The Moon of Love With You

The Moon of Love With You
Bab 23



Kini aku sudah berganti pakaian dengan memakai dress mini yang sebelumnya kupakai. Sepertinya Eggy mengerti akan selera pakaian wanita. Ia pun memilihkan sepasang sepatu untuku pakai hari ini dan ini benar-benar cocok dengan dress mini yang kupakai. Ia benar-benar tahu selera wanita seperti apa dan ia pun bisa mencocokkan pakaian mana dan sepatu yang mana yang harus dipakai.


Sambil tersenyum, "aku tidak menyangka aku akan secantik ini!" kataku memuji diriku sendiri di depan Eggy.


"Kamu memang cantik!" ucap Eggy dengan lembut.


Hari ini Eggy berhasil membuatku melupakan semua kekesalanku dan kemarahanku saat ini. Dengan membawaku ke butik ini, seakan ia sengaja untuk menghiburku dari kemarahan yang kuperlihatkan padanya.


"Apa kamu sengaja?" tanyaku.


"Sengaja berkata kamu cantik?" tanyanya balik.


"Bukan itu. Maksudku kamu membuatku terhibur dan aku tidak merasa marah lagi denganmu atau dengan masalahku. Terima kasih!" jelasku padanya sambil tersenyum. Ternyata dia juga bisa membuatku bahagia, walau tidak harus saling mencintai.


"Aku tidak menghiburmu!" sahut Eggy tegas.


Aku tersenyum padanya lagi. "Aku tahu bahwa niatmu baik padaku. Tapi kamu tak perlu malu seperti itu. Katakan saja bahwa kamu ingin merasakan seharian dengan seorang pasangan yang sesungguhnya hari ini. Aku bisa kok berpura-pura jika kamu mau," kataku menawarkan.


"Berpura-pura?" tanya Eggy terheran-terheran.


"Iya. Itu kan yang kamu mau? Maka dari itu kah mengajakku kemari dan kita akan pergi jalan-jalan. Agar kamu bisa merasakan bagaimana rasanya pacaran yang sesungguhnya," jawabku.


"Kamu benar-benar berpikir seerti itu?" tanya Eggy, membuatku berpikir dua kali.


"Memang begitu kan? Kalau bukan seperti itu, lalu kenapa aku harus mengganti pakaianku yang sebelumnya kupakai?" tanyaku heran.


Ilustrasi pakaianku sebelum pergi ke butik dan sebelum memakai dress mini yang dipilihkan oleh Eggy, terbayang seketika dipikiranku. Itu sangat masuk akal, karena penampilanku memang terlihat seperti anak kecil dan tak mungkin pantas jika berjalan berdua dengan pria tinggi, tampan, dam kaya raya seperti Eggy.


"Itu karena aku ingin kamu terlihat sebagai istri Direktur ketika ada di area dekat kantor. Bukan sebagai asisten rumah tangga atau pelayanku di rumah. Mengerti?" jawab Eggy datar tanpa beban sambil berjalan pergi.


Sejenak aku terdiam. Aku tak menyangka ia akan mengatakan kalimat buruk yang dapat membuat perasaanku terluka. Lagi-lagi aku tertipu. "Apa? Asisten rumah tangga? Pelayan katanya?" gumamku perlahan sambil berpikir.


Ini benar-benar di luar dugaanku sebelumnya. Kupikir dia memang sengaja menghiburku atau sudah memiliki niat untuk merubah sikapnya. Tapi ternyata tidak. Dia tetap sama, sama seperti sebelumnya. Menyebalkan.


Aku benar-benar menyesal telah memuji diriku sendiri dihadapannya. Dia pasti memiliki tertawa jahat ketika melihatku seperti ini. Dia sengaja membuatku berubah menjadi apa yang di inginkannya untuk bisa menyadarkan diriku akan posisiku sebelumnya. Dia benar-benar membuatku mati karena rasa malu.


"Aku kubalas kamu nanti!" ancamku secara perlahan sambil menatapnya kesal.


