
Terlihat Bulan sedang memakai wewangian di sekujur tubuhnya. Dia berniat untuk pergi membeli sesuatu. Bulan mengingat hal penting, bahwa hari ini adalah hari spesial bagi Eggy. Eggy ulang tahun. Niatan Bulan adalah memberikannya sebuah hadiah untuk merayakan ulah tahunnya. Bulan segera menelepon Fadhla untuk meminta bantuannya, tetapi jawaban Fadhla menolak ajakannya.
"Maaf banget, ya. Aku disuruh urusi masalah kantor sama suamimu itu. Katanya ada urusan penting di luaran sana," kata Fadhla.
"Yah, sayang banget. Memangnya ada masalah apa? Apakah masalah kantor lagi? Yang katanya ada penyusup itu?" tanya Bulan mengintimidasi.
"Bukan deh keknya. Gak tahu urusan apa, aku lupa gak nanya sama dia. Aku cuma disuruh urusin urusan kantor dan lihat dokumen dan data perusahaan. Itu doang sih," jawab Fadhla apa adanya.
"Yah, kalau begitu aku sendiri aja deh. Gak apa-apa."
"Beneran? Sorry banget, ya, Bul."
"Gak masalah. Jangan sungkan gitu ah." Bulan terkekeh.
"Gak enak, sih."
"Yaudah, enakin aja pake bumbu penyedap rasa."
"Memangnya masakan."
Bulan tertawa. "Hahaha. Eh, kira-kira hadiah apa ya yang cocok untuk kak Eggy? Apa kamu tahu? Kamu kan laki-laki. Pastinya tahu sesuatu dong! Apalagi kamu juga adiknya kak Eggy. Pasti tahu kesukaan kak Eggy apa?"
"Sebenarnya aku gak begitu deket sama sI Eggy. Ya layaknya tom and jerry lah ya. Kadang gak akur, kadang juga akur," kata Fadhla.
"Gak ada hubungannya sama pertanyaanku deh," kata Bulan terheran-heran.
"Yaudahlah. Kamu tinggal beli kue ulang tahun aja. Hadiahnya bisa berupa jam, atau apaaa gitu," usul Fadhla.
"Aku mau hadiahi dia test pack."
Mendengar kalimat itu, membuat Fadhla terkejut dan seakan memberhentikan pernapasannya dalam seketika. "Apa? Test pack? Maksudnya? Apa kamu hamil?" Fadhla benar-benar sangat terkejut.
"Memangnya kenapa? Gak boleh, ya?" tanya Bulan.
Fadhla benar-benar tidak menyangka, bahwa Bulan tengah hamil anak dari kakaknya. Perasaan Fadhla bercampur aduk antara senang dan juga kasihan. Bulan bisa merasakan kebahagiaan karena kehamilannya, tetapi dia harus menerima kwnyataan bahwa suaminya harus menikah lagi dengan orang lain. Fadhla menjadi tidak tega melihat penderitaan yang akan dialami oleh Bulan.
"Bulan, apa kamu benar-benar hamil?" tanya Fadhla memastikan.
"Apa kamu tidak percaya?" tanya Bulan.
"Oke. Aku percaya. Namun apakah kamu baik-baik saja?"
"Memangnya kenapa? Ada apa sih? Kok aku jadi takut begini, Fadhla." Bulan mulai cemas.
"Kamu sudah tahu. Beberapa hari lagi lho." Fadhla memberikan kode kepada Bulan.
"Masalah pernikahan Eggy dan Adelia?" tanya Bulan.
"Ya."
Sejenak Bulan berpikir dan menghelas perasaannya. Tak dapat dimungkiri bahwa perasaannya memang tidak rela dan merasa sakit hati ketika mengingat hal itu. Namun harus bagaimana lagi? Semuanya sudah telanjur.
"Lupakanlah, Fadhla. Aku tidak ingin mengingat sekua itu di saat hari bahagiaku," sahut Bulan.
"Ah, iya. Kamu hamil. Statusmu juga janda kalau di umum. Apa itu akan menjadi masalah untuk hidupmu?" tanya Fadhla.
Bulan kembali terdiam dan berpikir. Memang benar apa yanh di katakan oleh Fadhla. Status dia saat ini memang janda di mata semua orang. Jika dia hamil, apa yang akan di katakan oleh orang-orang? Apa yang akan terjadi kepada kehidupan Bulan selanjutnya?
"Kita harus cari solusi."
"Solusi apa?"
"Apa bisa kamu menggugurkan kandunganmu itu?" tanya Fadhla secara sembarangan.
"Hei! Apa yang kamu katakan? Aku tidak ingin membunuh anakku, ya!" jawab Bulan menolak.
"Maaf, maaf. Maafkan aku."
"Aku harus pura-pura punya suami, Fadhla," kata Bulan.
"Suami?"
"Ya."
"Tapi siapa?" tanya Fadhla.
"Siapa, ya?" Bulan berpikir keras mengenai masalah itu. Kemudian dirinya menemukan sebuah sedikit ide. "Bagaimana kalau kamu yang berpura-pura menjadi suamiku? Kita bicarakan ini kepada Eggy terlebih dulu," kata Bulan memberikan usul.
"Itu sama saja bunuh diri. Aku akan di bunuh oleh Eggy."
"Tidak mungkin! Ini hanya sementara. Kamu tahu sendiri bukan?" tanya Bulan meyakinkan Fadhla.
"Kita harus bicarakan hari ini juga," sahut Fadhla.
"Aku setuju."
"Baiklah. Akan aku hubungi lagi nanti," kata Fadhla.
"Aku akan menunggu. Kalau begitu, aku akan pergi mencari sebuah hadiah untuk Eggy."
"Hati-hati. Jaga kandungan kamu."
"Iya. Pasti akan aku jaga dengan baik-baik."
"Sampai jumpa nanti."
"Sampai jumpa."
Bulan pun menutup teleponnya. Lalu dirinya bergegas pergi untuk mencari hadiah buat Eggy sendirian.
*****
PERHATIAN!
Budayakan untuk memberi love dan komen-komen kalian terlebih dulu sebelum membaca next chapternya ya, guys.. 😊😊
Karena itu untuk apresiasi kalian untuk aku bisa lebih semangat menulis dan update yang rajin untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih sebelumnya para readers-readers telah setia membaca novel ini sampai saat ini. Terima kasih banyak.
Jika ingin mengenalku lebih dekat, silakan DM di IG @nurohmah.lani atau inbox melalui pesan Facebook Lani Nurohmah. Follow juga, ya. :)
Jangan lupa untuk bergabung dalam grup chat MT Lani Nurohmah, ya. Biar kalian bisa lebih gampang mengirim pesan dan saling berkenalan juga. Atau bisa juga bergabung di grup WA-ku. Silakan hubungi aku saja, nanti aku masukan kok.
Terima kasih, semuanya. :*