The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bicara



"Apa kamu sudah tahu tentang kehamilan Bulan?" tanya Eggy mengintrogasi.


"Jika tidak tahu, aku tidak akan berbicara sepetti itu padamu," sahut Fadhla.


"Sudah berapa lama kamu tahu?" tanyanya.


"Baru-baru ini," jawab Fadhla dengan singkat.


"Apa kamu yakin dengan kehamilannya?" Eggy seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada Bulan.


"Kamu meragukan kehamilannya?" tanya Fadhla yang tak percaya dengan kalimat Eggy.


"Bukan meragukan. Hanya memastikan."


"Kamu tak percaya dengan istrimu sendiri?" tanya Fadhla dengan serius.


"Aku takut kalau kabar ini hanya sebatas kecemburuan Bulan agar aku tidak menikahi Adelia. Dia tahu bahwa besok adalah pernikahanku dengan Adelia. Bisa jadi dia ingin menghambatnya, bukan?" jelas Eggy dengan pikirannya yang singkat.


Fadhla terkekeh. "Ih, sumpah, ya! Kamu nilai Bulan sepeti itu? Apakah dia wanita yang bisa Berpura-pura di hadapanmu? Apakah dia pintar bersandiwara sepertimu? Ah, aku paham sekarang. Kamu sudah mulai tertarik kepada Adelia? Benar, kan?" tebak Fadhla kepada Eggy.


"Apa maksud kamu? Aku tidak tertarik sama dia."


"Alah, munafik. Pembohong. Aku rasa kamu menang sudah tertarik padanya. Kamu takut bahwa kehamilan Bulan akan menghalangi pernikahanmu, bukan?" tanya Fadhla.


"Jangan sok tahu dan jangan menuduh orang tanpa bukti," tegas Eggy.


"Itu fakta. Aku mengatakan hal itu sesuai dengan faktanya," kata Fadhla bersi kukuh.


"Jaga omongan kamu!" kata Eggy dengan menekankan setiap kata yang di ke luarkannya.


"Aku akan menikahi Bulan," kata Fadhla kepada Eggy.


Mendengar kalimat itu, membuat Eggy merasa tersinggung dan seketika langsung memukul wajahnya. Ada noda merah di bibirnya.


Fadhla terkekeh. "Kamu marah? Kenapa, hah?"


"Jangan berani-berani kamu menyentuhnya, " kata Eggy sambil menunjuk ke arah wajah Fadhla.


"Egois sekali kamu! Kamu menikah dengan wanita lain, bagian Bulan menikahiku, kamu marah? Sangat egois sekali," sindir Fadhla.


"Dia masih istriku!"


"Dia hamil. Apa kamu akan membiarkan istrimu membesarkan janinnya sendirian? tanpa adanya pendamping seorang suami, karena suaminya menikahi wanita lain?" jelas Fadhla seakan menampar Eggy.


Eggy terdiam. Dan memang benar apa yang sudah dikatakan oleh Fadhla. Bulan membutuhkan seorang pendamping. Tidak mungkin jika Bulan membesarkan janinnya sendirian. Apa yang akan di katakan oleh orabg lain? Bisa jadi nama baik Bulan tercemar begitu saja.


"Apa tidak ada solusi lain? Aku berpikir bahwa aku punya solusi lain selain melakukan pernikahan itu. Aku punya solusinya," jelas Eggy.


"Aku akan bawa Bulan pergi dari sini," sahut Eggy.


"Kamu akan membawanya ke mana, hah?"


"Pergi jauh intinya. Luar kota, bahkan luar. negeri sekali pun. Kemungkinan aku akan membawanya pergi ke luar negeri, agar dia tidak di ketahui oleh siapa pun. Sampai dia melahirkan dan anakku cukup besar, aku akan membawanya kembali ke sini," jelas Eggy.


"Apa? Dengan siapa dia akan di sana?" tanya Fadhla.


"Mungkin bersama seseorang yang aku suruh," jawab Eggy menggaruk dagunya. "Namun sepertinya tidak. Jika kamu ... ah, aku tak percaya denganmu."


"Alah."


"Aku akan sewa seseorang di sana. Bulan akan tinggal bersama dia di sana."


"Apa? Apa kamu akan tega melakukan itu pada Bulan?"


"Lalu aku harus apa? Menggugurkan kandungannya, begitu?" tanya Eggy kepada Fadhla meminta sebuah solusi.


"Aku sudah menawarkan diriku," jawab Fadhla.


"Apa yang akan kamu kepada Mami, hah? Dia tidak akan pernah setuju."


"Alasannya aku menghamili dia," sahut Fadhla.


"Apa?" Seketika Eggy sangat terkejutakan hal itu.


Di balik percakapan mereka, Bulan rupanya mendengarkan semua perbincangan mereka berdua. Dia meneteskan air matanya. Dia berikir bahwa kehamilan yang di alaminya memang tidak Eggy harapkan. Bagaikan sebuah penyesalan yang harus diperbaiki dan sebuah kesalahan dengan berusaha untuk menyembunyikannya. Ini memang tidak benar. Bulan kembali menuju kamarnya dan menangis di dalam kamar sendirian. Dia tidak sanggup jika berlama-lama mendengarkan percakapan mereka beredua di sana. Bulan berpikir bahwa dirinya memang harus pergi. Namun dia tidak ingin meninggalkan Eggy. Perasaannya terhadap Eggy cukup besar akan hal itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Apakah Eggy memang sudah berpaling dariku? Ini tidak benar. Ini tidak mungkin!" gumam Bulan secara perlahan. Dia pun kembali berbaring menyamping dan meringkuk sambil memeluk selimut dengan erat.


*****


PERHATIAN!


Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊


Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.


Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)


Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.


Terima kasih, semuanya. :*