The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 92



Terlihat aku, Eggy dan Fadhla sedang berkumpul di ruang tengah untuk bermain suatu permainan. Aku dan Eggy pun sudah menghabiskan makanan yang dibawakan oleh Fadhla. Jadi, saat ini kita akan bermain sesuatu.


"Jadi, kita mau main apa?" tanyaku berantusias.


"Lempar botol," jawabnya.


"Sakit! Bahaya," sahut Eggy terkekeh.


"Bukan gitu maksudnya. Aku ganti nama deh. Kalau putar botol bagaimana? Jika ujung botol ini tertuju pada kalian, maka kalian harus memilih kejujuran atau tantangan," jelas Fadhla.


"Ah, permainan seperti itu."


"Gimana?"


"Oke."


"Aku mulai!"


Fadhla pun memulai memutar botol itu di meja. Kemudian ujung botol itu tertuju kepada Eggy. Berarti Eggy harus memilih antara kejujuran atau tantangan.


"Kena kamu, Eggy."


"Langsung aja."


"Mau pilih yang mana? Tantangan atau kejujuran."


"Kejujuran."


"Oke. Aku serahkan pertanyaan ini kepada Bulan. Biar dia yang bertanya. Silakan, Bulanku," kata Fadhla. Sontak aku terkejut mendengarnya seperti itu.


"Eh, kok aku?" tanyaku panik.


"Kamu dulu. Ladies first," sahutnya.


"Mm ... oke deh."


"Silakan."


"Ini tentang hubungan kita. Apakah jika kamu tidak menikahi anak bos itu, kamu akan benar-benar bangkrut?" tanyaku pada Eggy.


Sejenak Eggy terdiam. Mungkin dia berpikir.


"Kamu harus jujur, Kak," lanjutku.


"Bangkrut atau tidaknya, aku tidak tahu. Yang pasti, jalan keluarnya adalah bekerja sama dengan perusahan itu. Syaratnya aku harus menikahi anak bos itu," jawab Eggy terlihat seperti apa adanya.


"Apa dia gak laku, Kak, sehingga dia ingin menikah dengan Kakak?" tanyaku dengan polos.


Spontan Fadhla tertawa. "Hahaha. Gak laku? Ya ampun! Gimana ya jelasinnya. Sebenarnya bukan gak laku juga," kata Fadhla.


"Lalu apa?" tanyaku kebingungan.


"Anak bos itu sebenarnya dia orang rumahan. Jarang keluar, kenalan dia orang luar semua. Jika pun memang niat, dia sudah pasti menikahi orang lain. Bukan Eggy," jelas Fadhla.


"Lalu, hubungannya apa? Kok kayak yang kukuh pengen jadi istri suami orang?"


"Nah, itu dia. Mungkin yang harus menjelaskan hal ini ada Eggy sendiri padamu. Aku tidak mau cerita. Takutnya salah," kata Fadhla. Aku semakin dengan kisahnya.


"Ayo, Kak. Jelaskan. Ceritakan padaku," pintaku.


"Sebelum menikah denganmu, aku dan dia sudah dijodohkan terlebih dulu. Aku dan dia tidak begitu dekat, tetapi sudah saling. mengenal. Namun aku memilih menikahimu," jawab Eggy.


"Kenapa dijodohkan?" tanyaku.


"Karena alasan bisnis," jawabnya.


"Jadi sebelumnya kalian berdua sudah tunangan?"


"Tepatnya seperti Itu. Maka dari itu perusahaan dia memutuskan kontrak kerja samanya dengan perusahaan kita. Awalnya sih baik-baik saja, tidak ada masalah. Namun semakin kemari, perusahaan semakin anjlok. Rasanya ada mata-mata dan orang suruhan yang sengaja menyusup ke perusahaan untuk menghancurkan perusahaanku dan membuatku bangkrut," jelas Eggy.


"Apa? Masa sih? Sampe segitunya ya?" tanyaku tak percaya.


"Ini serius."


"Beneran? Tapi kok rada aneh ya," heranku.


"Menurutki, dia sudah terlalu cinta kali sama Eggy," sahut Fadhla.


"Terlalu cinta sampai menunggu peceraian tiba, namun sebelum perceraian itu terjadi, perusahaan memang sudah anjlok," sahut Egyy.


