
Di tengah perjalanan, Eggy dan Fadhla membicarakan tentang perusahaan dan bisnis mereka. Aku hanya menyimak dan mendengarkan percakapan mereka saja, karena aku tidak mengerti dengan hal semacam itu.
"Bagaimana dengan kabar Irani?" tanya Eggy kepada Fadhla.
Irani? Siapa Irani? Aku berpikir dalam batinku.
"Hari-hari ini dia agak malas. Apalagi saat mengetahui perusahaan kita mengalami anjlok yang cukup jauh. Kurasa dia akan resign dari pekerjaan," jawab Fadhla.
"Sudah kuduga, dia melamar pekerjaan di perusahaan dan menjadi sekertaris pribadi, hanya untuk hartaku saja," gumam Eggy.
Tunggu! Berarti Irani berniat untuk merebut Eggy dariku? Apa Eggy dan Irani terlibat skandal juga?
"Catatannya pun sedikit berantakan. Tidak sesuai dengan apa yang sudah dikerjaan. Catatan hasil rapat pun sangat jelek, ada banyak bagian-bagian penting yang tidak dia tulis di catatan laporan."
"Mau dia apa?"
"Setelah aku sampai ke sana, aku akan menanyakan hal itu padanya. Jika kamu mau, aku akan memecatnya sekalian," kata Fadhla.
Kedengarannya mereka berdua sangat serius menanggapi masalah ini.
"Tidak perlu. Biarkan saja, jangan urusi dia. Suruh Irani untuk menyerahkan semua laporan padaku hari lusa, karena lusa aku akan pulang," kata Eggy.
"Eh, kita kan baru 3 hari liburan, Kak. Masa mau pulang lagi? Masih ada waktu untuk berlibur," sahutku.
"Tidak bisa. Jika dibiarkan terlalu lama, maka masalah ini akan semakin rumit, Bulan. Kamu tahu kan kalau kita berlibur di tengah-tengah masalah besar?"
Mengingat hal itu, membuatku menyadari bahwa menyelamatkan sebuah perusahaan memang lebih penting dibandingkan dengan diriku. Aku tahu, jika Eggy kehilangan perusahaan yang selama ini dia bangun demi diriku, mungkin Eggy adalah orang bodoh. Karena Eggy sangat pintar, dia bisa memikirkan hal itu dengan baik.
"Maaf, Kak, jika aku terlihat egois dalam hal ini," ucapku.
"Tidak. Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Kamu tidak salah kok," sahut Eggy.
"Kapan-kapan kita bisa liburan bersama lagi kok. Jika Eggy menikah lagi, terus bulan madu ya kita ikut aja. Hahaha," goda Fadhla sambil tertawa renyah.
"Sialan!" umpat Eggy.
"Mana ada yang begitu. Nanti malah sakit hati," sahutku.
"Ciieeee. Jadi sekarang kamu sudah menaruh hati kepada kakakku?" tanya Fadhla.
Aku mendelik seraya tersenyum malu. "Apaan sih."
Eggy hanya menebar senyumannya saja.
Tak terasa perjalanan pun sudah tiba. Kami berangkat ke sebuah terminal bus di kota. Aku pun belum sempat bertanya, kenapa Fadhla memilih baik bus, dibandingkan dengan membawa mobilnya sendiri. Jika membawa mobil sendiri, mungkin aku dan Eggy tahu bahwa akan ada tamu ke villa. Mungkin juga aku tidak akan memukul kepalanya dengan sapu.
Lupakan tentang itu, itu sudah lewat. Kini Eggy memarkirkan mobilnya dan kami semua pun turun dari mobil. Kemudian Eggy berjalan menuju bagasi mobil dan mengeluarkan semua barang-barang milik Fadhla dari sana.
"Kenapa kamu memilih nsik bus?" tanyaku.
"Karena kalau naik pesaeat itu tidak mungkin," jawabnya.
"Hahaha. Kamu bisa saja."
"Oke deh. Aku berangkat dulu ya, sebelum busnya pergi," pamit Fadhla.
"Hati-hati."
"Oke, Bro!" kata Fadhla kepada Eggy.
"Hati-hati, Fadhla."
"Terima kasih, Bulan. Terima kasih juga, Kak. Aku telah merepotkanmu. Gunakanlah liburan ini sebaik mungkin. Aku akan berusaha mengurus perusahaan dengan baik. Jangan khawatir. Irani biar aku urus," kata Fadhla.
"Aku serahkan padamu."
Fadhla menganggukkan kepalanya. Kemudian dia tersenyum dan berjalan pergi menuju bus sana. Aku dan Eggy masih menatap dia yang berjalan naik ke dalam bus, sampai dia duduk di sana. Dan bus itu pun pergi. Berlalu.