Ya. Aku kini memang pelayannya. Yang harus membersihkan seisi rumahnya dan mengurus rumahnya, dan juga mengurus dirinya. Dalam artian tidak termasuk hal wajib sebagai istri. Itu perjanjiannya.


"Heh, tunggu!" ucapku sedikit berteriak dan menyusulnya.


Eggy sudah berada di dalam mobil. Lalu aku pun kembali memasang wajah masam dihadapannya dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Baru saja aku melupakan semua rasa amarahku dan kekesalanku pada hari ini. Lalu karena aku mengetahui niat Eggy seperti itu, moodku kembali memburuk.


"Apa ada yang tertinggal?" tanya Eggy.


Aku tidak menjawabnya. Aku hanya menatap sinis padanya. Malas sekali harus menjawab pertanyaan pria angkuh sepertinya.


"Jika tidak ada, kita pergi!" lanjut Eggy.


Aku memalingkan pandanganku ke arah yang lain. Lalu Eggy tak menghiraukanku yang sedang memperlihatkan rasa marahku padanya. Ingin kuteriak ke arah terlinganya dan berkata bahwa, "Pekalah terhadapku!"


Hari sudah mulai sore, lalu Eggy memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang cukup ramai. Kupikir rumah Nenek berada di sekitar sini. Aku pun bertanya padanya.


"Kenapa kita di sini?" tanyaku penasaran seraya melihat ke arah sekelilingku.


"Turunlah!" perintahnya tanpa menjawab pertanyaanku. Kupikir itu adalah sebuah karma bagiku karena tidak menjawab pertanyaan darinya tadi. Kupikir itu adalah sebuah balas dendam yang baik.


Aku dan dia turun dari mobil. Lalu ia pergi ke belakang mobil dan membuka bagasi mobil.


"Mau ngapain dia?" tanyaku pada diriku sendiri.


Lalu aku menyusulnya dan melihat apa yang akan ia lakukan.


"Tolong bawakan ini!" perintah Eggy sambil memberikanku beberapa kantung. Entah apa isinya, aku tidak tahu. Ia hanya menyuruhku untuk membantu membawakannya. Dengan senang hati, aku pun membantunya.


"Kenapa kau membeli barang sebanyak ini?" tanyaku penasaran.


"Ini untuk nenek," jawabnya.


Tunggu! Jadi dia membelikanku pakaian ini untuk bertemu dengan neneknya? Sungguh mengejutkan! Ternyata di dalam diri Eggy banyak menyimpan misteri ilahi yang sulit untuk ditebak.


"Apa? Nenek? Memangnya dia sudah pindah kemari ya?" tanyaku panik.


"Rumahnya selalu di sini. Kau hanya tidak tahu saja," sahut Eggy.


"Memangnya rumah nenek ada di tempat seramai ini? Ini terlihat seperti alun-alun kota," kataku sambil melihat ke arah sekelilingku.


Benar. Aku memang tidak tahu mengenai neneknya Eggy atau bahkan rumah neneknya. Tapi sebelah mana rumahnya? Jika bukan disini, kenapa dia mengajakku kemari? Aneh!


"Jika kamu sudah bertemu dengan nenek. Berpura-puralah menjadi istri yang baik. Jaga sikapmu dan bahasamu padaku!" tegasnya.


Memangnya aku sering bersikap kasar dan bicara kasar padanya di hadapan keluarganya gitu? Begitulah pikirku.


"Baiklah. Itu termasuk dari perjanjian juga," sahutku.


"Seharusnya kamu belajar berakting dihadapan orang lain," kata Eggy.


"Aku bukan aktris!" cetusku.


"Setidaknya itu adalah pekerjaanmu saat ini," kata Eggy.


Aku mulai gondok melihat sikapnya seperti itu. Rasanya aku ingin mencekik lehernya sampai ia tak dapat bisa berkata apa-apa lagi. Menyebalkan.


"Kamu memang selalu maha benar," umpatku.


"Tentu."


Eggy lekas berjalan sambil membawa banyaknya barang bawaan yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Begitu pun denganku juga.