
"Ah, sial! Mengapa seperti ini?" umpat Bulan merasa kesal karena perasaan semakin terasa cemas.
Bulan dan Fadhla pun masih berdiam diri di rumah Bulan sambil menunggu kabar dari Eggy.
Di rumah sakit, terlihat Eggy mendorong brankar yang terdapat Adelia terbaring di sana bersama dengan para perawat lainnya. Mereka akan membawa Adelia ke ruang UGD. Setelah mereka sampai di pintu UGD, Eggy pun dilarang untuk masuk oleh perawat sana.
"Maaf, Pak. Anda bisa tunggu di ruang tunggu. Biar kami yang menangani pasien. Percayakan pasien kepada kami, Pak," katanya.
"Tapi ...." Kalimat Eggy menggantung.
"Maaf, Pak. Kami harus segera menangani pasien secepat mungkin."
Para perawat itu pun langsung menutupi pintunya. Eggy menyisir rambutnya dengan jari jemarinya, kemudian dia mengusap seluruh wajahnya, merasa sangat stres dan bingung harus berbuat apa lagi. Bahkan dia belum mengabari keluarga Adelia tentang keadaan Adelia saat ini. Dia masih berpikir untuk mengabar saat ini juga, atau kah nanti Adelia sudah selesai ditangani oleh para medis. Tak ingin berpikir keras, dia pun langsung duduk di ruang tunggu dengan perasaan yang tak sabar dan semakin cemas. Kemudian dia mengingat akan janjinya untuk datang menemui Bulan dan juga adiknya di sana.
"Sial! Hari ini ada janji bersama Bulan. Aku lupa tidak memberi kabar padanya. Astaga!"
Eggy Meraba-raba saku jas dan juga celananya. Dia mencari ponsel miliknya, tetapi dia tidak menemukannya. Lalu dia pun mencoba untuk mengingatnya kembali. Dia pun ingat, pada saat dirinya mencoba menghubungi Adelia kembali, Adelia tidak kunjung menjawabnya dan Eggy mulai pasrah akan hal itu. Lantas dia langsung menyimpan ponselnya di kursi sebelah mobil.
"Aih. Sial! Ponselku tidak ada. Tertinggal lagi di mobil. Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya bertanya-tanya.
Dia pun berpikir untuk ikut menelepon lewat pihak rumah sakit. Memberitahukan kabar ini kepada Bulan dan juga Fadhla. Segera dia bergegas pergi ke ruang informasi untuk ikut menelepon ke ponsel Bulan.
"Maaf, suster."
"Selamat malam, Pak."
"Ya, malam kembali. Apa saya boleh minta tolong?" tanya Eggy.
"Silakan," jawab perawat itu. "Apa yang bisa kami bantu?"
"Saya izin menelepon, Suster. Ada yang pwrlu saya hubungi, kebetulan calon saya kecelakaan dan saat ini sedang di tangani di ruang UGD bersama para medis. Boleh kah saya menelepon keluarga saya? Saya lupa tidak membawa ponsel, ponsel saya tertinggal di mobil," jelas Eggy panjang lebar.
"Baik, Pak. Silakan. Kami tidak membatasi apa pun," sahutnya.
"Baik, terima kasih."
Perawat yang menjaga di sana pun tersenyum. Lalu Eggy segera mengambil telepon dan memencet nomor telepon Bulan.
Terlihat Bulan sedang berjalan mondar-mandir ke sana kemari sedang menunggu kabar dari Eggy. Bahkan, Fadhla sedari tadi mengajak Bulan untuk segera pergi bersamanya dan menyuruh Bulan untuk menghubungi Eggy dan mengatakan bahwa untuk menyusulnya ke tempat tujuan mereka. Namun Bulan tidak ingin berbuat seperti itu. Dia harus menghargai apa pun yang dikatakan oleh Eggy, karena dia masih berstatus sebagai istri Eggy. Mau tak mau dia harus menuruti perintahnya.
Di tengah-tengah ke gelisahan mereka, tiba-tiba telepon Bulan berdering. Dia langsung mengambil ponsel miliknya dan melihat nama kontak di sana. Dia berpikir bahwa itu adalah Eggy. Namun ketika melihat layar, terdapat nomor tidak diketahui masuk memanggilnya.
"Siapa, Bulan, yang menelepon? Apakah itu Eggy?" tanya Fadhla kepada Bulan.
Bulan menengok. "Bukan. Ini nomor yang tidak dikenal, Fadhla," sahut Bulan kepada Fadhla.
"Siapa dia?" tanyanya sendiri, lalu Fadhla berjalan mendekati Bulan dan segera melihat nomor tersebut. Kemudian dia mulai berpikir dengan kode nomor yang masuk itu.
"Aku gak tahu ini siapa. Bukan nomor telepon ponsel deh," tebak Bulan.
