
Malam ini dalam satu ranjang, aku dan Eggy saling membelakangi. Kami tidak berbicara selepas pembahasan tadi, karena kurasa dia membutuhkan banyak waktu untuk menenangkan dirinya.
"Kamu tahu, Bulan?" tanya Eggy tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat seperti itu.
"Apa yang aku tahu, bahkan kamu tidak pernah berbicara dengan serius dan menjawab semua pertanyaanku dengan benar," sahutku padanya.
"Ada sesuatu yang perlu ketahui tentang pernikahan kita. Bagaimana awal mula ini terjadi," ucap Eggy.
"Bagaimana? Beritahu saja aku. Aku akan siap mendengarkan apa pun kenyataannya," jawabku.
Walaupun aku tahu dan sangat yakin, bahwa Eggy pasti akan menceritakan cerita yang sama dengan Raihan.
"Kamu adalah jaminan, Bulan."
Seketika aku berbalik badan ke arahnya. Benar saja. Sama persis seperti yang diceritakan oleh Raihan. Mengecewakan.
"Jaminan apa?" Aku mengingat suatu kejujuran yang diucapkan oleh Raihan. Rupanya memang benar. Aku dijual untuk melunasi hutang keluargaku yang berjumlah banyak.
Eggy mulai membalikkan badan. Posisi kami saling berhadapan satu sama lain, juga saling melempar tatapan. "Orang tuamu berhutang padaku. Cukup banyak. Orang tuamu bangkrut. Dia memiliki kerugian besar, sehingga dirinya kehabisan semua harta. Dia tidak berdaya. Lalu kita mengadakan perjanjian ini. Perjanjian pernikahan mendadak."
Kalimat itu terdengar langsung menusuk menuju batinku. Mengapa? Kupikir aku dijual kepada orang lain untuk melunasi hutang itu. Namun pada kenyataannya, aku dijual kepada orang yang sudah memberi pinjaman pada keluargaku. Bahkan pernikahan pun berlangsung secara mendadak. Sangat disayangkan. Nasibku benar-benar sangat malang.
"Jadi, kamu orang yang meminjamkan uang pada orang tuaku? Karena orang tuaku tidak bisa melunasinya, apakah kamu memanfaatkan mereka untuk menikahkanmu denganku?" tanyaku.
"Aku tidak memintanya."
"Apa secara tidak langsung kamu berbicara bahwa orang tuaku yang menawarkan anak gadisnya untuk menikah denganmu? Begitu? Apa aku terlalu mudah untuk diperjual belikan?"
"Ya, kupikir kamu begitu. Pada saat itu kamu mau saja menuruti perkataan orang tuamu. Bisa saja kamu menentangnya. Hanya saja, kamu akan selalu kalah jika berurusan dengan keluargamu," sahutnya dengan singkat.
Aku terkekeh mendengar kenyataan itu. "Lucu sekali. Kamu bisa ngelucu rupanya."
"Tidak ada yang lucu."
"Jadi, aku meninggalkan Raihan gara-gara masalah ini? Dulu gaji Raihan memang tidak banyak. Namun apakah dia masih bekerja denganmu?" tanyaku padanya.
"Aku tidak peduli. Yang pasti kita saling menguntungkan. Dan Raihan, masih bekerja sebagai bawahanku," jelas Eggy padaku.
Kalimat 'kita saling menguntungkan' itu, membuat aku semakin penasaran. Apa keuntungan baginya? Untukku, sudah pasti semua hutang orang tuaku terbayarkan dengan jasaku. Namun keuntungan dia apa dariku?
Tunggu! Apakah aku sudah merasakah hamil? Apakah aku sudah punya anak? Berapa? Di mana anakku sekarang? Bukankah kita sudah menikah lama? Seharusnya, aku sudah punya seorang bayi darinya.
"Berbicara masalah keuntungan, keuntungan apa yang kamu dapat? Jika dariku, sudah pasti semua hutang terlunaskan. Karena aku jaminan."
"Tidak lunas juga. Karena orang tuamu tetap harus membayarnya."
"Mengapa? Kamu telah melanggar janji."
"Ayahmu."
"Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Buat kepalaku pusing. Aku akan tetap menunggu bukti yang lainnya. Sampai semuanya jelas."
"Kalau begitu, tidurlah!" perintahnya.
"Kalau itu sudah pasti. Namanya tidur ya itu adalah kebutuhan," ucapku. Lalu aku berbalik membelakanginya lagi.
"Masalah cerai, jika kamu benar-benar ingin cerai, aku akan pergi ke pengadilan untuk menyelesaikan masalah ini."
Aku dibuat terkejut olehnya.
"Mengapa?"
"Apa kini kamu tidak ingin bercerai?"
"Alasanmu. Mengapa? Lalu waktu lalu kamu bilang akan memalsukan surat perceraian itu untuk apa? Mengetes aku, gitu?"
"Tidak seperti itu. Perceraian bagiku terasa sangat berat."
"Apa kamu mulai menaruh hati padaku?" godaku padanya.
"Bukan hanya aku. Kamu pun sama," sahutnya.
"Apa? Mengapa?"
"Lupakan! Tidur saja, sana."
Eggy berbalik badan kembali.
"Kapan aku menyukaimu? Hei!" panggilku. Aku butuh jawaban akan hal itu. Saat ini aku tidak merasakan apa pun terhadapnya. Bahkan dirinya bagaikan orang asing di sini. Aku sama sekali tidak mengingatnya.
Eggy tidak seresek yang aku duga. Dia memiliki sisi lembut juga terhadap seorang wanita. Rasanya aku mulai tertarik untuk mengenal lebih jauh dengannya. Apakah sebuah kalimat untuk berteman dapat berjalan mulus? Apakah itu akan terlihat bagus dan terasa nyaman? Namun, aku tidak sedekat ini. Bahkan saat ini aku malah tidur satu ranjang dengannya. Ada apa denganku? Mengapa aku lakukan? Dasar Bulan bodoh.