"Mungkin hanya itu cara satu-satunya untuk mendapatkanmu," kata Fadhla.


"Apa kalian berdua tidak curiga dengannya?" tanyaku.


"Curiga apa?"


"Bisa jadi anak buah c bos itu yang melakukan ini kepada kalian. Bisa jadi mereka yang menyuruh anak buah mereka untuk menyatobase perusahaanmu, Kak. Agar perusahaanmu bangkrut dan mereka datang sebagai pahlawan untuk. membantumu kembali, dengan syarat harus menikah dengan anak mereka. Aku rasa, mau ada masalah skandal atau tidak dengan Raihan di masa laluku, menurutku itu tidak berpengaruh. Tetap saja mereka akan meminta Kakak untuk bercerai dan menikahi anaknya itu. Benar, 'kan?" jelasku dengan panjang lebar.


Eggy dan Fadhla sejenak terdiam.


"Aku pun memiliki pemikiran yang sama denganmu. Hanya saja untuk saat ini, aku tidak tahu siapa yang menjadi pelakunya. Karena belum ada bukti apa pun yang kuat—yang bisa menyalahkan atau. mencurigai mereka," sahut Eggy.


"Lalu, jika ini memang sekadar karena bisnis, kan anak bos itu bisa menikahi Fadhla yang masib jomlo? Lalu mengapa ingin menikahi Eggy, yang jelas-jelas masih beristri. Terkesannya nanti malah jadi pelakor, perebut laki orang," kataku kesal.


Aku tidak menyadari bahwa aku akan sekesal ini ketika membahas wanita yang ingin menikah dengan Eggy. Rasanya aku ingin marah saja setiap membahas tentang dia.


"Apa saat ini kamu gak rela jika Eggy menikah lagi?" tanya Fadhla padaku.


Sejenak aku terdiam.


"Sudah aku duga. Kamu labil dan plin-plan, Bulan," lanjut Fadhla.


"Bukan begitu. Aku hanya kesal saja padanya," alasanku.


"Yang pasti, dengan menikahinya aku akan tahu tentang masalah perusahaan," kata Eggy.


"Lalu setelah kamu menikah, aku akan tinggal di mana?" tanyaku kepada Eggy.


"Untuk masalah tinggal, aku sudah memberi rumah, bukan? Rumah kamu tinggali selama ini, itu adalah rumahmu," jawab Eggy.


"Ah, yang saat ini kita tinggali itu ya? Itu benar-benar rumahku?" tanyaku pada Eggy.


"Belum sih. Masih atas namaku. Akan aku ganti atas namamu, akan aku proses. Supaya jika aku menikah dengan anak bos itu, dia tidak memiliki hak untuk mengambilnya," sahutnya padaku.


"Serius, Eggy?" tanya Fadhla terkejut.


"Ya."


"Pemikiranmu bagus juga. Aku suka. Apa perlu bantuanku?" tanya Fadhla.


"Gak usah. Aku akan mengurus surat-surat peralihan nama," jawab Eggy.


Terlihat mataku mulai berkaca-kaca, kemudian secara tak sadar aku menangis di hadapan mereka. Eggy dan Fadhla mulai kebingungan dengan diriku.


"Mengapa kamu menangis?" tanya Eggy.


"Aku merasa terharu, Kak. Aku akan diberikan rumah? Setelah apa yang sudah terjadi, aku merasa tidak pantas mendapatkannya. Aku merasa malu mendapatkannya, Kak," jawabku dengan air mata yang pecah.


"Jangan sedih! Itu adalah bagian dari hakmu," sahur Eggy.


"Apa kamu gak niat memberikanku rumah juga, Kak?" tanya Fadhla kepada Eggy.


"Enggak. Kamu lelaki. Seharusnya kamu berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang belum kamu capai. Apalagi kamu akan mempunyai perusahaan sendiri, jadi kamu gak perlu dikasih apa-apa dari orang lain, apalagi oleh keluarga. Yang ada rasa malu."


"Cuma bercanda doang kok, dianggap serius," kata Fadhla cemberut. "Lanjut main lagi lah. Bulan, jangan banyak menangis. Air matamu bisa habis nanti," lanjur Fadhla. Mendengarnya berkata seperti itu, aku pun langsung terkekeh. Permaian putar botol pun dimulai kembali.