The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Episode 66



Beberapa hari yang aku lalui bersama Eggy, membuatku menguras hati. Betapa menyakitkannya kehidupanku di masa 3 tahun itu. Rupanya sejak 3 tahun itu aku banyak menderita dengan pernikahan ini. Apa lagi aku sangat syok ketika mengetahui bahwa aku melakukan skandal secara terang-terangan di depan umum, sampai yang lain pada tahu. Memalukan.


Mengetahui bahwa pernikahanku seperti itu, aku benar-benar sudah tidak memiliki harga diri lagi. Untuk apa aku mempertahankan harga diri ini lagi? Sedangkan yang lainnya sudah menganggapku tidak ada harganya. Konyol. Kehidupan ini sangatlah lucu.


"Kalau begitu, ceraikanlah," ucapku lemas dengan menahan kegondokkan ini dalam batin.


"Kamu harus bersama Fadhla," ucap Eggy.


Aku terkejut mendengar itu. Memangnya dia pikir aku apa?


"Maksudnya?"


"Menikah dengan dia untuk sementara."


Sontak aku berdiri. "Apa yang kamu katakan? Memangnya aku apa? Kenapa aku harus menikah dengannya? Aku bukanlah mainan. Aku punya perasaan. Kamu pikir dengan menikah dengannya, dan kamu menikah dengan orang lain, semuanya akan baik-baik saja? Begitu?" ucapku meluapkan semua emosiku.


"Mau kamu apa?" tanya Eggy.


Aku terdiam dengan pertanyaan itu. Jujur saja, aku sendiri tidak tahu dengan apa yang aku inginnkan.


"Cukup, Eggy, Bulan. Sudah cukup! Kalian jangan bertengkar. Kalian sudah dewasa. Berpikirlah untuk dewasa. Jangan memakai emosi kalian. Pikirkan jalan keluar untuk masalah ini, pikirkan solusinya agar kalian tetap bersama."


"Dia tidak mengingat kita, Nek. Bagaimana bisa dia hidup dengan kita? Dia menganggap kita asing. Dalam pandangannya, kita itu orang asing," kata Eggy.


"Kakak. Jangan desak aku. Jangan memojokkanku. Ini bukan kemauanku untuk hilang ingatan. Aku tidak ingin seperti ini, namun aku harus bagaimana? Harus bagaimana aku menjalaninya? Bagiku juga ini sangatlah berat. Bukan kah kamu tidak pernah merasakan, betapa sulitnya menjadi aku? Saat kamu mengatakan bahwa aku adalah istrimu, perasaanku hancur. Aku tidak percaya pada kenyataan. Namun aku harus tetap percaya, aku terpaksa percaya pada semua cerita itu bahwa aku memang sudah menikah. Apakah aku sudah punya anak? Entahlah. Kurasa aku tidak memilikinya, aku tidak melihat ada seorang anak di sana. Dan aku sangat berharap bahwa aku tidak memilikinya darimu. Jika aku memiliki anak darimu, apa yang harus aku katakan padanya? Apa aku harus berkata bahwa, 'Nak, aku tidak mengingatmu. Aku bukan ibumu'. Lalu apa yang akan dirasakannya? Hanyalah kesakitan dan kepahitan, 'kan?" ungkapku dengan panjang lebar. Air mataku pecah seketika membicarakan hal itu. Sungguh aku tak dapat menahan kesakitan ini. Sampai kapan aku akan tetap tidak ingat apa pun? Sampai kapan?


"Bulan, Bulan. Tenangkan dirimu. Tenangkan. Jangan menangis," ucap Nenek.


"Jawabanmu tidak sesuai dengan pertanyaanku, Bulan," sahut Eggy.


Aku mengernyitkan dahiku. Ingin rasanya aku menampar wajahnya dengan keras, tetapi aku tidak bisa. Aku lemah.


"Aku ingin ingatanku kembali," jawabku.


"Lalu setelah kamu ingat, bagaimana?"


"Akan aku beritahu. Jika kamu mengingat semuanya, kamu akan menderita karena harus merelakanku menikah dengan orang lain. Lalu, kamu menerima kenyataan bahwa perceraian kita karena alasan skandal kamu dengan mantan pacarmu. Bukan karena urusan pekerjaan. Kamu akan menanggung semua itu sendirian," jelas Eggy.


"Apa bedanya jika ingat atau hilang ingatan? Dua-duanya akan berlaku sama."


"Memang. Namun pada saat kamu ingat, kamu sudah mencintaiku," sahutnya.


Aku terdiam mendengar kalimat darinya. Tak bisa aku bayangkan jika aku memang sudah mencintainya. Namun hal ini membuatku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menjalaninya? Apa jalan keluarnya?


"Nenek tidak ingin kalian pisah. Jangan sampai ibumu tahu masalah surat perjanjian itu. Jangan sampai. Kalian harus tetap bersama, Nenek tidak akan menganggap cucu menantu selain Bulan. Kalian harus bertahan, bagaimana pun caranya."


"Sudah tidak bisa diselamatkan, Nek."


"Nenek tidak ingin kamu dimanfaakan oleh mereka. Nenek tahu rencana mereka apa," ucap Neneknya.


"Apa yang Nenek ketahui tentang mereka?" tanya Eggy penasaran.


"Ini sangatlah rumit, Eggy. Nanti akan Nenek ceritakan jika masalah kalian sudah selesai. Maka dari itu, kalian harus mencari solusi terlebih dulu untuk masalah kalian, tanpa perceraian," sahutnya.


"Baiklah."


Aku dan Eggy memutuskan untuk tidak membahas tentang perceraian di hadapan Nenek lagi. Aku dan dia segera pergi untuk pulang. Pembahasan itu tidak berhenti di sana juga. Kami melanjutkan pembahasan itu di dalam rumah.


Sepertinya ini akan menjadi pembahasan yang sangat panjang. Melelahkan sekali. Setelah mendengar banyak hinaan dari orang tuanya, kemudian banyak drama yang dilakukan, lalu masalah ini harus diselesaikan sekarang juga. Baru saja hari kemarin aku merasa sangat bahagia dengan menikmati refresing berbelanja ke Mall. Menikmati udara di luar dan bersenang-senang sendirian. Tepatnya bersama seseorang yang ternyata bahwa itu adalah adik Eggy. Dunia memang sempit.


"Aku tidak ingin membahasnya di rumah," ucapku pada Eggy. Sepertinya aku harus mencoba pergi keluar bersamanya.


mendengarku berkata seperti itu, Eggy menatapku serius. Aku pun terdiam kaku.


*Note:


Jangan lupa untuk baca cerita terbaruku yang berjudul 'Pernikahan Rahasia Untuk Belajar, ya. Terima kasih. Semoga kalian suka.