The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 68



Terlihat aku sedang merapikan pakaianku untuk dimasukan ke dalam koper. Kini aku harus memastikan bagaimana perasaanku terhadap Eggy. Ini akan menjadi liburan yang cukup menegangkan, setelah kejadian kemarin dia menciumku. Namun, kenapa aku tidak memberontak?


"Apa sudah selesai beres?" tanyanya.


"Iya. Aku sudah beres kok," jawabku. "Lalu, apa kamu sudah?"


"Sudah. Tinggal bawa perlengkapan mandi."


"Berapa hari kita di sana?" tanyaku.


Eggy berpikir sejenak. "Seminggu," jawabnya.


Gila! Lumayan lama juga waktu seminggu. Bakalan ngapain aja di sana?


"Apa tidak kelamaan?" tanyaku berharap Eggy mengurangi hari berlibur.


"Dua minggu juga boleh," jawabnya tidak sesuai pertanyaan.


"Kok malah nambah?" kejutku terheran-heran.


"3 minggu?" tawarnya.


"Sudah lah. Seminggu cukup," sahutku kesal.


"Oke."


Minta dikurangi, malah ditambahin.


Kami pun telah selesai membereskan beberapa pakaian untuk dimasukan di ke dalam koper. Berbagai perlengkapan mandi, dan yang terpenting adalah skincare-ku. Aku tidak mau terlihat jelek di depannya.


Aku dan dia pun segera pergi dengan mobil sport yang dimilikinya.


Di tengah perjalanan, aku sedikit berbincang-bincang dengannya. Rasanya sepi jika aku dan dia saling diam satu sama lain.


"Jadi, apa yang dibicarakan Kakak dengan Fadhla?" tanyaku mengawali pembicaraan.


"Kamu ingin tahu?"


"Maka dari itu aku tanya. Jika aku tidak ingin tahu apa-apa, aku tidak akan bertanya."


"Masuk akal," sahutnya.


"Jawab, Kak!" ujarku.


"Tentang masalah pernikahanku."


"Aku dan kamu? Perceraian itu? Kemudian Kakak akan menikah lagi dengan wanita lain?"


"Itu rencana bodoh." Eggy terkekeh.


"Lalu mengapa kamu menyuruhku menikah dengan adikmu?" tanyaku.


"Jika aku sudah resmi bercerai, maka aku tidak akan bisa menikah denganmu lagi, jika kamu tidak menikah dengan orang lain terlebih dulu," jawabnya.


Rasanya ingin marah setelah mendengar jawaban itu. Namun saat ini aku sedang malas.


Aku terkekeh. "Lucu sekali."


"Apanya yang lucu?" tanya Eggy.


"Rencanamu, Kak. Kedengarannya bodoh. Sangat, sangat bodoh," jawabku mencela.


"Aku akui. Memang itu bodoh."


"Lalu bagaimana dengan ibumu?"


"Apanya?" tanya Eggy kebingungan.


"Dia tidak tahu pernikahan kita. Mengapa? Mengapa dia sampai tidak tahu?"


"Masalah itu."


Sejenak Eggy terdiam. Aku menunggu jawabannya. Namun dia tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya bicara, 'Masalah itu'. Kemudian terdiam begitu saja tanpa melengkapi jawaban dari pertanyaanku.


"Masalah itu apa, Kak? Kok gak jawab sih? Gemes deh, jadinya."


"Kamu menunggu jawabanku?" tanyanya.


"Ya sudah jelas aku menunggu. Makanya aku bicara seperti itu. Kok Kakak menyebalkan sih? Makin gregeten jadinya," sahutku marah.


"Bagus deh. Gregetan salah satu cara agar kamu dapat menyukaiku," ungkapnya.


"Apa?"


"Tidak ada kalimat yang akan diulang."


"Jadi apa?"


"Alasannya, Kakaaaaaaak." Aku jadi gemes sendiri sama dia. Rasanya pengen cekik lehernya, tetapi dia lagi nyetir. Kalau aku melakukannya, bukan hanya dia yang celaka, namun aku pun ikutan celaka. Harus sabar. Tetap tenang, tetap sabar, tetap cantik.


"Karena kita menikah hanya perjanjian, Sayang." Akhirnya Eggy menjawab pertanyaanku dengan benar.


"Kalau boleh, bisakah Kakak menceritakan dari awal sampai akhirnya aku terkena amnesia?" pintaku padanya. Karena aku pun memang penasaran dengan ceritaku pada 3 tahun yang lalu.


"Harus ya?" tanyanya.


"Ya harus dong, Kak. Aku harus mengetahui semuanya. Mungkin hari ini sampai nanti tengah malam nanti, aku tidak akan tidur karena harus mendengarkan cerita dari Kakak," harapku.


"Sampai tengah malam pun cerita itu tidak akan berakhir."


"Masa sih?"


"Terlalu panjang."


"Pangkas dong, Kak."


"Dimulai dari mana?" tanyanya.


"Terserah sih. Aku sendiri bingung."


"Bagaimana tidak bingung, kamu sendiri sudah lupa."


"Ah, iya."


"Kamu ingat sampai mana? Terakhir kali kamu ingat."


Aku berusaha untuk mengingat kenangan terakhir hari ini. Namun aku kesulitan untuk mengingatnya. Tetapi, mungkin saat aku bertengkar dengan Raihan di pinggir jalan itu.


"Terakhir aku ingat, aku bertengkar dengan Raihan di pinggir jalan."


"Lalu?"


"Ya kecelakaan. Setelah itu, aku terbangun dengan kenyataan bahwa aku telah menikah," kataku.


"Sebelum kecelakaan, apa yang kamu ingat?" tanyanya lagi.


"Bentar." Aku memejamkan mataku, berusaha mengingat-ingat kembali sebelum kejadian itu terjadi. Namun rasanya samar-samar. Tetapi sebelumnya aku sudah dilamar oleh Raihan. Mungkin itu saja.


"Aku sedang dilamar Raihan," jawabku.


"Dilamar Raihan, atau dilamarku?" tanyanya berbalik.


"Memang kamu langsung melamarku?"


"Jelas kita taarufan. Bertemu hanya sekali, itu pun saat menjelaskan surat perjanjiannya."


Mendengar kalimat yang diucapkan Eggy, membuatku ternganga dan sulit berkata-kata lagi.


"Haha. Itu bukan taarufan."


"Lalu apa?"


"Entahlah."


"Taarufan gak ada proses pacaran lho. Langsung menikah begitu saja."


"Ya aku tahu."


"Nah, kan."


"Tapi bukan itu maksudnya," ucapku.


"Sama saja, Sayang."


"Tetap beda, Kakak."


"Sama. Jangan ngeles."


"Ya enggak dong. Karena taarufan juga awalnya harus ada ketertarikan dan ikhlas untuk dinikahi."


Tiba-tiba Eggy mengerem mobilnya secara mendadak. Aku terkejut dengan tindakannya.


"Kakak ada apa?" tanyaku.


Dia menatapku. Suasana ini kembali terulang lagi. Aku benar-benar merasa tidak nyaman jika keadaan ini terus seperti ini.


"Untuk saat ini, apa kamu tertarik padaku dan ikhlas dengan keadaan seakarang?" tanyanya.


Pertanyaan itu membuatku terdiam kebingungan untuk menjawabnya. Apa yang harus jawab padanya? Aku bahkan tidak tahu dan kebingungan sendiri dengan pertanyaannya.