
"Oke, saekarang bagian Kakak. Lanjut lagi dong, Kak. Cukup seru nih," kataku.
"Aku heran, mengapa banyak sekali yang suka dengan daging—yang aku bawa dari panti asuhan?"
Sejenak aku berpikir. "Ini gak seram. Bisa saja ada tukang sate di daerah itu. Atau bakar daging ayam, daging sapi, goreng ayam, atau tukang daging lainnya gitu."
"Fokus sama panti asuhannya, napa," ujar Eggy.
"Oke, oke, aku paham. Jadi daging dari orang-orang yang ada di panti asuhan itu, 'kan?" tanyaku dengan seluruh kepintaranku.
"Iya, betul."
"Memang pintar aku tuh," sahutku.
"Ayo kamu lanjut. Jangan banyak puji diri sendiri."
"Iya. Aku bertugas dikepolisian.
Dan aku ditugaskan mencari mayat-mayat yang telah aku hidangkan untuk mereka tadi malam."
"Gila! Sakit jiwa kali ya. Dikasih makan daging mayat," sahutku.
"Creepy, kan?"
"Lumayan. Kakak juga gak kalah pintar dariku."
"Woo ... iya jelas dong. Kalau gak pintar, gak akan punya perusahaan," ucapnya.
"Sombongnya, Kakak."
"Lanjut, Bul."
"Mm ... apa ya?" Sejenak aku berpikir. "Memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang. Anak kecil memang manis, sehingga aku tidak perlu menambahkan gula ke dalam mangkukku."
"Rupanya kamu calon psikopat juga."
"Enak saja."
Eggy tersenyum. "Aku tertawa senang dengan sesuatu di balik kaca jendela. Seorang temanku terlihat dipukuli dengan benda tajam, sehingga menciptakan keindahan air mancur berwarna merah."
"Ih, Kakak juga calon psikopat."
"Ya kita sama. Itu artinya kita memang jodoh," ungkap Eggy.
"Kita kan memang jodoh. Kan sudah menikah," sahutku. Opps ... keceplosan.
Astaga. Bahaya ini. Benar-benar bahaya.
"Bulan. Apakah kamu serius dengan perkataanmu itu?" tanya Eggy.
"Se-sebanarnya itu tidak salah. Karena setiap orang yang sudah menikah, berarti mereka sudah menemukan jodohnya. Benar, 'kan?"
Aku berusaha untuk memancingnya agar membahas lebih panjang dari ini. Tidak boleh. Karena nantinya, aku bakalan bingung sendiri dengan jawabannya.
"Jadi, apakah kita sudah jodoh?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak. "Kurasa ... tidak seperti itu juga. Karena kita tidak didasari dengan perasaan," sahutku.
"Aduh, sakit hati. Kecewa rasanya," kata Eggy sambil tersenyum.
"Baiklah. Sekarang bagianku. Baru saja aku melewati cermin di kamar mandiku. Dan dari sudut mata, aku melihat bayanganku tak meninggalkan shower."
"Wow. Berarti bayanganmu ...." Eggy menggantung kalimatnya.
"Yup."
"Oke. Cukup Creepy lah ya."
"Jelas dong!"
"Aku apa lagi ya?" tanyanya sambil berpikir.
"Ayo, Kak. Lagi seru-serunya ini."
"Semua orang bilang bahwa suara adikku memang terdengar jelek. Tapi aku yakin aku mendengarnya bernyanyi sangat merdu pada jam 03 pagi setiap harinya."
Be"rulang kali aku menanyakan 'siapa dia?' kepada seseorang yang duduk yang tak jauh dari kursiku. Namun ia tak pernah menjawab. Lalu seseorang memanggilku. Hanya beberapa detik aku lengah, seseorang yang duduk di sampingku hilang."
"Uuuhh ... sangat creepy banget, Kak."
"Tentu saja. Siapa tahu kamu mengalaminya sekarang," goda Eggy padaku.
"Ih, jangan dong, Kak."
"Kamu takut?" tanyanya.
"Masa?"
"Sudah ah. Aku lanjut ya. Aku penasaran setiap mendengar beberapa kali berita kematian. Rasanya aku ingin mencobanya. Lalu aku menyuruh adikku untuk mencekik leherku. Tetapi ia tidak mau. Kurasa ia ingin mencobanya terlebih dulu. Bagaimana?" tanyaku bertanya tentang cerita dua kalimatku.
