
Kini aku dan Eggy sudah berada di rumah orang tuanya.Suasana di sini sangatlah ramai, banyak orang-orang sekeluarga datang kemari. Bukan main, mereka terlihat sangat kaya. Mereka pun berpakaian dengan ciri khas orang-orang konglomerat pada umumnya.
Di halaman rumahnya pun banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di sana. Aku pikir bahwa Eggy memang bukan orang biasa. Pantas jika orang tuaku berhutang padanya, namun kenapa jaminannya aku? Apakah ada sesuatu?
"Bulan. Apa kamu ingat sebutan panggilan kesayangan kita?" tanyanya padaku.
Aku terkejut dengan itu. Panggilan? Apa kita punya nama panggilan? Panggilan kesayangan kah?
"Panggilan apa, Kak?" tanyaku terheran-heran.
"Kamu tidak ingat, ya. Tidak masalah deh. Aku paham. Panggil senyamannya kamu," jelasnya.
"Ah, iya. Baik."
Lagi-lagi aku mengetahui fakta yang tidak sengaja aku hilangkan.
Beberapa orang telah kami lewati, lalu saatnya kini kami menghampiri orang tua Eggy. Aku harus mencoba untuk tenang dan bersantai di hadapan mereka.
"Kamu siap bertemu keluargaku?" tanya Eggy padaku.
Aku menghela napasku. "Aku siap. Huh." Aku membuang napasku dengan kasar.
Setelah aku sampai menghampirinya, aku teringat akan sesuatu. Aku mengenali salah satu dari mereka. Ini tidak mungkin.
"Hei, itu Eggy." Seseorang samar-samar berbicara kepada anggota keluarga yang lain. Namun, pandangan mereka seakan menyimpan rasa tidak suka dengan kedatangan kami. Aku seakan memasuki rumah musuh untuk menyerahkan diri pada mereka.
Tetapi ada seseorang yang tak asing, yang aku kenal. Dia tersenyum senang, tidak seperti anggota keluarga yang lain. Dia terlihat ramah dan langsung menyapa kedatangan kami.
"Halo, selamat datang, Kakakku tersayang!" sapa seseorang sambil memeluk Eggy dengan hangat.
"Kamu apa kabar?" tanya Eggy.
"Baik. Seperti yang Kakak lihat. Aku sehat," jawabnya.
Orang itu ... tunggu! Mana mungkin! Dia ....
"Kamu?" tanyanya menatapku terkejut.
"Ha-hai!" balasku tersenyum simpul.
"Kalian berdua saling mengenal?" tanya Eggy sambil sesekali menatap ke arahku dan ke arah dia.
"Aku pernah bercerita tentangnya padamu, Kak," sahut dia pada Eggy.
Ya. Dia Fadhla. Rupanya Fadhla adalah adik dari Eggy. Astaga. Bencana apa ini? Aku benar-benar tidak menyangka. Dunia sangatlah sempit.
"Jadi, wanita itu ...." Eggy menggantung kalimatnya. Dia menengok ke arahku dengan pandangan serius.
"Ya, Kak. Kakak kenal dari mana? Aku minta bantuannya, Kak." Fadhla mulai mendekati terlinga Eggy. Dia berbisik ke telinganya. Namun aku tidak tahu dia berbisik apa. Yang aku tahu bahwa dirinya menyampaikan sesuatu.
Eggy mengubah sikapnya menjadi sangat dingin dalam kurun waktu sedetik selepas bisikan itu.
"Perkenalkan, dia Bulan. Istriku." Eggy mengenalkanku pada Fadhla.
Pandangan Fadhla seketika berubah menjadi muram. Aku tidak tahu ada apa dengan mereka berdua. Benar-benar membingungkan.
"J-ja-di, dia istrimu yang kecelakaan itu? Dan hilang ingatan?" tanya Fadhla memastikan.
"Yup. Kamu benar. Dialah orangnya," jawab Eggy.
"Shit!" umpat Fadhla, kemudian dirinya pergi begitu saja meninggalkan aku, Eggy, dan keluarga yang lain.
"Fadhla kamu mau ke mana?" tanya seseorang yang berkumpul di sana.
"Ada apa dengannya?" tanyaku terheran-heran kepada Eggy.
"Dia menyukaimu," sahutnya. Kemudian pergi meninggalkanku dan mengambil segelas minuman di meja. Kemudian dia meminumnya.
