
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya aku pun dapat menggerakkan salah satu jemariku.
Spontan Eggy merasa senang dan segera menanggapku.
"Bulan, kau sudah sadar?" tanya Eggy.
"Ra-raihan ...," ucapku lemas dan terbata-bata.
Mendengar nama itu, membuat Eggy sangat benci. Apalagi di tambah dengan keadaanku seperti ini. Ia sadar, bahwa aku memang hilang ingatan. Ia pun mencoba untuk mengontrol amarahnya dan mencoba mengembalikan ingatan yang sudah hilang.
"Ini aku, Eggy. Suamimu!" sahut Eggy.
Aku menoleh ke arahnya.
"Kau siapa? Dimana Raihan?" tanyaku heran.
Karena insiden kecelakaan itu, membuatku hilang ingatan ringan. Namun yang aku ingat memang hanya Raihan. Aku hanya ingat bahwa aku masih bersama Raihan dan belum menikah dengan siapapun.
"Apa kau tidak ingat aku?" tanya Eggy.
Aku hanya menjawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepalaku saja.
"Tidak apa. Aku akan membantumu untuk mengingatnya," sahut Eggy sambil tersenyum.
Samar-samar dipikiranku terlintas seseorang yang senyumnya sama seperti Eggy. Namun di pikiranku aku tidak dapat mengingat dan melihat seseorang itu. Aku mencoba mengingatnya dan alhasil hal itu membuat kepalaku merasa sakit.
"Ah ...," rintihku.
"Kau kenapa?" tanya Eggy cemas.
"Sakit kepala. Aku tidak mengingat wajah kau. Aku tidak mengenalimu!" jawabku.
"Tidak apa-apa. Perlahan-lahan kau akan mengingatnya," sahut Eggy meyakinkanku.
"Aku belum menikah. Aku masih kekasih Raihan," kataku seakan tidak memercayainya.
"Aku memang suamimu, Bulan," tegas Eggy. "Apa kau ingin melihat sesuatu?" tanya Eggy.
Lalu Eggy pun mengambil ponsel disaku celananya, lalu ia pun memperlihatkan buku nikah yang ia pegang bersamaku saat resepsi pernikahan dulu.
"Apa itu benar-benar aku?" tanyaku yang mulai kebingungan.
"Iya. Memangnya siapa lagi. Kita memang sudah menikah!" jawab Eggy.
Menyadari kenyataan bahwa aku sudah menikah dengan orang lain, dan buka menikah dengan Raihan, membuatku menangis dan menjatuhkan beberapa butiran air mata dihadapnnya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Eggy heran.
"Tidak mungkin aku menikah dengan kau. Aku hanya mencintai Raihan. Kau pembohong!" jawabku sambil menangis.
Aku mengambil ponselnya, aku melihat-lihat beberapa fotoku di sana. Satu persatu aku perhatikan, aku memang tak percaya bahwa itu adalah aku.
Ya. Memang benar apa yang telah dikatakannya. Itu memang fotoku yang sedang bersamanya melakukan sebuah foto pernikahan.
"BOHONG!" aku membantingkan ponsel Eggy.
Aku terus menangis dan mengeluarkan air mataku, aku tak bisa menerimanya sebagai suamiku. Karena yang aku cintai tetaplah Raihan. Bukan dirinya.
Eggy mulai berkaca-kaca melihat keadaanku yang seperti itu. Ia merasa pilu menerima kenyataan bahwa aku hanya mengingat satu nama, yaitu Raihan.
"Baiklah! Jika memang kau tak bisa menerimanya, aku takan memaksa," ucap Eggy. Lalu ia pun berjalan dan mengambil ponselnya dengan perasaan sakit, sedih, kecewa dan hancur.
Seorang suami yang mendapati istrinya hanya mengingat nama mantan kekasihnya dan hanya mencintai mantan kekasihnya, membuat Eggy sulit menerima kenyataan pahit itu. Bagaimana bisa seorang istri berbuat seperti itu kepada suaminya?
Eggy pun pergi dari rumah sakit. Ia mengendarai mobilnya dengan kencang, ia pun mulai menangis. Ini adalah kali pertamanya ia menangis tentang perasaannya. Sebelumnya ia tak pernah menangis untuk hal-hal seperti itu, karena menurutnya menangis karena soal cinta itu tak berguna.
Namun kali ini, ia benar-benar merasakan kesakitan yang luar biasa karena cinta. Sehingga ia tak dapat menahan air matanya untuk tidak keluar dari matanya.
Ia mengambil ponselnya. Lalu ia pun menelepon seseorang.
"Hallo ...," ucap Eggy merintih.
"Eggy, kau kenapa?" tanya neneknya di telepon yanhg mendengar suara rintihan cucunya.
"Aku merasa hancur, nek. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin kehilangannya!" tanya Eggy.
"Apa maksud kamu? Tolong jelaskan secara perlahan!" ujar nenek yang mulai kebingungan.
"Bulan tidak mengingatku. Dia tidak mencintaiku!" sahut Eggy sambil menangis.
"Kamu bicara apa? Bukankah kalian memang tidak saling mencintai bukan?" tanya neneknya yang sudah kebingungan.
"Aku mencintainya. Sungguh! Aku memang mencintainya," jawab Eggy. Lalu ia pun menutup teleponnya dan langsung menyimpan ponselnya.
Di sepanjang perjalanan ia terus merasakan kehancuran dihatinya dan merasakan semua itu.
Ya. Dia memang telah sadar. Bahwa Eggy memang sudah mencintaiku sejak lama. Ia menyadari bahwa betapa berharganya diriku, dan iapun mengakui bahwa ia memang tidak ingin kehilanganku. Juga tak bisa hidup tanpaku.
*****
Perasaan cinta memang sering datang terlambat dan sering terlambat untuk menyadarinya.
Namun jika terus berusaha untuk menggapainya, sudah di pastikan akan medapatkan hasil yang sama sesuai dengan apa yang telah di usahakan.
Jika sudah menyadarinya, jelas tak ada lagi yang lainnya.