
Saat sudah tiba di rumah, Eggy sudah mengganti pakaiannya dan aku pun juga begitu. Aku masih melihatnya murung, wajahnya tidak berkrepresi seperti sebelumnya. Ekspresinya sama seperti hari-hari biasanya, namun ini berbeda.
Kemudian aku mulai menawarinya sesuatu karena sebelumnya ia merasa sangat lapar.
"Kau ingin makan apa? Biar aku masakan," tanyaku padanya.
"Tidak perlu!" jawabnya singkat.
"Kenapa, kak?"
"Tak apa," ketusnya.
"Apa karena perbincangan barusan?"
"Jangan salah paham."
"Lalu apa?" tanyaku sambil menaikan nada suaraku.
Aku mulai marah padanya, karena ia tidak konsisten dengan ucapan sebelumnya. Aku seperti tidak dihargai, sama seperti sebelumnya. Namun yang ini membuatku sangat sakit.
"Ada apa denganmu, kak? Apa kau kecewa karena aku lebih memilih Raihan daripada kau? Apa kau marah karena aku lebih mencintainya daripada kau? Jawab aku, kak!" kataku dengan meluapkan semua rasa emosiku padanya.
Sungguh aneh! Benar-benar aneh. Apakah aku salah, jika perasaanku lebih besar pada Raihan dibanding padanya?
"Aku tidak ingin makan, karena ini sudah larut malam, dan itu tidak baik bagi kesehatan. Kau tidak lihat sekarang pukul berapa? Jam 11 malam," jelasnya panjang lebar.
Aku tidak malu karena aku marah-marah dan membahas hal itu, namun aku marah padanya karena ia tidak pernah bicara apa pun tentang perasaannya. Yang kutahu, dia hanya merespon apa pun yang kurasakan, tanpa kutahu bagaimana perasaannya.
"Hanya itu alasanmu?" tanyaku heran.
"Ya," jawabnya singkat.
"Ck!" aku pun berdecak, lalu pergi dari kamarku meninggalkannya sendirian.
Aku berjalan ke kamar tamu. Di sana aku menangis, menyesali semuanya. Jika aku tahu hal ini akan merubah semuanya, lebih baik aku diam saja dan jalani hubungan ini sampai perceraian nanti.
"Kenapa aku bicara jujur padanya? Kenapa?" tanyaku pada diriku sendiri seraya menangis.
Aku tidak bisa berpikir solusi, harus bagaimana aku jalani hari-hariku selanjutnya. Aku merasa malu dengan diriku sendiri.
"Bodoh! Aku memang bodoh. Aku memang labil, benar-benar bodoh."
Aku terus saja menyalahkan diriku sendiri, sampai akhirnya aku pun tertidur di sana.
AUTHOR POV
*Di kantor, ruangan Direktur.
"Selamat pagi, pak!" sapa Irani saat kedatangan Eggy masuk ke ruangannya.
Eggy terlihat memasang raut wajah yang sangat jutek. Mungkin karena permasalahannya dengan Bulan membuatnya tidak mood.
"Pagi kembali," sahutnya. Lalu ia pun segera duduk di kursinya.
"Hari ini mau di buatkan kopi, teh atau susu?" tawar Irani.
"Ketiganya!" jawab Eggy.
Irani kebingungan. "M-maksudnya?"
"Apa harus saya jelaskan lagi?" cetusnya.
"Ah, tidak, pak. Baiklah. Ketiganya akan saya buatkan," sahut Irani.
Lalu Irani lekas pergi ke ruang OB. Dia masih merasa bingung dengan sikap Eggy. Ada apa? pikirnya. Saat sudah di sana, Irani mencari kopi, gula, teh dan juga susu.
Tak lama kemudian, seseorang datang menghampirinya.
"Sekretaris Irani, sedang apa?"
Irano terkejut. kemudian dia menengok ke arahnya.
"Eh, Manager. Aku sedang membuatkan sesuatu untuk Pak Direktur," jawabnya.
"Iya. Ini kopi, teh dan susu," jawab Irani.
"Apa ada pertemuan khusus?" tanya Raihan penasaran.
"Tidak ada. Aku hanya menawarinya minuman, namun ia ingin semuanya," jawab Irani heran terhadap Eggy.
"Begitukah?"
"Iya."
"Tumben, padahal Pak Direktur tidak suka kopi!" kata Raihan sambil mengambil salah satu gelas dan ia pun memulai meracik kopinya sendiri.
"Benarkah?" tanya Irani, karena memang ia tidak mengetahui tentang hal tersebut.
"Apa kau tidak tahu? Kupikir kau tahu karena dulu kau satu sekolah dengannya dan satu kelas dengannya," jawab Raihan.
"Kok bisa ya, aku sampai tidak tahu akan hal itu," kata Irani dalam hati sambil mengaduk-aduk semua minuman tersebut.
"Tapi jika memang dia menginginkan hal itu, lakukan saja," sahut Raihan.
"Ini sedang kulakukan!" ujar Irani.
Tak terasa Irani pun sudah membuatkan tiga minuman yang berbeda. Raihan merasa heran dengan Irani yang memasukan sesuatu ke dalam salah satu gelas tersebut. Saat ia akan bicara, ia didahului terlebih dulu oleh Irani.
"Kalau begitu saya permisi, Pak Direktur menunggu,"
"Hey ...!" tahan Raihan, namun Irani tidak mendengar. Ia pergi begitu saja dengan terburu-buru. "Baru saja aku akan bilang bahwa gula yang ia masukan adalah garam. Dasar sekretaris yang ceroboh!" lanjut Raihan. Lalu ia pun mulai menyeruput kopi racikannya sendiri.
Sruuutt...
Spontan Raihan mengeluarkan kembali seruputan kopinya. Ia mengeluarkan lidahnya berulang kali, sambil mengecap-ecap lidahnya.
"Sialan. Aku sama cerobohnya dengan dia. Kopi asin!" gerutu Raihan.
Kemudian Raihan pun membuang kopi tersebut ke wastafel.
"Gara-gara Irani, aku jadi melamun. Salah ngambil kan jadinya!" gerutunya lagi.
Lalu ia kembali membuat kopi yang baru lagi. Sungguh konyol!
*****
**Note:
Halo semuanya. Maafkan aku karena updatenya kelamaan ya. 😢
Aku sibuk dengan dunia nyataku. Merevisi banyak naskah, dan ikut banyak event juga.
alhamdulillah ada dua karya yang terbit fisik lewat penerbit indie:
Lily Alexander
KENDA
Untuk cerita The Moon Of Love With You, TIDAK AKAN terbit fisik. karena aku akan fokus lagi nulis di sini. Aku akan meneruskan cerita ini, karena cerita ini masih panjang. Sangaaaaattt panjang.
Aku kasih bocoran sedikit untuk kalian, bahwa Novel ini akan ada beberapa Season nantinya. Jadi tetap pavoritkan cerita ini ya. 😊
Tetap support aku untuk nulis di sini. Aku akan produktif untuk sering update selama sebulan full. Dimulai seminggu ke depan, tepatnya bulan depan kali ya. 😁
Tunggu update selanjutnya ya. aku akan update habis-habisan untuk kalian.
I Love You, Readers.
Salam, Author gaje
Lani Nurohmah**