
Aku dan Eggy memutuskan untuk pergi ke sesuatu tempat. Pada malam itu, saat aku pulang bersamanya, kita melanjutkan pembahasan tentang masalah hubungan aku dan dia untuk ke depannya. Kemudian, kami berdebat sangat lama. Aku masih berbicara padanya sambil menangis. Memang sangat memalukan, tetapi apa yang aku bicarakan berasal dari lubuk hati kok.
Saat itu ....
"Apa kamu benar-benar akan menikah dengannya, selepas kita bercerai?" tanyaku memastikan.
"Seharusnya kamu tidak bertanya itu padaku."
"Kenapa?"
"Bagaimana pendapatmu tentang adikku, Fadhla?" Eggy berusaha mengalihkan pembicaraan denganku.
"Jangan bahas yang lain. Kita bagaimana?" tanyaku menaikkan sedikit nada suaraku dari sebelumnya.
"Ya begini saja. Kamu maunya bagaimana? Kok kamu plin-plan? Katanya kamu ingin menikah dengan Raihan? Jangan plin-plan dong!" sindir Eggy.
Shit! Dia malah membalikkan fakta. Dia malah memojokkanku dengan pembahasan itu.
"Untuk saat ini aku tidak ingin membahas Raihan. Yang ingin aku bahas adalah aku dan kamu, bagaimana?"
"Apa kamu menyukaiku?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa?" kejutku. Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu padaku?
"Tidak ada siaran ulang. Jawab saja."
"Bagaimana aku akan menjawabnya? Aku pun tidak tahu," sahutku seadanya.
"Kalau begitu, kita liburan," usulnya.
"Liburan? Hanya kita? Berdua saja?" tanyaku memastikan.
"Yup. Apa kamu ingin mengajak mantan pacarmu juga? Biar kamu bisa merasakan bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya padaku dan juga mantan pacarmu itu?"
"Apa sih? Kenapa setiap pembahasan selalu membawa dia? Tidak bisakah hanya kita berdua?" tanyaku kesal.
"Jadi sekarang kamu peduli pada kita?" tanyanya.
"Jangan membuatku kesal." Aku menyilangkan kedua tanganku dan memasang raut wajah cemberut padanya. Saat itu, aku terlihat sangat manja di depannya. Namun setelah itu, Eggy mendekatiku secara perlahan dengan menatapku secara tajam. Saat jarak di antara kami semakin dekat, aku menjatuhkan tanganku dan menyiapkan diri untuk tidak terpana pada pandangannya. Sesekali aku memejamkan mataku, entah mengapa aku melakukannya.
"Buka matamu," ucapnya.
Aku pun melakukan apa yang telah diucapkannya.
"Kenapa kamu menutup matamu?" tanyanya.
"Mana aku tahu. Kelopak mataku tertutup sendiri," jawabku ngeles seraya mengarahkan kedua bola mataku ke atas langit-langit.
Eggy menghelakan napas panjang. "Jadi, apa kamu menyukaiku?" tanyanya sekali lagi seraya menyentuh daguku dan mengangkatnya untuk melihat ke arah Eggy.
Kini, jantungku mulai berdebar-debar menatapnya. Seakan aku terhipnotis dan terguna-guna untuk berdiri dengan mematung di hadapannya. Pandangannya mematikan urat sarafku, bukan hanya itu. Namun hanpir mematikan jantungku. Apa aku memang sudah menyukainya? Mungkin saja selama 3 tahun lalu, aku memang sudah menyukainya. Mungkin saja, bukan?
"Jawab aku!" ujarnya dengan lembut.
Kemudian tangan kiri Eggy menopang kepalaku dan mendekatkan ke arahnya.
Aku menelan ludahku sendiri. "Jika a-aku menyukai-mu, b-bagaimana?" tanyaku gagap.
"Aku sudah jelas menyukaimu, Bulan." Eggy langsung mencium bibirku begitu saja, tanpa aba-aba terlebih dulu. Apakah aku harus membalas ciumannya?
"Mari kita liburan ke villa," usulnya.
Aku menelan ludahku kembali. Entah mengapa aku menjadi canggung, saking terkejutnya dengan tindakan Eggy padaku.
"Ah, mm ... aku, aku ...," ucapku terpotong, karena diriku memang bingung akan menjawab apa untuk pertanyaannya. Tiba-tiba saja pikiranku kosong, tak dapat berpikir apa pun. Rasanya, ciuman dari Eggy membuat otak dan pikiranku bersih dalam kurun waktu bererapa detik saja.
"Aku tidak ingin kamu memilih siapa pun. Karena kamu milikku," ucap Eggy.
"Tetapi di rumah Nenek, Kakak menyuruhku untuk menikah dengan adikmu, Fadhla. Benar, bukan?" sahutku mengingatkannya. Siapa tahu dia lupa dengan ucapannya pada saat itu.
"Memang. Namun jika kamu mau," kata Eggy. Dia mengelus rambutku dengan lembut, kemudian dia mengelus pipiku juga.
"Aku yakin kamu tidak mau dengannya. Bahkan untuk berpisah pun, kamu tidak sanggup melakukannya. Kamu terus menahan dengan berbagai alasan, agar perceraian kita tidak pernah terjadi," lanjut Eggy.
Ya. Apa yang dikatakan olehnya memang benar. Aku memang mencari-cari alasan untuk tidak melakukan perceraian dengan waktu yang cepat. Namun aku melakukannya bukan semata-mata aku menyukainya atau tidak ingin kehilangannya, tetapi entah mengapa perasaan ini sangat berat saat harus memutuskannya.
"Jujur saja. Aku memang merasa sangat berat. Bukan berarti aku menyukaimu, aku hanya butuh waktu," sahutku.
Eggy berhenti mengelus pipi dan rambutku. Dia berjalan mundur, dan memberi sedikit jarak di antara kita.
"Masalah perusahaan, aku akan mencari solusi lain. Namun untuk masalah kita, aku ingin kamu menurutiku untuk pergi berlibur. Berdua saja," ucapnya padaku.
Sebenarnya dalam benakku, aku merasa takut berlibur dengannya. Namun di sisi lain, aku ingin berlibur juga dengannya. Agar aku tahu bagaimana perasaanku padanya. Mungkin aku juga harus mencobanya.
"Aku setuju, Kak," ucapku.
"Mau berciuman lagi?" tanyanya.
Spontan aku mendorong tubuhnya, lalu aku pun berjalan menghindarinya.
"Tidak, tidak. Itu pun aku tidak tahu kamu akan melakukannya," tolakku.
Eggy terkekeh. "Maaf, aku tidak izin terlebih dulu padamu. Lain kali aku akan izin."
"Auto aku tolak," cetusku.
"Auto aku memaksa," balasnya.
"Ya sia-sia dong meminta izin padaku, jika kamu memaksanya!"
"Hahahaha."
"Kakak serius akan jadi pemaksa?" tanyaku memastikan. Aku butuh kepastian ini. Agar aku siap berjaga-jaga dengannya.
"Hanya bercanda. Kapan aku memaksamu? Jika tidak sengaja?"
"Ish!" Aku memutar kedua bola mataku dengan malas. Kemudian aku saling melempar pandangan dengannya, dan tiba-tiba aku dan dia malah saling tertawa yang entah menertawakan apa itu. Aku tidak tahu.