"Ya jelas itu bukan nomor ponsel biasa. Itu nomor telepon rumahan. Coba jawab, siapa tahu penting," jelas Fadhla.
"Baik, tunggu sebemtar."
Bulan pun menjawab telepon.
"Halo, Selamat malam. Dengan siapa kah saya sedang berbicara saat ini?" tanya Bulan menyapa.
"Bulan, ini aku," jawab Fadhla.
"Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Bulan tidak mengenali suaranya.
"Bulan, aku Eggy, Sayang. Aku telepon lewat nomor telepon rumah sakit, karena ponselku ada di mobil," jawab Eggy.
"Apa? Rumah sakit? Ada apa, Kak? Apa kamu terluka? Semuanya baik-baik saja, bukan?" tanya Bulan mulai cemas.
Mendengar hal itu, membuat Fadhla terkejut. Dia menatap ke arah ke Bulan, berharap bahwa Bulan memberitahukan kabar dari Eggy.
"A-aku tidak apa-apa, Bulan," sahut Eggy.
"Syukurlah, Kak. Kamu baik-baik saja. Lalu mengapa Kakak ada di rumah sakit? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Bulan penasaran.
"Ada kecelakaan, Bulan. Kecelakaan cukup besar. Dan ada beberapa korban juga di sini," jelas Eggy.
"Apa, Kak? Kecelakaan di mana? Apakah semua korban itu baik-baik saja?" tanya Bulan merasa cemas.
"Ada korban yang meninggal, Bulan," sahut Eggy dengan nada yang lemas.
"Aku tidak tahu. Identitasnya masih dicari oleh pihak yang berwajib," jawab Eggy.
"Ya ampun! Kakak, kenapa? Apakah Kakak menabrak mereka? Bagaimana kejadiannya, Kak?" tanya Bulan.
"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di sini. Sebaiknya kamu datang ke sini, Bulan. Akan aku ceritakan semuanya," jawab Eggy.
"Baiklah, Kak. Aku dan Fadhla akan ke sana. Kakak ada di rumah sakit mana? Biar aku dan Fadhla langsung berangkat."
"Di rumah sakit ***a**, Datanglah ke sini. Dan tolong bawa uang lebih. Aku menjnggalkan dompetku di mobil. Dan aku lupa membawanya," kata Eggy.
"Baiklah, Kak. Jangan khawatir. Aku akan membawa uang lebih untuk membayar perawatanmu, Kak. Kakak kan masih suamiku," kata Bulan.
"Terima kasih, Sayang. I love you," sahut Eggy.
"Iya, Kak. I love you too."
"Aku rindu padamu, Bulan. Datanglah secepat mungkin ke sini," pinta Eggy kepada Bulan.
"Aku akan segera ke sana, Kak. Jangan khawatir," sahut Bulan.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya sekarang, ya!" kata Eggy.
"Baik, Kak. Tutup saja. Biar aku segera ke sana bersama dengan Fadhla," sahut Bulan.
"Baik, Bulan. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Eggy pun menutup teleponnya.
"Terima kasih, suster. Saya sudah selesai menelepon," kata Eggy kepada perawat di sana.
"Kembali kasih, Pak," sahut perawat itu.
Lalu, Eggy pun kembali menuju ruang tunggu di dekat ruang UGD.
Bulan mulai memasukan ponsel miliknya ke dalam tas. Kemudian dia mengajak Fadhla untuk segera pergi menuju rumah sakit.
"Ayo kuta pergi, Fadhla, ke rumah sakit," ajak Bulan.
"Apakah Eggy baik-baik saja?" tanya Fadhla mulai cemas.
"Baik kok, Fadhla," jawab Bulan.
"Syukurlah jika dia baik-baik saja."
"Tapi, katanya ada korban jiwa. Ada yang meninggal dalam kecelakaan itu. Sepertinya kecelakaan itu sangat parah. Ah, pantas dari tadi perasaanku tidak enak. Rupanya ada musibah yang menimpa suamiku," kata Bulan bercerita kepada Fadhla.
"Untung Eggy tidak terluka parah. Dia masih bisa di selamatkan."
"Kamu benar. Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah sakit, Fadhla. Kita harus segera menemui Eggy," ajak Bulan.
"Ayo, ayo. Kita harus bergegas."
Bulan dan Fadhla pun mulai bergegas pergi menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Eggy saat ini.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Untuk yang ingin tahu karyaku yang lain, silakan cek di akun WP @Bulan_lani. Cerita baruku berjudul 'Dia Rehema'. Ada juga aplikasi ******* dengan akun (comeback). Cerita terbaru "Pernikahan Rahasia", sudah dilihat 900ribu joy. Silakan di cek.
Ada cerita kisah nyata tentang masa mudaku di aplikasi Kwikku berjudul Labil (plin-plan). Novel itu kisah nyata tentang masa mudaku di sekolah.
Jika ingin mengenalku lebih de
kat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*