
Bulan menangis sendirian di kamarnya. Dia sudah menghabiskan banyak tisu dan berserakan di setiap penjuru kamarnya. Efek orang hamil. Bawaannya memang sensitif. Hal kecil pun bisa jadi hal besar. Wanita hamil jika disinggung sedikit atau merasa sedih saja memang radanya seperti merasakan kesakitan yang sangat luar biasa. Emosi memang kadang tidak bisa stabil.
Tak lama kemudian, Fadhla akhirnya tiba di rumah Bulan. Dia keluar dari mobilnya dan bergegas memencet bel rumahnya. Namun Bulan tidak mendengarkan suara itu, dia tetap diam dan menangis di kamarnya. Lalu karena tak kunjung ada jawaban dari Bulan, akhirnya Fadhla memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya saja tanpa permisi.
Setelah dirinya memegangi gagang pintu, untungnya rumah Bulan tidak di kunci. Maka dari itu Fadhla bisa dengan leluasa ke luar dan masuk rumah Bulan. Fadhla melangkah dan memanggil-manggil namanya. Dia berharap bahwa keadaan Bulan baik-baik saja.
"Bulan! Bulan! Aku sudah datang!" teriak Fadhla.
Masih tidak ada jawaban juga darinya. Dia melihat ada kotak besar dengan dibungkus kado. Dia pikir bahwa itu adalah pasti hadiah untuk Eggy, karena sebelumnya dia berbicara bahwa dia akan memberikan sebuah hadiah kepada Eggy. Lalu dia melangkah secara perlahan menyusuri setiap sudut rumah Bulan. Dia masih belum menemukan adanya Bulan. Sampai akhirnya tiba dia berada di depan kamar Bulan, dia mendengar suara tangisan seorang perempuan.
"Bulan! Apakah itu kamu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Fadhla.
Suara tangisan itu tidak berhenti. Malah semakin menjadi-jadi. Lalu Fadhla mencoba membuka pintu kamar Bulan dan terkejutnya dia ketika melihat kondisi kamar milik Bulan yang berantakan penuh sampah tisu di bawahnya. Lalu Fadhla masuk ke dalam dan merasa khawatir dengan Bulan.
"Ya ampun, Bulan! Ada apa denganmu? Mengapa seperti ini? Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Fadhla kembali.
Bulan membuang ingus secara sembarang. "E-e-gy. K-ka-kak Eggy. Dia ber-sama dengan Adelia di Mall ta-di." Bulan terisak tangis.
"Sedang apa mereka?" tanya Fadhla. Kemudian dia mencari air minum dan dia pun menyajikan air minum itu ke dalam gelas dan di berikan kepada Bulan. "Ini coba kamu minum dulu, ya!" kata Fadhla.
Bulan mengambil gelas tersebut dan langsung. meminumnya sampai habis. Kelihatan banget hausnya. Capek habis nangis.
"Dia memilih gaun pengantin. Terlihat mereka berdua sangat mesra dan seperti sosok sepasang kekasih yang memang akan melakukan pernikahan. Aku merasa cemburu, Fadhla. Aku gak mau hal itu terjadi," jelas Bulan yang masih menangis.
mendengar hal itu, membuat Fadhla. merasa sangat kebingungan. Apa yang harus dia perbuat?
"Bulan, kamu jangan salah paham, ya. Bisa jadi itu Mamiku yang menyuruh mereka. Kamu jangan sedih. Jangan di bawa perasaan. Mungkin kamu salah melihat mereka."
"Enggak, Fadhla. Aku melihat mereka dengan jelas. Mereka gandengan tangan dan ketawa-tawa gitu. Kek orang yang bener pacaran."
"Bulan, dengarkan aku, ya! Kamu jangan terhasut dengan penglihatanmu itu."
"Lalu apa? Apakah bukti itu masih kurang?"
"Gini, mereka kan memang akan menikah. Hanya saja kamu harus mengerti sesuatu, bahwa mereka sedang mencari gaun pengantin. Itu hanya obrolan biasa. Tidak ada yang spesial. Lagian kamu tahu sendiri bukaj, bahwa Eggy pasti setia sama kamu. Dia memiliki perasaan yang kuat terhadapmu. Jadi, kamu jangan khawatir, ya!" jelas Fadhla mencoba menenangkan pikiran buruk Bulan.
Bulan menatap Fadhla sambil terisak tangis. "Benarkah? Apakah Eggy tidak akan tergoda?"
"Aku yakin, Bulan. Eggy bukan orang yang seperti itu. Dia pasti setia sama kamu. Aku yakin itu."
"Mungkin kamu sedang sensitif, Bulan."
"Tapi, aku tidak sedang tidak haid, Fadhla. Aku baik-baik saja. Mana ada orang hamil haid," cetus Bulan.
"Iya karena itu. Bawaan janin," sahut Brian menunjuk ke arah perut Bulan.
Bulan terdiam. "Janin? Janinku? Bawaan bayi, ya?"
"Nah, itu. Mungkin saja karena itu. Apa kamu sudah periksaan kehamilan kamu ke dokter kandungan?" tanya Fadhla.
Bulan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Aku akan mengantarkan kamu ke dokter kandungan besok pagi," kata Fadhla menawarkan dirinya sendiri.
"Aku ingin pergi bersama Eggy," kata Bulan.
Fadhla menghela napasnya. "Baiklah. Nanti aku bicara dengan dia."
"Aku sudah menyuruhnya datang ke rumah. Cuma sampai sekarang dia belum datang juga. Apa dia sedang bersenang-senang dengan Adelian, ya?" cemas Bulan.
"Ya ampun. Baru saja aku bicara jangan berpikiran hal yang tidak-tidak. Udah diulang lagi," kata Fadhla menepuk keningnya.
Bulan memanyunkan bibirnya saja. Dia memang merasa takut jika Eggy berpaling darinya. Apalagi dengan kondisi dirinya yang sedang hamil. Ini bisa jadi godaan bagi dirinya dan juga suaminya itu.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*