"Gila! Kamu benar-benar calon psikopat Bulan."
"Untuk malam ini saja, mungkin."
"Oke. Mungkin aku juga sama. Hahaha." Aku dan Eggy saling tertawa satu sama lain.
"Lanjut lagi, Kak."
"Aku hanya tersenyum melihat adikku dibalik jendela. Membusuk."
"Kok pendek?" tanyaku.
"Pendek juga tetap serem," jawabnya.
"Oke, oke. Pagi ini aku terbangun. Aku melihat ibuku sedang memasak di dapur, aku hendak akan ke kamar mandi. Saat di kamar mandi aku baru ingat bahwa ibuku akan pulang dua hari lagi."
"Kulihat dari jendela kamar, Ayahku berjalan dalam kondisi yang sedang mabuk pada pukul 03:00 dini hari. Tapi seingatku Ayahku sudah pulang pada dua jam yang lalu dengan kondisi yang sama."
"Wow."
Eggy menaikkan alis sebelah kirinya ke arahku. Kemudian aku mulai berpikir untuk membalas cerita dua kalimatnya itu.
"Oke. Temanku berteriak histeris saat melihat kepala boneka ini hendak aku putuskan dengan sebuah kapak. Tapi setelah dicermati, wajar saja, karena itu adalah kepala temanku sendiri."
"Mulai psikopat lagi, Bulan? Kok kamu hobi banget sih jadi psikopat?" tanya Eggy. Aku terkekeh mendengar kalimat itu.
"So, apakah aku harus menceritakan horor terus? Bosan, Kak."
"Kita lanjut. Aku terkejut ketika melihat seseorang yang melompat dari lantai tiga di sekolah. Tapi kenapa saat aku menghampirinya, aku tidak melihat ia jatuh ke bawah?"
"Wuhu! Siapa yang jatuh, Kak? Jangan-jangan halusinasi," kataku.
"Yang jatuh adalah perasaan sayangku padamu," sahutnya.
"Eh, kok?"
"Lupakan. Hanya beranda saja."
"Hmm ... baiklah. Aku lanjut. Keluargaku mengadakan pesta di rumahnya saat malam nanti. Tapi kenapa saat semua masakan sudah siap, keluargaku tak ada? Hanya aku seorang di sana."
"Maksudnya?" tanya Eggy.
Aku berpikir sejenak. "Mm ... aku mengatakan hal itu begitu saja, Kak. Hahaha," sahutku.
"Bah. Kok lucu?"
"Lanjut saja deh."
"Ini yang terakhir ya."
"Lah, kok terakhir? Aku masih ingin bermain ini," eluhku.
"Ini sudah pagi. Sudah jam 3 pagi. Kamu gak mau tidur?" tanya Eggy.
"Eh, masa?" tanyaku terkejut. Aku pun langsung menatap ke arah jam dinding di kamar Villa. Rupanya benar. Hari sudah mulai pagi. Memang tidak terasa rupanya waktu kita berbagi cerita satu sama lain, memakan waktu yang sangat banyak.
"Benar, Kak. Sudah pagi. Hehehe."
"Oke. Terakhir ya."
"Iya deh, Kak."
"Aku melihat ayahku membawa seseorang ke dalam kamar. Tak lama kemudian ayahku keluar dari kamarnya sendirian, dan aku melihat ada banyak noda merah di bajunya."
"Lagi ngapain tuh?"
"Ya mungkin sedang sesuatu. Hahaha."
"Yah, habis deh ceritanya." Aku merasa kecewa dengan akhir ini. Bukannya bikin ngantuk, malah merasa melek. Terus melek. Entah akan tidur atau tidak, aku tidak tahu lah. Namun aku akan mencoba untuk tidur.
"Ayo tidur, Sayang. Kalau tidak tidur, nanti kamu bisa sakit lho."
"Iya, Kak. Aku akan coba tidur."
Aku pun mulai berbalik badan dan mencoba memejamkan mataku. Tak lama kemudian, tiba-tiba Eggy memelukku dari arah belakang.
"Selamat tidur," ucapnya.
"Se-selamat tidur kembali, Kak," sahutku ragu dengan perasaan yang cukup senang.