
Aku masih menonton film horor itu, bahkan sudah memasuki endingnya. Aku merasa sangat antusias dengan adegan-adegan dalam film itu. Begitu menyeramkan, cukup tegang, membuatku sedikit ketakutan dan seperti nyata saat aku menontonnya. Ketika aku sudah menonton film sampai siang, tak lama kemudian Eggy datang kembali lagi tepat pada waktu saat aku merasa lapar.
"Eh, Kakak kembali, ya?" tanyaku.
"Sebentar lagi, surat perceraian kita akan keluar. Kamu mau merayakannya?" tawar Eggy.
Aku terdiam. Aku tidak mengerti, kenapa aku harus merayakan itu dengannya? Aku tahu bahwa surat itu adalah surat palsu. Namun aku merasa kecewa ketika mendengarnya.
"Filmnya benar-benar seru, Kak. Horornya terasa sampai ke tulang rusuk," kataku mengabaikan pertanyaan dari Eggy. Jujur saja. Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu, sekarang rencanamu apa?" tanya Eggy mengalihkan pembicaraan lain.
"Aku merasa sangat lapar. Sebaiknya kita mencari makan saja, Kak."
"Makanan pinggir jalan, atau restoran?"
"Aku ingin makan ramen level 10. Entah mengapa aku ingin makan makanan yang pedas saat ini," jawabku.
"Baiklah. Siapkan diri kamu. Aku akan menunggu di luar, dekat mobil."
"Baik, Kak."
Aku berjalan menuju kamar. Kemudian aku pun langsung bersiap-siap mengganti bajuku, memilih baju yang bagus dan warna yang mencolok, juga tak lupa memakai wewangian dan siap untuk pergi bersama Eggy. Aku kembali menghampiri Eggy. Dia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya. Walau aku tahu, aku merasa bahwa aku membalas senyuman itu secara terpaksa padanya. Mungkinkah setelah surat ini berada di tanganku, aku akan segera berpisah dengannya?
"Sudah, Kak. Ayo kita berangkat!" ajakku sambil membuka pintu mobil.
"Mie ramen, 'kan?" tanya Eggy sekali lagi.
"Ya. Benar."
Eggy menganggukkan kepalanya saja. Lalu dia mulai membuka pintu mobilnya, kemudian aku dan Eggy langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disediakannya.
Eggy menyalakan mobil tersebut. Lalu dia langsung menancapkan gas dan menjalankan mobil tersebut.
Seperti biasanya, di tengah-tengah perjalanan Eggy jarang sekali berbicara. Sekali pun bicara, pasti menanyakan suatu hal padaku. Maka dari itu, aku akan mengawali perbincangan ini. Namun setelah dirasa aku menatap wajah Eggy dengan lama, sepertinya ada rasa sesak di dadaku. Aku mulai merasa gondok ketika mengingat kalimat dmyang keluar dari mulut Eggy mengatakan bahwa surat perceraian itu akan segera turun. Sepertinya aku mulai kacau.
"Mm ... Kak, mengenai perceraian itu, pastinya aku dan kamu tidak bersama lagi, kan? Lalu kamu juga akan menikah dengan anak bos itu. Jadi, nasibku bagaimana? Apakah aku akan bersama dengan adikmu, Fadhla? Apa itu bermasalah ya, kak? Karena kan kamu tahu sendiri bahwa keluargamu tidak akan setuju dengan hal itu," jelasku padanya.
Sontak aku terkejut dengan hal. itu.
"Benarkah, kak? Apakah Kakak memberikanku rumah secara graris?" kejutku.
"Anggap saja sebagai hadiah atau harta gono-gini nanti."
"Aku merasa seperti benar-benar bercerai, ya?" pikirku.
"Memang. Namun hanya sebagai cerai dalam kertas. Bukan benar-benar perceraian. Kamu tetap akan menjadi istriku kok," kata Eggy sambil memegangi tanganku dengan tangan kirinya.
Aku tersenyum. "Semoga saja ini bukan masalah besar. Aku sangat takut jika kita semua ketahuan berbohong dalam perceraian," cemasku padanya.
"Maka dari itu, menikahlah!" perintahnya.
Lagi-lagi aku terkejut mendengar kalimat darinya. Sebenarnya apa yang dia rencanakan saat ini?
"Apa kakak menyuruhku untuk menikahi Fadhla? Seperti apa yang kakak ucapkan waktu lalu?" tanyalu penasaran.
"Jika kamu mau."
"Jadi, untuk menutupi kebohongan, aku harus berkorban juga?" tanyaku.
"Tidak perlu. Itu pun jika kamu mau. Aku tidak memaksamu, dan aku berharap kamu jangan melakukan hal itu," jawab Eggy.
"Maksudnya?"
"Intinya jangan lakukan apa yang aku bicarakan tadi. Paham?" Eggy menatap tajam ke arahku, aku menganggukkan kepala, memberi isyarat bahwa aku paham dengan apa yang dikatakannya. Setelah itu, Eggy kembali fokus ke arah jalanan.
"Maaf, Kak."
"Tidak perlu minta maaf. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, karena aku mempermainkan pernikahan kita demi menyelamatkan bisnisku," kata Eggy dengan sangat jujur.
"Aku tahu, Kak. Aku pun mendukung itu," sahutku.
Ya. Aku memang mendukungnya untuk melakukan itu. Karena aku pikir, ini memang jalan terbaik untuk menyelamatkan usahanya supaya tidak bangkrut. Apalagi saat ini Eggy dan Fadhla sedang menyelidiki kasus penyusupan yang menyebabkan perusahaan Eggy yang harus menanggung banyaknya kerugian. Aku pikir, aku harus membantunya juga untuk masalah ini. Aku yakin bahwa Eggy tidak mungkin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan bersama wanita yang dinikahinya nanti. Aku rasa, dia memang tidak akan melakukannya.