
Terlihat aku dan Eggy sedang duduk menunggu Fadhla segera sadar dari pingsannya. Mungkin ini memang kesalahanku, dan mungkin juga ini adalah kesalahaln Eggy juga. Bisa jadi juga ini adalah kesalahan kita berdua, biar adil.
"Maaf ya, Kak. Ini semua salahku. Jika saja aku lebih sabar sedikit, mungkin dia gak bakalan terkena pukulanku," sesalku.
"Gak apa-apa. Sudah telanjur," sahutnya.
Ya pasti gak apa-apa, yang dipukul kan adiknya, bukan Eggy. Pasti Eggy gak bakalan marah. Nanti Fadhla bangun, pasti dia akan marah juga. Harus bilang apa aku? Minta maaf? Itu sudah lasti dilakukan. Namun, aku merasa sangat tidak enak padanya. Ah, gimana ini? Aku malah pusing sendiri.
"Mudah-mudahan dia tidak apa-apa."
"Oeang yang dipukul sampe pingsan, tidak mungkin tidak apa-apa. Pasti ada apa-apa, contohnya pusing, sakit kepala, susah bangun," jelasnya.
Aku mengernyitkan dahiku dan memanyunkan bibirku. Ingin rasanya aku menangis karena sudah berbuat seperti ini. Namun hal ini tidak boleh dilakukan, Bulan. Aku harus kuat.
"Iya, Kak. Aku paham kalau masalah itu. Ya maksudku, semoga saja tidak ada luka yang serius. Karena aku tahu, aku. memukulnya dengan sangat keras."
"Sepertinya tidak deh. Kamu jangan khawatirkan itu."
"Baiklah, Kak."
Walaupun aku mengatakan tidak akan mengkhawatirkan Fadhla, tetapi tetap saja perasaan ini menyimpan rasa khawatir atas dirinya. Ya ampun, Fadhla. Cepatlah bangun. Aku sangat cemas padamu.
Tak lama kemudian, Fadhla akhirnya terbangun juga.
"Fadhla," panggilku.
Secara perlahan mata Fadhla terbuka dan dia seperti orang ling-lung ketika melihat kenarah sekitar. Kemudian dia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Eggy pada Fadhla
"Eggy. Di mana aku?" tanya Fadhla mengabaikan pertanyaan Eggy.
"Di sini. Di villa. Ada apa kamu datang kemari?" tanya Eggy to the point.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu," jawabnya.
"Mengenai?"
"Kalian berdua."
"Jangan bilang tentang wanita itu," ujar Eggy dengan nada kesal.
"Lalu siapa lagi?" tanya Fadhla pada Eggy.
"Kalian kenapa sih? Ada apa? Coba jelaskan perlahan padaku," ucapku. kebingungan.
Fadhla datang kemari mungkin membawa petaka bagiku dan Eggy. Baru saja aku akan membangun rasa percayaku dan rasa ketertarikanku padanya, tetapi aku lupa akan sesuatu. Justru sebelum liburan ini terjadi, kita meninggalkan banyak masalah besar di tempat asal kita. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu. Bagaimana bisa saat liburan ini kita meluoakannya?
"Bulan, kamu tahu masalahnya apa. Jadi, kamu tidak perlu bertanya ulang dan aku pun tidak perlu menjelaskannya berulang kali," jelas Eggy, membuatku langsung membungkam mulutku.
"Baiklah, Kak. Lalu bagaimana solusinya?" tanyaku.
"Ya bagaimana lagi, kalian harus bercerai," jawab Fadhla.
Aku langsung menatap ke wajah Eggy.
"Kak, apa-apaan ini? Apakah kita akan benar-benar berpisah? Padahal aku dan Kakak baru mengawali ini lho. Kita baru saja memulai semuanya dari awal lagi. Apa ini hanya sia-sia saja?" tanyaku.
"Ada apa dengan kalian? Bukannya kalian berdua baik-baik saja, ya?" tanya Fadhla.
Di antara aku dan Eggy tidak ada yang menjawab. Kami berdua hanya diam tak bersuara. Kami memang bingung untuk menjelaskannya bagaimana, selain aku lupa segalanya, aku pun tidak mungkin bercerita tentang apa yang sedang terjadi pada hubunganku dengan Eggy saat ini. Karena hal ini pasti akan membuat marah keluarganya. Termasuk Fadhla juga. Lalu, apa yang harus aku katakan padanya?
