan baik-baik saja.


"Ghaly ... mungkin sampai detik ini kamu masih saja menyalahkan diri kamu sendiri. Tapi, kamu nggak tahu. Betapa beruntungnya kami memiliki kamu."


Mata Ghaly terbelalak. Hatinya benar-benar menghangat saat ada orang yang beruntung karena keberadaan dirinya. Ia langsung menoleh ke arah orang tua Zaina yang hanya mengangguk sambil tersenyum penuh kelembutan dan rasa yang sangat menenangkan.


"Kamu lihat ... Zaina nggak pernah percaya sama kami, walau kami sering meminta dia untuk cerita. Tapi mungkin sungkan ya cerita sama orang tua sendiri? Tapi hal itu buat kami sedikit panik karena takut Zaina merasa tertekan karena nggak punya tempat cerita. Tapi, balik lagi ternyata Zaina selama ini baik saja karena kamu menjadi tempat dia cerita. Jadi, kami beneran berterima kasih banyak sama kamu."


"Sama-sama om, tante. Ini udah tugas saya dan saya beneran bersyukur banget karena Zaina percaya sama saya."


Mereka sama-sama diam dan hanya menatap Zaina yang masih tertidur dengan anggunnya. Mereka semua hanya mampu menarik napas dalam sambil menggeleng kecil.


"Daddy rasa ... dia masih memiliki perasaan sama Mahen dan kenapa Mahen malah ajak perempuan itu sih. Ya ampun kalau anak kita memang masih suka sama Mahen. Gimana perasaan dia pas lihat Mahen ajak perempuan itu?" ucap Daddy Zidan dengan sangat kesal.


"Ya kan dad ... mommy juga mikir yang sama, kalau Mahen memang udah lupain anak kita. Ya nggak usah datang juga sama perempuan itu. Sengaja banget."


Mendengar perseteruan mereka hanya mampu membuat Ghaly diam dan menarik napas dalam.


Ia sakit hati ....