Aku menengok ke arah Eggy. "Kak," panggilku.
Eggy pun menengok. "Apa?" tanya Eggy.
"Sepertinya aku masih lapar," sahutku.
"Jadi?"
"Ayo kita makan di luar. Mau makan apa, Kak?"
Aku memanyunkan bibirku. "Ya kan kita makannya berdua, Kak. Masa aku beli makanan kesukaanku saja, nanti kalau Kakak tidak suka, bagaimana?"
"Ya aku berikan saja padamu. Kan itu makanan kesukaanmu."
"Ya kan pasti kenyang banget, Kak."
"Tidak apa-apa. Biar kamu makin gendutan," sindirnya.
"Ih, bilang lagi aku gendutan, aku marah nih. Sku ngambek," ancamku seperi anak kecil.
"Gak apa-apa. Nanti kalau kamu kangen, jangan salahkan aku," sahut Eggy sambil berjalan pergi dan masuk ke mobil.
"Eh, eh. Tidak bisa begitu, ya! Kakak harusnya berusaha merayuku untuk tidak ngambek," sahutku sambil menyusulnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Aku bilang, untuk saat ini aku gak peduli kamu marah."
"Ih, dasar jahat. Gak peka nih Kakak," ucapku sangat kesal.
"Kalau sudah tahu, ya syukurlah," sahutnya sengaja membuatku makin gregetan.
"Aku gigit nih!" ancamku.
"Gak takut!" tantangnya.
"Serius nih aku gigit sekarang juga!"
Eggy menyodorkan wajahnya ke arahku. "Mau gigit yang mana? Aku kasih nih!" sahut Eggy.
Dengan perasaan malu, dan dengan perasaan ragu-ragu, aku memutuskan untuk mengigit bibir bawahnya dengan keras.
"Ah, ah," rintih Eggy sambil memegang bibirnya.
Aku pun lagsung terkejut melihat ada darah di sana.
"Eh, Kakak. Maaf. Terlalu keras ya? Habisnya aku gregetan. Kakak sih begitu. Hobinya menggoda melulu," omelku.
Eggy pun terkekeh dengan sedikit menahan rasa sakit di bibirnya. "Kamu jadi galak juga ya sekarang. Agresif. Aku jadi takut padamu," godanya lagi.
"Tuh kan. Mulai lagi."
"Hanya bercanda," sahut Eggy sambil mengacak-acak rambutku.
"Sini aku lihat!"
Aku pun melihat luka di bibirnya, masih ada sedikit darah di sana. Aku pun segera mengambil tisu di tasku dan langsung menbersihkan darah yang masih tersisa.
"Maafin aku, Kak. Aku gak sengaja."
"Sengaja itu."
Aku memanyunkan bibirku lagi. "Iya. Aku tahu. Aku emang sengaja. Maaf," ucapku ketus.
"Gak ikhlas nih minta maafnya."
"Kakak, jangan mulai deh. Nanti bisa makin parah itu bibirnya."
"Hahaha. Iya, iya. Maaf ya. Hanya bercanda. Jangan galak-galak lagi. Nanti aku kabur lho," kata Eggy.
"Gak lama lagi juga kabur dengan wanita lain," sindirku.
Eggy memegang tanganku dan spontan aku pun berhenti dari aktifitasku yang membersihkan bibirnya. Eggy menatapku dengan dalam, begitu pun denganku. Suasanan ini sering kali terjadi, tetapi aku tidak begitu tegang dengan suasana ini. Mungkin sudah terasa kebal karena seringnya terjadi.
"Apa, Kak?" tanyaku.
"Jika kamu tidak mengizinkanku menikah lagi, aku tidak akan menikahinya, Bulan," jawab Eggy.
Sejenak aku terdiam. "Aku tidak keberatan, Kak, selama perasaan Kakak tidak berubah, aku akan mencobanya. Aku pun sebenarnya sedang mencari tahu tentang perasaanku terhadapmu. Aku akan berpikir dan merasakan perasaan mana yang lebih berat antara Kakak dan Raihan untuk sekarang. Mungkin saat ini bisa saja aku memilih Kakak, tetapi jika kakak tidak ada, aku khawatir aku akan kembali kepada Raihan," sahutku dengan panjang lebar.
"Seperti itu?"
"Ya."
"Baiklah. Ayo kita cari makan!" ajaknya.
Lalu dia pun mulai menyalakan mobilnya dan menancap gas. Aku tahu bahwa perasaan ini sangatlah berat bagi Eggy. Hanya saja, aku merasa bahwa masih plin-plan dalam hal perasaan.