The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 44



"Kalau boleh saya tahu, Anda siapa ya? Maaf. Saya tidak begitu ingat Anda." Aku langsung saja bertanya hal itu. Karena untuk saat ini aku sangat lemah mengingat seseorang. Namun saat melihatnya, memang terasa tidak asing lagi bagiku.


"Rupanya kamu juga melupakan mertuamu, ya."


"Apa?"


Tunggu! Mertua? Jadi dia ... mertuaku? Aku bahkan tidak percaya ini. Sejak kapan? Kapan? Astaga! Rasanya aku mulai muak dengan ingatan yang hilang ini.


"Apa ini serius? Kamu terkejut?" Dia terkekeh melihatku kebingungan seperti ini.


"Maafkan aku, Ibu ... Mama ... mertua." Bingung jadinya aku mau bilang apa.


"Kamu tahu, kenapa kamu bisa menikah dengan Eggy?" tanyanya.


Bagaimana kutahu? Aku saja tidak ingat apa-apa. Bahkan pernikahan ini, aku tidak ingat sama sekali. Aku pun menganggukkan kepala sebagai tanda jawaban, bahwa aku tidak tahu.


"Saya tidak tahu kapan kalian menikah. Saya hanya diberitahu bahwa kalian sudah menikah, saat saya sedang berada di luar kota."


"Tunggu! Kenapa? Apa saya dan Eggy menikah lari?" tanyaku kebingungan. Ini memang tidak beres. Benar-benar tidak beres.


"Saya tidak ingin banyak bercerita tentang masa lalu. Syukur jika kamu tidak ingat. Sebaiknya kamu cerai saja dengan anak saya. Anak saya sudah cukup menampung kamu selama ini. Selama kamu menikah, kamu juga tidak punya anak. Untuk apa dipertahankan? Kamu hanya akan membuat nama keluarga Andalas menjadi jelek, karena skandalmu dengan mantan pacarmu itu."


"Aku ... benar-benar tidak mengerti. Kenapa? Kenapa?"


Ini membuat kepalaku sangat sakit. Sakit sekali. Aku masih ingat betul, bahwa aku masih bersama dengan Raihan. Kami bertengkar dan lalu ... lalu aku kecelakaan.


"Saya harap kamu dapat segera pisah dengan anak saya. Itu lebih baik."


"Saya pun tidak ingat, Ma. Yang saya ingat hanya Raihan. Raihanlah yang akan menikah denganku. Dan itu sudah direncanakan."


"Jika begitu, menikah saja dengan dia. Berpisahlah dengan Eggy. Bagaimana pun caranya!" perintahnya.


Aku tidak mengerti dengan jalan cerita ini. Drama apa yang sedang aku lakukan saat ini. Ini di luar dugaanku.


"Apa Mama yakin?" tanyaku memastikan.


"Kamu tidak mau? Mau tidak mau, kamu harus bercerai. Bikin malu saja."


Kalimat itu, membuat perasaaku sakit. Aku bahkan tidak mengerti, aku melakukan aib apa dengan keluarga Eggy? Skandal antara aku dan Raihan? Kenapa disebut skandal? Bukankah kami memang pasangan kekasih? Apakah Eggy ....


"Apa yang aku perbuat dengan Raihan, bukanlah skandal. Dia memang kekasihku. Aku masih mengingatnya."


"Terserah kamu bilang apa. Semua orang di kantor sudah tahu tentang perselingkuhan kamu."


"Nama baik Andalas diambang kehancuran. Perusahaan yang dijalankan oleh anakku juga diambang kebangkrutan. Semua itu gara-gara kamu!" tegasnya. Wanita yang mengaku mertuaku itu segera pergi begitu saja, selepas mengeluarkan kalimat yang tak mengenakan itu.


Aku berjalan dengan sangat lemas. Ini benar-benar di luar dugaan. Sungguh!


"Aku ... aku tidak menyangka. Apa yang sudah aku lakukan di masa lalu, sebelum aku hilang ingatan?" gumamku terus bertanya-tanya tanpa henti.


Aku ingat, keluargaku pasti tahu masalah ini. Ya. Selain keluarga Eggy, pasti keluargaku tahu hal ini.


Segera aku pergi ke kamar. Aku mencari di mana letak ponselku. Kemudian aku mencari nomor keluargaku. Setelah kudapat, aku langsung saja menghubunginya.


Masih menunggu jawaban.


Lalu ...


"Halo!"


"Ha-halo. Ini dengan Bulan, Ayah."


"Ada apa?" tanyanya.


Nadanya terdengar sangat malas. Ada apa dengan Ayah?


"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan. Ini masalah dengan keluarga Eggy. Aku ingin bertanya perihal ingatanku itu."


"Apa lagi, Bulan? Kamu mau tahu apa?"


"Kapan aku menikah dengan Eggy? Ayah pasti tahu."


"Beberapa tahun yang lalu. Sudah lama."


Seketika aku sangat terkejut dengan pernyataannya. Rupanya benar. Aku dan dia sudah menikah. Ini masalah besar.


"Apa keluarga Eggy tidak tahu pernikahan kami?"


"Kamu kenapa banyak tanya? Istirahat saja dulu. Jangan banyak tanya masa lalumu.  Sudahlah. Ayah sibuk." Dia pun menutup teleponnya sebelah pihak.


Aku merasa diabaikan  oleh Ayahku. Dari suaranya sudah terdengar aneh. Dia seakan tidak peduli terhadapku. Kenapa ini? Kenapa dia bersikap seperti itu?


Aku muak dengan ini. Air mataku mulai menetes membasahi pipi ini. Sakit. Aku tak bisa membayangkan bahwa aku akan menjalani kehidupan ini sendirian. Dengan semua masalah yang sama sekali aku tidak tahu dari mana asalnya. Semoga saja, semua hal ini dapat kuatasi. Aku harus kuat menghadapi semuanya.


Terlintas dalam pikiranku, aku merindukan sosok Raihan. Aku ingin mencurahkan semua ini padanya. Segera.  Apakah aku harus mencarinya? Tapi aku tidak ingat dia berada di mana. Oh, Tuhan! Tunjukkan lah jalan, apa yang harus lakukan?