Tidak. Mana mungkin? Pertemuan yang dilakukan hanya dua kali langsung suka? Bagaimana ceritanya ini? Sungguh tidak masuk akal. Apa-apaan? Harus bagaimana aku saat ini?
"Kamu duduk bersama Eggy terlebih dulu. Biar nanti Fadhla diurus sama yang lain saja," kata seseorang di sana. Aku tidak ingat siapa dia, aku pun tidak tahu siapa namanya. Ya ampun. Aku pun langsung menghampiri Eggy dan duduk di sampingnya.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Eggy berbalik.
"Ya gak mungkin lah. Aku gak percaya dengan apa yang kamu katakan," jawabku.
"Kamu memang benar kok." Eggy langsung meminum sedikit bir yang tengah ia pegang.
"Serius? Aku nanya beneran lho ini." Aku masih benar-benar kebingungan dengan ini. Maksud dia apa sebenarnya? Aku tidak paham.
"Ya. Aku hanya bercanda," sahutnya datar.
Sumpah ya! Ini Eggy benar-benar buatku muak.
"Seriusan ini. Aku masih bingung." Aku menatap ke arah Eggy dengan pandangan serius.
Eggy memegang tanganku. "Jangan dipikirkan. Aku hanya bercanda," tegasnya.
"Beneran, 'kan?" tanyaku memastikan.
"Iya," jawabnya singkat.
"Tetapi, kenapa dia langsung pergi begitu saja?" tanyaku.
"Dia ada urusan."
"Urusan apa?"
"Aku menyuruhnya," jawabnya singkat.
"Gak nyambung," kesalku.
Eggy mulai menyebalkan kembali. Rasanya aku tak ingin kembali berbicara atau beetanya lagi padanya. Malas.
"Bulan, bagaimana kabarmu?" tanya salah satu keluarga Eggy yang baru saja duduk satu meja dengan kami. Sekilas, aku ingat wajah itu. Aku ingat raut wajah itu, rasanya tidak asing. Namun seperti biasanya, masih terlihat samar-samar aku ingat.
Aku tersenyum. "Baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar Anda juga?" lanjutku.
"Baik. Jangan formal seperti itu. Panggil saja Nenek. Aku nenekmu juga," sahutnya.
"Nenek?" tanyaku mengulang.
"Apakah kamu ingat? Atau melupakan nenek?" tanya wanita paruh baya itu, seperti menyerah.
"Mana dia ingat, Nek," sindir Eggy. Aku spontan menatap serius ke arah Eggy. Namun Eggy mengabaikan pandanganku.
"Maaf, Nek. Rasanya aku tidak begitu ingat dengan Nenek. Maafkan aku, Nek."
Lagi-lagi aku mengecewakan. Eggy semakin menjengkelkan, membuatku malu saja. Apa rencananya membawaku kemari untuk dipermalukan? Jika iya, benar-benar keterlaluan.
"Tidak apa-apa, Nak. Nenek paham. Syukur jika hanya ingatanmymu yang hilang."
"Iya, Nek." Aku tersenyum malu.
Tak lama kemudian, Fadhla kembali datang dan menghampiri kami.
"Bagaimana, Fadhla?" tanya Ibu Eggy kepadanya.
"Kita punya solusi masalah ini," ungkap Fadhla tiba-tiba menyampaikan kalimat itu kepada kami dengan nada yang sangat serius.
Masalah apa? Aku memang tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini. Aneh. Rasanya aku tidak ingin berada di posisi seperti ini. Sangat tidak nyaman sekali. Benar-benar membuatku merasa tidak nyaman. Mungkin hanya aku seorang yang kebingungan dengan masalah keluarga ini. Jalan keluarnya apa? Apakah seseorang bisa membantuku keluar dari zona tidak nyaman ini?
**Note:
Jika kalian ingin mengenalku lebih dekat, bisa langsung masuk grupku di Mangatoon atau silakan kirim inbox ke facebook Lani Nurohmah, atau DM ke IG @nurohmah.lani. Insyaallah aku akan membalas pesan kalian.
Dan untuk yang ingin masuk ke grup Wattsapp-ku, silakan kirim inbox lewat FB atau DM ke IG. Nanti aku kasih linknya.
Terima kasih semuanya. Tetap bersamaku, ya**. :)
Jangan bosam untuk membaca cerita ini, ya**.