
"Kita punya solusi masalah ini," ungkap Fadhla tiba-tiba menyampaikan kalimat itu kepada kami dengan nada yang sangat serius.
"Eggy, Fadhla, ikut kemari," ajak pria berbadan kekar itu nan tinggi itu. Mungkin dia adalah sang ayah dari mereka berdua. Namun apa yang direncanakan oleh mereka? Solusi masalah? Apakah masalah tentang perusahaannya dirinya yang anjlok? Atau mungkin juga masalah perceraian itu. Perasaanku menjadi tidak tenang kepada mereka.
"Bulan," panggil Ibu mengejutkanku dan membuyarkan semua pandanganku terhadap Eggy dan juga Fadhla.
"Eh, iya. Bagaimana, Bu?" sahutku.
"Bagaimana dengan obrolan kita pada waktu lalu?" tanyanya.
Aku tahu maksud yang dibicarakannya. Pasti perceraian itu. Aku sudah menduganya bahwa hal ini akan terjadi juga.
"Sudah dibicarakan kok, Bu. Kami sudah setuju untuk itu," ucapku tersenyum simpul padanya.
"Baguslah. Karena memang kalian harus segera berpisah."
"Apa maksudmu berpisah?" tanya Nenek kepada Ibunya Eggy.
"Eggy harus bercerai dengan gadis itu. Dia tidak bisa menampung wanita yang berselingkuh secara terang-terangan."
Mendengar kalimat itu, membuatku merasa sakit. Kalimat itu terucapkan sangat kejam dan sadis dari mulutnya. Namun, apanyang diucapkannya, mungkin memang benar. Sayang sekali aku tidak ingat.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Nenek seperti orang yang sedang kebingungan.
"Mama tahu sendiri, bahwa dia selingkuh dengan mantan pacarnya. Sudah tersebar di luar sana gosip tentangnya. Bahkan, baru-baru ini, ada yang bilang bahwa dia menggoda adik suaminya," ungkap Ibu seraya menatap sinis ke arahku. "Menjijikkan!" lanjutnya mencela.
Ya Tuhan! Apa yang aku perbuat? Aku bahkan baru mengenal Fadhla. Aku tidak menggodanya sama sekali. Ini salah paham. Tahu dari mana dirinya? Ah, yang benar saja. Keluarga ini mempunyai banyak mata-mata. Mereka kaya. Mana mungkin mereka tidak mampu membayar mata-mata. Namun fitnah ini sangat keterlaluan. Di luar batas.
"Aku tidak menggodanya, Bu. Kami baru saja mengenal," belaku.
"Jangan bohong! Sudah jelas kamu berbohong seperti itu. Masih ngeyel. Sudah ada bukti juga."
"Siapa yang bilang seperti itu, Bu? katakanlah!" ujarku memohon.
"Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya memanfaatkan Fadhla untuk kepentingan belanjamu di Mall. Picik juga kamu ternyata."
"Bagaimana bisa itu terjadi? Sedangkan aku tidak tahu siapa Fadhla. Aku hanya bertemu saat mencari alamat, dan kedua kalinya bertemu saat di Mall itu. Bagaimana Ibu dapat menyimpulkannya seperti itu?" tanyaku merasa tersinggung. Aku bukan wanita matre seperti itu. Aku tidak serendah itu terhadap harta. Lebih baik berpisah saja dengan keluarga ini, sangat angkuh. Penuh hinaan. Penuh cacian.
"Bagaimana tidak? Kamu akan bercerai dengan Eggy, kemudian dengan mudahnya kamu memanfaatkan adik Eggy. Terbaca sekali rencanamu."
"Cukup! Apa-apaan kamu ini?" Nenek ikut campur dengan perbincangan kami. Mungkin dirinya berada dipihakku dan membelaku.
"Mah, kamu seharusnya tahu bahwa wanita ini kotor pikiran. Bisa-bisanya menikah. Pasti dia sudah melakukan guna-guna kepada Eggy untuk menikahinya tanpa memberitahu orang tuanya terlebih dulu," ucapnya ketus.
Tunggu! Apa aku menikah dengan Eggy secara diam-diam? Tanpa ada yang tahu, termasuk keluargaku? Begitukah? Apa ini benar terjadi? Tetapi keluargaku yang menawarkanku pada Eggy, sudah pasti mereka tahu. Apa mungkin Eggy menyembunyikan ini dari mereka?
Aku menatap ke arah Eggy penuh tanda tanya. Pria itu memang penuh misteri, penuh dengan sesuatu yang dia sembunyikan.
"Maaf, Bu, aku menyela. Tetapi apa yang Ibu katakan terhadapku, tidak benar. Jika pun Ibu menganggapnya benar, aku tidak masalah. Namun jangan hina aku seperti itu. Ibu tidak tahu alasan dibalik pernikahan ini. Jika Ibu tahu, pasti akan paham semuanya," jelasku.
"Apa motifnya?" tanyanya.
Aku menghelakan napas secara perlahan. Perasaanku mulai sakit mendengar kalimat darinya. Ingin rasanya aku menangis, tetapi aku tidak boleh cengeng di sini. Aku harus menahannya. Apa pun yang dikatakan olehnya, aku tetap harus bertahan.
"Cukup. Jangan diperpanjang lagi. Ini adalah acara keluarga kita. Jangan kacaukan dengan itu." Nenek sepertinya tidak ingin membahas hal itu. Mungkin dia mengetahui alasannya. Aku sudah mulai tidak tahan lagi di sini.
"Bulan, setelah acara ini selesai, jangan dulu pulang ya. Ikut Nenek dulu," ucapnya.
"Baik, Nek."
Tak lama kemudian, Eggy dan Fadhla kembali ke meja keluarga dan ikut berkumpul. Setelah itu, acara keluarga segera dimulai.
"Baiklah. Kita awali acara ini dengan bersulang. Mari!" ucap Ayahnya.
"Mari!" serentaknya.
Kami pun semua bersulang bersama. Seperti yang terlihat, walaupun ini acara keluarga, namun terlihat berkelompok. Seperti keluarga Eggy bersama keluarganya, yang lain pun sama. Kecuali Nenek yang kulihat ke sana kemari untuk saling menyapa para anaknya yang lain.