The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 41



Dengan suasana yang serius, membuat suasana berubah menjadi tegang. Eggy seperti masuk ke dalam sebuah ruangan intrograsi yang membuat dirinya tak bisa berkutik dan hanya dapat menjawab apa pun yang seharusnya ia jawab.


Ia tak dapat mengelak dari semua pertanyaan kedua orang tuanya, terutama kepada sang Ayah yang bertanya tentang masalah pribadi yang belum mereka ketahui terhadap Eggy.


"Aku memang berbohong!" ungkap Eggy.


"Kenapa, Eggy? Kenapa kau tega membohongi kami?" tanya Ibunya.


"Maafkan aku, Mi. Tapi kali ini aku benar-benar mencintainya. Sungguh!" jawab Eggy.


"Tak bisa! Kau harus bercerai dengannya. Apapun alasannya kalian harus bercerai!" tegas Ayahnya, lalu iapun pergi meninggalkan Eggy begitu saja.


"Eggy, mohon dengarkanlah perkataan papihmu. Bercerailah dengannya, sebelum semuanya terlambat," kata Ibunya.


"Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dia masih istriku dan butuh perawatan," sahutnya.


"Mami bangga mempunyai anak laki-laki yang mempunyai tanggung jawab penuh sepertimu. Tetapi di balik itu mami kecewa karena kau telah berbohong pada kami tentang latar belakang istrimu, dan itu tidak bisa ditoleransi," jelas Ibunya.


"Kalau begitu aku akan bercerai dengannya, lalu aku akan meninggalkan semuanya. Termasuk keluargaku."


Mendengar ucapan Eggy seperti itu, membuat ibunya terkejut dengan keputusan yang di pikirkannya secara singkat seperti itu.


"Kau lebih memilihnya dibanding keluargamu sendiri? Sedangkan dia tidak mengingatmu sama sekali."


"Lebih baik seperti itu. Karena selama ini aku memang hidup sendirian," kata Eggy. "Jangan khawatir, Mi. Aku masih tetap anak Mami," tambahnya.


Lalu ia pun langsung pergi meninggalkan ibunya tanpa berkata pamit apa pun lagi dengannya.


Dalam pikiran Eggy, mungkin aku adalah segalanya. Namun kedua orang tuanya menginginkan Eggy menikah dengan seorang wanita yang lebih baik, terlahir dari keluarga terpandang dan berada juga.


Sedangkan aku hanyalah orang sederhana yang meminjam uangnya untuk bisnis keluargaku yang bangkrut dan membayar hutang untuk menutupi hutang yang lain.


"Eggy ... Eggy ...!" panggil ibunya, namun Eggy tidak mendengarkan panggilannya.


Setelah Eggy kembali ke kamarnya, ia melihatku yang sedang duduk seraya melihat ke arah jendela. Entah aku melamunkan apa, ada banyak pertanyaan tanpa jawaban yang harus aku pikirkan.


Terdengar bodoh. Namun entah apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku tak bisa melakukan apa pun, aku memang sudah tidak berdaya. Aku bahkan tak percaya bahwa ini kehidupan nyata yang sedang menimpaku. Kuharap ini memang benar-benar mimpi. Kenyataannya tidak.


"Kau sedang apa?" tanya Eggy tiba-tiba berjalan menghampiriku. Membuatku terkejut dan segera menengok ke arahnya.


"Aku hanya berpikir," jawabku singkat yang di susul dengan senyuman simpulku.


Eggy berjalan lebih mendekatiku. Lalu ia pun duduk di sampingku. Aku mulai merasa grogi dan tegang di dekatnya, bukan karena aku merasa takut akan ia sentuh. Namun karena rasa canggung mengetahui bahwa aku tidak mengingat siapa dirinya.


"Apa kau benar-benar tidak ingat aku?" tanya Eggy padaku secara tiba-tiba.


Sontak aku terdiam sejenak, aku bingung dengan dirinya yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Apakah ini hal yang serius, yang saat ini akan aku bahas dengannya.


"Kenapa bertanya seperti itu" tanyaku balik, menghilangkan rasa penasaranku.


"Jawab saja!" sahutnya.


"Mm ... Memang iya aku tidak mengingatmu. Tetapi sekilas aku mengingat kejadian di dekat jendela," jawabku ragu-ragu.


"Ya. Mungkin sebuah rayuan, sebelum melakukannya," tambahku dengan rasa malu.


"Apa kau ingat itu?" tanya Eggy dengan rasa senang.


"Tidak seluruhnya. Namun sekilas aku mengingat itu," jawabku.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Perasaan yang mana? Apakah perasaan saat mengingat itu?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Perasaanmu saat ini."


"Ya ... Bagaimana lagi. Aku bingung, dan aku pun tidak bisa memungkiri bahwa aku memang merindukan Raihan," jawabku dengan jujur.


"Kalau begitu, mari kita berpisah!" kata Eggy.


"A-apa? Berpisah? Maksudmu kita bercerai?" tanyaku dengan amat sangat terkejut.


"Ya9" jawabnya. "Bukankah itu yang kau mau?" lanjutnya.


Sekilas aku pun mengingat dengan kata 'Cerai' itu. Aku mencoba mengingat-ingatnya kembali dengan keras agar aku dapat mengambil keputusan yang benar.


"Apa itu keinginanku?" tanyaku balik.


"Jadi kau tak ingin bercerai?" tanya Eggy mengabaikan pertanyaanku.


"Maksudmu apa? Bukankah kau menikahiku karena kita saling suka dan saling cinta? Lalu kenapa aku ingin bercerai denganmu?" tanyaku yang masih kebingungan.


"Karena kau masih memilih Raihan." jawab Eggy tanpa beban.


"Apa? Benarkah?"


Aku tak percaya bahwa aku akan bercerai untuk memilih Raihan kembali. Lalu, kenapa aku menikahinya jika aku masih mempunyai perasaan padanya?


"Akan aku percepat prosesnya!" kata Eggy yang mengabaikan semua pertanyaanku.


"Kau memang tidak berubah. Tetap saja mengabaikanku," kataku kesal.


"Apa kau mulai ingat?" tanya Eggy dengan nada yang susah berubah menjadi berat.


"Sedikit," jawabku singkat.


Lagi-lagi aku tidak bisa seperti dia yang selalu mengalihkan pembicaraan dan mengabaikan pembicaraan yang lain.


"Kuharap kau tak pernah mengingatnya," ucap Eggy. Lalu ia pun pergi begitu saja meninggalkanku sendirian di kamar.


"Ada apa denganku? Kenapa aku tidak mengingat semuanya?" tanyaku pada diri sendiri. Aku pun kembali menatap ke arah luar jendela dengan menambah pikiranku saat ini.