The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 65



Tak terasa acara pun telah selesai. Orang tua Eggy seperti enggan menatapku, bahkan merekanpeegi begitu saja tanpa pamit. Menatap pun tidak. Namun biarlah. Tidak masalah. Lalu Nenek masih berdiam di bangku dan sesekali tersenyum padaku saat aku menatapnya. Aku pun membalas senyumannya.


"Eggy, Bulan. Mari ikut ke rumah Nenek sebentar," ajaknya.


"Baik, Nek," kataku.


"Ada apa, Nek?" tanya Eggy.


"Ingin Nenek tanyakan sesuatu," jawabnya.


"Tentang apa?"


"Tentang kalian," sahut Nenek.


Eggy sepertinya merasa cemas dengan pertemuan pribadi ini.


"Ada apa, Kak?" tanyaku pada Eggy.


"Tidak apa-apa."


"Kalau begitu, ayo kita pergi saat ini juga."


Kami berdua pun langsung mengikutinya. Saat berada di dalam rumah Nenek, dia mempersilakan kami untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo kemari, Nak. Duduk bersama Nenek. Sini."


Aku dan Eggy langsung duduk saling berhadapan satu sama lain dengan Nenek.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanyanya.


Aku dan Eggy saling melempar pandangan.


"Seertinya baik, Nek," sahut Eggy.


"Kok sepertinya? Apakah kamu sudah bilang kepada ibumu mengenai pernikahanmu ini?" tanya Nenek kepada Eggy.


"Untuk apa? Itu akan menambah masalah saja."


"Lalu sekarang bagaimana? Apa kamu tidak mau orang tuamu tahu tentang hal ini?" tanya Nenek.


"Tidak perlu, Nek. Lagian kami akan segera bercerai. Jadi Nenek tidak perlu khawatir akan hal itu. Setelah bercerai, tidak akan ada masalah lagi kok," sahutku menyela pembicaraan mereka.


"Kalian berdua akan serius bercerai? Kenapa?" Nenek seakan terkejut mendengar pernyataan itu. Apa aku harus bilang, bajwa aku dan Eggy akan berpura-pura bercerai?


"Untuk menyelamatkan perusahaan, aku harus bercerai dengan Bulan," jawab Eggy.


Jawabannya membuatku terkejut dalam seketika. Jadi, perceraian itu akan terjadi? Bemar-benar dilakukan? Bukan pura-pura lagi?


"Kamu menyetujui keputusan Ayahmu itu, Eggy?" tanya Nenek.


Keputusan apa? Apa hanya aku yang tidak tahu apa-apa tentang ini? Mengapa Eggy tidak bercerita tentang hal yang keluarga mereka bicarakan?


Oke, aku baru sadar. Aku tersadarkan bahwa aku memang bukan siapa-siapa. Mereka berhasil membuatku sadar diri.


"Perusahaan diambang kehancuran. Satu-satunya jalan dengan menceraikan Bulan."


"Bagaimana bisa, Kak? Memangnya solusi apa itu? Kenapa aku harus bercerai dengan alasan itu?" tanyaku kebingungan.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan saat menceraikanku? Apa yang akan membuat perusahaan Kakak terselamatkan?" tanyaku lagi.


"Cerai denganmu, artinya bebas. Kamu bebas menikah dengan mantan kekasihmu. Dan aku pun akan bebas dari masalahmu," sahut Eggy.


"Bagaimana bisa? Apakah aku sangat menginginkan menikah dengan Raihan?" tanyaku.


"Sudah jelas. Jangan banyak membual."


Aku dan Eggy malah bertengkar di rumah Nenek. Sangat memalukan sekali.


"Ya. Aku memang ingin menikah dengan Raihan. Namun jika alasan perceraianmu seperti ini, aku malah terhina."


"Siapa yang menghinamu?"


"Cukup Eggy! Cukup Bulan! Hentikan pertengkaran kalian berdua."


Aku dan Eggy pun saling membuang pandangan.


"Kalian harus tahu, perceraian ini bukan solusi dari semua masalah."


"Yang diinginkan mereka adalah aku, Nenek," tegas Eggy padanya.


"Iya. Namun kamu bisa menolaknya."


"Jika aku menolaknya, perusahaan akan bangkrut dan ditutup. Banyak yang akan disita," jelas Eggy.


"Mengapa mereka menginginkanmu?" tanyaku.


Eggy menengok. Sejenak dia menatapku dengan serius. Raut wajahnya seperti menahan sesuatu, tetapi dia tak dapat mengungkapnya.


"Apa yang dibicarakan Ayah, Fadhla dan kamu saat acara kumpul keluarga itu?" tanyaku lagi penasaran.


"Bukan urusanmu, Bulan."


Aku berdecak. "Ck. Kenapa? Kenapa aku tidak boleh tahu?" tanyaku.


"Aku harus menikahi seseorang dari anak mereka. Itu solusinya. Kamu puas dengan jawaban itu?" jelas Eggy.


"Eggy! Apa-apaan kamu?" sentak Nenek terkejut mendengar pernyataan itu.


"Itu fakta, Nek. Apa yang harus aku lakukan? Bahkan jika aku bercerai dengan Bulan, aku tidak bisa kembali padanya. Mungkin dia sudah menikah dengan Raihan," kata Eggy penuh emosional.


"Kakak akan menikah dengan siapa?" tanyaku lemas.


Entah mengapa mendengar kenyataan itu, perasaanku terasa sakit. Aku merasa ingin dirinya pergi, ingin rasanya aku menahan itu, tetapi sulit. Sulit untuk aku tahan.


"Sudah aku jelaskan. Apa kamu tidak mendengarnya?" tanya Eggy ketus.


"Eggy, kamu tidak boleh melakukan ini. Kamu harus lihat Bulan. Dia masih sakit, hilang ingatan. Bagaimana jika ingatannya kembali dan dia menyesal menyetujui itu. Pernikahan bukanlah mainan."


"Apa Nenek berpikir bahwa aku dan Bulan menikah dengan serius? Kami juga main-main, Nek. Hanya dalam perjanjian untuk mendapatkan saham dan perusahaan. Kemudian selesai. Itu saja," jelas Eggy.


Kini aku mengetahui satu rahasia di masa laluku. Aku tahu alasanku menikah dengannya. Bukan semata-mata hutang terlunaskan saja, namun ada hal lain pula. Aku benar-benar dimanfaatkan. Aku hidup di dunia untuk dimanfaatkan secara terang-terangan. Sangat kejam. Ingin rasanya aku marah dan berteriak, namun aku tak sanggup. Aku tak ingin melakukannya. Ini terlalu sakit dan berat.