"Kita memang baik. Namun Bulan harus mengingat lagi kenangan masa lalunya. Dia hampir melupakan segalanya. Dan aku sedang berusaha untuk membuatnya ingat dengan cara liburan seperti ini," jawab Eggy.
Eggy memang pintar mencari alasan. Tidak salah jika aku memilihnya.
"Ah, iya. Aku lupa juga soal itu. Kamu juga hilang ingatan, kamu pernah bertanya juga soal itu padaku," kata Fadhla.
Rupanya dia masih ingat kejadian itu. Dasar bodoh! Kenapa aku sampe bertanya padanya. Padahal aku pendam saja dalam hati masalahku itu, jadinya begini. Untung aku tidak menceritakan lebih banyak lagi tentangku pada waktu itu.
"Hehehe. Iya. Waktu itu aku tidak tahu bahwa kamu adik Eggy. Baru tahu saat di acara keluarga kemarin."
"Bukan masalah. Aku memang misterius orangnya. Hahaha."
"Cepatlah bangun! Jika kamu lapar, kamu masak saja di dapur. Aku mau istirahat," kata Eggy.
"Apa seperti ini kah penyambutanmu, Eggy? Dengan menyruruh istrimu memukul kepalaku sampai pingsan, kemudian saat terbangun, aku disuruh masak sendiri, makan sendirian, tidur pun sendirian di sini. Ini gak fair dong!" ucap Fadhla.
"Apa kamu ingin tidur bersama Bulan? Apa kamu ingin makan berdua sama Bulan? Apa kamu juga ingin dimasakan oleh Bulan? Kenapa kamu tidak menikahnya saja?" tanya Eggy dengan tegas.
Aku terkejut mendengarnya. Apa dia sudah tidak waras, sehingga bisa berkata seperti itu seenaknya.
"Aku hanya ingin ditemani sama kamu saja, Eggy. Sudahlah! Ayo duduk sini!" ajak Fadhla.
"Jijik. Mau istirahat. Ayo Bulan!" Eggy menarik tanganku dan mulai masuk ke dalam kamar. Kemudian Eggy menutup pintu kamarnya dan segera mengunci pintu kamarnya.
"Kakak kenapa pintu kamarnya dikunci?" tanyaku terheran-heran.
"Nanti dia masuk. Bahaya," jawabnya.
"Kan dia sendirian di sana. Apa Kakak gak. mau menemani dianterlebih dulu?" tanyaku.
"Enggak usah. Mending kamu temani aku tidur di sini. Cepetan. Kamu jangan sampe parno lagi ya, kasihan. Nanti kamu secara tidak sengaja menjadi psikopat. lagi. Tukang mukul kepala pake gagang sapu. Hahaha," celetuk Eggy padaku. Kurang ajar sekali kalimatnya.
"Enak saja. Kakak tuh yang psikopat duluan. Ngajakin aku kan tadi. Kan aku juga di ajarin sama Kakak. Gimana sih, Kak!"
"Iya deh, Iya. Ayo sekarang. kita tidur. Istirahat dulu, besok kita berenang ya. Kamu bisa berenang, 'kan?" tanya Eggy padaku.
Sebentar, aku harus mengingat-ingat dulu, apakah aku bisa renang atau tidak? Seingatku dulu aku memang bisa berenang, cuma kek nya aku lupa bagaimana caranya berenang. Apa untuk jaga-jaga aku tolak saja ajakan dia ya?
"Enggak deh, Kak. Aku lupa lagi caranya berenang."
"Akan aku ingatkan," sahutnya.
Yaelah. Eggy malah memaksaku. Seperti cara sebelumnya. Dia memang pandai untuk memaksa seseorang. Apa pun kalimat yang sudah keluar dari mulut Eggy, lasti itu akan terjadi. Ini bukan kali pertamanya seperti itu, namun ke sekian kalinya pasti terjadi juga.
Mungkin besok aku harus cari alasan yang bagus. Apa ya? Aku pikir-pikir dulu deh. Sekarang, aku harus istirahat. Karena saat ini aku pun sudah mengantuk.
Dan untuk ke berapa kalinya, entah ketiga, ke empat, kelima, atau ke sekian kalinya, aku kembali tidur seranjang bersama Eggy. Ini aku hitung semenjak hilang ingatan ya! Karena saat 3 tahun kemarin, aku benar-benar tidak mengingatnya. Mungkin bisa saja setiap hari tidur seranjang dengannya.
Bisa jadi, 'kan?