
Keesokan harinya, hari mulai pagi, lalu terdengar suara bising di luar vila. Rupanya hari ini hujan. Aku terbangun dan membuka mataku, sejenak aku menatap ke arah Eggy. Aku dan dia, masih belum memakai pakaian. Setelah kejadian semalam itu, aku dan Eggy dan tidur begitu saja tanpa busana.
Aku melihat wajahnya. Aku melihatnya bukan lagi sebagai orang asing, tetapi sebagai seorang suami. Mungkin seperti inilah rasanya apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sudah menikah dengan memiliki perasaan saling suka dan tertarik satu sama lain. Saat ini aku bisa bebas menatapnya dan menyentuh dirinya.
Aku pun memegangi pipinya dengan lembut. Kemudin aku mengelus pipinya dan tersenyum padanya. Perlahan-lahan, Eggy membukakan matanya.
"Selamat pagi, Sayang," sapanya dengan nada suara yang berat.
"Selamat pagi juga, Kak," balasku seraya tersenyum.
"Apa hari ini hujan?" tanya Eggy sambil berbalik dan melihat ke arah kaca jendela.
"Hujan, Kak. Deras," jawabku.
"Ah, sial! Mungkin kita tidak akan pulang hari ini. Di luar deras sekali, ditambah angin," katanya.
"Tidak apa-apa, Kak. Santai saja. Mungkin jika siang nanti, atau sore nanti, hujannya akan reda. Kita siap-siap dulu aja dan membereskan semua pakaian di sini. Takutnya nanti gak keburu, soalnya kan niatnya semalam mau beres-beres. Cuma Kakak tahu sendiri kan, kalau kita malah melakukan ... hal ... i-tu," kataku malu-malu.
"Iya, maafkan aku." Eggy mengecup keningku dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya berusaha menjadi seorang istri yang baik," sahutku. Eggy pun memelukku, tak lama kemudian aku mulai memberanikan diri untuk memeluknya juga.
"Jika dari dulu kita seperti ini, mungkin kita sudah mempunyai anak, Bulan," ujar Eggy.
Aku sejenak terdiam. "Aku paham, Kak. Mungkin nanti, aku juga merasakan hal itu. Pasti akan masanya di mana aku akan hamil anak kakak," sahutku.
Eggy terkejut. Dia spontan menatapku dengan serius. "Apakah kamu benar-benar serius dengan apa yang kamu katakan itu, Bulan?" tanya Eggy tak percaya.
"Apa aku terlihat bercanda?" Aku ingat sebuah kalimat ini. Kalimat ini sering Eggy sampaikan padaku, kali ini aku yang mengatakannya.
"Kalau begitu, mau kah kamu mandi bersamaku? Pasti dingin lho. Karena hujan," ajak Eggy memberiku sebuah kode. Aku memahami apa yang dimaksudkannya.
"Kak ...," panggilku.
"Apa?"
"Apa kakak mau mengajakku bermain lagi?" tanyaku.
"Bermain apa?" tanya Eggy berpura-pura tidak mengerti.
"Kakak ih, jangan membuatku malu untuk menjelaskannya," sahutku merengek.
"Iya, iya. Memangnya kenapa? Kita kan menikah secara sah dan resmi. Bukan bohong-bohongan. Tidak salah, 'kan?"
"Tidak salah sih. Cuma ...." Aku memasang raut wajah yang kebingungan.
"Cuma?"
"Kakak tahu sendirilah, aku ini perempuan," kataku.
"Ya. Memang. Masa aku menikahi laki-laki?" sindirnya.
"Ih, maksudnya bukan itu, Kak."
"Sudahlah. Kamu duluan yang mandi gih. Nanti aku menyusul," kata Eggy padaku.
"Tapi ...," ucapku menggantung.
"Sudah, mandi dulu gih. Biar bersih dan wangi. Nanti enak meluknya," sindir Eggy.
"Haha. Sudah sana!" Perintahnya.
"Iya, Kak."
Aku pun bergegas pergi untuk mandi. Setelah beberapa saat, aku pun selesai mandi dan kembali ke kamar untuk berpakaian.
"Sudah selesai?" tanya Eggy.
"Sudah kok, Kak. Sekarang bagian kakak yang mandi," jawabku.
"Baiklah. Tolong siapkan sarapan terlebih dulu, ya. Habis itu kita bereskan semua barang-barang kita dan kita akan segera pulang," kata Eggy.
"Baik, Kak. Siap, Kapten!" ucapku sambil melakukan hormat kepada Eggy. Lalu aku pun langsung mempersiapkan makanannya untuk sarapan pagi. Seperti biasanya, aku dan Eggy makan saling berhadapan.
"Sudah selesai sarapannya, Kak?" tanyaku yang melihat Eggy tak menghabiskan makanannya.
"Sudah ah. Sudah kenyang. Kamu habiskan saja makananmu," sahut Eggy.
"Lalu kakak mau ke mana?" tanyaku.
"Mau beres-beres di kamar," jawabnya singkat.
"Baiklah, Kak. Nanti aku akan menyusul kakak," ujarku.
Eggy tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun pergi ke kamar. Lalu setelah sarapan itu, aku pun selesai dengan makanku. Aku dan Eggy mulai beres-beres barang di kamar.
"Barang apa yang belum, Kak?" tanyaku.
"Bajumu belum aku bereskan. Aku masih membereskan bajuku sebagian," jawabnya.
"Baik, Kak."
"Jangan lupa pisahkan pakaian kotor ke kantong itu, jangan sampai ada bra yang tertinggal di sini," ucapnya padaku.
"Kakak ... apa sih ucapan kakak ini. Kakak mulai nakal deh keknya," sahutku pada Eggy.
"Hahaha. Cuma bercanda doang kok, Sayang."
"Jadi, Kak ... setelah ini kakak mau bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat Eggy terdiam. Dia menatapku dan tersenyum.
"Ya pulang. Masa mau tinggal di sini? Kamu mau tinggal di sini? Kamu senang berada di sini?" tanya Eggy.
"Bukan gitu, Kak. Maksudnya saat kita pulang nanti, kita akan bagaimana?" tanyaku penasaran akan jawabannya.
"Gak gimana-gimana sih. Biasa aja," jawabnya dengan enteng. Padahal aku masih menunggu jawaban yang pasti darinya. Namun hanya jawaban yang gak mau aku dengar darinya. Ah, payah sekali.
"Kakak kan mulai lagi nyebelinnya," sahutku.
"Sudahlah, Bulan. Sebaiknya kamu cepat bereskan barangmu. Walaupun di luar masih hujan deras, jangan buat kamu bermalas-malasan, ya," ujarnya.
"Iya, iya. Kakak sekarang mulai cerewet, ya," sindirku padanya.
"Terserah," pasrahnya.
Aku tersenyum ke arahnya. Lucu sekali memang sifat Eggy itu. Jadi makin suka deh aku padanya. Namun, setelah liburan ini berakhir, mau bagaimana lagi ya? Kisahku akan seperti apa nantinya?